Mohon tunggu...
Nyai Endit
Nyai Endit Mohon Tunggu... wiraswasta -

Penulis Fiksimini, Penyiar Radio, Pemilik Bumi Buku Sunda, Pengelola Taman bacaan Masyarakat "Bumi Baca Rancaekek"

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Artikel Utama

Membangun Sebuah Taman Bacaan Masyarakat

11 Agustus 2012   13:22 Diperbarui: 4 April 2017   18:14 13921
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
13447004901466925063

[caption id="attachment_206182" align="aligncenter" width="266" caption="Ilustrasi/ Admin (shutterstock)"][/caption] Taman Bacaan masyarakat atau TBM adalah salah satu wadah yang bergerak dibidang pendidikan yang mempunyai tujuan untuk meningkatkan kembali minat baca masyarakat tanpa membedakan status sosial, ekonomi, budaya, agama, adat istiadat, tingkat pendidikan dan lain sebagainya. Bagi masyarakat Indonesia, khususnya ekonomi menengah ke bawah, membeli buku adalah sesuatu yang berat. Tentunya selain buku pelajaran untuk sekolah anak-anaknya. Mungkin bagi sebagian dari mereka, membeli beras dan kebutuhan lainnya lebih penting. Tak dapat dipungkiri, memang.

Salah-satu solusi untuk persoalan ini adalah dengan dibentuknya Taman Bacaan masyarakat, dimana masyarakat dapat menikmati isi buku tanpa mengeluarkan uang. Bagaimana perkembangan Taman Bacaan Masyarakat sekarang? Setelah beberapa pelopor, pendiri dan relawan dengan gigih mengajak sesama relawan dan masyarakat umu untuk turut membangun TBM di lingkungannya, kini TBM telah marak di berbagai daerah. Tentunya, masih dubutuhkan TBM-TBM selanjutnya. Agar sosialialisasi gerakan membaca merata.

Bagaimana membangun sebuah Taman Bacaan Masyarakat? Kita ambil contoh TBM ARJASARI dan SUDUT BACA SOREANG. Dua Taman bacaan Masrarakat yang berada di wilayah Kabupaten Bandung. Taman Bacaan Arjasari, dibangun oleh Agus Munawar dengan memanfaatkan ruang dapur yang hanya berukuran 3 x 3 meter. Dengan kegigihan beliau, TBM ini berkembang pesat hingga sekarang menjadi salah-satu TBM percontohan.

Kepada saya, Pak Agus menceritakan saat beliau merintis Taman bacaan Masyarakat di daerah Arjasari yang notabene berada di kawasan pegunungan-Banjaran. Pulang kerja, dengan menggunakan motor vespa Pak Agus ini selalu membawa buku bekas namun layak baca yang dibelinya dari pasar loak.

Melihat reaksi anak-anak yang begitu antusias untuk membaca dan mengikuti kegiatan di TBM, masyarakatpun mendukung apa yang dirintis beliau. Dukungan masyarakat dan kebersamaan mereka menjadikan TBM ARJASARI menjadi Taman bacaan yang maju dan memiliki kegiatan tetap yang edukatif.

Setelah TBM Arjasari berjalan lancar, Pak Aguspun menghibahkan rumahnya itu. Sedangkan beliau sendiri kemudian membeli kembali satu buah rumah yang berlokasi di Griya Bunga Asri Blok A-33 Soreang, dan mendirikan SUDUT BACA SOREANG yang saat dirintis hanya bermodalkan 500 eksemplar buku.

Bagaimana jika kita mempunyai niat membangun Taman Bacaan Masyarakat? Dalam pikiran anda syarat utama membangun TBM  tentu saja buku. Anda salah! Jika syarat yang satu ini belumlah dapat terpenuhi, ada hal lain yang dapat digunakan terlebih dahulu yaitu kegiatan! Namun tentunya masyarakat khususnya anak-anak akan menyukai kegiatan yang diadakan oleh kita jika kegiatan ini dibimbing langsung oleh kita sebagai pengelola Taman bacaan

Kegiatan apa yang sekiranya disukai anak-anak? Anak-anak usia Sekolah Dasar menyukai kegiatan menggambar, mewarnai, membaca puisi, belajar bersama, cerdas cermat, bersepeda santai, dll. Sedangkan untuk anak usia Sekolah Menengah Pertama ataupun usia SMU, mereka cenderung akan menyukai kegiatan berdiskusi, menulis cerpen, menulis puisi, teater dan lainnya.

Contoh-contoh ini tentunya tidak akan menghabiskan dana di saku anda. Untuk mewarnai, kita cukup bermodalkan fotocopy gambar-gambar yang sering kita temukan di buku pelajaran anak-anak atau hasil mengunduh dari internet. sedangkan untuk pensil warna dan lainnya, kita hanya membutuhkan satu pak saja untuk dipakai bersama-sama.

Saya pribadipun, mengawalinya dengan buku yang sangat minim. Namun saya tak kalah hanya karena alasan kurangnya buku. Saat saya membuka Taman bacaan, buku yang ada hanya 10 eksemplar sementara anak-anak yang berkumpul ada tigapuluhan. Agar tidak rebutan, maka saya sendirilah yang membacakan satu buku untuk mereka setiap harinya. Banyak hal yang dapat dilakukan, misalnya mendongeng, mengajarkan mereka bertanam, membuat tas dari kain atau keterampilan lain. 

 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Humaniora Selengkapnya
Lihat Humaniora Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun