Nimas Ayu Baka Arum
www.kompasiana.com/nimasayubakaarum

Cahaya yang lahir dari Tatapan mata Tuhan Nimas Ayu Baka Arum,, mungkin aku bukanlah siapa-siapa kecuali puisi. dengan guratan padam disekujur tubuhku. aku mengenali kehidupan dengan tapak ayah ibuku, bersayap dan mimpi yang berwarna putih. begitupun,seperti biasa kulihat mereka,namun apa hak ku bertanya,tentang gugurnya kesetiaan atau takdir/ aku hanya selalu meyakini bahwa mereka........adalah huruf-huruf yang mengaji pagi-pagi.terkadang aku muntah, terkadang aku sangat sungkan apabila tak menunaikannya! tapi, siapa yang akan bertanya bahwa aku adalah anak yang merindukan seorang ayah dari sepinya yang mati. Tuhan telah banyak tahu,setinggi apa kehendakku untuk mencapainya.
Kompasianer sejak:
15 January 2012
Tulisan : 12 artikel
Komentar : 5 tanggapan
Rubrikasi
Arsip Tulisan s
Terbaru

Cermin

Dini Hari

Jam 04;00 dini hari,, Orang-orang menikahi langit,menyisir matanya dan perlahan ber-embun! Daun-daun mulai menukar wajahnya dengan cahaya.. bunga-bunga menunjuk ke jendela,ternyata aku masih pengantinya yang suka menutup keningku ...

FIKSI | 16 May 2012 12:01

86   2   dibaca Nihil

Puisi

Pagi Pada sebuah April

Jam 08:23 di bulan April Hari ke-27, Daun-daun kering berguguran,matahari membuat kesetiaan dengan laut,- dan wajahmu berdiam dimataku. Hari-hari menjadi begitu deras,mengalir penuh cahaya,begitu juga dengan rindu dan ...

FIKSI | 16 May 2012 11:52

79   0   dibaca Nihil

Puisi

Kepada yang Bernama Hidup

Seandainya sebelum aku terlahir ke bumi ini diberi kesempatan meimilih Aku akan terlahir dari tanganMu dengan cara menjatuhkan diri seperti biji bjian yang ditanam, maka tumbuh ...

FIKSI | 7 February 2012 21:59

71   0   dibaca Nihil

Cermin

Kepada Yang Bernama Hidup

Seandainya sebelum aku terlahir ke bumi ini diberi kesempatan meimilih Aku akan terlahir dari tanganMu dengan cara menjatuhkan diri seperti biji bjian yang ditanam, maka tumbuh ...

FIKSI | 7 February 2012 21:32

6   0   dibaca Nihil

Puisi

Ansori “Waktu yang Terlepas”

Gerimis mengirimiku riwayat sarang lebah dibibirku tepi senja Kaupun pernah mencintainya dalam gumam semesta. Pada masa yang tulus aku suka mencatat doa dengan gemetar. Karna Tuhan tau, Sejak ...

FIKSI | 17 January 2012 22:01

38   0   dibaca Nihil

Puisi

Catatan Kusam yang Rekah

Disinilah penulis menerima segala sesuatu! Silahkan membuang kotoran disini, silahkan membuang nyawa disini, silahkan membuang darah disini, silahkan membuang omong kosong disini, silahkan membuang pembuangan dari ...

FIKSI | 17 January 2012 10:04

17   0   dibaca Nihil

Cermin

Bunga Itu Memandangku dengan Wajah Menyala

Masa senja dan sayup angin kecil. Terpisah-pisah jadi musim salju, pepohonan merambat sampai kaki udara yang pecah. Kuda hitam dengan batang jalanan di dadanya…..memekik bunga ...

FIKSI | 17 January 2012 09:00

29   0   dibaca Nihil

Puisi

Satu

Dasar Tuhan memang penuh rahasia! Bayi-bayi terapung malam ini, mereka tak memilih mati karena tau suatu saat akan menjadi penguasa dengan beberapa kota yang bisa ...

FIKSI | 17 January 2012 07:59

36   2   dibaca Nihil

Cermin

Surat Kepada Anak Jibril

surat kepada anak jibril: dan orang-orang yang datang dari kenangan hai nak! (sebuah tubuh, ia terlihat seorang lelaki matanya terbenam seperti malam) aku sangat ingin mempunyai dosa yang ...

FIKSI | 15 January 2012 11:27

89   4   dibaca Nihil

Puisi

Rubanaein: Masa Lalu dari Seberang Bernama Sunyi

sunyi begitu dekap….. malampun merambat seperti ranting berdaun muda ia tak melihat lelaki bernama: Rubanaein dikepalanya lalu, seperti matahari yang mekar di taman pagi pagi…. ia jelang halaman rumahku ...

FIKSI | 15 January 2012 11:27

52   2   dibaca Nihil

Subscribe and Follow Kompasiana: