Kasihannya Anak-Anak Itu (Tak Ada Tempat Bermain)

23 Mei 2012 04:40:10 Dibaca :
Kasihannya Anak-Anak Itu (Tak Ada Tempat Bermain)
Tuh ada yang terjerembab

Pertumbuhan perumahan di kota-kota di Indonesia begitu cepat karena didorong oleh kebutuhan yang memang cukup tinggi. Jumlah penduduk melesat naik sehingga memerlukan rumah tinggal yang jumlahnya mencapai ribuan ditiap kota. Yang diuntungkan tentu kabupaten diperbatasan kota, menerima limpahan penduduk yang sudah tak muat lagi atau tak ada lahan disana. Dampak dari perkembangan wilayah dengan adanya perumahan baru sebenarnya cukup banyak diantaranya lahan sawah berkurang, daerah resapan air menjadi terbatas, berkembangnya daerah-daerah baru dan lain sebagainya. Saya ingin menyoroti perumahan yang tak banyak menyediakan publik space atau ruang publik tempat berkumpul, bermain atau berinteraksi antar warga. Yang cukup mengkhawatirkan ya ruang publik bagi anak-anak. Lihat saja setiap sore, berbagai perumahan ramai oleh anak-anak yang bermain bola, berkejaran, bersepeda atau kegiatan lainnya. Dan mereka bermain di tengah jalan didepan rumah mereka. Miris sebenarnya melihat anak-anak bermain disana sebab resiko cidera bisa lebih parah dibanding tahun 80 an waktu saya kecil. Dulu saat bermain dan terjatuh kita bisa langsung melanjutkan permainan karena tak ada cidera yang fatal. Kalau sekarang, entah lecet, bengkak ataupun memar sudah pasti. Kenapa begitu? Ya karena mereka bermain diatas aspal, paving ataupun beton yang melapisi jalanan depan rumah mereka. Kalau ada publik space pun tentu tak cukup menampung banyaknya anak yang bermain. Biasanya publik space yang tersedia banyak dimanfaatkan anak laki-laki yang bermain bola. Sedangkan anak perempuan atau lebih kecil lagi bermain di jalanan. Kalau dipinggir publik space bisa terkena bola atau tersenggol anak yang sedang bermain. Anehnya, dengan lahan yang terbatas ini banyak orang tua yang tak mau mengerti dengan anak-anak. Di Perumahan yang tidak ada publik spacenya, seharusnya kita memahami bila anak-anak bermain di jalanan. Toh mereka main cuma di sore hari dan tak berlangsung lama atau paling 2-3 jam saja. Bukankah mereka masih harus mandi atau kadang lebih tertarik nonton tv? Biarkan anak-anak itu mengeksplorasi diri mumpung masih mau. Masih ada juga warga yang meminta anak-anak bermain untuk pindah tempat karena berisik. Begitu bergeser, eh giliran yang rumahnya tepat disitu masih menyuruh pindah lagi alasannya bola masuk ke halaman rumahnya. Pindah lagi dan masih saja dibilangi untuk pindah karena mengeluarkan suara dari benturan bola (plastik) dengan kaki atau pagar rumah. Anak-anak itupun bergeser lagi, eh masih saja disuruh pindah karena bola terkena mobil. Akhirnya mereka bubar sembari bersungut-sungut kehilangan tempat bermain. Mari kita coba fahami mereka dan bukankah mereka bermain bola hingga usia kelas 6 SD? Oh kasihannya anak-anak itu.

Nino Histiraludin

/ninohistiraludin

TERVERIFIKASI (HIJAU)

Mencoba membagi gagasan. Baca juga di www.ninohistiraludin.blogspot.com
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?