Bolehkah Melanggar Janji?

13 November 2011 02:07:14 Dibaca :

Bangun tidur, hal yang pertama kali terlintas di kepalaku adalah kata “janji”. Sebegitu hebatnya kah sebuah janji? Apa sih definisi dari sebuah janji. Apa semua janji yang telah disepakati, harus ditepati? Harus sekaku itukah?

Janji adalah : 1. Ucapan yang menyatakan kesediaan dan kesanggupan untuk berbuat (seperti hendak memberi, menolong, datang, bertemu)  2. Persetujuan antara dua pihak (masing-masing menyatakan kesediaan dan kesanggupan untuk berbuat atau tidak berbuat sesuatu)

Sejujurnya, aku jarang berjanji. Hanya pernah beberapa kali berjanji palsu kepada Allah, kepada suamiku, dan kepada beberapa orang sahabat. Dan merekapun telah mengenal aku dengan baik. Mereka tau persis, terkadang janji  palsu yang aku ucapkan tidak dengan sungguh-sungguh. Bisa berubah karena kondisi atau alasan tertentu, seperti janji ala anak-anak.

Yang aku maksud dengan janji palsu di sini adalah sebuah perjanjian  yang  aku buat secara sepihak, berdasarkan emosional sesaat dikarenakan marah, sedih, kesal, kecewa, atau mencari perhatian. Bukan sebuah perjanjian yang mengikat, bersifat rahasia atau berisikan sebuah komitmen dan tanggungjawab.

Bener nggak ya, jika melanggar janji bisa disebut plin-plan? Terkadang aku melanggar janji, jika menyangkut dengan orang-orang yang aku sayangi. Seperti kepada orang tua, sahabat, anak, dan suami. Huwaaaaa, kesannya aku jadi nggak tegas banget..

Beberapa alasan yang membuat janji palsuku sering terlanggar.

1. Dikarenakan aku membuat janji hanya sepihak. Tidak ada komitmen bersama, lebih janji kepada diri sendiri yang tujuannya  untuk kepentingan pribadi.

2. Janji yang aku buat, terkadang lebih bersifat emosional. Janji yang ditulis atau diucapkan karena marah, sedih, mencari perhatian, atau curhat sesaat yang tujuannya untuk menetralisir hati. Ungkapan janji seperti  ketika menulis pada buku harian, membuat puisi atau cerita fiksi.

3. Karena janji terhadap orang-orang yang aku sayangi, tidaklah bersifat kaku. Kadang aku sudah berjanji bakalan marah, nggak mau bicara dan lain-lain, eh baru lihat wajahnya dan dia tersenyum saja..sudah lupa deh sama janji yang tadi. Kadang aku sudah berjanji mau ngelupain, mau membenci, mau menjauh..eh denger dia minta maaf atau merayu saja,aku sudah luluh. Kadang aku kesal ketika pasangan atau anak selalu melakukan kesalahan yang sama, aku sudah  berjanji buat memberi hukuman, tapi melihat bahwa mereka tak sengaja melakukannya, aku sudah luluh kembali.

4. Karena menurutku, janji itu bukan harga mati. Berjanji kepada Allah saja bisa ralat. Apalagi berjanji kepada manusia, kenapa tidak bisa diperbaiki?  Allah saja maha pengertian, pemaklum, dan pemaaf. Beberapa  janji bisa dirubah asal dengan tujuan baik.

5. Mungkin karena  aku wanita. Lebih mempunyai sifat perasa, penyayang, mudah tersentuh, unik, dan sulit dimengerti. Terkadang, lebih banyak memakai  perasaan, bila dibandingkan dengan memakai logika. Pokoknya, ribet... judulnya.

Tapi selama ini, jika janji-janji yang tidak melibatkan secara emosional, selalu aku tepati. Hampir tak pernah aku langgar. Janji - janji yang aku pegang teguh dan aku tepati dengan sungguh-sungguh adalah :

1. Janji-janji yang tertera di atas  kertas hitam dan putih. Janji yang mengikat dan menuntut pertanggungjawabannya secara hukum.2. Janji yang menyangkut kepentingan orang banyak dan melibatkan beberapa alasan di dalamnya.3. Janji yang menyangkut pekerjaan dan kedisiplinan yang  berupa komitmen dan dituntut secara profesional.4. Janji kepada Allah ataupun dengan oranglain yang melibatkan hati dan mengandung unsur rahasia.

Janji dalam dunia tulis menulis yang selalu aku tepati adalah kedisipilinan dalam mengerjakan deadline-deadline naskah buku Antologiku. Meskipun dengan susah payah (dikarenakan aku tak pandai menulis) semua deadline naskah buku antologiku, terselesaikan dengan tepat waktu dan tak ada satupun yang mundur.

Selain itu, ada  beberapa janji yang masih aku pegang teguh dan aku tepati. Janji secara pribadi yang aku buat, dengan alasan tertentu. Janji yang (sudah 8 tahun tak aku langgar). Aku pernah berjanji untuk tidak berkomunikasi dengan mantanku lagi. Janji yang tidak bersifat mengikat dan dapat berubah dalam kondisi tertentu yang mendesak. Misalnya dalam keadaan darurat dia sakit keras dan ingin bertemu denganku.  Atau alasan apa ya? hihi..

Janji lain yang tidak aku langgar adalah janji atas kesepakatan bersama yang diminta oleh istri sahabatku.  Janji yang sudah aku jalani sejak bulan Juli tahun kemarin. Janji untuk tidak berkomunikasi lagi dengan sahabatku atas permintaan istrinya. Istrinya menelpon dan menginboxku secara diam-diam dan memintaku untuk pergi jauh dari kehidupan suaminya. Bukan karena kami selingkuh, akan tetapi karena istrinya merasa cemburu dan tak nyaman dikarenakan suaminya jatuh cinta denganku sejak jaman kuliah dulu. Istrinya memintaku meghapus pertemanan suaminya di facebook, dan memintaku mengabaikan inbox, sms, dan telpon-telpon dari suaminya. Sampai detik ini, aku belum pernah bercerita pada sahabatku apa yang dilakukan istrinya terhadapku. Kasian juga sih, terkadang aku benar-benar merasa seperti orang jahat. Di posisi yang sulit.

Buatku melanggar janji, boleh-boleh saja sejauh tidak yang bersifat prinsip, pelanggaran yang terjadi untuk tujuan baik atau menetralisir keadaan.

Duh, ini hanya curhatan pribadi yang sedang  bingung mengartikan sebuah janji  :)

Have a nice weekend ya.

========================================== (gambar : google)

Neny Silvana

/nenysilvana

TERVERIFIKASI (HIJAU)

Unik, ekspresif, menarik.
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?