Cerita Cinta Anak SMA part 2

06 Maret 2013 05:58:49 Dibaca :

Malam ini aku habiskan hanya dengan berguling di atas tempat tidur ke kanan dan ke kiri. Semua tugas sekolah sudah aku selesaikan, waktu sudah menunjukkan waktu tengah malam, tapi mataku tetap tidak mau terpejam. Penyakit insomniaku kambuh lagi.


Bosan. Kuambil handphone yang tergeletak di sebelah bantal. Kuotak-atik semua program yang ada di dalamnya. Saat sedang asyik-asyiknya main Temple Run, handphoneku bergetar dan diikuti lagu Pororo. Kubuka pesan baru itu.


Mal, udah tidur belum?


Fahmi? Sebenarnya aku malas untuk menekan tombol reply, tapi berhubung aku juga belum mengantuk, akhirnya kuputuskan untuk membalas pesan singkat itu.


Belum. Knp? Mau ngomongin masalah yg td siang di sekolah?


Send. Sambil menunggu balasan darinya aku bergerak ke arah lemari buku dan mengambil beberapa komik untuk mengusir rasa bosan. Tak lama, kembali terdengar lagu Pororo. Sepertinya aku harus mereset pengaturan suara dihandphoneku kalau tidak mau kena marah papa dan mama.


Iya. Mal, kau kenal dekatkan sama Rani? Comblangin aku sama dia ya. Aku gak berani mulai duluan.


Hah? Aku terdiam membaca balasan darinya. Jadi, itu ternyata. Seperti tidak ada orang lain saja. Kenapa harus aku sih? Membuat orang repot saja.


Jadi itu. Aku gak gitu kenal dia, Mi. Kenapa gak minta tolong sama Fikri aja? Dia kan sohibmu. Aku malas berhubungan dengan yg begituan.


Kau kan cewek, Mal. Jadi, pasti gampang nanya-nanya ke dia. Masa iya aku nyuruh Fikri yg nanya. Entar ketekong pulak aku.


Dengan sedikit agak terpaksa aku mengiyakan permintaannya itu. Sekarang aku memiliki profesi ganda, selain sebagai siswi, juga sebagai mak comblang. Kalau ajang percomblangan ini sukses, bisa saja aku buka biro jodoh. Bisa nambah uang jajan dan bisa membantu orang-orang yang sulit dalam mendapatkan jodoh.


Thanks, Mal. Tenang aja, kalau ini sukses, kau bakal aku traktir, oke? Ya udah tidur sana. Anak gadis jam segini belum tidur, apa kata orang?


Hah? Dia sakit atau apa sih. Aku belum tidur karena meladeni sms darinya. Kesal, sms terakhir darinya tidak kubalas. Langsung kumatikan handphone dan kutarik selimut menutupi seluruh tubuhku. Aku harus tidur, sebelum kesabaranku habis.


*


Pagi ini langit terlihat cerah. Kulangkahkan kaki menuju kelas, sebelumnya aku mampir sebentar ke kantin. Tadi seperti biasa, aku telat bangun lagi, jadi tidak sempat sarapan di rumah. Saat baru menginjakkan kakiku ke dalam kelas, aku sudah dikerubungi oleh Rey. Dasar, tidak tahu malu atau apa sih. Baru juga aku sampai, sudah ditodong seperti ini.


“Sabar dong. Aku baru sampai loh,” tegurku. Rey hanya mesem-mesem. Mending kalau senyumnya manis. Sesampainya aku di bangkuku yang berada di baris kedua, aku langsung meletakkan tas dan merogoh isi tasku. Mencari buku tugas matematika. Saat hendak kuserahkan buku itu ke Rey, ternyata sudah disambar oleh Khoirul. Astaga, aku sampai terlonjak kaget dibuatnya.


“YAA!” teriakku kaget.


“Haha, sorry sorry, Mal. Buru-buru nih. Bentar lagi masuk,” teriak Khoirul yang sedang sibuk berlari menghindari kejaran Rey. Aku hanya menghela napas, mencoba untuk bersabar. Kupandangi teman sebangkuku, Sri, yang sedang membaca novel.


Aku duduk di sebelahnya, melihat sampul novel yang sedang dibacanya. Mengetahui tingkahku, dia bergeser sehingga sampul novelnya berada tepat di hadapanku.


You and I. Oh, Orhizuka ternyata. Tanpa basa-basi, aku ikut membaca bersamanya. Sambil menunggu bel masuk berbunyi.


Tak lama kemudian, bel pun berbunyi. Saat bel sedang berbunyi, Jabbar baru datang. Dia berjalan ke arahku. Bukan, dia bukan menghampiriku, dia hanya melewatiku. Bangkunya berada di barisan kedua dari belakang. Saat sedang melewatiku, kuhirup aroma parfumnya.


Haah, wangi ini,’ aku tersenyum. Sri, seperti mengetahui isi pikiranku, dia menyenggol lengan kiriku sambil tersenyum mengejek. Sialan, pikirku. Aku melotot ke arahnya, lalu mengeluarkan semua peralatan sekolahku. Aku teringat sesuatu.


“YAA, Khoirul, bukuku mana?” teriakku.


“Sebentar lagi, Mal,” balasnya. Terlihat dia sedang sibuk menulis bersama dengan teman-teman yang lain. Aku menggeram pelan. Tak sabar, kudatangi mejanya.


“Kau mau mati?!” bentakku sambil menarik paksa bukuku. “Sudah bel tahu!” lanjutku lagi.


Dia menatapku pasrah. Tak bisa berkutik lagi. Keramaian dadakan yang terjadi hampir setiap pagi di kelasku akhirnya bubar dengan teratur. Saat hendak kembali ke bangkuku, sengaja kulewati bangku Jabbar. Meja Khoirul juga berada di deretan belakang, hanya saja cukup jauh jaraknya dari meja Jabbar. Aku bisa saja berjalan memutar untuk kembali ke bangku, tapi tak mau kulakukan. Saat berjalan di dekat mejanya, kulihat dia sedang asyik mengobrol bersama Elsa, Manda, dan Imam. Yah, lagi-lagi Elsa. Aku menghela napas dan berjalan lunglai kembali ke bangku. Sri melihat ekspresi wajahku yang entah bagaimana rupanya hanya tersenyum menguatkan. Aku mengangguk tanpa melihat ke arahnya.


Bu Lisbet pun masuk ke dalam kelas. Lalu, mulai mengabsen kami satu per satu.

Nurmala Fitri

/nurmalafitris

Obsessed to be reporter - 94lines - student
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?