Buta Huruf Masa Kini

06 Maret 2010 23:06:00 Diperbarui: 16 September 2015 21:09:35 Dibaca : 0 Komentar : 0 Nilai : 0 Durasi Baca :

Sekedar Ilustrasi



Tersebutlah 4 pasangan suami/istri. Secara kebetulan 4 pasang suami/istri tersebut memiliki kesamaan faktor dalam hal penghasilan.Mereka sama-sama Guru Pegawai Negeri Sipil golongan IVb dan sama-sama sudah disertifikasi. Penghasilan lain di luar gaji yang mereka terima setiap bulan yaitu tunjangan profesi yang besarnya satu kali gaji golongan IVb. Menurut perhitungan kasar, rata-rata gaji pokok plus tunjangan profesi yang mereka terima/bulan kurang lebih sekitar 12 juta-an (suami + istri). Jumlah tersebut di luar jumlah tunjangan-tunjangan lain yang melekat pada gaji serta penghasilan lain seperti tunjangan fungsional, tunjangan khusus dan maslahat tambahan lainnya. Namun dinilai dari kacamata tetangga dan rekan-rekan sesama guru, keadaan sosial ekonomi dari ke 4 pasangan suami/istri tersebut amatlah jauh berbeda. Salah satu dari pasangan guru itu ada yang lebih maju atau lebih kaya, ada yang stagnan atau jalan ditempat, bahkan ada yang terjebak dalam lubang kemiskinan dan terbelit hutang.



Dari ilustrasi 4 pasangan suami/istri guru di atas, apa sebenarnya yang menjadi faktor pembeda (determinan) dalam kesejahteraan suatu rumah tangga/individu? Mengapa ada rumah tangga/individu yang tidak dapat terbebas dalam jebakan kemiskinan? Sementara peluang dan kesempatan yang diperoleh sama baiknya?



Menurut Dr.Boenjamin Setiawan, Ph.D dalam presentasi makalahnya yang berjudul The Value of Innovation and Creativity in an Organization, ada 6 jebakan kemiskinan. Yaitu:





  1. D = Dishonesty – Ketidakjujuran
  2. I= Illiteracy – Buta Huruf
  3. G = Greed – Serakah
  4. A = Arrogance – Arogansi
  5. J = Jealousy – Iri Hati
  6. I= Ignorance – Tidak Peduli



Dari 6 jebakan kemiskinan menurut Dr.Boen di atas, saya berusaha berpikir dan menganalisa satu-persatu untuk dihubungkan pada ilustrasi ke-4 pasangan suami/istri guru yang saya kemukakan tadi. Ketidakjujuran, Keserakahan, Arogansi, Iri hati dan Tidak Peduli masih masuk nalar saya. Tetapi Buta Huruf?...Masa iya? Seseorang yang sudah dewasa dan berprofesi sebagai guru, PNS pula, Buta Huruf? Rasanya tak masuk akal….begitu pikir saya.



Pengertian Lain Buta Huruf



Membaca artikel yang berjudul Kreatif dan Inovasi di majalah KOMET edisi 21 September 2008 kiranya cukup membuka wawasan dan pemahaman saya tentang Buta Huruf. Ternyata pengertian buta huruf tidak sesempit yang saya kira sebelumnya, yaitu tidak bisa baca tulis atau yang biasa disebut “bodoh”. Karena menurut Alvin Toffler, seorang penulis dan futuris asal AS: "Orang yang buta huruf (illiterate) di masa depan bukanlah orang yang tidak dapat baca tulis, melainkan orang yang tidak tahu bagaimana caranya untuk belajar hal baru".



Setelah tahu bahwa buta huruf juga berarti orang yang tidak tahu bagaimana caranya untuk belajar hal baru, saya baru mengerti dan bisa mengambil kesimpulan mengapa ada rumah tangga/individu terjebak dalam lubang kemiskinan sementara peluang dan kesempatan yang diperoleh sama baiknya. Yaitu kita cenderung mempertahankan cara-cara yang selama ini kita anggap paling baik dan telah terbukti sukses, sampai menjadi bagian dari kebiasaan (habit). Bahkan sering kita menganggap tidak penting memikirkan hal-hal atau ide-ide baru karena malah resiko gagalnya akan lebih besar.



Jadi, menurut saya faktor pembeda yang paling penting untuk mencapai kekayaan atau kesejahteraan untuk ilustrasi di atas adalah terletak pada sumber daya manusianya itu sendiri (EQ, IQ, SQ, Dedikasi, Disiplin, Jujur, Jeli, Ulet, Unggul, Tanggung jawab, Inovatif, Inisiatif, Sabar, dll………terutama…..”Melek Huruf”!!!).



Bagaimana dengan Anda? Sudah “Melek Huruf” atau masih “Buta Huruf”?...

nina krisna ramdhani

/ninakrisnaramdhani71

Lahir di Bogor,20 Oktober 1971. Alumni IKIP Negeri Jakarta tahun 1995. Alumni Institut Pengembangan Wiraswasta Indonesia (IPWI) Jakarta tahun 2000. Saat ini sedang melanjutkan studi Manajemen Pendidikan di Universitas Pakuan Bogor. Pemilik dan Pendiri Yayasan Sukma yang bergerak di bidang sosial, pendidikan dan kesehatan,sejak tahun 1998.
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH PLATFORM BLOG, SETIAP ARTIKEL MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

NILAI :

Daftarkan email Anda untuk mendapatkan cerita dan opini pilihan dari Kompasiana