Pejuang Konservasi Burung Maleo dari Pakuli

09 Juni 2012 04:48:42 Dibaca :

Sebuah gubuk beratap daun kelapa luasnya kurang lebih empat kali empat meter berdiri diantara pohon-pohon kakau. Susunan lembaran papan kayu yang dipaku pada tiang membungkus dinding keempat sisi ruang dalam gubuk. Pada bagian gubuk lainnya sisinya dibiarkan tetap terbuka. Di kolong gubuk ada setumpuk sabut kelapa yang kering untuk bahan bakar memasak. Bekas-bekas bara api dari kayu terbakar yang ada di tungku masih mengepulkan asap, pisang rebus yang nampaknya belum lama diangkat dari panci tersusun berjajar di atas meja di sebelah tungku. Seorang laki-laki tua perlahan-lahan menuruni tangga dari gubuk yang mungil itu. Kakinya yang tidak beralas sandal terlihat keriput dimakan usianya yang telah menginjak delapan puluhan tahun. Mengenakan selembar kain sarung yang lusuh melilit tubuhnya. Diantara suara nyanyian dari radio yang sedang ia setel, dengan ramah laki-laki tua itu memperkenalkan namanya Alikamisi Raja Pasu. Nama ini oleh orang sekampung biasa disingkat menjadi Pak Ali.


Desa tempat Pak Ali tinggal itu namanya Pakuli, sebuah desa yang berbatasan langsung dengan kawasan hutan konservasi – Taman Nasional Lore Lindu. Secara administrasi, Desa Pakuli termasuk dalam Kecamatan Gumbasa, Kabupaten Sigi. Berkendaraan apa saja tidak akan sulit untuk sampai ke desa Pak Ali. Jalan yang beraspal dan dapat ditempuh kurang lebih satu jam lamanya dari Kota Palu.


Pak Ali telah lama melakukan upaya konservasi dan perlindungan burung maleo (Macrocephalon maleo), salah satu satwa endemik yang hanya ada di Sulawesi dan tidak ada di tempat lain. Usia yang semakin menua, tidak membuat kendor komitmennya untuk melestarikan burung maleo. Semangatnya terus berkobar meski ia harus berjalan lebih jauh karena jembatan gantung sebagai penghubung jalan yang biasa ia gunakan menuju lokasi penangkaran terputus akibat diterjang banjir bandang.


Dalam upaya melestarikan burung maleo, Pak Ali memindahkan telur ke lokasi yang dipasangi pagar agar keberadaan telur terlindung dari para predator. Ketika telur menetas, burung maleo yang masih kecil diberi makan dengan tumbukan buah kemiri yang dibelinya secara swadaya. Setelah mulai besar dan dianggap telah bisa bertahan hidup, burung maleo kemudian di lepas ke alam. Karena upayanya itu, pada tahun 2008, Pak Ali mendapatkan penghargaan dari Bupati Donggala atas peranserta dan partisipasinya dalam penyelamatan dan penangkaran burung maleo, dimana hingga tahun 2008 telah melepas sebanyak 880 ekor burung maleo di kawasan Taman Nasional Lore Lindu. Hingga tahun 2012, jumlah burung yang telah diselamatkan oleh Pak Ali menjadi semakin bertambah seiring dengan berjalannya waktu. Untuk mempertahankan keberadaan burung maleo, tidak jarang Pak Ali menasehati para pemburu agar tidak mengambil telur dan menjerat burung yang dilindungi oleh undang-undang itu.


Dalam kondisi keterbatasan ekonomi yang menghimpit kehidupan, tidak banyak orang seperti Pak Ali yang mau berjuang melestarikan satwa yang menjadi maskot Provinsi Sulawesi Tengah. Jasanya yang besar dalam menjaga terciptanya keseimbangan ekosistem kawasan Taman Nasional Lore Lindu, membuat decak kagum sekaligus rasa keprihatinan. Untuk mendapatkan legitimasi kawasan di mata masyarakat yang kini semakin tergerogoti, selayaknya para pengelola kawasan menggandeng tangan orang-orang seperti Pak Ali.



Burung Maleo


Burung maleo (Macrocephalon maleo) merupakan salah satu satwa endemik yang hanya ada di Pulau Sulawesi dan tidak ada di tempat lain. Burung ini memiliki keunikan dalam hal perkembangbiakannya. Tidak seperti burung lain yang membuat sarang dan mengerami telurnya, maleo meletakan telurnya dalam lubang pasir di dekat pantai, lalu telur dibiarkan menetas dengan sendirinya.


Ketika menggali lubang untuk bertelur, penggalian dilakukan secara bergantian antara maleo jantan dan maleo betina. Saat maleo betina menggali lubang, maleo jantan mengawasi sekelilingnya, demikian sebaliknya. Telurnya sangat besar dengan panjang rata-rata 11 cm dan beratnya sekitar 260 gram per butir atau sebanding dengan 5 butir telur ayam. Untuk mengelabui predator yang akan memangsa telur-telur mereka, maleo seringkali membuat lubang-lubang lain. Setelah menetas anak maleo akan berusaha sendiri keluar dari tanah atau pasir dan langsung berjuang hidup sendiri di alam tanpa asuhan sang induk.


Sayangnya burung yang unik ini kondisinya terancam punah, populasinya terus-menerus menurun. Kalau tidak dilakukan upaya pelestarian, suatu saat burung ini akan punah sama sekali. Beberapa ancaman terhadap habitat maleo diantaranya penebangan hutan secara berlebihan serta pembukaan lahan dengan cara membakar hutan. Dibutuhkan komitmen para pihak, agar burung maleo tidak punah dari bumi Indonesia …



Redaksi  NoerDblog

Nurudin Mansur

/nurudien

Seorang Warga Kota Palu - Sulteng, dengan blog pribadi http://noerdblog.wordpress.com/
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?