Annisa…

11 Juni 2013 07:39:01 Dibaca :

Sebuah motor ninja berkecepatan lumayan tinggi melaju ke jalanan yang agak sepi. Siswa SMA, pengendara sepeda motor, bahkan tak punya niatan sedikitpun untuk menghentikan laju motornya. Dia terus menerobos kendaraan lain, mulai menyelip satu demi satu kendaraan lain yang menghalanginya. Wajahnya kelihatan sedih dan pucat. Dari balik helm besar tersebut, butiran air mata miliknya keluar. Menetes sebentar, sebelum akhirnya diterbangkan oleh angin.




Dia berbelok. Tepat dihadapannya, tak diduga-duga, sebuah mobil hitam sudah menabrak sepeda motor cowok tersebut. Tubuh cowok itu terbang sekitar 2 meter dari posisinya tertabrak. Beberapa saat kemudian, orang-orang disekelilingnya menghampiri tubuh tinggi semampai yang sudah tergeletak penuh darah. Mata cowok tersebut kabur. Hanya bisa melihat keadaan sekeliling sebentar. Sebelum akhirnya pingsan.




Dennys membuka matanya pelan. Kepalanya yang terbalut kain perban masih sedikit mengalami gejala pusing. Tubuhnya juga serasa gak bisa di tegakkan. Sakit semua. Seperti retak dan patah. Dua orang yang sangat dikenalinya tersenyum.di samping tempat tidur Dennys. Dennys berusaha menoleh dan berhasil.


“Mama… Adek…” sapa Dennys pada dua orang tersebut.


“Mama senang kamu bisa bangun dari komamu.” Mama Dennys tersenyum. Demikian juga adek Dennys, Rossa. Rossa terus memandang kakak paling jail dihadapannya tersebut. Sedikit dengan ekspresi tidak percaya.


“Koma..?” Dennys tertegun. Sejak kapan dia koma? Dan apa yang sudah terjadi?


“Ya.. udah dua minggu kamu mengalami koma. Untung kamu sadar secepat ini. Mama senang.”


“Kenapa kakak bisa ngebut kayak waktu itu sih kak? Aku dan mama kaget. Waktu tahu kakak masuk rumah sakit.” Rossa menggenggam tangan Dennys penuh sayang.


Dennys hanya diam. Dia malas menceritakan kejadian menyedihkan itu. Cerita yang selalu dianggap mimpi buruk oleh Dennys dan selalu ingin dia lupakan.


Mama yang mengetahui kejadian itu menyenggol tangan Rossa kencang. Cewek berkerudung itu menoleh melihat wajah mamanya yang sudah melotot ke arahnya.




“Pasti karena dua minggu lalu adalah hari ke setahun meninggalnya kak Dita ya?” Rossa menebak. Tebakannya malah justru membuat kakak dan mamanya menoleh kompak ke arahnya. Mamanya, jelas langsung menyeret anak itu keluar. Sementara kakaknya, hanya diam. Diam memikirkan peristiwa paling bahagia dengan Dita. Pacar pertama Dennys yang meninggal setahun lalu karena penyakit kanker otak stadium akhir.




Sudah sebulan ini Dennys di rawat di rumah sakit. Kecelakaan yang dialaminya waktu itu membuat sebagian tulangnya tidak dapat berfungsi secara baik. Alhasil, dia harus menjalani perawatan intensif dari doctor spesialis sampai keadaan tubuhnya benar-benar sembuh.


Gimanapun enaknya di rumah sakit, Dennys selalu merasa bosan. Untunglah, Dennys masih punya Teman-teman setia yang sering berkunjung ke rumah sakit. Perasaan bosan itu sedikit berkurang. Tapi, di saat sendirian. Dennys merasakan kebosanan itu lagi. Hal yang dikerjakannya di saat sendirian hanya bermain games atau membaca komik detective conan yang di bawakan teman-temannya. Atau seringnya, Dennys selalu keluar kamar, hanya untuk berkeliling melihat suasana rumah sakit yang selalu beda setiap menitnya. Dan juga, pergi ke taman tengah rumah sakit. Melihat cewek cantik melukis orang-orang disekelilingnya. Itu mengasikkan bagi Dennys.




Malam harinya, lain lagi. Dennys, sudah jelas punya banyak ide-ide jail yang dijalankannya setiap malam seorang diri. Dia, suka menakuti suster-suster yang piket malam dengan cara berdandan ala hantu seperti pocong. Sampai suster-suster itu ketakutan dan pingsan. Kalo udah gitu, bukannya malah nolong, Dennys lah yang akan tertawa paling keras sampai meneteskan air mata. Dennys memang jail kok. Dan hal itu, sering diam-diam diperhatikan oleh satu orang. Tanpa diketahui Dennys.




Suatu sore, Dennys sedang berdiam diri di atas tempat tidurnya. Dia sedang bete. Dan untuk mengurangi rasa betenya, Dennys memainkan games di handphone-nya. Beberapa saat, sebuah sms datang. Dennys langsung semangat membuka sms tersebut, mungkin dari teman-temannya.


"Hey,,, lagi bosen eah?? mukanya cemberut gitu.! ayo senyum. ntar jelek lho?? hehehhe.."kata si pengirim sms.


Dennys jelas kaget. Dia membalas sms tersebut "Ini siapa??" Beberapa detik kemudian dijawab "Aku cewek yang jadi penggemarmu. mau kutemani ngobrol?" katanya.


Dennys tersenyum membaca sms tersebut. Manis juga cewek ini.. batin Dennys. Dennys kemudian membalasnya dengan "Boleh.. kamu manis juga. benarkah di dunia ini ada cewek yang nge-fans sama aku.? boong yah? bilang aja pengen kenalan. iya kan??"


Entah kenapa, obrolan mereka berlanjut. Dennys benar-benar senang dapat mengobrol dngan cewek itu. Namanya Anissa. Cewek lucu dari tempatnya yang gak pernah Nissa tunjukkan dimana. Anissa hanya menyebutkan klu seperti Kota tempat tinggalnya (Bandung), namanya ( sudah jelas), dan Hobbynya (melihat langit di pagi hari sambil merasakan angin di halaman rumahnya). Hobby yang aneh. Tapi, cukup membuat Dennys ingin melakukannya juga. Diam-diam, tanpa sepengetahuan Anissa, Dennys sering mengikuti hobbynya itu saat pagi hari di halaman tengah rumah sakit. Dan kini, hobby itu, jadi hobby faforit Dennys juga. hehehe...


Anissa anak yang baik. dia suka menuliskan kata-kata semangat, dan suka menceritakan hal-hal lucu yang membuat Dennys selalu tertawa terbahak-bahak. Anissa juga sering memperhatikan kesehatan Dennys dan suka menasehatinya untuk tidak melakukan kejailan lagi di rumah sakit. Dennys juga sempat bertanya pada Anissa tentang bagaimana muka Anissa. Dennys penasaran. Apalagi, dia hanya bisa ber sms ria dengan Anissa dan dua hari sekali bisa mengobrol dengan Anissa lewat telepon. tapi, Anissa selalu bilang. "Aku gak secantik yang kamu kira. dan aku cuman cewek yang bisa bersembunyi dari balik badanmu. Kamu sudah pernah bertemu denganku kok. beberapa waktu lalu, dan juga kemarin."


Dennys mengingat-ingat. Tidak ada yang menjenguknya kemarin. Dia pasti inget wajah teman-teman sekolahnya. Anissa emang bikin cowok agak bule dan punya perawakan tinggi itu penasaran.


Sehari kemudian, Dennys udah pulang dari rumah sakit. Dia juga sudah bersekolah seperti biasanya. Cowok itu tapi kini kehilangan Anissa. Anissa, cewek penyemangat itu tiba-tiba menghilang dan gak pernah mengabarinya lewat sms lagi. Dennys ingin mencari keberadaan cewek yang mulai sangat berarti bagi dirinya itu. Tapi, Dennys menyesal. Dia bahkan tidak tahu apa-apa soal gadis itu. Dia gak pernah dapat info tentang bagaimana Anissa sebelumnya. Dennys yang dulu sangat di idolakan oleh sebagian teman sekolahnya kini juga sedikit menjauh dari mereka. Tidak seperti dulu.


Disaat dia sudah lelah mencari, Anissa mengabari Dennys kembali.


"Dennys... kamu nyari aku yah??" Dennys langsung membalas "Iya. kamu kemana aja sih. Aku kangen. Dan kamu gak pernah ngasih klu tentang bagaimana wajah kamu. Bisakah kita ketemu?"


Anissa membalas." kamu belum mengenali aku? padahal aku selalu bertemu kamu."


"Dimana?? aku gak tahu. Apa kamu sekolah di tempatku juga?"


"emh... rahasia. aku dulu pernah beri klu ke kamu. Bahwa aku cuman bisa bersembunyi di belakang tubuhmu yang tinggi. Aku punya rambut yang bisa aku hias dengan aksesoris apapun dan memiliki teman yang jauh lebih dekat dengan mu. ayo tebak.."


Dennys sudah tidak tahan. Dia gak mau menebak-nebak lagi. Dia mencoba menelepon Anissa. tapi g diangkat. Hal tersebut dilakukan hampir 3 kali. Tapi tetap saja. Semua nihil. Anissa sms lagi. "kenapa telepon? kamu gak percaya aku?"


"aku pengen bertemu. Teman2ku sudah ku tanya soal dirimu. Tapi g ada yang mengetahuinya. Kamu seakan menyembunyikan dirimu yang sebenarnya selama ini padaku. apa maksudnya?"


"aku cuman pengen bisa menghiburmu yang selama ini merasa sendirian. Dan aku cuman ingin berteman denganmu. Untunglah, kamu orang yang baik dan aku bersyukur bisa berkenalan denganmu."


"Anissa, plis... sekali aja. boleh kita ketemu? aku hanya ingin tahu siapa cewek yang sudah menghiburku selama ini. dan aku ingin bicara sesuatu padamu. tolong..."


Anissa gak menjawab. Dua jam... Tiga jam, dia tidak membalas sms dari Dennys. Malam harinya, Anissa sms kembali


"Maaf baru balas... aku g tahu apa yang kamu harapkan dari pertemuan itu. tapi, aku berharap kamu g mnyesal. Minggu sore, aku tunggu kamu di kafe depan rumah sakit tempat kamu di rawat waktu itu. hanya sejam. karena aku g bisa lama-lama.."




Dennys beryes-yes ria...




Minggu sore udah datang. Dennys sudah sepuluh menit menunggu di kafe depan rumah sakit. Tempat itu, agak sedikit rame hari ini. Tidak seperti biasanya. Dada Dennys berdegup kencang. Dia akan tahu siapa orang yang selama ini menjadi penyemangatnya. Dua puluh menit sudah. Cowok itu, sudah menunggu. Dia mengirim sms pada Anissa untuk menanyakan dimana keberadaan cewek itu. Anissa hanya menjawab. tunggu sebentar..


Beberapa menit kemudian, seseorang mengagetkan Dennys dari belakang tempatnya duduk.


"Permisi." katanya. Dennys jelas berdiri dan menoleh ke arah perempuan berusia sekitar 19 tahunan yang berada di depan Dennys sekarang. "ya.. ada apa?" ucap Dennys..


"Kamu Dennys yah? " perempuan itu mengamati Dennys dari ujung kaki sampai ujung raambut. Begitu juga dengan Dennys. Dennys sudah bisa menduga perempuan itu mungkin adalah Anissa. "Lumayan juga.. cantik. Apa dia Anissa?." Batin Dennys, Belum Dennys menanyakan siapa perempuan itu, si mbak-mbak itu berkata. "Mau ketemu Anissa yah? dia ada di depan."


Dennys menoleh ke arah jendela bening yang memperlihatkan seorang cewek cantik berambut panjang ikal. Dia duduk di kursi sambil tersenyum menyaksikan hujan yang mulai jatuh dari langit. Dennys tersenyum. "Cantik yah adik embak?" kata perempuan itu lagi. Diikuti anggukan kepala Dennys. Perempuan tersebut kemudian mengantarkan Dennys ke tempat adiknya duduk. Betapa terkejutnya Dennys, ketika dia sudah melewati pintu kaca kafe. Dennys bisa melihat dengan jelas, cewek itu duduk. Duduk di kursi roda sendirian. Ca...cacat... Batin Dennys. Dia mengamati cewek itu dengan pandangan sedikit kabur. karena sedikit air mata sudah menggenangi mata coklat miliknya. "Adek..." kata perempuan itu mengagetkan Anissa. Anissa menoleh. Dia tersenyum melihat kakaknya dan kemudian diam sebentar melihat Dennys berada di samping kakaknya.


"Ka...kamu..." kata Dennys gugup. Anissa tersenyum. Manis sekali. "Udah tahu aku kan? Sudah kuduga, reaksimu akan seperti itu.” katanya kemudian. Dia memalingkan penglihatannya ke arah hujan gerimis kembali.


“Kakak tinggal dulu yah?” ucap kakak Anissa setelah menepuk pundak kanan Dennys dan tersenyum ke arah Anissa. Sesaat kemudian, kakak Anissa duah tidak terlihat lagi.


Dennys duduk di depan tempat Annisa. Masih terus memandang cewek itu tajam.


“Belum mengenaliku? Aku cacat dan hanya bisa bersembunyi di belakang badanmu yang tinggi. Berjalan aja, Nissa gak bisa pake kaki sendiri dan harus dibantu sama kursi roda ini. Udah inget siapa Nissa kan?"


Meskipun Dennys tidak menyangkal rasa kagetnya melihat sosok Anissa yang tak pernah dia duga-duga, Dennys mencoba mengingat-ingat. dan beberapa saat kemudian matanya sudah melotot bak ingin loncat dari tempat asalnya.


"ka...kamu... Aku ingat. Cewek yang suka berada di taman tengah rumah sakit itu kan? Yang waktu itu berpapasan sama aku di depan toilet kan??"


Anissa tersenyum dan mengangguk sejenak.


"Ahh.. aku sampe lupa. Habis waktu itu kamu masih....." sambil melihat dari ujung kaki sampai rambut cewek hitam manis di hadapannya.


"Aku masih bisa berdiri... kamu gak salah kok."


Dennys cuman diam. Dia bingung dengan apa yang sedang dialaminya hari ini.


"Aku... udah lama jadi pelanggan tetap di rumah sakit ini. Sejak kecil, kerjaanku adalah bolak-balik rumah sakit. Hal itu, karena dari kecil, aku udah menyidap penyakit kanker. Sudah pernah dioperasi sih, dulu. Tapi, operasi itu gak berhasil. Waktu remaja, aku juga masih sering berada lebih lama di rumah sakit daripada berada di sekolah maupun di rumah. Aku sampai gak punya teman. Aku selalu merasa, di dunia ini, rasanya cuman aku yang merasa sendirian. Apalagi, bila aku melihat orang-orang tertawa bersama di depan mataku. Aku ingin sehat. Tapi, itu cuman mimpi. bagiku..." Anissa diam. Dennys yang sejak tadi mendengarkan hanya menatap cewek itu. Entah itu pandangan sayang, atau hanya sekedar kasian. Anissa gak tahu.


"Kedua kakiku udah gak bisa bergerak karena kankerku yang udah menjalar ke sekujur tubuh. Aku merasa sangat takut.,.. untuk meninggalkan dunia ini. Aku berfikir, mungkin aku akan membuat kedua orang tuaku menangis lagi. Aku hanya merepotkan orang-orang disekitarku. Aku... aku takut... juga merasa sendiri. " Anissa menangis. Dennys mencoba menenangkan. gak tahu deh apa yang ada dipikirannya sekarang.


"Tapi, aku senang. Suatu hari, seorang suster memberiku kebahagiaan di sela-sela penderitaan yang kualami. Dia mengenalkan aku padamu. Aku merasa gak sendirian lagi. dan tiba-tiba muncul semangatku untuk hidup kembali. Dan memberikan kebahagiaan buat orang lain. Aku seneng selama beberapa hari ini kamu udah mau jadi temanku. Terima kasih yah? aku pasti gak akan bisa membalas semua kebaikanmu padaku dengan apapun."


Dennys tersenyum. Anissa, teman sms misteriusnya itu sangat tegar dan benar-benar tulus berteman dengannya. Nissa, meskipun dalam kondisi yang sakit seperti itu, masih bisa menghibur orang lain. Dennys beruntung.. dia mendekati cewek itu pelan.


"Aku beruntung. Karena cewek yang namanya Anissa itu pernah jadi temanku. Aku yang gak akan bisa membalas kebaikanmu selama ini. Kamu tahu gak Anissa? Aku menyukaimu. Menyukai apa yang ada dalam dirimu. Aku suka. Dan aku berharap kamu mau jadi pacarku."


Anissa menatap Dennys gak percaya..


"Tapi,,, aku gak mau kamu hanya kasian sama aku. Aku gak mau.. Makanya, selama ini aku bersembunyi. Aku cuman pingin orang yang berteman sama aku tulus karena ingin berteman. Bukan karena kasian melihat keadaanku. "


"Ok… Ok… kalo saat ini aku gak bisa membuktikan perasaan sayangku ini ke kamu. Aku siap, menerima kamu apa adanya. Aku siap, bagaimanapun nanti keadaanmu. aku siap.. Kalo kamu gak bisa menilainya sekarang, aku g nyalahin kamu kok. Aku akan nunggu sampai kamu, benar-benar yakin." Dennys memeluk Anissa penuh kasih. Anissa diam.. berfikir.. tapi sangat merasa senang. "Anissa,..” ucap Dennys.


"hmm..." katanya sembari melepas pelukan itu.


"Boleh kuantar ke kamarmu.? Aku pengen tahu kamar tempat kamu suka ngeliatin aku.?? hahaha..." kata Dennys jail. Membuat Anissa terkejut tapi juga merasa sangat lucu. Di bawah hujan gerimis, kedua orang itu berjalan. Dengan penuh kasih, di hari keberuntungan keduanya...


----- Selesai -----

Yuni Lasari

/nilayunilasari

I'am Simple , but I'am Special
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?