HEADLINE

Pak Darum, Sebuah Realitas Tentang Pengojek Sepeda di Kota Tua

26 Mei 2011 13:00:48 Dibaca :
Pak Darum, Sebuah Realitas Tentang Pengojek Sepeda di Kota Tua
Pak Darum dan Sepedanya

Mendengar kata ojek, terbersitlah sebuah pikiran tentang seseorang dengan jaket menutup tubuh secara penuh sambil mengendarai motor dengan atau tanpa penumpang. Namun ternyata ojek tidak selalu berbanding lurus dengan kendaraan bermotor roda dua. Di kawasan wisata kota tua, ojek sepeda adalah hal yang sangat lumrah. Ojek sepeda ini ciri khasnya adalah pramudi yang biasa bertopi ataupun bercaping dan sepeda ontel yang dibawanya. Tidaklah sulit untuk menemukan ojek-ojek sepeda di kawasan kota tua Jakarta. Mereka biasanya berpangkalan tepat di depan stasiun kota. Atau jika memang tidak berhasil ditemui, tinggal menunggu di persimpangan jalan dan menanti orang dengan sepeda ontel yang berputar-putar dengan jok kursi pada bagian belakang yang biasa lebih tebal dari jok kursi sepeda biasanya. Biasa mereka akan aktif mengangkat satu jarinya tanda menawarkan jasa ojek sepeda disana. Ojek sepeda di satu sisi merupakan sebuah ikon klasik yang penuh dengan nilai-nilai historis terutama untuk wista kota tua. Ojek sepeda ini berperan seperti sebuah simbol yang menunjukkan eksistensi kota tua. Jika ada kota tua, maka ada ojek sepeda dengan sepeda ontelnya. Namun di sisi lain, apakah ikon ini akan dapat bertahan? Ini adalah sepenggal kisah tentang seorang pengojek sepeda. Mungkin dengan berangkat dari sinilah akan dapat diketahui bagaiaman kehidupan pengojek sepeda yang menjadi ikon kota tua itu. Di bawah panas matahari yang begitu terik, Pak Darum dengan caping berwarna hitamnya masih setia duduk bersama dengan sepeda ontelnya ketika ditemui di kawasan kota tua. Bapak dari 8 anak dan kakek dari 8 orang cucu ini sudah berumur 53 tahun dan mendedikasikan hidupnya sebagai pengojek sepeda selama kurang lebih 20 tahun sejak tahun 1991. Pekerjaannya setiap hari hanya menunggu penumpang di kawasan kota tua. Menjadi pengojek sepeda Pilihan hidup untuk menjadi seorang pengojek sepeda berawal dari keinginan beliau untuk sekedar ikut dengan temannya yang mengatakan bahwa bekerja di ibukota itu gampang dan bisa menghasilkan banyak uang. Alhasil, karena tergiur dengan kemudahan dan kata-kata, beliau ikut bersama temannya pergi ke Jakarta dan sesamapinya di ibukota, beliau langsung berprofesi menjadi pengojek sepeda meninggalkan profesi lamanya yang hanya menjadi seorang buruh harian di sebuah pabrik di kampungnya. Ternyata menjadi seorang pengojek sepeda tidak serta-merta memuat impian mencari uang yang mudah itu terkabulkan. Lebih dari itu ia berkata bahwa, “ya itu katanya saja cari duit gampang. Kalau ga kerja ya ga dapat duit. Kalau ga dapat duit, ga bisa makan dan kelaparan. Apalagi jadi pengojek sepeda begini untung-untungan. Kalau sedang ramai ya tiap habis mengantar lalu pulang langsung pergi lagi. Kalau lagi ga ada penumpang, ya apa boleh buat. Bisa-bisa tidak makan.” Kehidupan sehari-hari Kehidupan sehari-hari yang dilalui oleh kebanyakan pengojek sepeda hampir tidak berbeda. Kebanyakan dari mereka tidak memiliki tempat tinggal tetap di Jakarta. Oleh karena itu, menurut Pak Darum ini kebanyakan dari mereka tidur seadanya di sekitar mangga dua bersama dengan penarik becak dan penarik gerobak. Cara ini ditempuh agar pendapatan sehari-hari Pak Darum dan para pengojek sepeda juga tidak berkurang hanya untuk membayar uang kontrakan. Pak Darum sendiri mengaku bekerja sebagai pengojek sepeda dari pagi hingga sore hari dengan pendapatan yang diperoleh tidak terlalu besar yakni sekitar Rp.30.000,00 untuk kondisi penumpang wajar hingga bisa mencapai Rp.40.0000,00 per hari jika jumlah penumpang cukup ramai. Pendapatan yang diperoleh selain bergantung pada jumlah penumpang juga dipengaruhi oleh seberapa jauh jarak tempuh dan kebaikan hati penumpang untuk memberikan uang lebih. Biasanya, untuk berkeliling dari Stasiun Kota hingga Pelabuhan Sunda Kelapa, Pak Darum menetapkan biaya sekitar Rp.20.000,00 pulang-pergi sedangkan jika pergi ke daerah mangga dua maka biaya yang dipatok adalah sebesar Rp.5.000,00. Lebih jauh, pendapatan itu adalah pendapatan kotor dan belum termasuk biaya makan. Sementara pada hari ini, beliau mengaku baru mengantongi sekitar Rp.20.000,00 dan itu pun belum dipotong uang makan karena beliau mengaku belum makan sejak pagi. Masalah pendapatan yang tipis ini juga berimbas kepada keluarganya di kampung sebab beliau merasa mengatakan bahwa dengan jumlah uang sebesar Rp.200.000,00 per bulan yang dikirmkan sekarang tidak akan cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarganya terutama untuk uang jajan cucunya. Hal ini juga ditambah dengan banyaknya keperuan yang harus ditanggung beliau mengingat anaknya yang terkecil masih berumur 3 tahun. Berlawanan Beratnya kehidupan yang harus ditanggung oleh pengojek sepeda tentu sangat berlawanan jika dibandingkan dengan peran mereka sebagai ikon dari tempat wisata kota tua. Diakui Pak Darum, kumpulan pengojek sepeda disana seringkali diundang jika musem-museum yang ada di kota tua menyelenggarakan sebuah acara. Mereka diundang sebagai sebuah ikon yang menunjukkan ada keunikkan sendiri di kota tua. Bahkan beliau mengaku bahwa beliau dan kawan-kawan sesama pengojek sepeda pernah diundang ke Tangerang sekitar tahun 2004 untuk sebuah acara disana. Para pengunjung kota tua pun biasa menggunakan jasa mereka karena keunikannya dan karena keberadaan mereka dianggap sebagai sesuatu yang unik dan merupakan kesempatan yang sangat disayangkan jika dilewatkan. Hal ini setidaknya menunjukkan bahwa di satu sisi mereka dibutuhkan sebagai sebuah simbol yang memang menjadi ciri khas kota tua namun di lain sisi mereka sendiri tidak mampu untuk hidup secara berkecukupan. Harapan Beliau mengaku bahwa satu-satunya keadaan dimana beliau bisa merasa senang ketika menjadi seorang pengojek sepeda adalah ketika bisa mendapatkan penghasilan yang cukup. Meskipun diakuinya jumlah penumpang tidak turun dari tahun ke tahun dan cenderung stabil, beliau tentu berharap bahwa beliau tidak perlu merasakan keadaan yang sangat terpuruk sampai tidak harus makan hanya karena tidak ada penumpang sama sekali. Harapan yang diutarakan beliau adalah agar bisa ada semacam koperasi maupun organisasi resmi yang bisa mendukung para pengojek sepeda. Koperasi ini diitujukan agar para pengojek sepeda bisa diberikan kemudahan jika hendak berutang sedangkan organisasi resmi dibutuhkan untuk mengayomi pengojek sepeda yang ada disana. Selain itu, beliau juga mengharapkan semakin gencarnya sosialisasi mengenai ojek sepeda sebagai salah satu sarana wisata di kota tua sehingga mereka bisa mendapatkan penghasilan tambahan dari promosi wisata disana. Inilah sebuah realitas dari pengalaman seorang pengojek sepeda. Tentunya tidak ada yang berharap ikon pengojek sepeda yang unik ini mati baik itu karena tidak dipedulikannya mereka lagi atau karena adanya larangan seperti yang diberikan pada tukang becak karena dianggap mengeskploitasi manusia. Pak Darum dan para pengojek sepeda lainnya tentu sangat berharap eksistensi mereka sebagai ikon wisata kota tua tidak hanya sebatas seremonial belaka namun juga melampaui itu semua melalui pemenuhan harapan mereka secara pribadi. Semoga saja hal itu terwujud dan pengojek sepeda akan tetap menjadi ikon sejati baik untuk wisata kota tua maupun nilai historis DKI Jakarta.

Nicholaus Prasetya

/nicholausprasetya

TERVERIFIKASI (HIJAU)

Kalau ditanya tujuan menulis, saya pengen jawab supaya kalau saya sudah tidak ada di dunia ini lagi, orang-orang masih bisa mengenang saya lewat tulisan saya, yaaaa itupun kalau ada yang mau mengenang saya. kalau tidak, ya sudah. oh ya, saya punya impian selain menjadi penulis. impian saya adalah melihat salju sebelum meninggal. hhmm.....
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?