Evolusi Menu dalam Tradisi Ater-ater

14 Maret 2010 02:28:00 Diperbarui: 26 Juni 2015 10:26:24 Dibaca : 795 Komentar : 0 Nilai : 0 Durasi Baca :

tinggal di lingkungan Jawa seperti keluarga saya, selalu ada hal menarik yang terjadi. begitu di amati ternyata banyak hal yang menggelitik untuk di ulik lagi. salah satunya adalah tradisi ater- ater ini. tradisi ater- ater adalah tradisi saling mengirimkan makanan ke tetangga-tetangga dan sanak saudara. biasanya dilakukan ketika ada warga yang mengadakan hajat seperti mendirikan rumah, kelahiran bayi, menjelang lebaran, dan pernikahan. menunya pun bis bermacam- macam tergantung hajatannya. pada hajatan mendirikan rumah, biasanya menunya lebih variatif tergantung kemampuan si empunya hajatan, jika kelahiran bayi berupa nasi bancakan (isinya berupa nasi, urap sayuran, bothok,bongko, dan telur rebus), menu ini paling lama bertahan dan nyaris belum ada perubahan hingga saat ini. sedangkan ater-ater menjelang lebaran, sudah mulai ada perubahan dari masakan menjadi sembako mentah, cara ini dinilai lebih praktis dan menghindari mubadzir sebab menjelang lebaran di rumah- rumah yang akan dikirimi makanan biasanya sudah masak- masak banyak makanan sendiri. terakhir yang tak kalah menarik adalah menu ater-ater dalam hajatan pernikahan, pada awalnya menu ater-ater ini berupa satu set nasi dan lauknya (terdiri dari nasi, ayam dada, tahu,tempe, bihun goreng, dan sambal goreng kentang) yang disusun dalam satu paket rantang. lalu diikat dengan kain. rantang- rantang ini biasanya untuk sanak saudara yang tempat tinggalnya jauh atau di luar kampung. untuk yang dalam kampung cukup di antar dengan piring-piring yang di taruh dalam satu tampah (sejenis loyang dari anyaman bambu) dan di antarkan dengan jalan kaki oleh ibu-ibu dan remaja putri. metode ater-ater rantangan ini juga bisa di artikan sebagai undangan, metode ini juga dinilai cukup efektif untuk mengundang orang datang ke acara pernikahan, karena bagi siapapun yang menerima undangan dengan ater-ateran ini akan sulit untuk tidak datang dan menyumbang ke acara pernikahan  tersebut, istilahnya menjadi perkewuh. mau makanannya mosok ya ga mau nyumbang juga. pada perkembangannya, para empunya hajat menyadari betul hal ini. area ater-ater pun diperluas, bahkan kadang cuma asal kenal pun bisa dapet ater-ater rantangan. lama- lama packaging rantang pun dinilai ribet dan memakan banyak waktu, sebab masih dibutuhkan waktu untuk mengganti rantang dan mencucinya baru kemudian bisa diisi lagi. ide baru pun muncul dengan meringkas menu satu susun rantang itu menjadi satu kotak nasi dengan menu yang lebih simpel lagi. biasanya menu diganti dengan satu porsi nasi ayam bakar + lalapan, atau nasi rames yang di taruh dalam kotak-kotak mika. seperti gambar berikut semakin praktis dan yang pasti hemat waktu serta tenaga. bayangkan saja, cukup siapkan satu list nama - nama siapa saja yang akan menerima nasi kotak ini, maka dengan membawa satu mobil yang penuh dengan beberapa tumpuk nasi kotak, sekali jalan beberapa wilayah akan mampu dituju dengan cepat. namun sayangnya, semakin praktis cara dan menu ater-ater ini tidak sebanding dengan jumlah sumbangan yang akan di bayar si undangan. jika dulu amplopan 20ribu itu bisa dinilai cukup, maka tidak dengan sekarang. fenomena yang menarik bukan...???

Neng Tita

/nengtita

think like a wiser, act like a winner.........!
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH PLATFORM BLOG, SETIAP ARTIKEL MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

NILAI :

Daftarkan email Anda untuk mendapatkan cerita dan opini pilihan dari Kompasiana