Mas Nuz
Mas Nuz karyawan swasta

hamba Alloh yang berusaha hidup untuk mendapatkan ridhoNya. . T: @nuzululpunya | IG: @nuzulularifin

Selanjutnya

Tutup

Humaniora

Hai Haters dan Lovers, Baca Ini Dulu Dong!

3 September 2015   17:29 Diperbarui: 4 September 2015   10:36 399 6 3

"Akhir kata, positivism bagi saya bukanlah bicara yang indah-indah, tapi bicara apa adanya......"

Sebuah petikan kalimat di paragraf akhir tulisan Yanuar Rizky begitu halus. Namun cukup menghentak. Menunjukkan sebuah kematangan berpikir dan bertindak. Menyampaikan realita tanpa meremehkankan. Menyampaikan fakta tanpa memaksakan. Menyampaikan sebuah ironi tanpa menghinakan.

Gaya santun analis independen ini mungkin sangat berbeda dengan beberapa tulisan para Kompasianer yang pernah saya baca. Begitu gegap gempita saat menyampaikan ide-ide dalam tulisannya. Seolah Indonesia ini miliki dirinya sendiri. Sebegitu gaharnya saat menyerang kubu lawan. Sebegitu liar dan habis-habisan saat membela kubu kawan.

Sehingga tak pelak, begitu nampak sebutan 'haters' dan 'lovers'. Mirip-mirip dengan para tokoh di film kartun buatan Walt-Disney, Tom and Jerry. Hingga para penonton tertawa terpingkal-pingkal saat melihat adegan konyol. Ikutan geram atau marah saat 'lovers'-nya teraniaya. Berjingkrak-jingkrak saat 'haters'-nya dipalu kepalanya.

Entahlah, mungkin ini adalah panggung sandiwara yang berhasil degelar dengan sangat apik oleh sang dalang. Saat suasana adem ayem, maka perlu disuguhkan lakon 'goro-goro'. Seperti saat kita melihat pertunjukkan wayang kulit, wayang wong, ketoprak atau sejenisnya. Tentu saja ini untuk menjadi katalis agar suasana tetap hangat di K. Apalah artinya banyak tulisan opini, catatan harian atau fiksi jika tak ada 'greget'.

Kemudian teringat buku Kang Pepih "kompasiana Etalase Warga Biasa" dimana tagline-nya adalah: Pergulatan Membangun dan Mengembangkan Kompasiana sebagai Media Sosial Khas Indonesia. Saya pun mrenges sendiri. Lalu ngakak sengakak-ngakaknya. 'Bajigur'! Demikian mungkin kalau orang Jogja berucap saat menyadari ketololannya sendiri.

Dari kata "Pergulatan" itu saja sudah menunjukkan bahwa memang K ini adalah sebuah wadah tempat orang begulat. Tentu saja bukan dimaksud untuk begulat secara fisik. Meski terkadang akhirnya sentimen personal akhirnya bisa membuat vis a vis diantara para K-ners. Ini secara tak langsung, bahwasannya K berhasil meminta para K-ners untuk bermain pada peran dan karakter masing-masing.

Di situlah K menjadi begitu hidup. Begitu gegap gempita dan penuh sorak-sorai. Meski sesekali ditimpali dengan derai air mata oleh kisah-kisah inspiratif. Atau kisah-kisah yang menyayat hati dari para kontributornya. Dan etalase itu akhirnya memang tak pernah sepi. Hingga terasa sesak saat server sudah tak mampu lagi menampung himpitan ide, emosi, dan jeritan hati.

Tak pelak, etalase yang sesak dan penuh pernak-pernik warna-warni ini kini banyak dilirik oleh para rekanan. Para kompatriot sejenis pun dibuat kelabakan. 'Anak media yang masih bau kencur' ini berhasil memporak-porandakan pasar media onlen. Utamanya jagat citizen journalism onlen.

Balik ke kutipan awal ya. Para K-ners yang begitu mencintai Indonesia, tentu mempunya alasan tertentu untuk menjadi 'haters' atau 'lovers'. Namun sesekali perlu menengok cara gaya menulis Yanuar Rizky. Meski disajikan tanpa data hanya berupa cerita, seolah kita sudah ikut masuk dalam pikirannya. Bagi saya yang dulu mata kuliah pengantar makro dan mikro dapat nilai C pun dapat mudah memahami alur rasional yang dibangun. Rasional, aktual, dan faktual tentu saja.

Sebab teori akademis seringkali berbanding terbalik dengan kenyataan empiris. Sehingga data-data yang kita gelar di atas meja seluas lapangan GBK pun kadang tiada guna. Saat kita di hadapkan kepada kenyataan di luar lapangan GBK tersebut. Sebagaimana saat si dia berteriak krismon-krismon, tapi dengan santainya si dia berganti-ganti mobil. Atau saat dia berkata, "Kencangkan ikat pinggang!" Eh, malah si dia bermedsos ria sambil tunjukkan foto pesta di atas kapal pesiar mewah. #AhSudahlah

Wis. Cukup. Alhamdulillah, sesak dada ini sudah mulai berkurang. Meski harus 3/4 jam 'mecicil' di depan laptop, plong sudah akhirnya. Perlu sedikit tahu saja ya, para 'haters' dan 'lovers' itu juga para sahabat saya lho. 

-----

Catatan kecil dari punggung Bukit Menoreh, 03092015.

[note: gambar koleksi pribadi. hidup mengajarkan kita untuk selalu bersyukur.]