Merajut Masa Depan Bocah Merapi

03 Juli 2012 09:31:53 Dibaca :
Merajut Masa Depan Bocah Merapi

Dimuat di Indonesia Art News, Senin/2 Juli 2012 http://indonesiaartnews.or.id/bukudetil.php?id=11

POLOS nian ekpresi anak-anak lereng Merapi, walau sebenarnya mereka geram menyaksikan penambangan pasir yang merusak alam desa Sumber, Muntilan, Jawa Tengah. Maka, tatkala bocah-bocah tersebut berpapasan dengan truk-truk penjarah pasir di jalan, tanpa ada yang mengkomando mereka sontak terdiam. Lantas, apakah anak-anak desa itu kemudian melempari batu? Ternyata tidak, mereka hanya tak mau mengeluarkan sepatah kata pun. Tetapi begitu terbebas dari pandangan yang menyiksa itu, mereka kembali berlarian, bersenda-gurau, dan bersiul gembira.

Begitulah penuturan Romo Vincentius Kirjito Pr selaku "pamong" mereka. Putra pasangan Kromo Pawiro dan Padinem ini merupakan alumni Seminari Tinggi Kentungan, Yogyakarta. Ada satu prinsip yang menarik untuk dicermati. Baginya, media massa bukan sekadar “panggung” untuk pemberitaan sebagai seorang pesohor.

Dalam konteks ini, sungguh berbeda dengan kecenderungan para elit politik yang 'hobi" menggelar konferensi pers. Paderi desa kelahiran Menoreh, 18 November 1953 tersebut memaknai interaksi dengan media massa tak cukup sekadar menjalin komunikasi antara seorang berjubah dengan pekerja pers. Kenapa? Karena ini lebih merupakan srawung (interaksi) antarmanusia yang berkehendak baik.

Pastor Praja (Pr) Keuskupan Agung Semarang (KAS) ini mengaku terinspirasi dari petuah Romo Y.B. Mangunwijaya. Pada 1987 silam, tepatnya di Salam, kabupaten Magelang, ada pelatihan terkait tugas-tugas Imam di dalam masyarakat. Mendiang Romo Mangun berpesan, “Imam Praja itu punya kesempatan bagus untuk dekat dengan masyarakat, merasakan denyut nadi, suka-duka masyarakat.

Dalam sistem politik yang semakin menekan masyarakat, seorang Imam Praja bisa menjadi saluran menyuarakan aspirasinya. Paling tidak bisa menyalurkan lewat media massa, entah dengan menulis atau sekurang-kurangnya menjadi narasumber media dalam mencari kebenaran suatu masalah dalam masyarakat. Karena media massa itu yang memerankan “wakil rakyat” yang sesungguhnya (halaman v)”.

Buku ini merupakan kompilasi buah pena para insan pers selama 10 tahun (2001-2011). Isinya menyiratkan betapa komplit dinamika kehidupan masyarakat di pedesaan. Mulai dari keindahan lingkungan alam sekitar, kearifan pustaka budaya lokal, hingga keluh-kesah akar rumput dan warta bahagia dari lereng Merapi. Penulisnya terdiri atas para wartawan media cetak dan elektronik. Baik dalam skala lokal, nasional, maupun internasional. Total ada 51 artikel. Terbagi ke dalam 3 sub-bab: Masalah Ekologi, Pagelaran Budaya, dan Spiritualitas.

“Know Thyself,” sebuah mantra ampuh dari Yunani. Artinya, “Kenalilah Dirimu.” Menyitir pendapat Anand Krishna. Ternyata, ada 3 macam diri manusia. Pertama, diri kita menurut orang lain. Kedua, diri menurut diri kita sendiri. Ketiga, diri kita yang sejati. Lantas, bagaimana anak-anak Merapi menemukan kembali jati dirinya? Yakni, sebagai bagian dari kolektivitas wong gunung nan murni itu. Lewat artikel bertajuk, “Kawruh Sakti untuk Anak-anak Merapi” (halaman 91-94) termaktub jawabnya.

Alkisah, Anjani berpesan pada Anoman dalam pertunjukan Wahyu Mangliawan, “Anakku, mulai saat ini jika kamu haus minumlah embun di pepohonan dan rerumputan, jika kamu lapar makanlah buah dan ubi di hutan. Itu sama dengan meminum air susu ibumu dan memakan masakan ibumu. Ketika kamu bersedih karena kesepian, kamu tidak boleh lagi menangis karena sendiri. Alam ini adalah saudaramu...”

Artinya, kembali ke Bunda alam semesta (back to Mother nature). Mendekatkan anak-anak dengan lingkungan sekitar dan budaya lokal. Dua acungan jempol untuk kreatifitas anak-anak lereng Merapi. Terutama tatkala mereka bermain dhakon. Kenapa? Karena tanpa papan congklak sekalipun, para "bolang" dusun Gemer, kecamatan Dukun, Muntilan tersebut masih bisa menikmati keindahan masa kanak-kanak.

Mereka menggambar lingkaran-lingkaran di tanah dan kemudian mengumpulkan aneka kerikil dari sungai. Menurut Ibu Giyanto yang biasa mendampingi tunas-tunas muda tersebut, orang tua mereka tak mampu membelikan mainan ala wong kota seperti Play Station (PS), pedang-pedangan yang bisa menyala, ataupun televisi berwarna. Kenapa? Karena 99,9 persen berprofesi sebagai petani (miskin). Keunggulan dolanan anak ini ialah memfasilitasi interaksi intra dan antar-anak. Sejak dini mereka dibudayakan bersikap lepas-bebas dan apresiatif terhadap rekan sepermainan dan lingkungan sekitar.

Marketing Guyup

Buku ini juga memuat artikel ihwal perjumpaan 2 tokoh. Yakni, mengulas interaksi Hermawan Kertajaya (HK) dan Romo Kirdjito (RK). Pada 18 November 2009, keduanya sempat merayakan pesta ulang tahun di keheningan alam Merapi. Kebetulan HUT mereka sama. Kenapa kedua pria tersebut begitu spesial? Karena mereka menyadari ketidakhebatannya. Sehingga masing-masing tetap mau belajar satu sama lain.

Selama misa Alam, HK—yang dikenal sebagai pakar pemasaran (marketing)—mengaku merasa kecil dan tiada arti. “Saya betul-betul merasa kecil dan tidak ada artinya ketika berada di alam. Saya sungguh merasakan alam tidak membedakan kita. Yang kaya, yang miskin, yang pinter, yang bodoh, dan lain-lain semua sama di hadapan Alam dan Tuhan.” (halaman 159).

Pada satu sesi sebelum misa berlangsung, ia diminta mengambil 10 tumbuhan berbeda. HK memang berhasil membawa genap 10 tanaman. Tapi tidak ada satu pun tumbuhan yang dikenalinya. Walau sekadar rumput ilalang atau putri malu sekalipun. “Saya mampu mengumpulkan 10 tanaman, tapi saya tak tahu namanya hehe. Betul-betul nol pengetahuan saya soal tumbuhan,” ungkapnya di hadapan seluruh peserta misa Alam.

Frietqi Suryaman menyumbangkan sebuah artikel apik. Yakni, ketika Hermawan Kertajaya hendak memberi kenang-kenangan, berupa piano kepada masyarakat desa Dukun. Namun RK tidak mau, ia justru menginginkan disumbang seperangkat alat gamelan untuk masyarakat setempat. Kenapa? karena kalau piano hanya dimainkan oleh satu orang, sedangkan gamelan mau tak mau harus dimainkan secara kolektif. Inilah praktik guyup rukun yang sejati.

Menurut HK, sosok Romo Kir dapat dilihat dari sudut pandang marketing. Pertama, dia punya komunitas loyal, yakni masyarakat Merapi. Kedua, ia pastor yang tak dilambangkan sebagai sebuah salib saja, tapi sebagai manusia berbudaya. Sehingga bisa merangkul semua pihak. Bahkan yang saling bersengketa sekalipun.

Kemudian, secara blak-blakan, HK juga mengungkap akar masalah krisis global dewasa ini. Yakni, pemasaran yang melulu berorientasi pada laba. Seseorang sebenarnya belum mampu membeli suatu produk. Kendati demikian, perbankan dan pengusaha menggunakan paham marketing "asal untung". Akhirnya, konsumen terbuai membeli produk tersebut.

Tapi karena tak mampu membayar cicilan kredit, barang itu terpaksa ditarik kembali. Ketika tak ada yang mampu membeli, terjadilah penumpukan aset dan kolaps seperti sekarang. Dalam konteks ini, HK melihat marketing religius, humanis, dan ramah lingkungan sebagai solusi. Produk harus dekat dengan alam dan menjunjung nilai-nilai ketuhanan. Sejatinya, Romo Kir dan komunitas budaya di lereng Merapi telah menerapkan filosofi tersebut.

Lewat buku ini, Romo Kir juga mengungkap rahasia sukses gerakan budaya di komunitasnya. Gunung Merapi selalu menggelontorkan energi dahsyat. Sehingga ia mampu bertahan di tempat "panas" tersebut. Ia mengaku bukan orang pintar dan tak punya gelar akademisi tertentu. Sumber kreatifitasnya semata dari Merapi. Air, bebatuan, tanah, pasir, tanaman, pepohonan, hutan, semuanya memancarkan kekuatan magis. Yang tak kalah hebat ialah tradisi, kesenian, dan kebudayaan masyarakat di pelosok kaki gunung Merapi.

Sedikit informasi ihwal Gubug Selo. “Gubug” tersebut berupa ruangan besar dan terbuka. Uniknya, selain dipakai untuk perayaan Ekaristi, dimanfaatkan pula untuk kegiatan yang berkaitan dengan seni dan budaya. Menurur Lik Kir, bangunan ini melambangkan keinginan untuk terus belajar. Jadi, merangkul semua, menghargai semua. Peraih Maarif Award 2010 ini melihat budaya Indonesia memang majemuk. Sehingga spiritualitas komplementer lebih relevan. Kecenderungan resisten, defensif, apalagi agresif perlu ditinggalkan. Praksis agama nan ramah terhadap pluralitas kebudayaan niscaya menciptakan iklim yang lebih sehat bagi kehidupan bersama (halaman 216).

Tak ada gading yang tak retak. Buku ini memiliki beberapa celah. Salah satunya, terdapat beberapa kesalahan ketik. Sehingga sedikit mengganggu kenyamanan membaca. Ke depannya, bila hendak dicetak ulang, peran editor menjadi signifikan.

Terlepas dari kelemahan tersebut, antologi artikel ini niscaya membuka wawasan sidang pembaca. Hingga kini kekayaan berlimpah dari alam Merapi justru dijarah oleh para cukong dan kompradornya. Berkah bumi Merapi belum dinikmati secara merata oleh masyarakat pedesaan. Sepakat dengan pendapat Romo Kir, "Masa depan Merapi ada di tangan mereka (baca: anak-anak lereng Merapi). Saya berharap mereka akan menjadi penyelamat yang melayani makhluk lain sebagaimana Alam melayani mereka." Selamat membaca! ***

Judul Buku : Tapak Romo Kir

Penulis : Kumpulan Tulisan Wartawan

Penerbit : Waktoe, Magelang

Cetakan : 1/Februari 2012,

Tebal Buku : xx + 273 halaman

Harga: Rp50.000

Nugroho Angkasa

/nugroho_angkasa

Guru Privat Bahasa Inggris di Yogyakarta, Editor, dan Penerjemah Lepas. Gemar Baca dan Rangkai Kata untuk Kehidupan yang Lebih Berkualitas. Blog: http://local-wisdom.blogspot.com/.
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?