Khairunisa Maslichul
Khairunisa Maslichul profesional

Improve the reality, Lower the expectation, Academia of STEI Tazkia Bogor\r\nTwitter & IG @nisamaslichul\r\n https://nisamasan.wordpress.com/

Selanjutnya

Tutup

Ekonomi highlight

Inilah Kunci Hampir 300 Tahun Faber-Castell Beroperasi

17 Juli 2017   10:30 Diperbarui: 17 Juli 2017   10:34 41 2 1
Inilah Kunci Hampir 300 Tahun Faber-Castell Beroperasi
'Art for All (Seni untuk Semuanya)' menjadi fokus utama Kompasiana Visit Faber-Castell Cibitung, Selasa 11 Juli 2017 lalu (Dokpri)

Produsen alat tulis dan pensil adalah kesan yang lekat dengan Faber-Castell. Perusahaan asal Jerman itu memang sudah terkenal lama menghasilkan keduanya.  Tapi, siapa sangka, Faber-Castell yang didirikan oleh Kaspar Faber di Stein-Nuremberg, Jerman itu telah berusia hampir 3 abad?  Tahun 2017 ini, Faber-Castell genap berusia 256 tahun atau didirikan sejak tahun 1761.

Sepengamatan saya, siapa saja  bisa mendirikan bisnis.  Namun, mampu mempertahankan dan mengembangkan bisnis itu tak semuanya bisa melakukannya.  Apalagi ketika bisnis tersebut dapat tumbuh dan besar hingga ratusan tahun, seperti halnya Faber-Castell.  Pasti bisnis tersebut memiliki faktor 'X' yang berhasil mendukungnya hingga terus eksis berdiri melalui lintas generasi.

Jelas, saya pun bersyukur karena termasuk 15 orang Kompasianer yang beruntung pada minggu lalu, Selasa 11 Juli 2017, mengikuti Kompasiana Visit Faber-Castell di Cibitung-Bekasi.  Selama ini Faber-Castell identik dengan produk berkualitas premium. Jujur, saya sangat penasaran dengan faktor 'X' yang melatarbelakangi kesuksesan Faber-Castell selama 256 tahun beroperasi di seluruh dunia. 

Inilah sebagian Kompasianer peserta Kompasiana Visit Faber-Castell Cibitung sebelum berangkat dari BBJ Palmerah-Kompas Gramedia (Dokumen: Kompasianer Agung Han)
Inilah sebagian Kompasianer peserta Kompasiana Visit Faber-Castell Cibitung sebelum berangkat dari BBJ Palmerah-Kompas Gramedia (Dokumen: Kompasianer Agung Han)

Saya ingat betul, dari masih sekolah, kuliah, hingga bekerja saat ini, setiap kali ingin membeli alat tulis yang bermutu nomor satu, produk Faber-Castell yang pasti dibeli.  Khususnya ketika menghadapi ujian dengan memakai pensil 2B untuk melingkari bulatan jawaban, maka pensil Faber-Castell yang selalu saya pakai sesuai saran orang tua dan para guru di sekolah. Di tubuh pensil 2B Faber-Castell tersebut, tertera tulisan "German Lead for Computer Scanning." 

Maka, ketika menginjakkan kaki di Faber-Castell plant di Cibitung yang beroperasi di Cibitung sejak 14 November 2016 tersebut, para Kompasianer pun terkesima dengan lukisan dan hiasan marker warna-warni yang tergantung di ruang masuk pabrik.  Peletakan batu pertama (groundbreaking) plant itu dilakukan pada Juni 2015 dengan luas sekitar 14.000 m2.  Plant Faber-Castell di Cibitung tersebut memang tidak hanya untuk menyediakan kebutuhan di Indonesia, namun juga untuk diekspor ke mancanegara.

Kesan lapang, bersih, dan rapi langsung tampak di pabrik Faber-Castell Cibitung yang terdiri atas 3 lantai tersebut.  Lantai dasar diperuntukkan bagi ruang produksi dan pengepakan.  Lantai 2 dan 3 untuk ruang perkantoran dan pertemuan.  Saat tiba, Kompasianer dipersilakan untuk melakukan ISHOMA (istirahat, sholat, dan makan siang) terlebih dahulu sebelum mengikuti rangkaian kegiatan selanjutnya.

Faber-Castell telah beroperasi sejak tahun 1761 di Stein-Nuremberg, Jerman (Dokpri)
Faber-Castell telah beroperasi sejak tahun 1761 di Stein-Nuremberg, Jerman (Dokpri)

Usai ISHOMA, para Kompasianer lalu mengikuti factory tour yang dipandu oleh Bapak Mulyadi Gunawan selaku Factory Managerpabrik Cibitung.  Alur produksi di Faber-Castell Cibitung sangat sistematis, efisien, dan efektif.  Mantapnya lagi, sekalipun berada di dalam pabrik, tidak terdengar suasana bising tingkat tinggi khas lingkungan pabrik.  Ini karena Faber-Castell sudah menggunakan mesin elektrik -- bukan lagi hidrolik -- yang menghasilkan suara mesin lebih halus dan rendah.

Kompasianer ditunjukkan proses produksi pensil mewarnai atau connector pen yang dimulai dari bahan baku (raw material) hingga proses pengiriman (delivery) ke setiap toko atau store untuk diakses oleh para konsumen. Ada 10 proses pembuatan connector pen Faber-Castell dan setiap prosesnya harus lolos uji QC (Quality Control) dulu sebelum dilanjutkan ke proses berikutnya. 

Jadi, misalnya pada saat proses pencampuran tinta (Mixing Ink Process) terdapat suatu kekurangan, maka proses harus ditahan dan diperbaiki dahulu sesuai standar QC.  Setelah itu barulah, bisa lanjut ke proses penyusunan tinta ke dalam tubuh marker (Assembling Machine Process).

Mulyadi Gunawan, Factory Manager Faber-Castell Cibitung menjelaskan alur produksi connector pen yang bermutu nomor satu (Dokpri)
Mulyadi Gunawan, Factory Manager Faber-Castell Cibitung menjelaskan alur produksi connector pen yang bermutu nomor satu (Dokpri)

Hal menarik lainnya yaitu tetap beroperasinya tenaga kerja manual di Faber-Castell Cibitung bersamaan dengan kerja mesin.  Sejumlah staf dengan cekatan dan terampil memilah dan memilih connector pen sesuai warnanya untuk kemudian disatukan menjadi satu susunan rangkaian.  Bagi saya, aspek humanis dalam proses ini memberi nilai lebih pada produksi Faber-Castell karena sejatinya alat tulis memang sangat lekat dengan keterampilan dan skill motorik halus seorang manusia seperti menulis, menggambar serta mewarnai.  Sekalipun sudah ada alat tulis digital, alat tulis konvensional tetap selalu diperlukan oleh para pelajar dan pelukis untuk menghasilkan karya yang abadi sepanjang masa.

Selesai dengan tur pabrik, Kompasianer lalu mengikuti kegiatan yang sesuai tema Visit yaitu "Art for All" atau "Seni untuk Semuanya."  Setiap Kompasianer diberikan satu paket connector pen dan gambar kepik (ladybug) untuk kemudian diwarnai dan dibuat lipatan sesuai polanya.

Proses mewarnai ini pun membuat saya jadi lebih mengetahui tentang teknik mewarnai yang dijelaskan dan didemonstrasikan oleh Mbak Yayu Rahayu dan Mas Rizal selaku tim Creative Development dari Faber-Castell.  Keempat teknik mewarnai yang sempat diajarkan adalah pointillism, contour, patterning, dan squiggling.  Berhubung saya memang kemampuannya standar saja untuk urusan seni menggambar dan mewarnai, maka hasil karya seni saya pun tak termasuk 3 terbaik yang berhasil diraih Kompasianer Mbak Riap Windhu, Mas Adica Wirawan, dan Mbak Tutut Setyorinie.

Proses pengepakan secara manual di Faber-Castell Cibitung memberikan nilai humanis yang manis (Dokpri)
Proses pengepakan secara manual di Faber-Castell Cibitung memberikan nilai humanis yang manis (Dokpri)

Sekalipun dijadikan kompetisi, namun kegiatan mewarnai tersebut sukses merileksasikan dan mencairkan suasana Visit.  Para Kompasianer yang sudah dewasa dan umumnya telah bekerja seolah-olah kembali ke masa sekolah dulu ketika kegiatan menggambar dan mewarnai masih rutin dilakukan sekolah.

Jujur, sampai selesai acara mewarnai dengan connector pen, saya masih meraba-raba faktor 'X' yang saya cari dengan mengikuti Kompasiana Visit Faber-Castell.  Saat Ibu Fransiska Remila selaku Brand Manager Faber-Castell Indonesia menjelaskan secara singkat profil perusahaan (company profile), saya sempat menebak, konsistensi jaminan mutu dari Faber-Castell sejak pertama kali beroperasi adalah kekuatan utama dari eksisnya Faber-Castell selama 2.5 abad ini.

Fransiska Remila - Brand Manager Faber-Castell Indonesia - menyerahkan hadiah lomba mewarnai pada Kompasianer Tutut S. (Dokpri)
Fransiska Remila - Brand Manager Faber-Castell Indonesia - menyerahkan hadiah lomba mewarnai pada Kompasianer Tutut S. (Dokpri)

Perkiraan saya tersebut sudah tepat, namun belum memuaskan.  Pasti masih ada kata kunci yang dimiliki oleh Faber-Castell yang membuatnya bisa melewati abad ke-18 hingga ke-21 kini.  Setelah Mas Andri Kurniawan sebagai Public Relations Manager Faber-Castell Indonesia -- yang ternyata juga seorang Kompasianer -- menjelaskan tujuan dan manfaat dari sesi mewarnai dalam program "Art for All" yaitu untuk meningkatkan dan mengembangkan kreatifitas seseorang, dari balita hingga lansia, barulah saya yakin dengan faktor 'X' tersebut.  Ternyata proses kreatif menjadi inti dan panduan utama dari kegiatan bisnis Faber-Castell yang terus disesuaikan dengan perkembangan dan kemajuan zaman.

Sesi mewarnai dengan connector pen menggugah kembali kreatifitas para Kompasianer Visit Faber-Castell Cibitung (Dokpri)
Sesi mewarnai dengan connector pen menggugah kembali kreatifitas para Kompasianer Visit Faber-Castell Cibitung (Dokpri)

Pak Yandramin Halim sebagai Managing Director Faber-Castell Indonesia mengungkapkan pula bahwa Faber-Castell sekarang telah melangkah sesuai tren proses kreatif dunia yaitu dari proses berpikir kreatif (Creative Thinking) menjadi bertindak kreatif (Creative Making).  Jadi proses kreatif kini tak lagi sebatas proses abstrak namun juga sudah bisa eksak (nyata).  Pak Halim mencontohkan pada pelaku bisnis yang harus dapat melakukan keduanya dengan seimbang melalui proses pengamatan (observasi) yang terus-menerus untuk melayani konsumen yang selalu bersifat dinamis dari waktu ke waktu.

Tak heran, menurut hasil survei pada sekitar 1500 orang CEO (Presdir) di seluruh dunia, skill nomor satu yang bisa membuat suatu bisnis sukses adalah creativity.  Maka itulah, sejak 2011 lalu, Faber-Castell Indonesia turut mendukung pembentukan generasi kreatif di Indonesia.  Pasti karena itulah, tahun 2016 lalu, Faber-Castell Indonesia kembali meraih penghargaan sebagai Corporate Image Award(Indonesia's Most Admired Companies) 2016 untuk kategori alat tulis.  Piala tersebut dianugerahkan kepada perusahaan yang memiliki citra dan reputasi terbaik di industrinya masing-masing dengan melibatkan lebih dari 3.500 responden antara lain eksekutif, investor, jurnalis, dan masyarakat umum.

Inilah Edisi Pena Tahun 2003 dari Faber-Castell, perusahaan alat tulis terbesar dan tertua di dunia (Dokpri)
Inilah Edisi Pena Tahun 2003 dari Faber-Castell, perusahaan alat tulis terbesar dan tertua di dunia (Dokpri)

Kreatifitas semakin menemukan momentumnya saat tahun ajaran baru dimulai seperti di minggu ini.  Para orang tua dan pendidik harus terus mengembangkan kemampuan kreatif anak dan siswa -- dengan didukung produk Faber-Castell -- sehingga di masa depannya mereka dapat menjadi generasi kreatif yang sukses mengharumkan nama keluarga, bangsa, agama, dan negara.  Salam kreatif selalu.