Politik headline

Halimah Yacob, Perempuan Melayu Pertama yang Menjadi Presiden Singapura

12 September 2017   16:25 Diperbarui: 13 September 2017   04:41 2976 5 8
Halimah Yacob, Perempuan Melayu Pertama yang Menjadi Presiden Singapura
Sumber: ANTARA

Pondok Cina--Senin, 11 September 2017, Komisi Pemilihan Umum Singapura atau Elections Department (ELD), mengumumkan Kandidat Presiden Singapura. Dari tiga Kandidat yaitu Halimah Yacob, Mohamed Salleh Marican, dan Farid Khan, hanya satu yang memenuhi syarat, yaitu Halimah Yacob.

'Persyaratan Unik'

Kandidat dari kalangan bisnis harus menunjukkan bukti keberhasilan memimpin perusahaan dengan ekuitas minimal Sin$ 500 juta sekitar Rp 4,9 triliun, atau memiliki pengalaman dan kemampuan sebanding.

Salleh Marican tak lolos seleksi administrasi karena ekutias perusahaan yang ia pimpin rata-rata sekitar Sin$ 258 juta atau setara dengan Rp 2,5 triliun selama tiga tahun anggaran.

Farid Khan tak lolos seleksi karena ekuitas perusahaan yang ia pimpin tidak mencapai SIn$ 500 juta.

Halimah Yacob dinyatakan lolos sebagai Kandidat Presiden, bukan karena seorang pebisnis, melainkan sebagai politisi, pejabat publik dan mantan Ketua Parlemen Singapura.

Perempuan Melayu, Politisi Karier

Halimah Yacob lahir 23 Agustus 1954. Halimah menjalani pendidikan dasar dan menengah di "Sekolah China khusus untuk perempuan, "Chinese Girls' School serta Tanjong Katong Girls' School. Kemudian melanjutkan pendidikan tinggi di  University of Singapore hingga LLB atau Bachelor Legum Of Law tahun 1978. Tahun 2001 meraih gelar LLM atau The Master of Laws di National University of Singapore; dan 7 Juli 2016 mendapat gelar Doktor Kehormatan dari National University of Singapore.

Tahun 1992, bekerja sebagai praktisi hukum di Kongres Serikat Perdagangan Nasional. Tahun 1999 sebagai direktur Institut Studi Ketenagakerjaan Singapura, sekarang Institut Studi Ketenagakerjaan Ong Teng Cheong.

Tahun 2001 Halimah memasuki dunia politik, dan terpilih sebagai anggota parlemen dari Konstituensi Perwakilan Jurong Group. Pada pemilu 2015, Halimah adalah satu-satunya calon minoritas untuk PAP. Karier politiknya menanjak hingga menjadi Ketua Parlemen Singapura. Ia aktif berkampanye melawan kelompok Islam radikal, termasuk Islamic State of Iraq and Syria (ISIS).

Tanggal 7 Agustus 2017, Halimaj mengundurkan diri dari jabatan sebagai Ketua Parlemen dan anggota PAP karena menjadi kandidat presiden Singapura 2017.

Halimah (akan) menggantikan Tony Tan, yang telah 6 tahun menjabat. Ia adalah wanita pertama dan WN Singapura keturunan Melayu yang pertama  menjabat sebagai Presiden Singapura.

Presiden Singapura:

  1. Yusof Ishak, 1965-1970
  2. Benjamin Sheares, 1971-1981
  3. C. V. Devan Nair, 1981-1985
  4. Wee Kim Wee, 1985-1993
  5. Ong Teng Cheong, 1993-1999
  6. Sellapan Ramanathan, 1999-2011
  7. Tony Tan Keng Yam, 2011-2017

Jadi Presiden Tanpa Pilpres

Sebagai calon tunggal sesuai pengumuman Komisi Pemilihan Umum Singapura atau Elections Department (ELD), maka kemungkinan besar Halimah Yacob akan menjadi Presiden Singapura tanpa Pilpres.

Walau seperti itu, Halimah harus memenuhi semua persyaratan lain sesuai permintaan ELD pada 13 September.

Sebagai calon tunggal, Halimah menyatakan bahwa,

"Saya berjanji untuk melakukan yang terbaik yang bisa saya lakukan untuk melayani masyarakat Singapura dan itu tidak berubah, apakah ada pemilu  atau tidak ada pemilu.

Semangat dan komitmen saya untuk melayani rakyat Singapura tetap sama. Saya tetap berkomitmen penuh untuk melayani Singapura."

Kedewasaan Politik Republik Singapura

Terpilihnya Halimah Yacob, dan gugurnya kandidat lain, tanpa gejolak serta aksi para pendukung calon yang tak lolos seleksi Komisi Pemilihan Umum Singapura atau Elections Department (ELD), merupakan catatan yang (sangat) menarik.

Singapura dengan aneka latar belakang etnis dan kultur, agaknya telah menunjukkan kedewasaan politik yang jelas. Sehingga, siapa pun dia (atau mereka) yang menjadi pemimpin, tergantung prestasi, kualitas, kapasitas, dan kemampuannya. Siapapun menjadi pemimpin, yang penting ia (mereka) memajukan Singapura, seperti ungkapan dalam "Majulah Singapura."

Dalam memilih pemimpin, mereka, WN Singapura, sudah meninggalkan penolakan atau pun keterpihakan karena perbedaan gender, suku, etnis, agama, dan lain sebagainya. Dengan itu, pergantian pemimpin politik, pada jabatan strategis maupun simbol, berlangsung tanpa gejolak, apalagi rusuh dan kerusuhan.

Bisakah Indonesia belajar dari Singapura pada 2019?

Belajar tanpa Sentimen Gender

Belajar tanpa Sentimen SARA

Belajar menerima Kekalahan



Opa Jappy

WA +62818121642

  • Gerakan Damai Nusantara
  • Relawan Cinta Indonesia
  • Komunitas Indonesia Hari Ini