HIGHLIGHT

Balada Baju Baru

09 Agustus 2012 05:42:49 Dibaca :
Balada Baju Baru
Baju baru adalah impian bocah saat Lebaran. (Ilustrasi: www.teachingideas.co.uk)

Lebaran selalu identik dengan baju baru. Sudah lazim orang bertanya di penghujung Ramadhan,”Eh, sudah beli baju baru belum?”

Entahlah sejak kapan tradisi membeli baju baru untuk Lebaran ini berawal. Padahal Nabi Muhammad SAW dalam salah satu hadisnya dalam Shahih Bukhari hanya memerintahkan kita mengenakan “pakaian yang terbaik” pada hari raya Idul Fitri. Tetapi “terbaik” di sini selalu dimaknai sebagai sesuatu yang “baru”.

Di zaman penjajahan Jepang dulu saat keadaan ekonomi sangat susah termasuk untuk makan, apalagi untuk beli baju, hal tersebut dapat dipahami. Tidak ada pakaian sehari-hari yang “layak” atau “terbaik” dipakai pada hari raya. Wong, ada yang sampai bikin celana dari karung goni atau karung beras kok. Bila dari kain belacu, itu sudah lumayan, demikian cerita almarhum ayahku. Maka wajarlah saat itu bila yang terbaik dimaknai sebagai sesuatu yang baru.

Tapi di zaman saat ini, anehnya, tradisi itu terus berlangsung. Meski saat ini banyak orang sanggup beli baju tiap bulan, bahkan setiap momen khusus, entah pesta ulang tahun atau piknik.

Namun sewaktu aku kanak-kanak, pikiran bijak tersebut sama sekali tak terpikirkan. Yang aku tahu adalah jika aku tak punya baju baru berarti aku berbeda dari teman-teman sepermainanku. Dan aku malu karenanya. Itu saja. Sebetulnya kondisi ekonomi keluargaku tahun 80-an itu juga memprihatinkan.

Saat itu keluargaku masih lengkap. Sangat lengkap, ada ayah dan ibu dan enam anak-anaknya. Aku sendiri anak kelima dari enam bersaudara. Empat laki-laki dan dua perempuan. Semuanya bersekolah, dan belum ada yang bekerja saat itu. Suatu kondisi yang lumayan berat bagi ayahku, kami biasa memanggilnya Aba, yang hanya montir mobil panggilan.

Sementara ibuku adalah ibu rumah tangga biasa, yang coba membantu suaminya dengan membuat kue yang dititipkannya di warung-warung di dekat rumah. Ada juga tambahan penghasilan dari beberapa petak rumah kontrakan yang baru dirintis Aba yang sayangnya tak cukup menutupi kebutuhan keluarga. Maklum, rumah kontrakan kami kecil dan tidak terlalu bagus sehingga Aba tak terlalu tega untuk mengenakan harga sewa yang tinggi. Apalagi harga sewa rumah kontrakan saat itu tidak setinggi sekarang.

Aku ingat betul waktu itu seminggu lagi Lebaran. Aku masih duduk di kelas tiga SD. Sembilan tahun usiaku. Agak telat memang. Karena di kelas satu SD aku sempat cuti sekolah selama setahun karena sakit kencing batu. Baru kemudian atas jasa baik Bu Satimah—guruku di kelas satu—aku dapat melanjutkan sekolah di kelas dua di sekolah yang sama tanpa harus membayar biaya tambahan.

Ya, sakit yang mengharuskan aku istirahat selama setahun  di rumah itu sangat membebani keluarga untuk ongkos pengobatan kesana-kemari. Atas izin Allah, alhamdulillah, aku sembuh setelah batu sebesar kepalan tangan bayi itu berhasil diangkat dari kandung kemihku melalui operasi bedah. Waktu itu belum dikenal teknologi bedah laser sehingga aku harus mendapat beberapa jahitan. Biaya operasinya tiga ratus ribu rupiah (ingat saat itu tahun 1984!), hasil berhutang dari salah seorang pemilik warung tempat ibuku biasa menitipkan dagangan kuenya.

Alhasil persoalan baju baru adalah persoalan istimewa bagiku. Tidak setiap bulan aku bisa punya baju baru. Sering juga memang langganan kerja Aba—kebanyakan warga etnis Cina di kawasan Jakarta Barat—memberikan pakaian bekas mereka—yang menurutku bekas hanya karena jarang sekali dipakai atau tertumpuk di lemari pakaian—yang masih bagus-bagus sebagai bonus atas kerjanya yang dianggap memuaskan ketika memperbaiki mobil mereka. Tapi ya tetap saja judulnya baju bekas, bukan baju baru ya to?

“Lam, lo udah punya baju baru belom?” tanya salah seorang temanku. Kami sedang bermain gundu alias kelereng menunggu beduk berbuka puasa.

Aku pura-pura sibuk membersihkan kelereng-kelerengku yang berdebu. Tanah tempat kami bermain memang berdebu. Waktu itu kemarau.

“Gue sih udah punya dua. Satu baju koko, satu kaos!” tukas temanku yang lain berbangga. Senyumnya cerah. Bagiku itu senyum mengejek.

Obrolan bocah pun beralih ke topik baju baru. Ah, panas sekali telingaku. Aku juga saat itu bingung kenapa Ibu belum juga mengajakku ke pasar. Biasanya dua pekan sebelum Lebaran Ibu mengajakku—karena adikku masih dianggap terlalu kecil—berbelanja baju Lebaran di Pasar Jatinegara.

Pasar tradisional yang padat dan sumpek di tepi lapangan Jenderal Oerip Soemohardjo, Jakarta Timur. Tapi aku ingat betul betapa harumnya bau baju-baju baru yang tergantung di kios-kios pedagang maupun emperan kaki lima. Tak peduli peluh dan lelah karena seringkali Ibu harus bolak-balik masuk toko mencari barang terbaik dengan harga termurah. Tapi aku senang-senang saja. Itulah “ritual“ wajib menjelang Lebaran.

Ketika aku pulang ke rumah pun, Aba dan Ibu sama sekali tak membahas soal baju baru. Kakak-kakakku yang lain juga bersikap biasa-biasa saja. Kakakku yang terdekat perempuan, selisih usia kami tiga tahun. Mungkin ia sudah cukup paham. Tapi itu dia, bukan aku.

Malam harinya selepas sholat Tarawih, aku bergegas sampai ke rumah paling awal. Ketika Ibu baru merapikan mukenah dan sajadah sepulang dari masjid, aku langsung merajuk. Ibu cuma bilang,”Nanti juga dibeliin. Sabar!”

Aku tak puas. Aku dekati Aba yang sedang asyik merokok di ruang depan. Jawabnya pun sama,”Sabar ye…”

Aku pun memupuk kesabaran hingga beberapa hari. Tinggal tiga hari menjelang Lebaran. Ibu sudah sibuk membuat kue Lebaran. Sebagian pesanan tetangga. Tapi ada yang kurang. Baju baru.

Anehnya kakak-kakakku masih tenang-tenang saja. Entahlah apakah Ibu sudah berhasil memenangkan mereka. Adikku sendiri yang selisih usia empat tahun di bawahku, anehnya, tak seribut aku. Rasanya di hari-hari menjelang Lebaran jantungku kian berdebar. Tiap malam saat keluarga berkumpul menonton TV—saat itu masih hitam putih 14 inci—aku berharap Ibu akan berkata,”Lam, besok ke pasar yuk!”

Namun ucapan itu tak kunjung keluar dari bibirnya. Aba pun ketika ‘kudesak-desak kembali hanya membentak dengan mata mendelik,“Tanya ibu lo sono!” Ah, rasanya kesabaranku habis. Tangisku meledak.

Esoknya, dua hari menjelang Lebaran, aku tidak bermain keluar rumah. Sekolah memang sudah libur. Aku berdiam saja di rumah. Tidak kemana-mana. Hanya mendekam di kolong tempat tidur. Aku sedang protes!

Aba dan Ibu membujuk. Kakak-kakakku mengiming-imingiku janji beli permen atau penganan. Semuanya membujuk agar aku mau keluar dari kolong tempat tidur. Cukup lama aku bertahan, sambil sesekali berteriak dan menangis.

Aku tak peduli meski salah satu kakakku bilang puasaku batal karena aku menangis. Ubin lantai di kolong tempat tidur saat itu dingin dan berdebu. Kerongkonganku lelah berteriak. Dada juga sakit dan leher pegal karena tak bisa tegak. Aku pun terbatuk-batuk hebat. Tapi biarlah. Aku lebih rela begini daripada malu tak punya baju baru, pikirku saat itu.

Jelang azan Ashar, Ibu menyerah. Ia janji mengajakku ke pasar keesokan harinya. Wah, hilang sudah pegal, dingin dan batukku!

Terbayang aku bisa sholat Ied, berkunjung ke rumah kerabat, dan paling penting bisa beramai-ramai bersama teman-temanku berbaris meminta angpao dari para tetangga. Itu momen-momen terindah saat Lebaran. Dan itu mustahil tanpa baju baru.

Alhasil, sehari menjelang Lebaran itu, jadilah aku punya baju baru. Seharian ibu mengajakku berbelanja baju. Ternyata termasuk baju Lebaran untuk kakak-kakakku. Mungkin Aba dan Ibu sebenarnya sudah punya uang untuk beli baju. Tapi tunggu waktu yang tepat, batinku. Ah, yang penting hatiku gembira sekali saat itu.

Malamnya malam Takbiran. Selepas takbiran bersama di masjid, aku lekas pulang ke rumah. Mengepaskan baju baruku di depan cermin. Ya, baju yang didapat dengan perjuangan keras. Keras betul, menurutku. Anehnya, meski film terakhir di TV—saat itu paling malam siaran TVRI berakhir pukul dua belas malam dengan acara terakhir film Barat. Itupun hanya satu film sepanjang hari. Larut malam itu aku tak merasa mengantuk sama sekali.

Lamat-lamat kudengar Aba dan ibu berbincang-bincang di kamarnya.

“Pinjem duit siape buat belanje tadi?” Suara Aba terdengar bertanya.

Terdengar tarikan nafas berat ibu. “Nunung kasih pinjem. Kapan aje gantiinnye katenye.”

Nunung adalah adik tiri Aba. Suaminya, Om Misdi, seorang pematung yang sering dapat orderan dari luar daerah. Kehidupan mereka memang lebih berada daripada kami.

Tarikan nafas berat Aba menyusul. “Gak enak juga ye minjem mulu ame die.” “Ye, gak pape deh. Tadi juga ditahan-tahanin malunye. Namenye juga buat anak.”

Kemudian sunyi. Sesunyi perasaanku malam itu. Kegembiraan malam itu terasa berkurang. Ya, demi anak. Duh, Aba, Ibu, maafkan aku. Peristiwa malam takbiran itu sangat membekas. Seingatku, itulah terakhir kalinya aku merengek minta baju baru untuk Lebaran.

Toh, tanpa aku merengek pun, tahun-tahun berikutnya kedua orangtuaku tak pernah lupa membelikan kami baju baru untuk Lebaran. Entah, barangkali dengan uang tabungan atau kembali berhutang, aku tak tega menanyakannya. Cukuplah mereka hanya tahu kami gembira menerimanya.

Sayang ibuku keburu wafat pada 1997 saat aku baru menginjak tahun pertama kuliah di Universitas Indonesia (UI). Aku belum bisa membelikannya baju baru untuk Lebaran. Namun, saat punya penghasilan sendiri, aku sempat membelikan baju Lebaran untuk Aba berupa baju koko, peci dan sarung untuk sholat Ied. Tidak mahal-mahal sekali. Tapi itu pun sudah bagus sekali, kata Aba sambil berucap terima kasih.

Binar riang matanya dan senyum bangganya ketika berterima kasih padaku sudah cukup melegakanku. Moga itu bisa menebus rasa susah hatinya saat aku protes sambil ngumpet di kolong tempat tidur dulu. Orang tua manapun pasti pusing jika anak merengek minta baju baru sementara tak ada uang di saku.

Pada Lebaran tahun 2006 sebetulnya aku berencana memberikan baju koko dan sarung terbaik buat Aba. Namun Allah berkehendak lain. Aba berpulang ke rahmatullah pada usianya ke-73 pada malam nisfu sya’ban, lima belas hari menjelang Ramadhan. Tepat selepasMaghrib 8 September 2006. Ah, betapa sunyinya Ramadhan dan Lebaran saat itu tanpa kedua orang tua.

Aku teringat salah satu ucapan tabi’in—kalangan ulama yang hidup setelah zaman sahabat Nabi Muhammad SAW—dalam salah satu buku yang pernah kubaca,”Kasih sayang anak ketika merawat orang tua takkan pernah dapat menebus kasih sayang orang tua terhadap anak. Orang tua merawat anak ketika kecil hingga dewasa tanpa tahu bagaimana akhirnya kelak apakah si anak akan membalas budinya atau justru mendurhakainya. Sementara anak merawat orang tua dengan sebuah akhir yang diketahuinya bahwa orang tuanya akan wafat di hari tua.”

Jadi jelas nilainya sangat berbeda. Kasih orang tua sepanjang hayat, kasih anak sepanjang galah.

Dalam hati aku berdoa,”Ya Allah, pakaikanlah kedua orang tuaku baju baru di surga-Mu.”

Selalu demikian doa itu kupanjatkan hingga kini, hingga hari ini, hingga detik ini di hati.***



Nursalam AR

/nursalam-ar

TERVERIFIKASI (HIJAU)

Penerjemah & Editor. Blog: www.nursalam.wordpress.com.
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?