HIGHLIGHT

Menunggu Kedatangan Juru Adil

14 September 2012 16:40:37 Dibaca :
Menunggu Kedatangan Juru Adil

Tulisan ini sebenarnya bertujuan untuk saling berbagi tentang pengalaman hidup yang saya alami dan mungkin pula dialami oleh banyak orang, terutama orang-orang yang sengaja suka membentuk kelompok ataupun yang kebetulan menjadi sebuah kelompok tertentu.

Hampir setahun ini saya diminta oleh dosen saya untuk menjadi salah satu pembimbing ataupun staf pengajar di suatu lembaga pendidikan (pesantren). Pesantren ini sebenarnya milik seseorang kiai yang sangat terkenal, pandai, alim, keilmuan keagamaannya sangat mumpuni, dan merupakan sosok yang controversial pula. Akan tetapi karena usia yang sudah semakin lanjut, secara operasional pimpinan / pengasuh pesantren kemudian dialihkan kepada anak angkatnya yang dibantu oleh beberapa alumni dan beberapa orang-orang yang loyal kepada beliau atau biasa disebut dengan istilah PP (pembantu pengasuh / pimpinan).

Kebijakan-kebijakan yang diputuskan oleh para PP dinilai banyak kalangan merupakan keputusan-keputusan yang cukup efektive untuk meneruskan garis perjuangan pendiri pesantren ini. Salah satu keputusan yang banyak diminati oleh para orang tua murid yang dianggap jitu ialah ketika pihak pengelola pesantren memutuskan untuk memisah tempat pendidikan murid-murid (santri-santri) yang baru / kecil-kecil dengan murid-murid (santri-santri) yang lama / besar-besar. Hal ini sangat jarang dilakukan oleh pesantren-pesantren lain yang ada di daerah saya karena disamping masalah biaya, masalah tempat juga dianggap agak sulit mengingat lahan yang semakin menyempit.

Santri-santri lama / besar menempati komplek yang lama, sedangkan santri-santri yang baru / kecil-kecil menempati komplek yang baru dan dengan fasilitas serta pengawasan yang khusus, diantaranya dengan ditempatkan para pembimbing untuk membimbing dan membantu mereka belajar. Pada mulanya para pembimbing hanya berjumlah empat orang namun karena dirasa kuwalahan mengingat semakin banyaknya santri yang masuk, akhirnya ditambah lagi tiga orang yang kesemuanya sekarang menjadi tujuh orang. Nah disinilah saya termasuk salah satu dari mereka.

Awalnya pesantren yang kami bimbing berjalan dengan normal-normal saja. Kegiatan-kegiatan kepesantrenan, seperti jama’ah, mengaji, belajar, kerja bakti dan lain-lain berjalan dengan baik dan selalu dalam pengawasan kami. Namun ternyata hal itu tidak bertahan lama. Kemerosotan mental dan semangat para pembimbing lain mulai agak pudar. Kegiatan-kegiatan kepesantrenan sedikit demi sedikit mulai terabaikan, bahkan kalau boleh dibilang para pembimbing ini lebih suka menikmati fasilitas dan gaji yang diberikan oleh pesantren kepada mereka dari pada mereka berlelah-lelah mengawasi dan membimbing para santri. Hal inilah yang kemudian memicu keprihatinan saya. Saya bingung harus berbuat apa. Sebenarnya ada keinginan untuk menegur dan meminta komitmen mereka kembali. Namun apa daya saya tak kuasa untuk lakukan itu. Disamping saya yang paling muda, mereka juga secara intelektual keilmuannya lebih matang dari saya, hingga membuat saya berpikir ulang untuk lakukan itu. Akan tetapi sayangnya sampai sekarang para pembimbing ini tidak juga sadar dan memperbaiki kinerjanya. Entah apa yang ada di otak mereka. Dan di sisi yang lain saya juga agak tidak tega melihat keadaan para santri yang semakin liar dan terabaikan. Bagaimana jika nanti orangtua mereka tau tentang keadaan yang sebenarnya kini?? Dan sekarang apa yang mesti saya lakukan supaya mereka bisa sadar? Karena akan mustahil juga jika saya seorang diri harus membimbing santri-santri kecil ini yang jumlahnya hampir seratusan orang. Tolong tuhan, tunjukkan kuasa dan keadilanmu.

%sumber gambar%

Ahmad Nashiruddin

/nashiruddinahmed

lakukan perubahan tanpa perbudakan (MarjiNaL)
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?