Jurnalisme Online: Pengubah Jurnalisme Tradisionil

18 Mei 2017 19:35:38 Diperbarui: 18 Mei 2017 20:18:55 Dibaca : 399 Komentar : 0 Nilai : 0 Durasi Baca :
Jurnalisme Online: Pengubah Jurnalisme Tradisionil
Sumber: http://febivitriahandayani.blogspot.co.id/2016/02/dasar-dasar-jurnalistik-online_17.html

Bicara soal jurnalisme online, sekali lagi, tidak akan ada habisnya. Mahakarya penemuan baru dalam dunia jurnalistik ini, membuat sebagian besar orang terbuai akan kehadirannya. Tak terkecuali dengan praktik jurnalisme tradisionil (lama) seperti media cetak dan penyiaran, saling bersaing membuat atau merubah platform mereka ke ranah online. Tak bisa dipungkiri memang, jurnalisme online yang juga termasuk dalam New Media ini, amat berpengaruh pada proses globalisasi yang sedang marak beberapa tahun terakhir. Sifat praktik jurnalistik yang tadinya hanya sekedar tulisan belaka, berubah menjadi multimedia. Ya, jurnalisme multimedia, rasa-rasanya bisa disematkan kepada jurnalisme online, di mana semua jenis media atau saluran media, dijadikan satu yaitu menjadi jurnalisme online. 

Ketika kita bicara soal koran, majalah, atau produk media cetak lainnya, pasti identik dengan tulisan dan foto di dalamnya. Namun kini, suratkabar atau koran nyatanya tidak hanya dapat berupa tulisan dan foto saja. Mari kita lihat ke ranah jurnalisme online. Ada yang namanya Web, dalam Web ini, tidak hanya berupa koran yang hanya dapat dibaca saja. Dalam Web atau situs berita, kita masyarakat dapat melihat informasi berupa video, audio (podcast), dan program televisi pun dapat kita lihat dalam satu platform yaitu online. 

Inilah yang disebut dengan multimedia capability yang mana merupakan karakteristik dari media online. Multimedia capability ini memungkinkan jurnalisme online memiliki sajian berita berupa teks, suara, gambar, video dan komponen lainnya sekaligus (Iskandar & Lestari, 2016: 30). Jadi, tidak heran apabila kita melihat situs berita online dan di sana terdapat banyak sekali bentuk-bentuk berita seperti televisi, radio dalam satu platform situs berita online tersebut. Dapat kita ambil contoh kompas.com di sana kita dapat melihat segala jenis atau saluran yang biasa kita lihat hanya di televisi saja atau radio. Dengan adanya kompas.com khalayak atau pembaca diajak untuk dapat melihat berita-berita dari berbagai saluran dalam satu platform saja yaitu online. Berkat itu, khalayak dapat memilih ingin melihat berita dari saluran seperti televisi ataupun radio (audio/podcast) namun tidak harus menonton berita di televisi maupun radio, cukup buka situs kompas.com dan kita dapat melihat itu semua.

Contoh situs berita online, kompas.com. Sumber: Dokumen Pribadi
Contoh situs berita online, kompas.com. Sumber: Dokumen Pribadi

Selain itu, yang menarik dari jurnalisme online dan dapat dikatakan juga sebagai pengubah dari jurnalisme tradisionil adalah dengan munculnya anggapan bahwa video tidak hanya berbicara mengenai televisi. Dalam kata lain ketika kita ingin menonton video yang identik dengan televisi (audio visual), tidak harus lewat televisi, kini kita bisa mengunjungi situs berita online, lalu kita pun dapat menonton video berita televisi yang ada di sana. Meski begitu, video-video yang ada dalam situs berita online tidak dibuat oleh jurnalis televisi melainkan dari jurnalis online yang juga dapat membuat video. Dengan ini prinsip dan ranah masing-masing dari jurnalis tetap terpenuhi.

Ada lagi yang menarik dari jurnalisme online ini. Jika kita bicara soal radio pasti identik dengan audionya. Dalam jurnalisme online, kita bisa mendengarkan radio meski tidak berbentuk radio (fisik). Itulah yang dinamakan dalam ranah online ini disebut dengan podcast. Pada dasarnya, podcast merupakan semacam talkshow yang dikemas sedemikian rupa sehingga dapat dishare melalui internet (Peranginangin, 2008: 35). Dalam membuat podcast, kita tetap dituntut untuk kreatif agar program yang akan kita tampilkan nanti dapat menghibur dan memberikan informasi kepada pendengar di web kita. Podcast sendiri masih terbilang amat baru dalam dunia jurnalisme.

Contoh podcast, biasanya terdiri dari beberapa episode. Sumber: https://etahu.files.wordpress.com/2013/02/clip_image004.jpg
Contoh podcast, biasanya terdiri dari beberapa episode. Sumber: https://etahu.files.wordpress.com/2013/02/clip_image004.jpg

Dalam ranah online, siapapun dapat menulis, bahkan seorang jurnalis televisi yang biasanya hanya terpaku pada audio visualnya saja, kini dituntut untuk bisa menulis juga. Sebab dalam online, kita bicara soal multimedia, para jurnalis apapun itu, diharapkan dapat menulis juga di platform online. Berkat media baru ini, jurnalis televisi yang tadinya hanya berpusat pada pengambilan gambar, video dan sebagainya, kini dapat menuangkan beritanya lewat tulisan pula dalam online.

Meski begitu, jurnalisme online tetaplah memiliki batasan. Batasan di sini berkaitan dengan penggunaan kata. Biasanya, berita online atau tulisan online terdiri dari 800 kata, hal ini dikarenakan agar pembaca tidak bosan dan dikarenakan space dalam dunia online yang memang terbatas. Selain itu karena online identik dengan kecepatan dan rata-rata pembaca online butuh waktu sekitar 3-5 menit membaca.

Globalisasi juga menjadi salah satu faktor mengapa hadirnya jurnalisme online. Dengan adanya globalisasi, jurnalisme juga ikut terpengaruhi. Teknologi yang begitu canggih membuat jurnalisme dan segala praktiknya pun dapat semakin terbarui. Media online sebagai salah satu hasil karya dari globalisasi teknologi membuat sebagian besar media beralih ke ranah online. Kecepatan dan percepatan telah menyeret jurnalisme ke dalam pusaran kompetisi global (Iskandar & Lestari, 2016: 29). Tak bisa dipungkiri jika kini media bukan lagi dijadikan sebagai alat atau pilar ke empat demokrasi, melainkan sebagai alat untuk bisnis dan keuntungan belaka.

Terlepas dari semua itu, dapat disimpulkan bahwa saat ini media online membuat khalayak atau masyarakat lebih bisa memilih atau memiliki banyak pilihan. Contohnya apabila ia ingin melihat video berita tinggal buka situs berita televisi. Kedua, cetak, audio dan video, semua hadir dalam satu format yaitu online, begitu mudah bukan? Ketiga, situs-situs berita berbahasa inggris pun kini dapat kita akses sesuai tempat tinggal kita sekarang. Contohnya kita dapat mengakses menggunakan bahasa Indonesia jika kita tinggal di Indonesia. 

Keempat, berkaitan dengan kompetisi, kompetisi dalam dunia online merupakan kompetisi yang mengglobal, kenapa? Karena kompetisi ini bebas dan untuk semua khalayak tanpa terkecuali, asalkan terhubung dengan internet. Lalu kompetisi ini juga dapat meningkatkan kesadaran masyarakat atau khalayak ke arah yang lebih baik, segala lapisan masyarakat dapat memperoleh berita, karena tidak adanya batasan jarak dalam ranah online. Terakhir, kompetisi juga dapat memperkaya konsumen atau khalayak, misalnya dengan adanya iklan yang muncul dalam situs berita.

Akhir kata, semua kelebihan dan kekurangan dalam dunia jurnalisme baik itu cetak, penyiaran maupun online, tidak akan ada artinya apabila kita melupakan kaidah-kaidah jurnalistik di dalamnya, dan lebih mementingkan keuntungan kelompok atau perseorangan belaka. Ingat, jurnalisme online tetaplah produk jurnalistik yang bekerja untuk warga. 


Daftar Pustaka:

Iskandar & Lestari. 2016. Mitos Jurnalisme. Indonesia, Yogyakarta: CV ANDI OFFSET.

Peranginangin, Y. 2008. Berkreasi Tanpa Batas dengan iLife '08. Indonesia, Jakarta: PT Elex Media Komputindo.

Nicholas RyanAditya

/nichoryan

Seorang anak rantau yg bercita-cita menjadi jurnalis
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH PLATFORM BLOG, SETIAP ARTIKEL MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

NILAI :

Daftarkan email Anda untuk mendapatkan cerita dan opini pilihan dari Kompasiana