Gayahidup

Diskusi "Comicos"

15 September 2017   00:10 Diperbarui: 15 September 2017   00:23 98 0 0

Pada tanggal 8 September diselenggarakan acara comicos. Pada awal dimulai adanya diskusi dibuka oleh Pak Argo sebagai moderator dari dosen FISIP Atma Jaya Yogyakarta. Diskusi yang pertama dimulai dengan membahas menganai mekanisme komunikasi penyampaian bencana yang dilakukan oleh salah satu komunitas pencegah bencana yang ada di garut. 

Hal ini menarik untuk diteliti dikarenakan, awalnya ketika dulu sebelum adanya komunikasi yang seperti sekarang sedikit membuat kesusahan untuk warga desa menyampaikan informasi terkait akan terjadinya bencana banjir sehingga masih bisa memakan korban, tetapi dengan kemajuan media komunikasi sekarang masyarakat lebih mudah untuk menyampaikan akan terjadinya bencana banjir. 

Media komunikasi yang digunakan oleh warga desa Garut adalah whatsapp(WA), sms, dan untuk para orang tua yang sudah berumur dari 50an tahun keatas yang tidak memilki handphonebiasanya, pengumuman di beritahukan melalui pengeras suara yang berada di masjid. Hal yang juga masih menjadi tantangannya adalah orang tua yang masih susah untuk di komunikasikan mengenai bencana banjir yang akan datang karena biasanya, mereka akan lebih mengabaikan pengumuman tersebut.

Pada diskusi sesi kedua membahas mengenai menggagas pengembangan pariwisata budaya berbasis  partisipasi komunitas di kawasan Lasem. Keunikan dari Lasem adalah keadaan yang sangat multikultural yang dimana juga banyaknya warga yang beretnis Tionghoa dan separuhnya juga memeluk agama Islam, tetapi untuk di lima tahun belakangan ini warga yang beretnis Tionghoa hanya tersisa generasi yang tua saja. Jika dilihat di Lasem sendiri banyak bangunan yang memakai kaligrafi cina yang menjadi keunikan dan juga menjadi tempat destinasi wisatawan. 

Sekitar tahun 2016 muncullah salah satu komunitas yang  bernama Kesensem Lasem yang mencoba untuk membangun kembali pariwisata yang ada di Lasem dengan membawa komunitas-komunitas sosial yang ada di Lasem. Kebudayan yang ada di Lasem jika di klasifikasikan secara garis besar terdapat dua kebudayaan yaitu pertama galeri batik tulis khas Lasem, kemudian pecinan Lasem yaitu warga sekitar sudah mulai merenovasi bangunan-bangunan tua untuk dijadikan sebagai destinasi wisata Lasem, dan juga yang terakhir terdapatnya makam dari kerajaan Majahpahit. 

Kedua adanya wisata Religi yaitu dengan mengunjungi makam salah satu tokoh Muslim di era kesultanan Demak, dan juga untuk etnis Tionghoa mengunjungi klenteng-klenteng kuno yang ada di Lasem.

Pada diskusi selanjutnya yaitu diskusi yang ketiga membahas mengenai pola komunikasi aktor dalam sosialisasi program translokasi. Pada sekitaran pantai Selatan yang berada di Yogyakarta berjuta hektar yang dimiliki Sultan dipakai oleh para warga sekitar sebagai tempat usaha ataupun sebagai lahan hunian. Namun seiringnya waktu trendyang terdapat disekitar pesisir pantai adalah yaitu membuat tambak udang. 

Pada tahun 2013 tambak udang ini bermasalah pertama mencemari lingkungan, dan kedua adalah warga yang mempunyai tambak udang rata-rata lahan hunian terletak di zona merah karena rawan terjadinya bencana. Pada tahun 2016 di bentuklah tim kerja translokasi tambak dengan tiga pedekatan yaitu : pola kekancingan yang artinya pola dengan mengingatkan masyarakat kembali bahwa tanah Sultan merupakan tanah hak pakai bukan hak milik dengan diberi surat dan nama surat tersebut adalah kekancingan. Kedua dengan pendekatan budaya yaitu dengan dibagi zona-zona untuk daerah pantai. 

Dari hasil penelitan yang telah dilakukan pemerintah daerah kab. Bantul berhasil untuk menyampaikan pesan perihal mengenai implementasi program translokasi. Ketebatasan ruang bicara  dan tawaran menjadikan pesan yang disampaikan bias. Hal ini karena masyarakat sekitar tidak diberikan pilihan ataupun solusi lainnya selain mematuhi kebijakan pemerintah. Disisi lain juga pemerintah tidak memiliki tindakan lanjut untuk mengulang penyampaian pesan mengenai program tersebut.

Diskusi yang keempat adalah membahas mengenai  rancangan model komunikasi resiko dalam konteks kesehatan. Kader ASUH menjadi ujung tombak bagi keberhasilan program immunisasi tetapi, Seiring perkembangannya mulai banyak munculnya variasi vaksin untuk anak-anak, dan ini menjadikan pro-kontra mengenai vaksin karena banyak yang berpikiran apakah vaksin ini baik? atau apakah vaksin ini halal?. Sikap yang muncul ini merupakan persepsi dari masyarakat terhadap resiko dari penggunaan vaksin tersebut. 

Peraturan dari menteri Kesehatan RI nomor 42 tahun 2013 mengenai penyelenggaraan immunisasi- keterlibatan lingkup pusat sampai lingkup daerah. Permasalahan yang terjadi adalah penelitian ini dilakukan di desa dekat daerah Gunung Bromo yang dimana masyarakatnya sangat kurang menapatkan informasi karena informasi hanya bisa didapatkan dari televisi dan juga tingkat pendidikan yang sangat rendah. 

Pada penelitian ini warga desa berpikiran bahwa apakah dengan melakukan immunisasi anak-anak tidak akan mendapat gangguan mental dan melalui kadaer ASUH ini untuk meyakinkan melalui immunisasi anak-anak akan tetap selalu sehat sehingga muncullah trust determination.Tidak semua dari kader ASUH mempunyai latar belakang pendidikan yang tinggi tetapi dapat membantu untuk menggerakan masyarakat dalam melakukan immunisasi.