Jodoh

24 Februari 2013 02:15:42 Dibaca :

Salah satu rahasia Maha Agung Sang Pencipta selain hidup dan mati adalah jodoh. Siapa sih manusia di dunia ini yang bisa tahu dengan siapa kelak dia akan berjodoh?  Saya rasa tetap tidak akan ada seorangpun yang bisa mengankangi misteri milik Tuhan yang satu itu. Termasuk juga para peramal, apapun jenis ramalannya. Entah itu peramal Aeromancy, Botamancy, Bumpology, Catoptromancy, Ceraunoscopy, Genethlialogy, Haruspication, Hydromancy, I Ching, Lecanomancy , Margaritomancy, Metoposcopy, Oculomancy, Sortilege,sampai jenis ramalan Demonomancy sekalipun. Karena apapun alasannya aku tetap percaya bahwa sebelum kulit ari ini tercipta, Tuhan telah menetapkan rahasia-rahasia Agung bagi hidup setiap manusia,  termasuk di dalamnya tentang jodoh yang  harus aku yakini sebagai aplikasi sebuah keimanan seorang hamba terhadap rukun iman yang ke-enam.
Sejak dulu hingga umurku yang sekarang ini, yang mungkin menurut orang di kampungku sudah tidak muda lagi, karena teman-teman SD sebayaku rata-rata sudah menikah bahkan ada yang sudah memiliki anak,  belum pernah sekalipun aku menjalani masa-masa yang teman-temanku bilang bernama pacaran. Dulu saat SMP, ketika teman teman perempuanku mulai surat-suratan kepada lawan jenis, yang membuat mereka kadang senyum-senyum sendiri bahkan jadi tak konsen belajar, aku hanya mampu  jadi pengamat. Lalu setelah lulus SMP, orangtuaku memasukkanku ke pesantren yang sudah pasti interaksi dengan lawan jenis akan sangat dibatasi. Jangankan kamar tidur dan kamar mandi, bahkan dapur umum, kantin, kelas,  hingga jadwal keluar pesantren antara santriwan dan santriwatipun akan dibedakan.

Antara asrama santriwan dan santriwati juga dibatasi dengan pagar tinggi, tebal dan sangat kokoh. Belum lagi akan ada mata-mata yang biasa kami sebut dengan istilah  jasus yang akan mengawasi tingkah laku semua santri. Mulai dari shalat berjamaah di masjid, mengaji,  penggunaan bahasa wajib yang memang hanya diperbolehkan menggunakan bahasa Arab dan Inggris, kebersihan lingkungan juga badan, termasuk berapa kali mandi dalam sehari, apalagi tentang interaksi antara lawan jenis, pasti akan mendapat pengawasan yang ekstra ketat. Bisa dibayangkan betapa terkekangnya hidupku bukan? What, terkekang??? No! It’s wrong. I'm very happy you know. Aku sangat bahagia dengan hidupku ini. Sungguh! Aku sangat bahagia dengan kehidupan pesantren beserta segala bentuk aturan-aturannya.
Jika ada yang bertanya apakah aku pernah jatuh cinta? Tentunya pernah. Diam-diam aku pernah menyukai teman sekampusku waktu di semester enam dulu. Orangnya cerdas, manis, sopan, bersahaja, dan tidak neko-neko. Namanya Galih. Secara diam-diam pula aku memperhatikan aktivitas-aktivitasnya dan juga tempat-tempat yang biasa dia singgahi. Dari situ aku tahu bahwa dia sangat hobi membaca. Dari perhatianku yang secara diam-diam itu pula aku merasa sudah sangat mengenalnya,  dan lama-lama muncul efek seperti ada rasa gelisah jika sehari tak melihatnya, jika hal itu terjadi maka segera saja aku menaiki lift menuju lantai tiga perpustakaan, lalu kubebaskan retinaku menelusuri kursi baca paling pojok, di baris kedua sebelah kanan pintu masuk yang berdekatan langsung dengan AC. Maka akan kutemukan dia yang sedang asyik melahap buku-buku bacaannya.
Karena dialah aku jadi ikut-ikutan betah berlama-lama di perpustakaan kampus. Sering dengan sengaja kucari tempat duduk yang paling strategis saat membaca di pepustakaan agar dapat memandangnya sewaktu-waktu tanpa dia mengetahui. Hingga suatu hari akhirnya dia menyapaku, akhirnya kami berkenalan lalu saling bertukar nomor handphone.Jangan ditanya bagaimana perasaanku saat itu. Jika diibaratkan, mungkin rasanya seperti orang yang terbebas dari penyakit TBC menahun. Hehe..
Peristiwa bertukar nomor handphone dulu itulah yang merupakan momentum paling keramat dalam sejarah merah jambuku. Karena sejak saat itu, kami jadi sering berinteraksi dan diskusi tentang banyak hal. Termasuk juga pada akhirnya tentang urusan hati. Kami jadi bisa menyelami hati masing-masing. Juga mendadak menjadi saling ketergantungan dan butuh perhatian. Mulailah kami menjadi sering jalan berdua, mengunjungi tempat tempat bacaan berdua, memburu buku-buku murah berdua, sampai berniat ingin menyatukan mimpi-mimpi yang kami miliki dalam satu ikatan pernikahan. Eiiits.. tunggu dulu, sampai sejauh ini tidak pernah sekalipun kami bersentuhan fisik, walaupun sekedar bersalaman. Hingga akhirnya waktu membawa kami pada detik-detik terakhir status kami tamat sebagai mahasiswa di kampus ini.
Setelah lulus strata satu, kami berniat melanjutkan studi ke program magister. Bedanya dia memilih melanjutkan S2 nya di Jakarta, sedangkan aku memilih melanjutkan S2 ku di kota apel, Malang. Di bulan-bulan pertama tinggal saling berjauhan merupakan saat-saat yang sangat sulit dilalui. Rasa rindu yang menggebu seolah telah mematikan rasa lapar yang menghuni lambung lambung kami, sebab kami rela menghabiskan rupiah demi rupiah uang jajan kami hanya untuk bisa melepas rindu di telpon.
Dan hari ini, setelah hampir tujuh bulan bentangan geografis mengukir garis garis rindu di hati kami, akhirnya takdir juga yang akan mempertemukan kami kembali. Dia akan datang menemuiku. Kemarin siang dia berangkat dengan kereta Gajayana dari stasinu Gambir menuju Malang. Dan pagi ini aku sibuk mempersiapkan diri menjemputnya di stasiun Kota Baru, Malang. Bahagia sekali rasanya. Jantungku tak henti berdebar menanti kedatangannya. Rasa penasaran semakin menambah debar jantung yang tak kuasa kuhentikan. Bagaimana penampilannya sekarang? Apakah ada yang berubah dari dirinya setelah tujuh bulan tak berjumpa ? Ah, tak sabar sekali aku jadinya.
Setelah berpamitan dengan ibu kost, segera kustater motorku keluar garasi. Namun baru saja keluar  dari gerbang kostku, tiba-tiba mobil pick up melaju kencang dari perempatan jalan dan nyaris menabrakku. Untung saja aku dapat segera menghindar walaupun sempat terjatuh dan badanku terasa sakit sekali. Ingin sekali kumaki pengemudi ugal-ugalan itu, namun rindu ini membuatku tak menghiraukannya. Tak sabar lagi, segera kutancap gas menjemput rinduku yang sudah menunggu di Stasiun Kota Baru yang mendadak jadi merah jambu.
Di kursi tunggu, duduklah seorang laki-laki yang sangat ku kenal. Tak ada yang berubah satupun darinya kecuali raut wajahnya yang tak segar seperti dulu. Segera kuhampiri dan kusapa, namun kenapa dia tak menghiraukanku. Dia malah buru-buru pergi dengan laki-laki paruh baya yang tak lain adalah bapak Kostku. Hampir habis suaraku ini memanggilnya. Namun dia terus saja berlari dan buru-buru pergi dengan motor bapak kostku. Kustater motorku mengejarnya. Air mataku jatuh satu-satu menyaksikan keacuhannya.
Kulihat motor yang dinaikiya melewati ruas-ruas jalan menuju kostku. Dan benar, dia belok ke gerbang kostku. Segera kupercepat laju motorku menyusulnya. Hei, Kenapa kostku jadi ramai sekali? Kenapa juga Galih menagis di depan perempuan pucat yang sedang berbaring ditutup kain panjang? Siapa perempuan yang membuat Galih  sesenggukan begitu. Kudekati perlahan, dan betapa terkejutnya karena perempuan pucat yang ditutup kain panjang itu ternyata adalah aku.

Nawang Wulandari

/nawangwulandari

Freelance Writer / Mahasiswi Pascasarjana UIN Malang / Penyuka rinai hujan dan warna ungu / Hanya seseorang yang ingin bisa lebih baik bagi agama, keluarga dan lingkungan sosial.
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?