Menguak Bisnis Esek-esek Gigolo Cilik di Surabaya

20 Januari 2011 17:39:29 Dibaca :
Menguak Bisnis Esek-esek Gigolo Cilik di Surabaya
Salah satu germo yang ditangkap aparat Polrestabes Surabaya

Sekali Kencan Gigolo Cilik Dibayar Rp 1,7 Juta, Jika Jadi Peliharaan Bayarannya Melimpah

Di Surabaya, bisnis esek-esek kembali marak. Yang mencengangkan, pelaku bisnis haram tersebut rata-rata dilakukan anak-anak di bawah umur. Bukan perempuan tapi laki-laki. Mereka disebut gigolo cilik. Untuk sekali kencan, mereka dibayar Rp 1,7 juta. Tapi bagi yang mau menjadi peliharaan tante-tante, maka mereka akan mendapatkan upah atau bayaran berlimpah.

Beberapa waktu lalu kepolisian Resor Kota Besar (Polrestabes) Surabaya berhasil meringkus pelaku eksploitasi anak yang menjual anak-anak untuk dijadikan korban prostitusi.

Dari situ mulai terkuak bisnis prostitusi yang melibatkan anak lelaki di bawah umur sebagai pekerja seks komersial (PSK).

Bersama germonya, gigolo berinisial M yang masih berusia 15 tahun ditangkap anggota Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Satuan Reskrim Polrestabes Surabaya. Usut punya usut, ternyata bisnis tersebut sudah dijalani pelaku telah lama. Bahkan pelaku telah berhasil menjaring puluhan anak lelaki yang masih bau kencur. Rata-rata anak-anak ABG tersebut dijanjikan uang puluhan juta rupiah.

Ya, rata-rata peminat untuk jasa gigolo muda ini adalah ibu-ibu atau bisa disebut tante-tante girang. Dan menurut kabar yang berhembus, para tante-tante girang itu menyewa jasa gigolo muda, kataya, supaya bisa menjadi obat awet muda.

Jaring Pelanggan Lewat Iklan

Gigolo muda ini rupanya tidak hanya dijajakan kepada tante-tante, tapi juga para penyuka sesama jenis alias gay. Kabarnya, para gay ini menyukai anak-anak lelaki di bawah umur karena bisa membangkitkan semangat mereka.

Saat M dikonfirmasi, lelaki yang masih berstatus pelajar itu mengaku, biasanya untuk tarif jasa sekali kencan, ia mendapatkan upah sekitar Rp 1,7 juta.

Sementara pelakunya berinisial MLS (27) yang sehari-hari bekerja sebagai sopir truk dan tinggal di kawasan Jalan Karang Tembok, Surabaya itu mengaku bisnis esek-eseknya tersebut dilakoninya baru dua minggu.

“Pelaku baru bekerja dua minggu lalu dengan modus operandi menawarkan jasa layanan ‘plus-plus’ di sebuah koran harian lokal Surabaya,” demikian dikatakan Kompol Wiwik Setyaningsih, Kasubbag Humas Polrestabes Surabaya.

Dalam iklan tersebut, dituliskan jika ada perempuan yang membutuhkan layanan bisa menghubunginya melalui nomor telepon yang dipampangnya. Selanjutnya, kata Wiwik, seorang perempuan mengaku bernama Vera mencoba menghubunginya dan meminta mencarikan laki-laki berusia sekitar 15 tahunan.

Memang MLS sudah biasa pasang iklan di Koran. Menurut MLS, dia biasanya mengumbar kalimat seperti ini, ‘Bagi cewek-cewek yang lagi kesunyian dan lagi butuh, harap menelepon nomor 031-71931291’. Iklan itu dipasang rutin MLS karena memudahkannya menjaring pelanggan.

“Biaya iklan mini di koran sekali muat cuma Rp 5 ribu,” ucap MLS.

Dari bisnis esek-esek-nya ini, MLS mampu mengeruk keuntungan yang tidak sedikit. Sekali menyediakan gigolo bocah seperti M, misalnya, tersangka sudah mendapatkan uang Rp 700 ribu.

MLS sendiri tertangkap saat ia mencoba memenuhi pesanan seorang ibu rumah tangga bernama Vera (32) dari Surabaya. Melalui telepon, Vera meminta MLS untuk menyediakan gigolo berusia 15 tahun pada 20 November lalu.

Menurut MLS, Vera akan menolak jika ketahuan bahwa `kucing` yang diberikan padanya ternyata sudah bukan anak-anak lagi. Beberapa hari kemudian, tepatnya tanggal 26 November, Muhlisin balik menelepon karena sudah mendapatkan bocah yang diminta Vera.

“Saya kemudian diperintah Vera mengantar M ke Hotel Istana Permata di Jalan Dinoyo Surabaya, di kamar A-70 sekitar pukul 21.00 WIB. Kemudian M naik ke kamar Vera sendirian dan saya menunggu di bawah,” ujar pria yang sudah lama berprofesi sebagai gigolo itu.

Untuk jasanya itu, tersangka menerima tips Rp 700 ribu dari Vera. Sedangkan M dijanjikan Vera mendapatkan upah atas servis seks-nya sebesar Rp 1 juta. Setelah mendapatkan info adanya transaksi yang dilakukan MLS di Hotel Istana Permata itu, polisi langsung bergerak dan meringkus MLS dan gigolo M.

“Di situlah tersangka MLS dan korbannya, M dibawa ke kantor polisi untuk dilakukan pemeriksaan oleh penyidik. Setelah terbukti, tersangka dijebloskan ke tahanan,” papar mantan Kabag Bina Mitra Polres Surabaya Utara tersebut.

Kepada penyidik, MLS mengaku baru sekali ini menjalankan bisnis prostitusinya. “Saya dapat Rp 700 ribu, sedang sisanya sebesar Rp 1 juta, merupakan upah dari M. Tapi belum sampai menikmati uang, saya sudah ditangkap,” ucapnya.

Atas perbuatannya, tersangka dijerat Pasal 2 Juncto 17 Undang-Undang RI Nomor 21 tahun 2007 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Perdagangan Orang dan atau Pasal 88 Undang-Undang RI Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak dengan ancaman hukuman 15 tahun penjara.

Tak lama setelah penangkapan MLS, bisnis esek-esek dengan menjajakan gigolo cilik kembali terbongkar. Kali ini praktik perdagangan anak di bawah umur itu dibongkar setelah anggota reskrim Polres Pelabuhan mengendus transaksi pelaku di Hotel Pasar Besar di Jalan Pasar Besar. Kejahatan tersebut dibongkar oleh anggota Kejahatan Umum (Jatanum) Satreskrim Polrestabes Surabaya.

Dua pemasok anak baru gede (ABG) berinisial MR (33) dan AA (22) keduanya warga Pandugo, Rungkut, Surabaya ditangkap anggota Mapolrestabes saat mengantar dua ABG ke kamar 210 Hotel Pasar Besar beberapa waktu lalu.

Adapun kedua ABG yang menjadi korban kedua tersangka itu adalah AN (17), siswa kelas II SMK di kawasan Surabaya Timur dan AT (17), sudah tidak bersekolah. Kedua ABG tersebut dijual ke tante-tante girang yang masih tetangga mereka.

Dan seperti yang dilakukan oleh tersangka MLS, modus keduanya (germo-red) ini terbilang cukup rapi. Mereka menjaring pelanggannya melalui iklan di Koran. Untuk tariff, rata-rata mereka mematok harga sekitar Rp 1 juta rupiah.

”Tersangka Mujamil menjual kedua ABG tersebut dengan tarif Rp 700 ribu ke tante girang. Nantinya tante itu juga akan memberi tips kepada dua ABG itu sebesar Rp 1 juta,” tutur AKP Arbaridi Jumhur, Selasa (7/12/2010).

Penangkapan tersebut berawal sekitar pukul 18.00 WIB. Ketika itu tante Susi check in di kamar 210 Hotel Pasar Besar dan memesan pada MR agar dikirim dua ABG untuk menemaninya. Tante Susi mengetahui nomor telepon tersangka MR setelah membaca salah satu iklan di sebuah media massa terbitan Surabaya. Dari iklan tersebut, tante tersebut lalu menghubungi. Sekitar 30 menit kemudian, tersangka datang bersama dua anak buahnya itu.

Namun transaksi ini diketahui anggota Jatanum Polrestabes Surabaya. Petugas langsung melakukan penangkapan terhadap dua tersangka MR dan AA. Dari tangan tersangka, petugas menyita uang tunai Rp700.000, satu buah ponsel dan dua unit motor. Kedua motor itu adalah sarana untuk mengantar kedua ABG ke hotel.

Dalam pemeriksaan, MR mengaku sudah lama mengenal tante Susi. “Saya sudah lama mengenal tante itu. Dia selalu telepon minta disediakan ABG untuk menemaninya tidur,” kata MR yang bekerja sebagai tarapis di kawasan Klampis.

Jadi Peliharaan Tante-tante

Masih seputar gigolo cilik, ada yang menarik dari bisnis esek-esek ini. Menurut salah seorang gigolo di Surabaya, para gigolo itu ada yang dikoordinasi germo, juga ada yang beroperasi mandiri.

Seperti dalam dunia kerja, di kalangan gigolo ada juga istilah naik pangkat. Setidaknya itulah yang dipahami AD (27), seorang gigolo mandiri.

Berawal sebagai gigolo panggilan atau freelance, kini AD sudah ‘naik pangkat’ menjadi gigolo yang sudah dipelihara oleh seorang wanita yang jadi pelanggan setianya.

Beda gigolo freelance dan peliharaan adalah pada sifat penghasilannya. Gigolo peliharaan mendapatkan `gaji` rutin, sedangkan penghasilan gigolo freelance tidak menentu, tergantung naik-turun jumlah penggunanya.

Menurut AD yang lulusan SMA, mengikat pelanggan bukanlah perkara mudah bagi gigolo. Karena jumlah tante-tante girang yang jadi konsumen tidak banyak di Surabaya, maka para gigolo harus pandai-pandai mempromosikan diri.

AD berbeda dengan MLS (27), gigolo yang merangkap germo. Menurut AD, gigolo seperti MLS ini adalah gigolo jenis pencari makan. Ia tak banyak pilah-pilih pengguna, yang penting dapat duit, selesai. Unsur `cita rasa` (taste) menjadi nomor dua.

AD sendiri mengaku beruntung. Pekerjaan resminya sebagai staf bagian public relations (PR) di sebuah apartemen mewah di Surabaya membuatnya mengenal banyak warga kelas atas di sini, serta cukup memahami gaya hidup mereka.

“Ternyata, banyak orang berduit yang hidupnya kesepian, tak hanya kaum pria tapi juga perempuan,” tutur AD.

Entah bagaimana belajarnya, AD mengaku bisa membedakan mana perempuan yang kesepian dan `miskin kasih sayang`, serta mana yang tidak.

Dengan penguasaan teknik pemasaran dan komunikasi seorang PR, dan tentu saja dibarengi pastur tubuh yang atletis, maka tidak sulit bagi AD untuk mendapatkan buruannya. Tak pelak, AD pun mampu memikat seorang wanita karir yang menjadi pejabat di sebuah bank swasta nasional besar.

Sebelum bertemu wanita berusia 35 tahun itu, AD hanyalah gigolo freelance. Namun sejak 8 bulan lalu, AD `naik pangkat` menjadi gigolo peliharaan wanita yang sudah memiliki suami dan anak itu.

“Dia wanita yang cantik dan saya suka. Dia tidak pelit untuk memenuhi apa yang saya minta,” aku AD.

Untuk ‘pangkat’ yang baru ini, AD mendapatkan penghasilan rutin setidaknya Rp 3 juta per bulan. Nilai ini lebih besar dari penghasilannya selama sebulan sebagai karyawan PR.

`Gaji` rutin itu masih ditambah bonus setiap kali sang tante merasa senang dengan servis seksnya. Tak jarang, tante tersebut juga membelikannya barang. Pokoknya, soal duit, bagi gigolo peliharaan seperti AD, hal itu sudah urusan kedua. Tinggal telepon sang tante, AD sudah bisa mendapatkan uang dengan mudah darinya.

“Sebagai balasan, saya harus siap untuk diajak. Bisa di rumahnya, bisa juga di hotel berbintang,” ungkapnya.(nov/berbagai sumber)

Salam kompasiana

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?