Mau Uji Nyali dalam Menulis? Buktikan di Kompasiana

15 Juni 2012 11:51:58 Dibaca :
Mau Uji Nyali dalam Menulis? Buktikan di Kompasiana
bung-tsu.blogspot.com

Rasanya judul ini tepat sekali buat saya yang sedang belajar menulis. Kenapa? karena mood saya memang masih angin-anginan. Kadang keinginan untuk menulisnya bisa tak terbendung, tapi sering kali malah malesnya tidak ketulungan. Apa boleh buat, hasil karya tulisan saya  tidak bisa bertambah menurut deret ukur, melainkan  masih merangkak dan tak pernah maju-maju. Bak  jalan di tempat, seperti program pemerintah yang masih tambal sulam. Jadi  masih acak adul semaunya sendiri. Kalau lagi pingin menulis, kadang mau juga saya terjun bebas mencobanya. Tapi kalau  lagi jenuh, apapun alasannya tidak akan mempan. Kecuali cuma bengong saja, akhirnya tidak jadi menulis sedikit pun. Padahal sudah bolak balik baca sana sini sampai mata kadang memerah, belum juga ada ide untuk ditulis. Sedih rasannya kalau sudah begini. Saya terus terang belum bisa Talk Less Do More, walaupun saya  memang selalu Talk Less karena  sedikit agak pendiam, kalau sendirian dan tidak ada temannya lho (he heheh), tapi untuk Do More nya, masih sebatas Pekerjaan Rumah saja. Makanya judul tulisan ini benar-benar tepat sekali sebagai peringatan buat saya yang belum bisa konsisten atau punya komitmen untuk terus belajar menulis. Baru keinginan saja untuk belajar menulis, tapi konsistensi dan komitmen belum menyertainya. Walaupun saya masih terus berusaha dan mencoba utuk mencari jalan kesana.  Entah butuh waktu berapa lama lagi saya bisa mewujudkan antara keinginan dan usaha bisa sinergi. Semoga saja tidak terlalu lama, karena saya sebenarnya sudah menyediakan waktu yang luar biasa fleksibelnya untuk belajar dan belajar. Tapi seringnya masih sebatas niatan saja dan belum sampai kepada aksinya. Saya berharap dengan kehidupan yang terus berjalan dan senyampang nyawa masih ada di badan, saya ingin mendapatkan ide-ide baru yang segar. Inilah yang sedang saya nanti-nantikan sebenarnya. Sederhana pun ide itu tidak menjadi masalah bagi saya, yang penting bisa memberikan manfaat bagi diri saya sendiri terutama. Yah, sebagai pengingat di kala lupa. Syukur bisa bermanfaat juga kepada orang lain. Selanjutnya kalau  sudah semakin piawai dalam dunia penulisan,  saya tidak segan-segan untuk mengikuti lomba menulis dan bergabung dengan kawan-kawan lainnya untuk menulis buku antologi, karena saya ingin mencoba dan sekedar  mengukur kemampuan menulis saya. Dengan menjadi terbiasa menulis, maka mengikuti lomba dan penulisan buku antologi diharapkan akan memaksa saya untuk terus belajar.  Di sinilah sebenarnya kita ditantang untuk menyesuaikan tulisan  dengan selingkung yang ada. Tentu hal ini akan sangat berguna, karena bila suatu saat kita ingin menerbitkan buku,  kita harus menyesuaikan naskah  dengan selingkung penerbit yang kita tuju, ngarep.com Akhirnya dengan   menjadi terpacu dan mempunyai semangat yang luar biasa, kita bisa menulis buku solo. Tentunya kita masih harus terus belajar dan mencoba untuk mengenal dunia penulisan yang sebenarnya, termasuk mencoba menganalisa pasar berdasarkan buku yang sedang trend dan lain sebagainya. Paling tidak, kita tahu medan pertempuran yang ingin kita menangkan. Dengan demikian, keahlian dalam menulis juga memerlukan proses, tidak bisa instant atau jalan pintas. Sama seperti kita belajar bersepeda atau olah raga bulu tangkis membutuhkan waktu untuk bisa. Bagaimana menurut Anda? Salam Kompasiana dan Terima kasih

Rokhmah N Suryaningsih

/nunungsuryani

TERVERIFIKASI (HIJAU)

Seorang Ekonom, Pengamat Sosial, Ekonomi dan Pasar modal; Wirausahawati; Blogger, Traveler, Food lover, Cat Lover;
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?