Regional

Drama di Balik Transportasi Kota Malang

21 Maret 2017   09:04 Diperbarui: 21 Maret 2017   09:12 33 1 0

MALANG- Ojek online menjadi transportasi unggulan saat ini, terutama di kota pelajar seperti Malang. kebutuhan akan transportasi yang cepat, mudah, dan murah semakin meningkat apalagi di kalangan mahasiswa. Perusahaan-perusahaan ojek online pun mulai berjamur, mulai perusahaan ojek online terkenal yakni Go-Jek hingga perusahaan kecil yang dikelola oleh mahasiswa kota Malang. Beberapa bulan lamanya Go-Jek mulai beroperasi di kota Malang. Penolakan-penolakan pun mulai berdatangan terutama dari pihak transportasi umum seperti angkot. 

Sedikit demi sedikit aksi penolakan tersebut mulai menimbulkan polemik di tengah kehidupan masyarakat. Kemudian munculah stereotype mengenai gojek yang berasal dari pihak yang 'merasa' dirugikan. Mereka berkata bahwa gojek mengambil rezeki mereka, merampas penumpang mereka, dan membuat mereka sangat rugi. padahal kalau kita telaah lagi, ojek online menggunakan aplikasi untuk pemesannnya bukankah sekarang zamannya teknologiAandroid. Kini semua orang dapat memiliki smartphone dan mengakses aplikasi tersebut. 

Zaman telah berubah, kita tidak perlu lagi berdiri di pinggir jalan menunggu angkot yang lewat atau harus jalan kaki  keluar dari gang-gang sempit dan pemukiman padat menuju jalan raya hanya untuk menunggu angkot. kita dimudahkan dengan kemajuan teknologi ini, kini telah ada transportasi yang bisa menjemput kita tepat di depan rumah dengan harga yang sangat murah. 

Lalu dengan pernyataan seperti ini seolah-olah ojek online telah mengambil penumpang angkot? Bukankah masih ada kalangan menengah kebawah yang tidak bisa mengakses aplikasi ojek online, ibu-ibu rumah tangga yang harus ke pasar setiap paginya, dan lansia yang tidak bisa menggunakan smartphone. Bukankah orang-orang ini masih menggunakan transportasi umum sperti angkot. Kemajuan teknologi tak bisa terelakkan lagi perkembangannya.

Aksi demo supir angkot beberapa waktu memang menjadi sebuah gertakan bagi ojek online seperti Go-Jek ditambah lagi dengan beredarnya video driver Go-Jek yang ditabrak oleh angkot di media sosiat. Suasana kota Malang menjadi semakin panas karena peperangan transportasi umum dan ojek online. Beberapa hari angkot tak beroperasi di kota Malang malah menyusahkan penumpang setia angkot. 

Tindak kekerasan terhadap pengendara Go-Jek pun mulai terdengar. Untuk menghindari hal serupa pihak Go-Jek mengambil tindakan dengan melepas atribut mereka seperti jaket dan helm hijau khas Go-Jek selama jam operasinal. Ujar AD salah seorang pengendara Go-Jek. Aksi brutal supir angkot terhadap driver Go-Jek tak hanya terjadi di kota Malang melainkan di kota lain seperti Samarinda. 

Hal ini terlihat dari beredarnya video kekerasan terhadap driver Go-Jek semakin membuat gerah masyarakat kota Samarinda. Dilansir dari banjarmasin.tribunnews.com supir angkot di Samarinda demo protes ojek online karena mereka menganggap ojek online mengganggu mata percaharian mereka. Mereka menuntut Go-Jek dan ojek online lainnya unuk berhenti beroperasi di kota Samarinda. 

Banyak diantarasupir-supir angkot tersebut yang mengklaim bahwa gojek tidak resmi dan tidak membayar pajak pada pemerintah. Tetapi hal tersebut di bantah oleh AD ia menyatakan bahwa perusahaan Go-jek selalu membayar pajak kepada pemerintah dan memiliki izin usaha. Sebenarnya pihak Go-Jek dan supir angkot telah membuat kesepakatan yakni terkait lokasi-lokasi yang tidak boleh disentuh oleh Go-Jek seperti terminal Arjosari, Landungsari, dan stasiun kota Malang. Namun rasa benci dan dengki terhadap Go-Jek karena pengaruh stereotype yang beredar membuat para supir angkot melakukan tindakan-tindakan yang kasar terhadap pengendara gojek. Hal tersebut dituturkan oleh AD. lambat laun keberadaan Go-Jek di Malang seolah-olah menghilang begitu saja karena tidak terlihat lagi driver Go-jek yang memakai atributnya layaknya pengedar narkoba mereka beroperasi secara sembunyi-sembunyi. 

Merasa keberadaan Go-Jek mulai sirna dari kota Malang perlahan gejolak amarah para supir angkot mulai memudar dan aktivitas masyarakat kembali pada jalurnya. Namun "trauma" atas Go-Jek ini tidak pernah hilang di benak para supir angkot dan ojek pengkolan. Setiap melihat pengendara yang berciri-ciri kan driver Go-Jek seperti membawa helm lebih dari 1 dan mengutak-atik smartphonenya ketika berhenti di pinggir jalan. Mereka akan mengusirnya secara kasar. Kejadian seperti ini pernah dialami oleh driver ojek online lain yakni Oyijek. 

Oyijek sendiri merupakan ojek online yang dikelola oleh mahasiswa yang sifatnya tidak resmi dan tidak banyak yang mengetahuinya. NA selaku admin dari Oyijek menyatakan bahwa rekannya (driver oyijek) kala itu sedang menjemput pelanggan di terminal Landungsari. Ia menunggu tepat didepan terminal kemudian ia menggunakan smartphonenya untuk menghubungi pelanggan, sontak para supir angkot dan ojek pengkolan yang melihatnya langsung mengusirnya dengan paksa karena mereka mengira orang itu adalah driver gojek. Karena takut terjadi hal yang tidak diinginkan driver Oyijek tersebut melarikan diri.

Kebutuhan akan transportasi yang cepat dan mudah saat ini semakin meningkat seperti dilansir dari suryamalang.tribunnews.com kebijakan pemerintah kota Malang untuk melarang operasi ojek online menuai kontra dari sebagian masyarakat terutama kalangan mahasiswa yang sangat membutuhkan sarana transportasi yang cepat dan dapat menjangkau segala tempat. 

Tetapi ada yang unik dalam permasalahan ini yaitu solidaritas dari supir-supir angkot dalam memerangi Go-Jek dan tindakan yang dilakukan oleh pihak gojek yang berusaha berdamai dengan angkutan umum di kota malang. Go-Jek vs angkutan umum siapakah yang menang? Kita tunggu saja tanggal mainnya.