Materi Sosiologi

02 Mei 2011 16:10:58 Dibaca :

Pengertian Sosiolinguistik

Sosiolinguistik merupakan ilmu antardisiplin antara sosiologi dan linguistik, dua bidang ilmu empiris yang mempunyai kaitan sangat erat. Apa sosiologi dan linguistik itu? Banyak batasan telah dibuat oleh para sosiolog mengenai sosiologi, tetapi intinya bahwa sosiologi adalah kajian yang objektif dan ilmiah mengenai manusia di dalam masyarakat, mengenai lembaga-lembaga, dan proses sosial yang ada di dalam masyarakat. Sosiologi berusaha mengetahui bagaimana masyarakat itu terjadi, berlangsung, dan tetap ada. Dengan mempelajari lembaga-lembaga sosial dan segala masalah sosial dalam satu masyarakat, akan diketahui cara-cara manusia menyesuaikan diri dengan lingkungannya, bagaimana mereka bersosialisasi, dan menempatkan diri dalam tempatnya masing-masing di dalam masyarakat.

Linguistik adalah bidang ilmu yang mempelajari bahasa, atau bidang ilmu yang mengambil bahasa sebagai objek kajiannya. Dengan demikian, secara mudah dapat dikatakan bahwa sosiolinguistik adalah bidang ilmu antardisiplin yang mempelajari bahasa dalam kaitannya dengan penggunaan bahasa itu di dalam masyarakat. Sosiolinguistik dapat didefinisikan sebagai kajian tentang bahasa dalam hubungannya dengan masyarakat dan istilah inilah yang akan digunakan dalam buku ini.

Sosiolinguistik adalah ilmu yang interdisipliner. Istilahnya sendiri menunjukkan bahwa ia terdiri atas bidang sosioligi dan linguistik. Dalam istilah linguistik-sosial (sosiolinguistik) kata sosio adalah aspek utama dalam penelitian dan merupakan ciri umum bidang ilmu tersebut. Linguistik dalam hal ini juga berciri sosial sebab bahasa pun berciri sosial, yaitu bahasa dan strukturnya hanya dapat berkembang dalam suatu masyarakat tertentu. Aspek sosial dalam hal ini mempunyai ciri khusus, misalnya ciri sosial yang spesifik dan bunyi bahasa dalam kaitannya dengan fonem, morfem, kata, kata majemuk, dan kalimat.

Selain istilah sosiolinguistik ada juga digunakan istilah sosiologi bahasa. Dari kedua istilah tersebut ada yang menganggap itu sama, tetapi ada juga yang menganggap berbeda. Ada yang mengatakan digunakannya sosiolinguistik karena penelitiannya dimasuki dari bidang linguistik; sedangkan istilah sosiologi bahasa digunakan kalau penelitian itu dimasuki dari bidang sosiologi. Fishman dalam mengkaji masalah ini menggunakan judul Sosiolinguistik (1970), kemudian menggantinya dengan sosiologi bahasa, Sociology of Language (1972). Artikel yang ditulis Fishman dalam Giglioli (ed. 1972:45-58) memang membahas Sosiolinguistik di bawah judul Sosiologi Bahasa. Dikatakannya bahwa “ilmu ini meneliti interaksi antara dua aspek tingkah laku manusia: penggunaan bahasa dan organisasi tingkah laku sosial”. J.A. Fishman mengatakan kajian sosiolinguistik lebih bersifat kualitatif, sedangkan kajian sosiologi bahasa bersifat kuantitatif. Jadi sosiolinguistik lebih berhubungan dengan perincian-perincian penggunaan bahasa yang sebenarnya, seperti deskripsi pola-pola pemakaian bahasa/dialek dalam budaya tertentu, pilihan pemakaian bahasa/dialek tertentu yang dilakukan penutur, topik, dan latar pembicaraan, sedangkan sosiologi bahasa lebih berhubungan dengan faktor-faktor sosial, yang saling bertimbal-balik dengan bahasa/dialek.

Bram & Dickey, (ed. 1986:146) menyatakan bahwa Sosiolinguistik megkhususkan kajiannya pada bagaimana bahasa berfungsi di tengah masyarakat. Mereka menyatakan pula bahwa sosiolinguistik berupaya menjelaskan kemampuan manusia menggunakan aturan-aturan berbahasa secara tepat dalam situasi-situasi yang bervariasi.

Sosiolinguistik juga menyangkut individu sebab unsur yang sering terlihat melibatkan individu sebagai akibat dari fungsi individu sebagai makhluk sosial. Hal itu merupakan peluang bagi linguistik yang bersifat sosial untuk melibatkan diri dengan pengaruh masyarakat terhadap bahasa dan pengaruh bahasa pada fungsi dan perkembangan masyarakat sebagai akibat timbal-balik dari unsur-unsur sosial dalam aspek-aspek yang berbeda, yaitu sinkronis, diakronis, prospektif — yang dapat terjadi– dan perbandingan. Hal tersebut memungkinkan sosiolinguistik membentuk landasan teoretis cabang-cabang linguistik seperti: linguistik umum, sosiolinguistik bandingan, antarlinguistik dan sosiolinguistik dalam arti sempit (sosiolinguistik yang konkret) (Deseriev, 1977:341-363).

Sumbangan bidang sosiologi dan linguistik kepada sosiolinguistik tidak sama, baik secara kualitatif maupun kuantitatif. Sumbangan unsur-unsur kemasyarakatan untuk landasan sosial dari sosiologi dan linguistik, termasuk seluruh perkembangan dari masyarakat, mencakup kesadaran secara sosial dan individu, mulai dari kenyataan-kenyataan yang ada dalam masyarakat hingga hasil yang berbeda-beda dari perkembangan masyarakat secara keseluruhan.

Permasalahan Sosiolinguistik

Konferensi sosiolinguistik pertama yang berlangsung di University of California, Los Angeles, tahun 1964 telah merumuskan adanya tujuh dimensi dalam penelitian sosiolinguistik. Ketujuh dimensi yang merupakan isu dalam sosiolinguistik itu adalah (1) identitas sosial dari penutur. (2) identitas sosial dari pendengar yang terlibat dalam proses komunikasi, (3) lingkungan sosial tempat peristiwa tutur terjadi, (4) analisis sinkronik dan diakronik dari dialek-dialek sosial, (5) penilaian sosial yang berbeda oleh penutur akan perilaku bentuk-bentuk ujaran, (6) tingkatan variasi dan ragam linguistik, dan (7) penerapan praktis dari penelitian sosiolinguistik (lihat Dittmar 1976:128).

Identitas sosial dari penutur antara lain dapat diketahui dari pertanyaan apa dan siapa penutur tersebut, dan bagaimana hubungannya dengan lawan tutur. Dengan demikian identitas penutur dapat berupa anggota keluarga (ayah, ibu, kakak, adik, paman, dan sebagainya), dapat berupa teman karib, atasan atau bawahan (di tempat kerja), guru, murid, tetangga, pejabat, orang yang dituakan, dan sebagainya. Identitas penutur itu dapat mempengaruhi pilihan kode dalam bertutur.

Identitas sosial dari pendengar tentu harus dilihat dari pihak penutur. Dengan demikian identitas pendengar itu pun dapat berupa anggota keluarga (ayah, ibu, adik, kakak, paman, dan sebagainya) teman karib, guru, murid, tetangga, pejabat, orang yang dituakan, dan sebagainya. Identitas pendengar atau para pendengar juga akan mempengaruhi pilihan kode dalam bertutur.

Lingkungan sosial tempat peristiwa tutur terjadi dapat berupa ruang keluarga di dalam sebuah rumah tangga, di dalam masjid, di lapangan sepak bola, di ruang kuliah, di perpustakaan, atau di pinggir jalan. Tempat peristiwa tutur terjadi dapat pula mempengaruhi pilihan kode dan gaya dalam bertutur, misalnya, di ruang perpustakaan tentunya kita harus berbicara dengan suara yang tidak keras, di lapangan sepak bola kita boleh berbicara keras-keras, malah di ruang yang bising dengan suara mesin-mesin kita harus berbicara dengan suara keras, sebab kalau tidak keras tentu tidak dapat didengar oleh lawan bicara kita.

Analisis diakronik dan sinkronik dari dialek-dialek sosial berupa deskripsi pola-pola dialek sosial itu, baik yang berlaku pada masa tertentu atau yang berlaku pada masa yang tidak terbatas. Dialek sosial ini digunakan para penutur sehubungan dengan kedudukan mereka sebagai anggota kelas-kelas sosial tertentu di dalam masyarakat.

Penilaian sosial yang berbeda oleh penutur terhadap bentuk-bentuk perilaku ujaran. Maksudnya, setiap penutur tentunya mempunyai kelas sosial tertentu di dalam masyarakat. Dengan demikian berdasarkan kelas sosialnya itu, dia mempunyai penilaian tersendiri, yang tentunya sama, atau jika berbeda, tidak akan terlalu jauh dari kelas sosialnya, terhadap bentuk-bentuk perilaku ujaran yang berlangsung.

Tingkatan variasi atau linguistik, maksudnya bahwa sehubungan dengan heterogennya anggota suatu masyarakat tutur, adanya berbagai fungsi sosial dan politik bahasa, serta adanya tingkatan kesempurnaan kode, maka alat komunikasi manusia yang disebut bahasa itu menjadi sangat bervariasi. Setiap variasi, entah namanya dialek varietas, atau ragam, mempunyai fungsi sosialnya masing-masing.

Dimensi terakhir, yakni penerapan praktis dari penelitian sosiolinguistik, merupakan topik yang membicarakan kegunaan penelitian sosiolinguistik untuk mengatasi masalah-masalah praktis dalam masyarakat, misalnya, masalah pengajaran bahasa, pembakuan bahasa, penerjemahan, mengatasi konflik sosial akibat konflik bahasa, dan sebagainya

Sudah selayaknya kalau pembicaraan sosiolinguistik membahas ketujuh dimensi penelitian sosiolinguistik tersebut. Dalam buku ini berturut-turut akan dibicarakan masalah komunikasi bahasa, masyarakat tutur, variasi bahasa, bilingualisme dan diglosia, alih kode dan campur kode, interferensi dan integrasi, perubahan, pergeseran, dan pemertahanan bahasa, sikap dan pemilihan kode bahasa, pengajaran bahasa, diakhiri dengan profil sosiolinguistik di Indonesia.
Materi Perkuliahan : Relevansi dan Manfaat Sosiolinguistik

Relevansi Linguistik dengan Sosiolinguistik

Linguistik adalah ilmu pengetahuan yang melibatkan dirinya dengan bahasa. Bahasa sebagai objek penelitian linguistik ditinjau dari batasan-batasan fungsi dan perkembangannya. Keberadaan struktur bahasa dapat ditinjau secara historis dan memberikan tempat yang spesifik, terisolasi dan tersendiri di antara unsur-unsur kemasyarakatan lainnya. Mengenai struktur bahasa dan batasan yang ada di dalamnya (semantik leksikal, fonologi, morfologi, sistem sintaktis, dan stilistis fungsional), membuat bahasa menjadi phenomena sosial yang sangat spesifik dan relatif terisolasi. Unsur-unsur dan kategori yang spesifik dari bahasa, ciri-ciri dan variasi struktural tidak dapat dijabarkan dan ditemukan padanan formulasinya dalam perwujudan sosial lainnya. Hal itu menjadikan ilmu sosiolinguistik penting, yaitu mengembangkan suatu disiplin ilmu yang baru, membentuk aspek yang baru dari kehidupan berbahasa suatu masyarakat, atau suatu kelompok masyarakat yang berbeda, suatu disiplin ilmu yang memperhitungkan makna utama gejala sosial dan pengaruh timbal-baliknya maupun perkembangan di dalam bahasa itu sendiri.

Apakah perbedaan antara linguistik dan sosiolinguistik? Pandangan yang umumnya diikuti adalah bahwa linguistik hanya membahas struktur bahasa dan tidak membicarakan konteks sosial tempat bahasa itu dipelajari dan digunakan. Tugas linguistik adalah mencari ‘kaidah bahasa X’ dan sesudah itu barulah para sosiolinguistik memasuki permasalahan dan mengkaji masalah apa pun yang ada dengan adanya kontak antara kaidah itu dengan masyarakat, misalnya jika kelompok sosial yang berbeda memilih alternatif lain untuk menyatakan hal yang sama. Pandangan ini merupakan pandangan yang khas pada aliran linguistik ‘struktural’ yang telah mendominasi linguistik abad kedua puluh termasuk linguistik transformasi-generatif (ragam yang dikembangkan sejak tahun 1957 oleh Chomsky). Secara kebetulan aliran itu juga umum dalam kebanyakan pengajaran bahasa asing di Inggris). Namun tidak semua pengkaji bahasa menerima pandangan ini. Beberapa dari mereka mengatakan bahwa ujaran jelas merupakan perilaku sosial sehingga mempelajari ujaran tanpa mengacu ke masyarakat akan seperti mempelajari perilaku orang pacaran tanpa menghubungkan perilaku seseorang dengan patnernya.

Relevansi Sosiolinguistik dengan Sosiologi dan Linguistik

Dalam ilmu pengetahuan dewasa ini, terutama di bidang ilmu bahasa terdapat beragam pendapat dalam hubungannya dengan objek linguistik. Beberapa pengarang berbeda pandangan tentang harus dimasukkan dalam disiplin ilmu yang mana sosiolinguistik itu. Perkembangan ilmu bahasa di Rusia, pandangan yang berpengaruh adalah bahwa sosiolinguistik merupakan salah sebuah cabang tersendiri dari ilmu pengetahuan yang interdisipliner.

Dalam ilmu bahasa terdapat ketentuan mengenai objek sosiolinguistik yang berbeda. Pandangan V.M. Zirmunskij (1969:14) menyatakan bahwa penelitian mengenai perbedaan bahasa dari aspek sosial harus didasarkan pada penelitian sinkronis dan diakronis. Menurut pendapat O.S. Achmanova dan A.N. Marcenko (1971:2) “sosiolinguistik adalah bagian dari bahasa yang menyelidiki hubungan kausal antara bahasa dan gejala-gejala dalam kehidupan sosial. L.B. Njikol’skij (1974:63) berpendapat bahwa tugas dan objek penelitian linguistik berada pada cakupan yang luas yang dihubungkan dengan konteks bahasa. Dapat diberikan definisi yang berbeda dari objek sosiolinguistik yang dapat ditemukan dalam khazanah suatu bidang ilmu yang khusus.

Menurut pendapat R. Grosse dan A. Neubert (1970:3-4), hubungan timbal balik antara bahasa dan masyarakat dapat ditinjau dari berbagai aspek, yaitu dari aspek sosiolinguistik maupun aspek sosiologi bahasa. Yang pertama termasuk bidang linguistik, sedangkan yang kedua termasuk bidang sosiologi.

Ilmu sosiolinguistik dapat menawarkan banyak hal kepada ilmu sosiologi. beberapa kriteria seperti berikut ini memiliki makna yang penting untuk sosiologi, (1) menurut pandangan B. Russel, bahasa merupakan satu-satunya alat untuk mengenal ilmu pengetahuan, (2) penilaian yang terlalu tinggi tidak dapat diberikan kepada interpretasi data-data bahasa untuk formulasi dan pekembangan teori sosiolinguistik, (3) data-data sosiolinguistik memegang peranan penting dalam cabang-cabang ilmu sosiologi.

Efek timbal-balik antara sosiolinguistik dan linguistik sangat banyak dan mendalam. Hal itu dapat dijelaskan oleh dua ciri sosiolinguistik. Pertama, oleh pengaruh-pengaruh yang khas dari faktor-faktor sosial terhadap fungsi bahasa secara keseluruhan. Kedua, melalui pengaruh faktor sosial yang khas pada struktur bahasa; tingkatan-tingkatannya; dan dan unsur-unsur dalam struktur bahasa seperti fonologi, morfologi, tingkatan sintaktis, fonem, kata hubungan kata, dan kalimat.

Hubungan timbal balik antara masyarakat, linguistik, dan sosiolinguistik memiliki ciri yang rumit. Hal itu menunjukkan bahwa sosiolinguistik memiliki peranan yang menunjang

Manfaat Sosiolinguistik

Setiap bidang ilmu tertentu mempunyai kegunaan dalam kehidupan praktis, begitu juga dengan sosiolinguistik. Kegunaan sosiolinguistik bagi kehidupan praktis banyak sekali, sebab bahasa sebagai alat komunikasi verbal manusia, tentunya mempunyai aturan-aturan tertentu dalam penggunaannya. Sosiolinguistika memberikan pengetahuan bagaimana cara menggunakan bahasa. Sosiolinguistik menjelaskan bagaimana menggunakan bahasa itu dalam aspek atau segi sosial tertentu, seperti dirumuskah Fishman (1967:15) bahwa yang dipersoalkan dalam sosiolinguistik adalah, “who speak, what language, to whom, when, and to what end”. Dari rumusan Fishman itu dapat kita jabarkan manfaat atau kegunaan sosiolinguistik bagi kehidupan praktis.

Pertama, pengetahuan sosiolinguistik dapat dimanfaatkan dalam berkomunikasi atau berinteraksi. Sosiolinguistik memberikan pedoman kepada kita dalam berkomunikasi dengan menunjukkan bahasa, ragam bahasa atau gaya bahasa apa yang harus kita gunakan jika kita berbicara dengan orang tertentu. Jika kita adalah anak dalam suatu keluarga, tentu kita harus menggunakan ragam/gaya bahasa yang berbeda jika lawan bicara kita adalah ayah, ibu, kakak, atau adik. Jika kita seorang murid, tentu kita harus menggunakan ragam/gaya bahasa yang berbeda pula terhadap guru, terhadap teman sekelas, atau terhadap sesama murid yang kelasnya lebih tinggi. Sosiolinguistik juga akan menunjukkan bagaimana kita harus berbicara bila kita berada di dalam mesjid, di ruang perpustakaan, di taman, di pasar, atau juga di lapangan sepak bola.

Dalam pengajaran bahasa di sekolah, sosiolinguistik juga mempunyai peran yang besar. Kajian bahasa secara internal akan menghasilkan perian-perian bahasa secara objektif deskriptif, dalam wujud berbentuk sebuah buku tata bahasa. Kalau kajian secara internal itu dilakukan secara deskriptif, dia akan menghasilkan sebuah tata bahasa deskriptif. Kalau kajian itu dilakukan secara normatif, akan menghasilkan buku tata bahasa normatif. Kedua buku tata bahasa ini mempunyai hasil perian yang berbeda, lalu kalau digunakan dalam penggunaan bahasa, juga akan mempunyai persoalan yang berbeda. Kalau dalam pengajaran digunakan buku tata bahasa deskriptif, maka kesulitannya adalah bahwa ragam bahasa yang harus diajarkan adalah ragam bahasa baku, padahal dalam buku tersebut terekam juga hasil perian ragam nonbaku.

Di negara-negara yang multilingual seperti Indonesia, Malaysia, Singapura, India, dan Filipina muncul masalah-masalah politis sehubungan dengan pemilihan bahasa untuk keperluan menjalankan administrasi kenegaraan dan pembinaan bangsa. Pemilihan bahasa mana yang harus diambil menjadi bahasa resmi kenegaraan dapat menimbulkan ketegangan politik dan ada kemungkinan berlanjut menjadi bentrok fisik. Indonesia tampaknya dapat menyelesaikan masalah pemilihan bahasa nasional, bahasa negara, dan bahasa resmi itu dengan baik, yakni dengan memilih bahasa Melayu, yang dalam sejarahnya telah menjadi lingua franca dan telah tersebar luas di seluruh nusantara, meskipun jumlah penutur aslinya jauh lebih sedikit daripada penutur bahasa daerah Sunda atau Jawa. Tak ada ketegangan politik dan bentrokan fisik karena semuanya menyadari bahwa bahasa secara sosiolinguistik bahasa Melayu mempunyai peranan yang lebih mungkin sebagai bahasa pergaulan dan bahasa resmi di Indonesia. Bahasa daerah lain, yang meskipun jumlah penuturnya lebih banyak, tetapi luas pemakaiannya terbatas di wilayah masing-masing.
Pertemuan Ke- : 3 dan 4 (tiga dan empat)

Hari/Tanggal :

Materi Perkuliahan : Masyarakat Bahasa

Konsep Masyarakat Bahasa

Definisi masyarakat bahasa yang dimaksudkan di sini tidak hanya berdasarkan pada perkembangan bahasa, tetapi berdasarkan pada sejarah, budaya, dan politik. Pada tahap abstraksi yang cukup tinggi ditempatkan ciri-ciri kelompok yang memiliki kesamaan agama, usia, kelompok etnis, dan di bidang linguistik terutama kesamaan bahasa atau variasi bahasa. Pada tahap abstraksi yang lebih rendah realitas bahasa tercermin melalui kelompok-kelompok yang bersemuka. Definisi masyarakat bahasa yang berdasarkan kesamaan bahasa akan menjadi bermasalah jika kita akan menjelaskan apa arti “menggunakan bahasa yang sama” dalam situasi nyata di suatu lingkungan bahasa.

Sebagai satuan dasar definisi dan pemahaman tentang masyarakat bahasa dapat berpegang pada bahasa-bahasa, kelompok sosial, jaringan sosial, hierarki dan individu-individu yang sekaligus merupakan gambaran secara hierarkis tahapan-tahapan abstraksi.

L. Bloomfield yang berdasarkan sistem bahasa yang monolitik berpendapat bahwa masyarakat bahasa adalah sekelompok orang yang menggunakan sistem tanda bahasa yang sama. Konsep linguistik yang hampir sama, yang dipengaruhi kuat oleh pendapat bahasa yang homogen adalah konsep Lyons tentang satuan dasar masyarakat bahasa (1970:326), menurut Lyons masyarakat bahasa adalah semua orang yang menggunakan suatu bahasa tertentu (dialek), Chomsky berpendapat bahwa Completely homogenous speech community membentuk satuan dasar analisis bahasa. Konsep Bloomfield, Lyons, maupun Chomsky yang menganggap satuan sosial dan budaya tidak penting tidak memenuhi syarat untuk penelitian empiris deskriptif-sosiolinguistik. Namun, seperti yang telah dikatakan, konsep-konsep dan definisi-definisi tergantung pada minat penelitian para linguis.

Dalam pengertian sosiolinguistik, definisi-definisi bahasa hampir tidak menyatakan sesuatu tentang keadaan sosial. Hymes (1966) menyalahkan Bloomfield, Chomsky, dan juga Lyons yang telah menyamaratakan konsep masyarakat bahasa dengan bahasa.

Abstraksi struktur yang menuntut homogenitas bahasa mungkin tepat, jika seorang linguis bermaksud menggambarkan tipologi bahasa, keuniversalan bahasa, sejarah suatu bahasa, atau rekonstruksi secara historis. Tetapi jika seorang linguis akan meneliti bahasa dalam situasi sosial, ia memerlukan alat-alat yang tepat untuk menganalisis dampak situasi sosial atau psikologis terhadap penggunaan bahasa. Karena manusia diefinisikan sebagai makhluk sosial oleh sekelilingnya yang terdiri atas kategori sosial, kita harus belajar memahami makhluk sosial ini melalui bahasanya (Halliday 1973:13ff). Namun demikian, seperti yang diteliti Gumperz (1971:101) dan dinyatakan olehnya bahwa untuk memhami penggunaan bahasa tidak diperlukan konsep homogen suatu bahasa: There are no apriori grounds which force us to define speech communities so thst sll members speak the same language.

Istilah masyarakat bahasa pada masa dialek Eropa klasik mengacu pada suatu konsep yang idealistis, tidak hanya bermakna kesatuan bahasa, tetapi lebih berarti kesatuan sosial-geografis. Landasan dasar yang idealistis terdiri dari kelompok sosial dan masyarakat bahasa yang homogen (Halliday, 1978:189): suatu masyarakat bahasa adalah suatu kelompok manusia (sosialgeografis), yang anggota-anggotanya (1) saling berkomunikasi, (2) secara teratur berkomunikasi, dan (3) mereka bertutur sama.

Berdasarkan anggapan bahwa terdapat hubungan korelasi antara perilaku berbahasa dengan syarat-syarat kehidupan bermasyarakat yang objektif, Matthier (1980:1819) mengembangkan definisi paguyuban bahasa yang bersifat dialek-sosiologis, yang harus dilihat dalam kaitannya dengan kelompok yang bersangkutan dan tergantung dari minat peneliti dapat dianalisis tahap-tahap tiap sistem atau bagian-bagian sistem yang berbeda.

Sebagai masyarakat bahasa, untuk sementara dapat berarti kelompok penutur yang berdasarkan pandangan hidup mereka membentuk kelompok berdasarkan bahasa yang sama. Titik tolak definisi Mattheire kelompok sosial dan bahasa namun, dalam definisi ini objektivitas bahasa yang sama bersifat relatif. Sehubungan dengan tahap abstraksi, telah kita tinggalkan tahap makro dan kita sampai kepada komunikasi bersemuka yang nyata.

Masyarakat Bahasa Berdasarkan Sikap Sosial

Model paguyuban bahasa yang klasik tidak dapat mencakup perubahan dialek perkotaan yang cepat. Bentuk yang diidealisasikan tidak cukup mencerminkan realitas. Labov menyimpulkan bahwa anggota masyarakat bahasa perkotaan lebih diikat oleh sikap dan prasangka yang sama dalam berbahasa, yang luar biasa stabil dibandingkan dengan ikatan pemakaian bahasa yang sama (1972:293). Menurut Labov pada kenyataannya sangat jelas bahwa masyarakat bahasa didefinisikan sebagai sekelompok penutur yang memiliki sederetan sikap sosial terhadap bahasa. Misalnya, seorang yang berasal dari New York (orang dari kota besar) memiliki gambaran yang jelas tentang norma-norma bahasa dan ia mengetahui jika ia menyimpang dari norma yang ada. Terdapat perbedaan antara (1) apa yang dikatakan, (2) apa yang diyakini, dan (3) apa yang diyakini untuk dikatakan.

Titik tolak Labov adalah orientasi ke status yang dimulai dari kelompok sosial (kelompok makro) dan pada tiap kelompok berkembang ke arah yang sama. Penyimpangan norma pada lapisan sosial bawah lebih jauh dibandingkan dengan lapisan sosial menengah dan atas karena itu mereka juga memiliki lebih banyak variasi.

Seberapa jauh konep makro kuantitatif mencerminkan realitas sosial yang masih harus didiskusikan. Hal itu dapat dilakukan pada data empiris dalam jumlah yang besar. Hymes (1972) juga memberikan pendapatnya tentang definisi dasar masyarakat bahasa. Mereka menekankan bahwa perasaan menjadi anggota suatu paguyuban lebih menentukan daripada definisi linguistik.

Masyarakat Bahasa Berdasarkan Interaksi

Gumpertz mendefinisikan masyarakat bahasa (pada masa yang lampau) ke arah komunikatif interaksi, yang dalam analisis fungsional berpangkal pada varietas bahasa suatu masyarakat bahasa yang khas sebagai kelompok sosial, dan bukan dari kesatuan bahasa. Definisi Gumpertz juga memungkinkan beberapa varietas bahasa hidup berdampingan: kita definisikan masyarakat bahasa sebagai kelompok sosial yang monolingual atau multilingual, yang merupakan satu kesatuan karena sering terjadi interaksi sosial dan yang dipisahkan dari sekelilingnya oleh interaksi sosial yang melemah. Masyarakat bahasa dapat terdiri atas kelompok kecil yang hubungannya bersemuka atau terdiri dari seluruh bahasa, tergantung dari tingkat abstraksi yang akan dicapai (Gumpertz 1962:101).

Selanjutnya Gumpertz menyatakan bahwa dari segi fungsi tidak ada perbedaan antara bilingualisme dengan bidialektalisme. Gumpertz dalam definisi selanjutnya tentang masyarakat bahasa menekankan bahwa di samping kriteria interaksi juga berperan persamaan dan perbedaan varietas sebagai unsur sosial definisi umum analisis bahasa: masyarakat bahasa adalah sekelompok manusia yang terbentuk melalui interaksi bahasa yang teratur dan sering dengan bantuan persediaan tanda-tanda bahasa yang dimiliki bersama dan yang dipisahkan dari kelompok lain karena perbedaan-perbedaan dalam berbahasa (Gumpertz, 1968:14). Konsep Gumpertz memiliki keuntungan sebagai berikut: a) untuk satu masyarakat bahasa tidak hanya berlaku satu bahasa, b) penekanan pada interaksi dan komunikasi sebagai unsur pembentuk masyarakat bahasa sebagai hasil bilingualisme, dengan sendirinya tidak terjadi tumpang tindih, dan c) kompleksitas masyarakat perkotaan telah diperhitungkan dalam konsep.

Jika kita mengemukakan satu kota besar sebagai satu masyarakat bahasa yang penduduknya menggunakan sebagian besar dari waktu mereka untuk berkomunikasi dan varietas bahasa tentu saja sebagai bagian pembentuk kota dan orang selalu menunjuk pada lembaga, data dan lokasi, pola mobilitas, bentuk-bentuk interaksi sosial yang khas untuk kehidupan perkotaan, terlihat bahwa masyarakat bahasa merupakan satu istilah yang sangat umum. Supaya pengertian istilah masyarakat bahasa digunakan seperti yang dipakai oleh Gumpertz, harus kita tentukan keanggotaan tiap kelompok, terutama yang memiliki arti bagi mereka, hal ini berarti bahwa kita harus membentuk tahap-tahap interaksi sosial dan menganalisis kesatuan-kesatuan yang terbentuk. Mula-mula Gumpertz untuk dapat merealisasikan hal di atas menggunakan konsep peran sosial, kemudian ia memakai istilah jaringan sosial untuk meneliti hubungan antaranggota suatu jaringan sosial. Tujuan konsep jaringan sosial untuk menunjukkan mekanisme yang mempengaruhi repertoire bahasa penutur; yang disebabkan oleh faktor-faktor sosial-ekologi.

Sesuai dengan konsep (baru) Gumpertz tentang masyarakat bahasa, ia membandingkan konsep kode bahasa yang homogen dengan konsepnya tentang repertoir verbal/linguistis yang agaknya bertitik tolak dari tingkat langue ke parole. Keseluruhan dialek dan varietasnya yang digunakan secara teratur dalam suatu masyarakat membentuk repertoire bahasa masyarakat ini. Repertoire merupakan kekhasan penduduk suatu daerah, sedangkan batas suatu bahasa dapat sama ataupun tidak sama dengan batas suatu kelompok sosial (1968:230).

Keunggulan konsep repertoire bahasa, konsep tersebut memungkinkan kita untuk menghubungkan antara struktur sosial dan penggunaan bahasa suatu masyarakat bahasa di bawah satu kerangka relasi yang sama. Dalam hal ini, justru Kloss mengeritik istilah yang digunakan Gumpertz. Ia mengeritik bahwa Gumpertz memberikan makna lain pada istilah masyarakat bahasa yang diciptakan oleh Kloss, masyarakat bahasa diartikan sama dengan speech community yang digunakan oleh Bloomfield, sehingga menyebabkan kerancuan. Masyarakat bahasa menurut Kloss adalah keseluruhan penutur yang berbahasa ibu sama dan memiliki bersama diasistem tertentu dalam perbedaan dialektal dan sosiolektal.

Kloss menekankan pentingnya satu istilah untuk keseluruhan manusia yang memiliki bahasa-bahasa ibu yang sama dan yang membentuk keadaan tersebut. Ia mengusulkan istilah komunitas repertorium (paguyuban repertorium) (Kloss 1977:228). Dengan demikian, paguyuban bahasa berarti memiliki bahasa ibu yang sama atau yang mirip. Dalam kepustakaan yang berbahasa Jerman digunakan istilah paguyuban pertuturan (sprechgemeinschaft) untuk paguyuban repertorium (repertoiregemeinschaft), yang berarti sekelompok penutur yang tidak hanya memiliki varietas repertorium yang sama, tetapi juga kriteria yang sama untuk mengukur penerapan kaidah-kaidah tersebut secara sosial. Dalam etnografi komunikasi konsep paguyuban pertuturan mencakup keseluruhan kebiasaan komunikasi suatu paguyuban, dalam hal ini termasuk bahasa sebagai alat komunikasi dikaitkan dengan yang lain (Coulmas 1979:10).

Masyarakat Bahasa Berdasarkan Jaringan Sosial

Jaringan sosial sebagai substratum paguyuban bahasa sebagai titik tolak analisis bahasa dalam sosiolinguistik dikenalkan untuk menganalisis komunikasi sehari-hari dan konvensi interaksi. Dalam hal ini jaringan hubungan seorang individu termasuk di dalamnya dan kesatuan kelompok sosialnya merupakan phenomena dalam berbagai tataran abstraksi.

Gumpertz memperhitungkan hal ini dan memasukkan dalam konsep mikronya, paguyuban bahasa (pada tataran abstraksi yang terendah), dan konsep jaringan sosial. Dengan bantuan konsep ini sebagai soerang linguis, ia akan meneliti perilaku bahasa dalam suatu paguyuban dengan memperhatikan interpretasi norma dan nilai yang sesuai dengan kenyataan.

Paguyuban bahasa terdiri atas sederet satuan dasar, jaringan-jaringan yang dapat diikuti oleh seorang anggota paguyuban dalam berbagai tingkat dan lebih dari satu peran. Salah satu penyebab utama dikenalkannya konsep jaringan sosial dalam kerangka studi paguyuban bahasa karena konsep makro yang tradisional untuk menganalisis paguyuban yang berubah dengan lambat dan agak statis (suku-suku bangsa, paguyuban-paguyuban pedesaan) tidak tepat untuk menganalisis agregat kota yang berubah dengan cepat. Konsep jaringan sosial mencoba mencakup variabel manusia sebagai makhluk sosial yang dipengaruhi oleh orang lain dan mempengaruhi orang lain.

Jika Gumpertz membedakan antara biner antara jaringan sosial tertutup dengan terbuka, Milroy (1980, passim) mengembangkan perbedaan biner terbuka, tertutup dalam suatu kesinambungan, mulai lebih terbuka atau agak terbuka dipertentangkan dengan lebih tertutup atau agak tertutup dengan menggunakan parameter rapatnya, kelompok dan keanekaragaman. Suatu paguyuban lebih rapat, jika antar anggotanya lebih terikat. Rapatnya jaringan sosial berfungsi sebagai mekanisme pelestarian norma, kelompok merupakan segmen jaringan dengan kerapatan yang tinggi. Hubungan sosial dalam kelompok lebih rapat daripada di luar kelompok. Keanekaragaman sebagai ukuran kekhasan interaksi suatu jaringan: apakah ikatan antaranggota hanya berdasarkan satu fungsi (uniplex) atau berdasarkan fungsi ganda (multiplex).

Penting untuk pembatas jaringan selain bentuk interaksi, bentuk kunjungan, hubungan kekerabatan, hal-hal yang oleh Gumpertz disebut self recruitment paguyuban (1971:297). Dengan demikian, kelompok jaringan tertutup (atau yang oleh saviller-Troike (1982:20) disebut hand shelled communities) cenderung seragam dalam penggunaan bahasa, a.l. karena wilayah yang ketat daripada jaringan terbuka (soft shelled communities) yang ikatan antaranggotanya lebih longgar dan batas wilayah tidak ketat. Manfaat alat analisis jaringan terutama karena kemungkinan yang dimilikinya untuk menggabungkan varietas dalam struktur sosial dengan varietas dalam penggunaan bahasa, artinya varietas yang disebabkan oleh lingkungan dan tahap abstraksi yang rendah dihubungkan dengan varietas bahasa.

Masyarakat Bahasa Sebagai Interpretasi Subjektif-Psikologis

Bolinger (1975:33) menunjukkan kompleksitas yang bersifat psikologis dan ciri subjektif konsep paguyuban bahasa, ia mengemukakan: tidak ada batas untuk cara manusia berkelompok guna mencari jati diri, keamanan, keuntungan, hiburan, kepercayaan atau tujuan lain secara bersama, sebagai akibat hal ini tidak ada batasan sehubungan dengan jumlah dan keanekaragaman paguyuban bahasa yang kita jumpai dalam masyarakat kita. Setiap populasi menurut definisi Bolinger dapat terdiri atas sejumlah besar paguyuban bahasa, yang sehubungan dengan keanggotaan dan varietas bahasanya tumpang tindih. Realitas psikologis paguyuban bahasa yang tergantung dari interpretasi angota-anggotanya diperhitungkan dalam pendapat Le Page (1968), baginya keberadaan kelompok sebagai paguyuban bahasa dengan ciri-ciri khusus yang digolongkan oleh penutur sendiri, bukan oleh sosiolog penting. Tergantung bagaimana seorang penutur menempatkan dirinya dalam ruang yang multidimensi (Hudson, 1980:27), ia ikut berpartisipasi dalam berbagai paguyuban bahasa yang dimensi atau perbandingan luasnya ditentukan oleh kelompok di sekelilingnya. Setiap penutur menciptakan sistem perilaku bahasanya yang mirip dengan kelompok tempat ia ingin mengidentifikasikan dirinya dari waktu ke waktu, dengan syarat a) ia dapat mengidentifikasikan dirinya ke kelompok tersebut, b) ia memiliki kesempatan dan kemampuan untuk mengamati dan menganalisis perilaku mereka, c) memiliki motivasi yang kuat dan merasa berkewajiban untuk memilih dan mengubah perilakunya, dan d) ia masih sanggup menyesuaikan perilakunya.

Le Page menginterpretasikan ujaran manusia sebagai pernyataan jati diri individu karena itu individu adalah sah sebagai titik tolak penelitian sosiolinguistik. Le Page dapat membuktikan bahwa analisis perilaku bahasa individu tidak berarti suatu kekacauan. Dasar pandangan yang multidimensi diperoleh melalui kajian paguyuban yang multilingual, dalam kajian ini perlu memperhatikan sejumlah sumber yang mempengaruhi penggunaan bahasa seseorang. Ia menekankan bahwa seorang penutur merupakan dasar sumber bahasa yang ada dan digunakan untuk mengidentifikasikan dengan paguyuban-paguyuban tertentu.
Pertemuan Ke- : 5

Hari/Tanggal :

Materi Perkuliahan : Ragam Bahasa

Konsep Ragam Bahasa

Bahasa, dalam praktek pemakaiannya, pada dasarnya memiliki bermacam-macam ragam. Maksud ragam dalam konteks ini adalah variasi pemakaian bahasa yang berbeda-beda (Mustakim, 1994: 18). Sedangkan Kartomihardjo (1988: 23) menyebutkan ragam sebagai suatu piranti untuk menyampaikan makna sosial atau artistik yang tidak dapat disampaikan melalui kata-kata dengan makna harfiah.

Lebih lanjut, Kridalaksana (dalam Silahidin, 1991: 19) menyebutkan ragam bahasa adalah variasi bahasa menurut pemakaian yang berbeda-beda menurut topik yang dibicarakan dan menurut media pebicaraannya. Jadi ragam bahasa ini bentuknya beragam atau bermacam-macam karena bebarapa hal atau faktor seperti disebutkan di atas.

Jenis Ragam Bahasa

Ragam bahasa dapat dibedakan atas beberapa jenis. Pertama, dilihat dari segi sarana pemakaiannya dapat dibedakan atas ragam lisan dan ragam tulis. Antara kedua ragam tersebut terdapat perbedaan yang tidak begitu mencolok. Jadi untuk mengetahui kedua ragam tersebut harus memperhatikan kedua jenis ragam tersebut secara seksama. Dalam ragam lisan unsur-unsur bahasa yang digunakan cenderung sedikit dan sederhana. Artinya tidak selengkap pada ragam tulis karena pada ragam lisan dalam menyampaikan informasi dapat disertai dengan gerakan anggota tubuh tertentu (mimik) yang dapat mendukung maksud informasi yang disampaikan dan menggunakan intonasi sebagai penekanan. Di samping itu, satu hal lagi yang membuat ragam bahasa lisan lebih sederhana adalah adanya situasi tempat pembicaraan berlangsung. Semua hal tersebut dapat memperjelas informasi yang kita sampaikan kepada mitra tutur. Akan tetapi, tiga hal tersebut tidak dapat terjadi atau tidak akan terdapat dalam penggunaan ragam tulis, sehingga ragam ini cenderung lebih rumit. Hal ini disebabkan pada ragam tulis mau tidak mau harus menggunakan unsur-unsur bahasa yang lebih banyak dan lengkap agar informasi yang disampaikan dapat diterima dengan baik dan jelas oleh orang yang diberi informasi (si penerima informasi). Jadi penulisan secara lengkap unsur-unsur bahasa dalam ragam tulis ini bertujuan untuk menghidari terjadinya salah mengerti atau menerima pesan dari si pemberi pesan.

Kedua, didasarkan pada tingkat keresmian situasi pemakaiannya, ragam bahasa dibedakan menjadi ragam resmi (ragam formal) dan ragam tidak resmi (ragam informal). Sesuai dengan namanya, ragam formal adalah ragam yang digunakan dalam situasi yang resmi, sedangkan ragam informal adalah ragam yang digunakan dalam situasi yang tidak resmi. Ciri dari dua ragam ini adalah tingkat kebakuan pada bahasa yang digunakan. Dengan demikian ragam resmi ditandai dengan pemakaian unsur-unsur kebahasaan yang menunjukkan tingkat kebakuannya yang rendah.

Keempat ragam bahasa yang dibedakan atas dasar dua segi seperti telah diuraikan di atas, apabila kita gabungkan akan menjadi ragam yang namanya gabungan pula. Ragam bahasa hasil penggabungan atau perpaduan dari dua segi (sarana pemakaiannya dan tingkat keresmian situasi pemakaiannya) menghasilkan ragam lisan resmi (ragam lisan formal) ragam lisan tidak resmi (ragam lisan informal), ragam tulis resmi (ragam tulis formal), dan ragam tulis tidak resmi (ragam tulis informal). Ragam lisan resmi biasanya digunakan dalam forum yang sifatnya resmi pula. Misalnya dalam rapat-rapat, seminar, pidato, simposium, dan dalam perkuliahan (proses belajar mengajar). Ragam lisan tidak resmi dapat dilihat dalam pembicaraan di kafe, di pasar, di terminal, di rumah, di kebun, di kampus (bukan dalam proses belajar mengajar) antarmahasiswa atau antardosen, dan lain-lain.

Dalam kaitannya dengan penggunaan ragam lisan resmi, penutur cenderung dipengaruhi oleh faktor situasi dan mitra tutur, di samping faktor lain. Umpamanya ketika penutur berbicara dengan atasannya, tentunya gaya bicara dalam hal ragam bahasa yang digunakan berbeda dengan ketika ia berkomunikasi atau berbicara dengan teman sebayanya atau bahwa teman dibawah umurnya.

Selain perbedaan tersebut, ditinjau dari segi norma pemakaiannya, ragam bahasa dibedakan atas ragam baku dan ragam tidak baku. Ragam baku adalah ragam bahasa yang dalam pemakaiannya sesuai dengan kaidah yang berlaku, yaitu kaidah tata bahasa dan ejaan yang berlaku. Sedangkan yang menyimpang atau tidak sesuai dengan kaidah tata bahasa dan ejaan yang berlaku disebut ragam tidak baku.

Kalau dalam pembahasan di atas ragam bahasa dibedakan menjadi ragam lisan resmi, ragam lisan tidak resmi, ragam tulis resmi, dan ragam tulis tidak resmi, maka dalam pembahasan ini akan dibahas adanya pembedaan ragam lisan baku, ragam lisan tidak baku, ragam tulis baku, dan ragam tulis tidak baku. Ragam lisan baku dalam pemakaiannya sejalan dengan ragam lisan resmi dan ragam lisan tidak baku pemakaiannya sejalan dengan ragam lisan tidak resmi. Demikian pula penggunaan ragam tulis baku yang memiliki korelasi dengan ragam ragam tulis resmi dan ragam tulis tidak baku dengan ragam tulis tidak resmi. Pada dasarnya ragam baku digunakan dalam konteks situasi yang resmi dan ragam tidak baku digunakan dalam konteks situasi yang tidak resmi. Dengan demikian penggunaan ragam baku dengan ragam resmi atau ragam tidak baku dengan ragam tidak resmi sering kali dianggap sama oleh sekelompok orang.

Apabila dibedakan berdasarkan bidang pemakaiannya, ragam bahasa dapat dibedakan atas ragam sastra, ragam buku, ragam jurnalistik, ragam teknologi, ragam ekonomi, dan lain-lain. Artinya ragam tersebut digunakan sesuai dengan konteks yang ada dalam situasi tutur tersebut. Dilihat dari segi pendidikan, ragam bahasa dibedakan menjadi ragam pendidikan dan ragam nonkependidikan. Ciri ragam ini, bagi orang yang berpendidikan lazimnya dapat melafalkan bunyi-bunyi bahasa secara fasih dan dapat menyusun kalimat secara teratur dan benar. Sebaliknya, bagi orang yang tidak berpendidikan cenderung kurang dapat memenuhi syarat tersebut.

Lebih lanjut, ihwal penggolongan ragam bahasa Alwi (1998: 3-9) menjelaskan bahwa jika dilihat dari sudut pandang penutur, dapat dirinci menurut patokan daerah, pendidikan, dan sikap penutur. Ragam daerah dikenal dengan sebutan dialek atau logat. Dialek atau logat merupakan ragam bahasa yang hidup di daerah-daerah tertentu yang berdekatan. Jadi apabila masyarakat dari dua daerah yang berdekatan bertemu dan terjadi komunikasi dengan menggunakan dialek masing-masing, mereka masih bisa saling memahami pembicaraan tersebut. Akan tetapi jika dialek tersebut hidup di daerah yang berjauhan yang dibatasi oleh gunung atau selat misalnya, lambat-laun dalam perkembangannya akan mengalami banyak perubahan, maka dialek tersebut akhirnya dianggap bahasa yang berbeda.

Ragam bahasa yang dipengaruhi oleh tingkat pendidikan penutur (terutama pendidikan formal) akan menunjukkan perbedaan yang jelas antara masyarakat yang berpendidikan formal dengan masyarakat yang tidak berpendidikan formal. Perbedaan di sini lebih banyak terjadi dalam pelafalan kata atau bunyi serta penguasaan penggunaan bahasa secara baik (dalam hal tata bahasanya). Kedua hal tersebut akan berbeda tingkat kemampuan dan penguasaan antara orang yang berpendidikan formal dengan yang tidak berpendidikan formal. Misalnya dalam melafalkan kata-kata film, fitnah, dan kompleks, oleh orang berpendidikan formal kata-kata tersebut tentunya akan dilafalkan dengan benar sesuai dengan bunyi fonem yang benar, yaitu film, fitnah, dan kompleks. Akan tetapi berbeda dengan orang yang tidak mengalami pendidikan formal mungkin akan melafalkan dengan pilm, pitnah, dan komplek. Sedangkan dalam hal tata bahasa ketika seseorang mengucapkan “Saya akan bakar itu sampah setelah saya mandi” barangkali orang lain dapat menangkap maksud yang disampaikan. Akan tetapi, dari segi tata bahasa, kalimat tersebut kurang baik. Sedangkan yang baik menurut tata bahasa adalah “Saya akan membakar sampah itu setelah saya mandi”.

Menurut sikap penutur, ragam bahasa mencakupi sejumlah corak bahasa dimana pemilihannya bergantung pada sikap penutur terhadap orang yang diajak bicara atau mitra tutur. Sikap berbahasa ini diantaranya dipengaruhi oleh umur dan kedudukan mitra tutur, tingkat keakraban antarpenutur pokok persoalan yang dibicarakan (hendak disampaikan) serta tujuan penyampaian informasinya. Ragam bahasa dalam hal ini berhadapan dengan pemilihan bentuk-bentuk bahasa tertentu yang menggambarkan sikap kita yang resmi, santai, dingin, hangat, atau yang lain. Sedangakan perbedaan berbagai gaya tersebut tercermin dalam kosakata yang digunakan oleh penutur ketika berbicara dengan mitra tuturnya.
Pertemuan Ke- : 6 dan 7

Hari/Tanggal :

Materi Perkuliahan : Kedwibahasaan dan Diglosia

Kedwibahasaan dan Diglosia

Pada umumnya sosiolinguistik mengkaji masyarakat dwibahasa atau multibahas (Appel dan Muysken 1987; Edwards 1994). Kajian pemilihan bahasa juga bertemali dengan situasi semacam itu sebab untuk menentukan pilihan bahasa atau ragam bahasa tertentu pastilah ada bahasa atau ragam lain yang digunakan dalam komunikasi sehari-hari sebagai pendamping sekaligus pembanding. Penelitian pemilihan bahasa dalam masyarakat tutur Jawa di Banyumas ini pun tidak terlepas dari permasalahan kedwibahasaan.

Pengertian kedwibahasaan selalu berkembang mulai dari pengertian yang ketat sampai kepada pengertian yang longgar. Blommfield dalam bukunya Language (1933) memberikan batasan kedwibahasaan sebagai gejala penguasaan bahasa seperti penutur jati (native speaker). Batasan ini mengimplikasikan pengertian bahwa seorang dwibahasawan adalah orang yang menguasai dua bahasa dengan sama baiknya.

Mackey (dalam Fishman ed 1968: 555) berpendapat bahwa kedwibahasaan bukanlah gejala bahasa sebaai sistem melainkan sebagai gejala penuturan, bukan ciri kode melainkan ciri pengungkapan ; bukan bersifat sosial melainkan individual; dan juga merupakan karakteristik pemakaian bahasa. Kedwibahasaan dirumuskan sebagai praktik pemakaian dua bahasa secara bergantian oleh seorang penutur. Kondisi dan situasi yang dihadapi dwibahasawan turut menentukan pergantian bahasa-bahasa yang dipakai. Pandangan Mackey didukung oleh Weinreich (1970).

Permasalahan kebahasaan yang dapat muncul berkaitan dengan batasan tersebut adalah bagaimana kalau kemampuan seseorang dalam B2 hanya sebatas mengerti dan dapat memahami tuturan B ( 2 ) tetapi tidak mampu bertutur sehingga dalam praktik pemakaian bahasa yang melibatkan dirinya, ia tidak dapat memakaianya secara bertanti-ganti. Situasi yang demikan tentu di luar batasan kedwibahawaan yang ketat sebagaimana diungkapkan oleh Bloomfield, Mackey, dan Weinreich. Padahal sosiolinguistik berkepentingan dalam hal tersebut.

Macnamara (1967) mengemukakan rumusan yang lebih longgar. Menurutnya kebdwibahasaan itu mengacu kepada pemilikan kemampuan sekurang-kurangnya B1 dan B2, meskipun kemampuan dalam B2 hanya sampai batas minimal. Rumusan ini diikuti oleh Huagen (1972) mengenai dua bahasa. Ini berarti bahwa seorang dwibahasawan tidak perlu menguasai B2 secara aktif produktif sebagaimana dituntut oleh Bloomfield, melainkan cukup apabila ia memiliki kemampuan reseptif B2.

Huagen (1972) merumuskan kedwibahasaan dengan rumusan yang lebih longgar, yaitu sebaai tahu dua bahasa. Seorang dwibahasawan tidak harus menguasai secara aktif dua bahasa, penguasaan B2 secara pasif pun dipandang cukup menjadikan seseorang disebut dwibahasawan. Mengerti dua bahasa dirumuskan sebagai menguasai dua sistem kode yang berbeda dari bahasa yang berbeda atau bahasa yang sama.

Dengan membading-bandingkan pengertian kedwibahasaan dari para ahli di atas, pengertian Haugen dijadikan kerangka konsep dalam penelitian ini karena gambaran kedwibahasaan anggota masyarakat memperlihatkan berbagai tingkat penguasaan bahasa atau ragam bahasa yang tampak di dalam pemakaiannya.

Fishman (1972: 92)menganjurkan bahwa dalam mengkaji masyarakat dwibahasa atau multibahasa hendaknya diperhatikan kaitannya dengan ada tidaknya diglosia. Istilah diglosia diperkenalkan pertama kali oleh Ferguson (1959) untuk melukiskan situasi kebahasaan yang terdapat di Yunani, negara-negara Arab, Swis, dan Haiti. Disetiap negara itu terdapat dua ragam bahasa yang berbeda, masing-masing adalah Katharevusa dan Dhimtiki di Yunani, al-fusha dan ad-dirij di negara-negara Arab, Schriftsprache dan Schweizerdeutsch di Swis, serta francais dan creole di Haiti. Yang disebut pertama adalah ragam bahasa tinggi (T) yang dipakai dalam situasi resmi, sedangkan yang disebut kedua adalah ragam bahasa Rendah (R) yang dipakai dalam situasi sehari-hari tak resmi. Ragam bahasa yang dipakai di dalam situasi resmi (seperti perkuliahan, sidang parlemen, dan khitbah di tempat-tempat ibadah) dianggap sebagai bahasa yang bergengsi tinggi oleh masyarakat bahasa yang bersangkutan. Mengingat latar belakang sejarah ragam ini yang sudah sejak lama mengenal ragam tulis dan menikmati gengsi yang tinggi itu, ragam inilah yang dipakai sebagai bahasa sastra di kalangan para pemakainya. Ragam ini mengalami proses pembakuan dan harus dipelajari di sekolah, sedangkan tidak setiap orang mempunyai kesempatan untuk mempelajarinya. Sebaliknya, ragam bahasa yang dipakai di dalam situasi tidak resmi adalah ragam bahasa yang dipakai sehari-hari di rumah. Ragam ini tidak mengenal ragam tulis dan tidak menjadi sasaran pembakuan bahasa. Penguasaan atas ragam ini merupakan kebanggaan bagi pemakainya. Oleh karena itu, ragam R tidak tercantum sebagai mata pelajaran di sekolah; masyarakat pemakainya tidak perlu mempelajari ragam bahasa ini di sekolah. Oleh para pemakaian ragam ini dianggap berkedudukan rendah dan tidak bergengsi. Penguasaan atas ragam-ragam itu dapat dipakai sebagai penanda terpelajar atau tidaknya seseorang. Oleh karena itu, barang siapa yang hanya menguasai ragam rendah saja sering merasa malu karena penguasaannya atas ragam rendah semata-mata menunjukkan tingkat pendidikannya yang rendah. Hal lain yang perlu dicatat adalah bahwa ragam bahasa T dan ragam bahasa R haruslah tergolong dalam bahasa yang sama. Definisi diglosia yang diberikan oleh Ferguson adalah sebagai berikut:

Diglosia adalah suatu situasi kebahasaan yang relatif stabil, yang di samping adanya dialek-dialek utama dari bahasa (yang mungkin meliputi ragam-ragam baku setempat), juga mengenal suatu ragam yang ditinggikan, yang sangat berbeda, yang terkodifikasikan secara rapi (dan yang tatabahasanya lebih rumit), yang berasal dari waktu yang lampau atau yang berasal dari masyarakat bahasa lain, yang dipelajari melalui pendidikan formal dan sebagian besar dipakai untuk keperluan formal lisan dan tertulis tetapi tidak dipakai di sektor apa pun di dalam masyarakat itu untuk percakapan sehari-hari.

Pengertian tentang diglosia kemudian dikembangkan oleh Fishman (1972: 92). Istilah diglosia tidak hanya dikenakan pada ragam tinggi dan rendah dari bahasa yang sama akan tetapi juga dikenakan pada bahasa yang sama sekali tidak serumpun. Yang menjadi tekanannya adalah perbedaan fungsi kedua bahasa tau ragam bahasa yang bersangkutan. Di samping itu, Fishman juga berpendapat bahwa diglosia tidak hanya terdapat pada masyarakat yang mengenal satu bahasa dengan dua ragam bahasa semata-mata; diglosia dapat juga ditemukan pada masyarakat yang mengenal lebih dai dua bahasa. Di samping perbedaan, ada juga persamaan antara keduanya, yaitu bahwa ragam-ragam bahasa itu mengisi alokasi fungsi masing-masing dan bahwa ragam T hanya dipakai di dalam situasi resmi dan ragam R di dalam situasi yang tidak atau kurang resmi. Oleh Fishman (1972: 92) diglosia diartikan sebagai berikut. “ … diglossia exits not only in multilingual societies which offocially recognize several “language”, and not only in societies which employ separate dialects, registers, or funcitonally differentiated language varieties of whatever kind” (… diglosia tidak hanya terdapat di dalam masyakat aneka bahasa yang secara resmi mengakui beberapa bahasa”, dan tidak hanya terdapat terdapat di dalam masyarakat yang menggunakan ragam sehari-hari dan klasik, tetapi terdapat juga di dalam masyaakat bahasa yang memakai logat-logat, laras-laras, atau ragam-ragam jenis apapun yang berbeda secara fungsional.

Implikasi teoretis dari definisi di atas, menurut batasan Fishman dapat dibedakan adanya (a) masyarakat bahasa yang bilingual sekaligus diglosik, (b) masyarakat bahasa yang bilingual tetapi tidak diglosik, (c) masyarakat yang tidak bilingual dan sekaligus tidak diglosik,

Di samping itu, ada pendapat lain dari Fasold (1984) yang mencatat ada empat masalah yang perlu diperjelas, masing-masing yang berkaitan dengan masalah bahasa baku dan dialek, masalah pembagian yang serba dua, masalah hbungan genetis bahasa, dan masalah fungsi. Masalah pertama dipersoalkan karena adanya kemungkinan adanya guyup bahasa yang menganggap ragam T justru bukan sebagai ragam T. Kalau demikian halnya, maka situasi semacam ini bukanlah situasi diglosia tetapi sekedar siatuasi yang mengenal adanya bahasa baku dan dialek. Oleh karena itu, Fasold memberikan pengertian “masyarakat diglosik” sebagai satuan masyarakat yang memiliki ragamT dan ragam R bersama-sama. Ada kemungkinan juga bahwa masyarakat diglosik itu memiliki ragam T yang sama tetapi ragam R yang berbeda-beda dan ini berarti bahwa masyarakat itu merupakan masyarakat diglosik yang berbeda-beda pula. Oleh Fasold keadaan seperti itu digambarkan sebagai berikut:

Tinggi
Rendah 1
Rendah 2
Rendah 3
Rendah 4

Masalah yang kedua adalah masalah yang menyangkut pertanyaan apakah gejala diglosia itu hanya terwujud di dalam pembagian ragam bahasa yang menjadi pembagian serba dua, yakni ragam tinggi dan ragam rendah semata-mata. Apakah mungkin kita mengadakan pembagian raam lebih dari dua, khususnya jika kita berhadapan dengan masyarakat yang multilingual? Dan berbagai laporan hasil penelitian di beberapa tempat yang berbeda, Fasold mengambil simpulan bahwa ada beberapa jenis diglosia, yang masing-masing disebutnya sebagai double overlapping diglossia (diglosia bertindih ganda), dan linear polyglossia (poliglosia linear). Diglosia bertindih ganda adalah situasi kebahasaan yang mengenal ragam T dan R juga, tetapi salah satu dari ragam R itu merupakan ragam tinggi (T) terhadap ragam r lain. Situasi kebahasaan seperti itu terdapat di Tanganyika (Mkikilifi (1978) menyebutnya dengan istilah polgylgossia).

Diglosia bersangkar ganda adalah situasi kebahasaan yang mengenal ragam T dan ragam R dan di dalam masing-masing ragam terdapat ragam t dan ragam r juga. Keadaan seperti ini didapatkan di Khalapur yang terletak di sebelah utara New Dehli, India (Gumperz (1964).

Jenis diglosia ketiga, yang oleh Fasold disebutnya sebagai linear polyglossia, terdapat di Malaysia dan Singapura (Platt 1977, 1980).

Dari pengamatan terhadap jenis- jenis diglosia di berbagai negara itu dapat disimpulkan bahwa istilah diglosia tidak harus diartikan sebagai situasi kebahasaan yang hanya melibatkan dua ragam saja.

Demikian juga halnya dengan masalah yang ketiga. Antara ragam T dan ragam R tidak harus ada hubungan genetis. Fasold malah mencatat adanya gejala yang mirip seperti diglosia yang melibatkan hubungan antara subdialek dan antara gaya seperti yang terjadi di dalam bahasa Rusia.

Mengenai masalah yang keempat, yakni masalah yang berkaitan dengan fungsi, kelihatannya ada kesesuaian antara para peneliti bahwa ragam T dipakai di daerah perkotaan, di bidang pendidikan, agama, pemerintahan, dan untuk pembicaraan yang bersifat daria, serta dipakai secara tertulis, sedangkan ragam R dipakai di daerah pedesaan dan di bidang kehidupan sehari-hari yang tidak resmi di antara sanak keluarga dan handai taulan.

Berdasarkan pertimbangan itu semua, Fasold mengusulkan nama baru menjadi broad diglossia (diglosia luas) yang diartikan sebagai pelestarian segmen khazanah bahasa yang dinilai sangat tinggi (yang tidak dipelajari pertama kali, tetapi dipelajari lebih kemudian dan dipelajari secara lebih sadar, biasanya melalui pendidikan formal) dalam suatu masyarakat, untuk situasi-situasi yang dianggap sebagai lebih formal dan terjaga, dan pelestarian segmen yang dinilai kurang tinggi (yang dipelajari pertama kali dengan sedikit usaha atau tanpa usaha yang disadari), berapa derajat pun hubungan kebahasaannya dengan segmen yang dinilai lebih tinggi, dari (hanya sekedar) perbedaan stilistik sampai perbedaan bahasa, untuk situasi yang dianggap sebagai lebih resmi.

Selama ini, sepanjang pengetahuan penulis ini, situasi diglosia di Indonesia selalu dilihat sebagai gejala diglosia biner seperti yang dikemukakan oleh Ferguson (1959), Fishman (1971), Suwito (1987), Yatim (1985), dan Moeliono (1988). Berdasarkan hasil pengamatan di dalam masyarakat Banyumas, gejala diglosik di Banyumas gukanlah sekedar gejala diglosik biner melainkan lebih mirip dengan diglosia ganda seperti dikemukakan oleh Fasold (1985) dan Mkilifi (1978).

PEDOMAN PENGAMATAN

SITUASI KEBAHASAAN

A. Anda diminta untuk melakukan pengamatan fenomena sosiolinguistik di Simpang Lima Semarang. Pengamatan dapat disertai dengan perekaman, pencatatan, dan wawancara.

B. Transkripsikan dua peristiwa tutur yang Anda rekam!
Deskripsikan 2 peristiwa tutur yang dapat Anda rekam berdasarkan teori SPEAKING dari Dell Hymes.

C. Analisislah peristiwa tutur tersebut berdasarkan topik-topik sosiolinguistik yang menurut Anda paling relevan!

D. Berikan komentar Anda tentang kegiatan pengamatan ini!
Pertemuan Ke- : 9

Hari/Tanggal :

Materi Perkuliahan : Pemilihan Bahasa

Konsep dan Kategori Pilihan Bahasa

Dalam masyarakat multibahasa tersedia berbagai kode, baik berupa bahasa, dialek, variasi, dan gaya untuk digunakan dalam interaksi sosial. Untuk istilah terakhir, Kartomihardjo (1988) lebih suka mempergunakan istilah ragam sebagai padanan dari style. Dengan tersedianya kode-kode itu, anggoa masyarakat akan memilih kode yang tersedia sesuai dengan faktor-faktor yang mempengaruhinya. Dalam interaksi sehari-hari, anggota masyarakat secara konstan mengubah variasi penggunaan bahasanya.

Pemilihan bahasa menurut Fasold (1984: 180) tidak sesederhana yang kita bayangkan, yakni memilih sebuah bahasa secara keseluruhan (whole language) dalam suatu peristiwa komunikasi. Kita membayangkan seseorang yang menguasai dua bahasa atau lebih harus memilih bahasa mana yang akan ia gunakan. Misalnya, seseorang yang menguasai bahasa Jawa dan bahasa Indonesia harus memilih salah satu di antara kedua bahasa itu ketika berbicara kepada orang lain dalam peristiwa komunikasi.

Dalam pemilihan bahasa terdapat tiga kategori pilihan. Pertama, dengan memilih satu variasi dari bahasa yang sama (intra language variation). Apabila seorang penutur bahasa Jawa berbicara kepada orang lain dengan menggunakan bahasa Jawa kromo, misalnya, maka ia telah melakukan pilihan bahasa kategori pertama ini. Kedua, dengan melakukan alih kode (code switching), artinya menggunakan satu bahasa pada satu keperluan dan menggunakan bahasa yang lain pada keperluan lain dalam satu peristiwa komunikasi. Ketiga, dengan melakukan campur kode (code mixing) artinya menggunakan satu bahasa tertentu dengan bercampur serpihan-serpihan dari bahasa lain.

Peristiwa peralihan bahasa atau alih kode dapat terjadi karena beberapa faktor. Reyfield (1970: 54-58) berdasarkan studinya terhadap masyarakat dwibahasa Yahudi-Inggris di Amerika mengemukakan dua faktor utama, yakni respon penutur terhadap situasi tutur dan faktor retoris. Faktor pertama menyangkut situasi seperti kehadiran orang ketiga dalam peristiwa tutur yang sedang berlangsung dan perubahan topik pembicaraan. Faktor kedua menyangkut penekanan kata-kata tertentu atau penghindaran terhadap kata-kata yang tabu. Menurut Blom dan Gumperz (1972: 408-409) teradapat dua macam alih kode, yaitu (1) alih kode situasional (situational switching) dan (2) alih kode metaforis. Alih kode yang pertama terjadi karena perubahan situasi dan alih kode yang kedua terjadi karena bahasa atau ragam bahasa yang dipakai merupakan metofaor yang melambangkan identitas penutur.

Campur kode (code mixing) merupakan peristiwa percampuran dua atau lebih bahasa atau ragam bahasa dalam suatu peristiwa tutur. Di dalam masyarakat tutur Jawa yang diteliti ini juga terdapat gejala ini. Gejala seperti ini cenderug mendekati pengertian yang dikemukakan oleh Haugen (1972: 79-80) sebagai bahasa campuran (mixture of language), yaitu pemakaian satu kata, ungkapan, atau frase. Di Filipina menurut Sibayan dan Segovia (1980: 113) disebut mix-mix atau halu-halu atau taglish untuk pemakaian bahasa campuran antara bahasa Tagalog dan bahasa Inggris. Di Indonesia, Nababan (1978: 7) menyebutnya dengan istilah bahasa gado-gado untuk pemakaian bahasa campuran antara bahasa Indonesia dan bahasa daerah.

Faktor Penanda Pilihan Bahasa

Pilihan bahasa dalam interaksi sosial masyarakat dwibahasa/multibahasa disebabkan oleh berbagai faktor sosial dan budaya. Evin-Tripp mengidentifikaskan empat faktor utama sebagai penda pilihan bahasa penutur dalam interkasi sosial, yaitu (1) latar (waktu dan tempat) dan situasi; (2) partisipan dalam interkasi, (3) topik percakapan, dan (4) fungsi interaksi. Faktor pertama dapat berupa hal-hal seperti makan pagi di lingkungan keluarga, rapat di keluarahan, selamat kelahiran di sebuah keluarga, kuliah, dan tawar menawar barang di pasar.

Faktor kedua mencakup hal-hal seperti usia, jenis kelamin, pekerjaan, status sosial ekonomi, dan perannnya dalam hubungan dengan mitra tutur. Hubungan dengan mitra tutur dapat berupa hubungan akrab dan berjarak. Faktor ketiga dapat berupa topik tentang pekerjaan, keberhasilan anak, peristiwa-peristiwa aktual, dan topik harga barang di pasar. Faktor keempat berupa hal-hal seperti penawaran informasi, permohonan, kebiasaan rutin (salam, meminta maaf, atau mengucapkan terima kasih).

Senada dengan Evin-Tripp, Grosjean (1982: 136) berpendapat tentang faktor-faktor yang berpengaruh dalam pilihan bahasa. Menurut Grosjean terdapat empat faktor yang mempengaruhi pilihan bahasa dalam interaksi sosial, yaitu (1) partisipan, (2) situasi, (3) isi wacana, dan (4) fungsi interaksi.

Faktor situasi mengacu pada (1) lokasi atau latar, (2) kehadiran pembicara monolingual, (3) tingkat formalitas, dan (4) tingkat keakraban. Faktor isi mengisi wacana mengacu pada (1) topik pembicaraan, dan (2) tipe kosakata. Fatkor fungsi iteraksi mencakupi aspek (1) menaikan status, (2) penciptaan jarak sosial, (3) melarang masuk / mengeluarkan sesorang dari pembicaraan, dan (4) memerintah atau meminta.

Dari paran berbagai faktor di atas, yang perlu diperhatikan adalah bahwa tidak terdapat faktor tunggal yang dapat mempengaruhi pilihan bahasa sesorang. Yang menjadi pertanyaan adalah apakah faktor-faktor itu memiliki kedudukan yang sama pentingnya?. Kajian penelitian pemilihan bahasa yang pernah dilakukan terdahulu diketahui bahwa umunya beberapa faktor menduduki kedudukan yang lebih penting daripada faktor lain. Di Obserwart, Gal (1982) menemukan bukti bahwa karakteristik penutur dan mitra tutur menduduki faktor yang penentu pilihan bahasa dalam masyarakat tersebut. Sedangkan faktor topik dan latar merupakan faktor yang kurang penting daripada faktor partisipan.

Berbeda dengan Gal, Rubin (1982) menemukan faktor penentu yang terpenting adalah lokasi tempat berlangsungya peristiwa tutur. Dalam penelitiannya tentang pilihan bahasa Guarani dan Spanyol di Paraguay Rubin menyimpulkan bahwa lokasi interaksi yaitu (1) desa, (2) sekolah, dan (3) tempat umum sangat menentukan pilihan bahasa masyarakat. Di desa pembicara akan memilih bahaa Guarani, di sekolah akan memilih bahasa Spanyol, dan di tempat umum memilih bahasa Spanyol.

Tiga Pendekatan Kajian Pemilihan Bahasa

Kajian pemilihan bahasa menurut Fasold (1984: 183) dapat dilakukan berdasarkan tiga pendekatan, yaitu pendekatan sosiologi, pendekatan psikologi sosial, dan pendekatan antropologi. Ketiga pendekatan itu dapat dijelaskan sebagai berikut.

Pendekatan sosiologi berkaitan dengan analisis ranah. Pendekatan ini pertama dikemukakan oleh Fishman (1964). Ranah menurut Fishman merupakan konstalasi faktor lokasi, topik, dan partisipan. Ranah didesfinisikan pula sebagai konsepsi sosiokultural yang diabstraksikan dari topik komunikasi, hubungan peran antar-komunikator, dan tempat komunikasi di dalam keselarasan dengan pranata masyarakat dan merupakan bagian dari aktivitas masyarakat tutur (Fishman dalam Pride dan Holmes (eds) 1972). Di bagian lain Fishman (dalam Amon 1987) mengemukakakan bahwa ranah adalah konspesi teoretis yang menandai satu situasi interaksi yang didasarkan pada pengalaman yang sama dan terikat oleh tujuan dan kewajiban yang sama, misalnya keluarga, ketetanggaan, agama, dan pekerjaan. Sebagai contoh, apabila penutur berbicara di rumah dengan seorang anggota keluarga mengenai sebuah topik, maka penutur itu dikatakan berada pada ranah keluarga. Pemilihan ranah dalam penelitian ini mengacu pada pendapat Fishman.

Berbeda dengan pendekatan sosiologi, pendekatan psikologi sosial lebih tertarik pada proses psikologis manusia daripada kategori dalam masyarakat luas. Pendekatan ini lebih berorientasi pada individu seperti motivasi individu daripada berorientasi pada masyarakat. Karya-karya penting kajian pemilihan bahasa dengan pendekatan psikologi sosial telah dilakukan oleh Simon Herman (1968), Giles et al. (1973) Bourhish dan Taylor (1977).

Herman (dalam Fasold 1984) mengemukakan teori situasi tumpang tindih yang mempengaruhi seseorang di dalam memilih bahasa. Situasi yang dimaksud adalah (1) kebutuhan personal (personal needs), (2) situasi latar belakang (background situation) dan (3) situasi sesaat (immediate situation). Dalam pemilihan bahasa salah satu situasi lebih dominan daripada situasi lain.

Giles (1977: 321-324) mengajukan teori akomodasi (accommodation theory). Menurut Giles terdapat dua arah akomodasi penutur dalam peristiwa tutur. Pertama, akomodasi ke atas yang terjadi apabila penutur menyesuaikan pilihan bahasanya dengan pilihan bahasa mitra tutur. Kedua, akomodasi ke bawah, yang terjadi apabila penutur menginginkan agar mitra tuturnya menyesuaikan dengan pilihan bahasanya.

Pandangan Herman dan Giles tersebut mengimplikasikan adanya hubungan yang maknawi antara tingkat kondisi psikologis peserta tutur dan pemilihan bahasanya. Dengan demikian, untuk mengungkap permasalahan pemilihan bahasa perlu pula dilakukan tilikan dari segi kondisi psikologis orang per orang dalam masyarakat tutur ketika mereka melakukan pemilihan bahasa atau ragam bahasa.

Seperti halnya pendekatan psikologi sosial, pendekatan antropologi tertarik dengan bagaimana seorang penutur berhubungan dengan struktur masyarakat. Perbedaannya adalah bahwa apabila psikologi sosial memandang dari sudut kebutuhan psikologis penutur, pendekatan antropologi memandangnya dari bagaimana seseorang memilih bahasa untuk mengungkapkan nilai kebudayaan (Fasold 1984: 193). Dari segi metodologi kajian terdapat perbedaan antara pendekatan sosiologi, psikologi sosial, dan antropologi. Dua pendekatan pertama yang disebut lebih mengarahkan kajiannya pada data kuesioner dan observasi atas subjek yang ditelitinya. Sedangkan pendekatan yang ketiga menempatkan nilai yang tinggi pada perilaku takterkontrol yang alamiah. Hal ini membimbing peneliti untuk menggunakan metode penelitian yang jarang digunakan oleh sosiologi dan psikologi sosial, yakni observasi terlibat (participant observation). Sebagai contoh, penelitian yang dilakukan oleh Susan Gal (yang mempublikasikan hasilnya tahun 1979) di Oberwart, Australia Timur menghabiskan waktu satu tahun untuk tinggal di sebuah keluarga setempat.

Dengan menggunakan metode observasi terlibat ini antropolog dapat memberikan perspektif penjelasan atas pemilihan bahasa berdasarkan persepsinya sebagai penutur sebuah kelompok atau lebih yang dimasukinya selama mengadakan penelitian. Implikasi dari metode ini adalah bahwa pengamat adalah peneliti yang menjadi anggota kelompok yang ditelitinya (Wiseman dan Aron 1970: 49). Kesesuaian pendekatan antropologi dengan penelitian ini terletak pada faktor kultural yang mempengaruhi pemilihan bahasa masyarakat tutur. Selain itu, metode observasi terlibat yang tipikal dalam pendekatan antropologi mengarah pada peneliti ini sebagai instrumen penelitian. Dengan demikian, gejala pemilihan bahasa masyarakat tutur dapat diungkap secara alami tanpa adanya intrvensi peneliti.
Pertemuan Ke- : 10 dan 11

Hari/Tanggal :

Materi Perkuliahan : Alih Kode dan Campur Kode

Alih Kode

Alih kode adalah peristiwa peralihan dari kode yang satu ke kode yang lain (Suwito 1991:80). Menurutnya alih kode merupakan salah satu aspek tentang saling ketergantungan bahasa (language depedency) di dalam masyarakat multilingual. Artinya, di dalam masyarakat multilingual hampir tidak mungkin seorang penutur menggunakan satu bahasa secara mutlak murni tanpa sedikitpun memanfaatkan bahasa atau unsur bahasa yang lain. Di dalam alih kode penggunaan dua bahasa atau lebih itu ditandai oleh : (a) masing-masing bahasa masih mendukung fungsi-fungsi tersendiri sesuai dengan konteksnya, (b) fungsi masing-masing bahasa disesuaikan dengan situasi yang relevan dengan perubahan konteks. Tanda-tanda yang demikian dikemukakan oleh Kachru (1965 dalam Suwito 1991:80) disebut ciri-ciri unit-unit kontekstual (contextual units). Dengan adanya ciri-ciri itu menunjukkan bahwa di dalam alih kode masing-masing bahasa masih mendukung fungsi-fungsi tersendiri secara eksklusif, dan peralihan kode terjadi apabila penuturnya merasa bahwa situasinya relevan dengan peralihan kodenya. Dengan demikian, alih kode menunjukkan suatu gejala adanya saling ketergantungan antara fungsi kontekstual dan situasi relevansional di dalam pemakakian dua bahasa atau lebih.

Hymes (1875:103 dalam Chaer dan Agustina 1995:142) menyatakan alih kode bukan hanya terjadi antarbahasa, tetapi dapat juga terjadi antara ragam-ragam atau gaya-gaya yang terdapat dalam satu bahasa. Dalam ilustrasi di atas, Hymes mengatakan “code switching has become a common term for alternate us of two or more language, varieties of language, or even speech styles”

Adapun penyebab terjadinya alih kode menurut Fishman (1976:15 dalam Chaer dan Agustina 1995:143), yaitu “siapa berbicara, dengan bahasa apa, kepada siap, kapan, dan dengan tujuan apa”. Secara umum, penyebab alih kode adalah (1) pembicara atau penutur, (2) pendengar atau lawan tutur, (3) perubahan situasi dengan hadirnya orang ketiga, (4) perubahan dari formal ke informal, (5) perubahan topik pembicaraan.

Berdasarkan konsep yang diuraikan para ahli itu, dapat disimpulkan bahwa alih kode merupakan peralihan dari kode yang satu ke kode yang lain karena perubahan situasi yang mungkin terjadi antar bahasa, antarvarian (baik regional maupun sosial) antarregister, antarragam ataupun antargaya.
Campur Kode

Aspek lain dari saling ketergantungan bahasa (language depency) dalam masyarakat multilingual adalalah terjadinya campur kode (code-mixing). Apabila di dalam alih kode fungsi konteks dan relevansi situasi merupakan ciri-ciri ketergantungan ditandai oleh adanya hubungan timbal balik antara peranan dan fungsi kebahasaan. Peranan maksudnya siapa yang menggunakan bahasa itu; sedangkan fungsi kebahasaan berarti apa yang hendak dicapai oleh penutur dengan tuturannya (Suwito 1991:88). Ciri lain dari gejala campur kode ialah bahwa unsur-unsur bahasa atau variasi-variasinya yang menyisip di dalam bahasa lain tidak lagi mempunyai tersendiri. Unsur-unsur itu telah menyatu dengan bahasa yang disisipinya dan secara keseluruhan hanya mendukung satu fungsi. Di dalam kondisi yang maksimal campur kode merupakan konvergensi kebahasaan (linguistic convergence) yang unsur-unsurnya berasal dari beberapa bahasa yang masing-masing telah menanggalkan fungsinya dan mendukung fungsi bahasa yang disisipinya.

Kachru (1978:28 dalam Suwito 1991:89) memberikan batasan campur kode sebagai pemakaian dua bahasa atau lebih dengan saling memasukkan unsusr-unsur bahasa yang satu ke dalam bahasa yang satu ke dalam bahasa yang lain secara konsisten.

Selain itu, Thelander (1976:103 dalam Suwito 1991:98) berpendapat bahwa unsur-unsur bahasa yang terlibat dalam “peristiwa campur” (co-occurance) itu terbatas pada tingkat klausa. Apabila dalam suatu tuturan terjadi percampuran atau kombinasi antara variasi-variasi yang berbeda di dalam satu klausa yang sama, maka peristiwa itu disebut campur kode.

Adapun alasan penyebab terjadinya campur kode menurut Suwito (1991:90-91) ada dua yaitu campur kode yang bersifat ke luar dan ke dalam. Penyebab terjadinya campur kode yang bersifat ke luar antara lain : (a) identifikasi peranan,(b) identifikasi ragam dan (c) keinginan untuk menjelaskan dan menafsirkan. Dalam hal ini pun, ketiganya saling bergantung dan tidak jarang bertumpah tindih. Ukuran untuk identifikasi peranan adalah sosial, registral dan edukasional. Identifikasi ragam ditentukan oleh bahasa dimana seorang penutur melakukan campur kode yang akan menempatkan dia di dalam hierarki status sosialinya. Keinginan untuk menjelaskan dan menafsirkan, nampak karena campur kode juga menandai sikap dan hubungannya terhadap orang lain dan sikap dan hubungan orang lain terhadapnya.

Campur kode ke dalam nampak misalnya apabila seorang penutur menyisipkan unsur-unsur bahasa daerahnya ke dalam bahasa nasional, unsur-unsur dialeknya ke dalam bahasa daerahnya atau unsur-unsur ragam dan gayanya ke dalam dialeknya. Selain itu, campur kode terjadi karena adanya hubungan timbal balik antara peranan (penutur), bentuk bahasa dan fungsi bahasa. Artinya penutur yang mempunyai latar belakang sosial tertentu, cenderung memilih bentuk campur kode tertentu untuk mendukung fungsi-fungsi tertentu. Pemilihan bentuk campur kode demikian dimaksudkan untuk menunjukkan status sosial dan identitas pribadinya di dalam masyarakat.

Berdasarkan konsep yang telah diuraikan para ahli di atas, dapat disimpulkan bahwa campur kode merupakan pemakaian dua bahasa atau lebih dengan saling memasukkan unsur-unsur bahasa yang satu ke dalam bahasa yang satu ke dalam bahasa yang lain, dimana unsur-unsur bahasa atau variasi-variasinya yang menyisip di dalam bahasa lain tidak lagi mempunyai tersendiri.
Konsep Sikap Bahasa

Sarnoff (1970:279) seperti yang dikutip oleh Edward (1985:139) memandang sikap sebagai “a disposition to reactfavorably or unfavorably to class of objects” (kecendurungan untuk bereaksi terhadap sekelompok objek dengan perasaan senang atau tidak senang). Pandangan itu mengisyaratkan bahwa sikap bukan merupakan suatu tindakan, melainkan merupakan kecenderungan perilaku. Kecenderungan bertindak (disposition) itu menurut Edward (1985: 139) seringkali digunakan untuk membandingkan tiga komponen sikap, yakni : pikiran (thoughts), perasaan (feelings) dan kesiapan untuk bertindak (predispositons to act). (Masalah komponen sikap akan dikemukakan lebih lanjut dibagian 3).

Menurut Fasold (1984: 147) ada dua teori yang berbeda didalam memandang sikap. Teori pertama adalah teori keperilakuan yang melihat sikap sebagai sikap motorik dan teori kedua adalah mentalistik yang melihat sikap sebagai sikap mental.

Teori pertama itu beranggapan bahwa sikap hanya dapat diketahui melalui pernyataan seseorang melalui sikapnya. Teori itu telah melahirkan sejumlah besar penelitian sikap dengan cara eksperimen yang cemerlang untuk membangkitkan sikap sehingga responden tidak menyadari bahwa sikapnya sedang diteliti. Sebagai contoh adalah penelitian Lambertet al. (1960) yang dilakukan di Kanada dengan teknik terbanding (matched-guise technique)-nya yang sangat populer. Lambert et al. (1960) memperkenalkan teknik samaran terbanding sebagai alat untuk mengungkap sikap terhadap bahasa Perancis dan Inggris di Monteral, Kanada. Responden dalam penelitian itu diminta untuk menilai kepribadian seorang penutur yang direkam setelah membecakan teks yang sama dalam dua bahasa. Penutur itu disamarkan seolah-olah dua orang yang berbeda yang membacakan teks dalam bahasa yang berbeda. Kemudian penilaian responden itu di simpulkan sebagai sikap mereka terhadap bahasayang diperdengarkan. Dengan teknik itu, responden sama sekali tidak menyadari bahwa sikapnya terhadap bahasa Inggris dan Perancissedang diteliti. Reori kedua cenderung bersifat empiris, beranggapan bahwa silap itu bersifat nyata dan dapat diamati melalui indera dari perilaku seseorang (Fasold 1984: 137). Sikap menurut pandangan teori itu tidak dapat dipergunakan untuk meramalkan perilaku lain. Oleh karena itu, pandangan teori itu tidak banyak mendapat perhatian dari para ahli. Sekurang –kurangnya ada dua alasan mengapa pandangan teori itu tidak banyak digunakan dalam penelitian sikap bahasa. Pertama, penelitian dengan teori itu bersifat semu (Suhardi, 1993: 25). Artinya, hasil pengamatan perilaku yang satu tidak dapat dipakai untuk menjelaskan perilaku lain. Kedua, penelitian terhadap sikap berdasarkan teori keperilakuan cenderung hanya bersifat kuantitatif. Padahal penelitian secara lualintatif pun dapat dilakukan untuk menjelaskan banyak hal tentang sikap, dan hasilnya tidak perlu kalah unggul dibandingkan dengan hasil penelitian kuantitaitf (Dttmar 1987; Suhardi, 1993: 25).

Teori kedua memandang sikap sebagai kesiapan mental yang memberikan arah atau pengaruh kepada reaksi seseorang terhadap objek sikap (Agheyisi dan Fishman, 1970: 138; Dittmar 1976: 181; Fasold 1984: 147) Definisi sikap yang khas menurut teori mentalistik dikemukakan oleh Williams (1974) yang dikutip oleh Fasold (1984: 147): “Attitude is considered as an internal state aroused by stimulation of some type and which may mediate the organism’s sugsequent response.” Definisi itu mengisyaratkan bahwa sikap tidak diketahui secara langsung dari perilaku, sebab perilaku sesorang tidak dengan sendirinya menggambarkan sikapnya. Mengacu pada rumusan Knop (1987 :21) Suhardi (1993: 26) mengemukakan bahwa untuk memahami sikap kita perlu memahami hubungan antara rangsangan dan tanggapan. Diantara rangsangan dan tanggapan itu terdapat variabel penyela yang berfungsi menentukan jenis tanggapan yang dihasilkan oleh rangsangan itu. Sikap terdapat pada variabel penyela itu. Dengan demikian, sikap merupakan perantara antara rangsangan yang datang dari luar individu, yang dapat berupa objek sosial, dan tanggapan terhadap objek sosial itu.

Komponen Sikap Bahasa

Perbedaan kedua teori sikap itu ternyata berpengaruh pula pada anggapan para penganut teori itu masing-masing mengenai komponen sikap. Penganut teoti pertama menganggap bahwa sikap terdiri atas satu komponen. Pandangan itu antara lain diikuti oleh Fishbein dan ajzen 91975). Penganut teori kedua menganggap bahwa sikap terdiri atas beberapa komponen yang saling berkaitan. Pandangan yang disebutkan terakhir ini antara lain diikuti oleh Triandis (1971); Deprez dan Persoons (11987); Krech et al (1988).

Fiesbein dan Ajzen (1975) Yang menganut pandangan teori keperilakuan menganggap sikap hanya terdiri atas satu komponen, yaitu komponen afektif, seperti yang terlihat dalam bagan berikut :

KOMPONEN SIKAP MENURUT TEORI KEPERILAKUAN

SIKAP

KOMPONEN AFEKTIF

KOMPONEN SIKAP MENURUT TEORI MENTALISTIK

KOGNITIF

AFEKTIF

KONATIF

SIKAP

Krech et al. (19988: 139) mendifinisikan sikap sebagai “…an enduring systems of positive or negative evaluation, emotional feelings, and pro or co action tendencies with respect to social objects” (suatu sistem yang sifatnya menetap dari penilaian–penilian positif atau negatif, perasaan-perasaan emosional dan kecenderungan tindak pro atau kontra terhadap objek sosial).

Definisi sikap tersebut memberikan gambaran yang jelas mengenai sikap sebagai suatu sistem yang bersifat menetap dari ketiga komponen yang saling berhubungan. Dengan demikian, berdasarkan definisi Krech et al. Tersebut sikap terdiri atas tiga komponen. Ketiga komponen itu berkaitan erat, sehinnga perubahan salah satu komponen akan mempengarui komponen lainnya.

Ketiga komponen tersebut adalah komponen kognitif yang berhubungan dengan persepsi seseorang terhadap suatu objek sehingga melahirkan suatu kepercanyaan atau kenyakinan (belief), Komponen afektif, yang berhubungan dengan keadan emosional seseorang, serta komponen konatif, yaitu kecenderungan untuk bertindak, seperti terlihat pd bagan 2 berikut.

Hubungan ketiga komponen itu dijelaskan oleh Krech et al. (1988) sebagai berikut. Apabila seseorang menghadapi suatu objek, maka melalui kognisinya akan terjadi proses pengamatan. Hasil pengamatan itu menimbulkan keyakinan-keyakinan terhadap objek tersebut (berarti/tidak berarti). Selanjutnya akan berkembang afektif yang menyatakan penilaian baik yang bersifat positif (merasa senang atau menerima) maupun bersifat negatif (merasa tidak senang atau menolak) terhadap objek sikap. Akhirnya keyakinan dan perasaan itu diikuti oleh kehendak untuk bertindak yang merupakan komponen konatif.

Komponen kognitif mengandung kepercanyaan atau kenyakinan seseorang terhadap suatu objek (Krech et. Al. (1988:140). Sebagai adalah kepercanyaan atau kenyakinan mahasiswa terhadap rokok. Ada yang memiliki kepercanyaan atau kenyakinan mahasiswa bahwa rokok itu mahal dan berbahaya bagi paru-paru. Ada pula yang memiliki kenyakinan bahwa rokok itu dapat memudahkan belajar dan mengurangi kegelisahan. Kepercayaan atau keyakinan itu menimbulkan penilaian yang berbeda terhadap rokok.

Komponen afektif menyangkut perasaan terhadap suatu objek (Krech et al. 1988: 141). Perasaan itu dapat berupa rasa senang atau tidak senang. Apabila seorang penutur memiliki perasaan senang terhadap suatu objek, maka ia dipandang memiliki sikap positif terhadap objek itu. Sebaliknya apabila ia memiliki perasaan tidak senang maka ia dikatakan memiliki sikap negatif terhadap objek itu. Sebagai contoh apabila seorang penutur memiliki perasaan senang terhadap bahasa ibunya, dan cenderung memakai bahasa itu, maka ia dianggap bersikap positif terhadap bahasa itu.

Komponen konotif menyangkut kesiapan untuk bereaksi (Krech et al. 1988: 141). Seseorang yang memiliki sikap positif terhadap bahasa Indonesia mungkin akan menunjukkan kesiapanya untuk menggunakan bahasa itu.
Pertemuan Ke- : 14

Hari/Tanggal :

Materi Perkuliahan : Pergeseran dan Pemertahanan Bahasa

Pergeseran Bahasa

Pergeseran bahasa (language shift) merupakan fenomena sosiolinguistik yang terjadi akibat adanya kontak bahasa (language contact). Pergeseran bahasa menyangkut masalah penggunaan bahasa oleh sekelompok penutur yang bisa terjadi sebagai akibat perpindahan dari satu masyarakat tutur ke masyarakat tutur lain. Apabila seseorang atau sekelompok penutur pindah ke tempat lain yang menggunakan bahasa lain, dan berinteraksi dengan masyarakat tutur di wilayah tersebut, maka akan terjadilah pergeseran bahasa. Kelompok pendatang umumnya harus menyesuaikan diri dengan menanggalkan bahasanya sendiri dan menggunakan bahasa penduduk setempat. Jika berkumpul dengan kelompok asal, mereka dapat menggunakan bahasa pertama mereka tetapi untuk berkomunikasi dengan selain kelompoknya tentu mereka tidak dapat bertahan untuk tetap menggunakan bahasanya sendiri. Sedikit demi sedikit mereka harus belajar menggunakan bahasa penduduk setempat.

Pergeseran bahasa biasanya terjadi di negara, daerah, atau wilayah yang memberi harapan untuk kehidupan sosial ekonomi yang lebih baik, sehingga mengundang imigran/transmigran untuk mendatanginya (Chaer 1995: 190). Fishman (1972) menunjukkan contoh terjadinya pergeseran bahasa pada para imigran di Amerika. Keturunan ketiga atau keempat dari para imigran itu sudah tidak mengenal lagi bahasa ibunya dan malah menjadi telah menjadi monolingual bahasa Inggris.

Dari contoh di atas dapat disimpulkan bahawa pergeseran bahasa terjadi pada masyarakat dwibahasa atau multibahasa. Kedwibahasaan menurut Umar (1994:9) dimulai ketika penduduk yang berpindah itu berkontak dengan penduduk pribumi lalu pihak yang satu mempelajari pihak lainnya untuk kebutuhan komunikasi.

Pada situasi kedwibahasaan sering terlihat orang melakukan penggantian satu bahasa dengan bahasa lainnya dalam berkomunikasi. Penggantian bahasa ini biasanya terjadi karena tuntutan berbagai situasi yang dihadapi oleh masyarakat tutur. Selain itu, peralihan atau penggantian bahasa itu dapat terjadi karena penggantian topik pembicaraan.

Peristiwa pergeseran bahasa lebih terkait dengan adanya faktor perpindahan dari satu masyarakat tutur ke masyarakat tutur lain. Di samping itu juga faktor mitra tutur, situasi, topik, dan fungsi interaksi dapat juga menyebabkan pergeseran bahasa. Berdasarkan hal tersebut di atas terlihat bahwa terjadinya pergeseran bahasa lebih terkait dengan faktor lingkungan bahasa.

Pemertahanan Bahasa

Sebagai salah satu objek kajian sosiolinguistik, gejala pemertahanan bahasa sangat menarik untuk dikaji. Konsep pemertahanan bahasa lebih berkaitan dengan prestise suatu bahasa di mata masyarakat pendukungnya. Sebagaimana dicontohkan oleh Danie (dalam Chaer 1995:193) bahwa menurunnya pemakaian beberapa bahasa daerah di Minahasa Timur adalah karena pengaruh bahasa Melayu Manado yang mempunyai prestise lebih tinggi dan penggunaan bahasa Indonesia yang jangakauan pemakaiannya bersifat nasional. Namun ada kalangnya bahasa pertama (B1) yang jumlah penuturnya tidak banyak dapat bertahan terhadap pengaruh penggunaan bahasa kedua (B2) yang lebih dominan.

Konsep lain yang lebih jelas lagi dirumuskan oleh Fishman (dalam Sumarsono 1993: 1). Pemerthanan bahasa terkait dengan perubahan dan stabilitas penggunaan bahasa di satu pihak dengan proses psikologis, sosial, dan kultural di pihak lain dalam masyarakat multibahasa. Salah satu isu yang cukup menarik dalam kajian pergeseran dan pemerthanan bahasa adalah ketidakberdayaan minoritas imigran mempertahankan bahasa asalnya dalam persaingan dengan bahasa mayoritas yang lebih dominan.

Ketidakberdayaan sebuah bahasa minoritas untuk bertahan hidup itu mengikuti pola yang sama. Awalnya adalah kontak guyup minoritas dengan bahasa kedua (B2), sehingga mengenal dua bahasa dan menjadi dwibahasawan, kemudian terjadilah persaingan dalam penggunaannya dan akhirnya bahasa asli (B1) bergeser atau punah. Sebagai contoh kajian semacam itu dilakukan oleh Gal (1979) di Australia dan Dorial (1981) di Inggris. Keduanya tidak berbicara tentang bahasa imigran melainkan tentang bahasa pertama (B1) yang cenderung bergeser dan digantikan oleh bahasa baru (B2) dalam wilayah mereka sendiri.

Kajian lain dilakukan oleh Liberson (dalam Sumarsono 1993:2) yang berbicara tentang imigran Perancis di Kanada, tetapi bahasa pertama (B1) mereka masih mampu bertahan terhadap bahasa Inggris yang lebih dominan, setidak-tidaknya hingga anak-anak mereka menjelang remaja. Masalah bergeser dan bertahannya sebuah bahasa bukanlah hanya karena masalah bahasa imigran, melainkan dipengaruhi oleh banyaknya faktor lain yang dapat mempengaruhi pemertahanan bahasa.

Faktor-faktor yang Mempengaruhi Pergeseran dan Pemertahanan Bahasa

Pergeseran dan pemertahanan bahasa dipengaruhi oleh berbagai faktor. Masalah pergeseran dan pemertahanan bahasa di Indonesia dipengaruhi oleh faktor yang dilatarbelakangi oleh situasi kedwibahasaan atau kemultibahasaan. Industrialisasu dan urbanisasi dipandang sebagai penyebab utama bergeser atau punahnya sebuah bahasa yang dapat berkait dengan keterpakaian praktis sebuah bahasa, efisiensi bahasa, mobilitas sosial, kemajuan ekonomi dan sebagainya. Faktor lain misalnya adalah jumlah penutur, konsentrasi pemukiman, dan kepentingan politik (Sumarsono 1993: 3).

Pada umumnya sekolah atau pendidikan sering juga menjadi penyebab bergesernya bahasa, karena sekolah selalu memperkenalkan bahasa kedua (B2) kepada anak didiknya yang semula monolingual, menjadi dwibahasawan dan akhirnnya meninggalkan atau menggeser bahasa pertama (B1) mereka. Faktor lain yang banyak oleh para ahli sosiolinguistik adalah faktor yang berhubungan dengan faktor usia, jenis kelamin, dan kekerapan kontak dengan bahasa lain. Rokhman (2000) dalam kajiannya mengidentifikasikan tiga faktor yang mempengaruhi pergeseran dan pemertahanan bahasa pada masyarakat tutur Jawa dialek Banyumas, yakni faktor sosial, kultural, dan situasional.

Kajian tentang berbagai kasus tersebut di atas memberikan bukti bahwa tidak ada satupun faktor yang mampu berdiri sendiri sebagai satu-satunya faktor pendukung pergeseran dan pemertahanan bahasa. Dengan demikian, tidak semua faktor yang telah disebutkan di atas mesti terlibat dalam setiap kasus.

Etnografi Komunikasi sebagai Model Analisis

Pemakaian bahasa dalam komunikasi selain ditentukan oleh faktor-faktor linguistik juga ditentukan oleh faktor-faktor non linguistik atau luar bahasa. Faktor yang demikian itu sering pula dikatakan berkaitan erat dengan faktor sosial. Pandang demikan memang cukup beralasan karena pada dasarnya bahasa adalah bagian dari suatu sistem sosial. Karena sistem sosial erat sekali hubungannya dengan sistem budaya, maka bahasa juga tidak dapat dilepaskan dari faktor-faktor budaya.

Hubungan bahasa dengan sistem sosial budaya dapat dikaji dari berbagai disiplin, salah satunya adalah sosiolinguistik. Ancangan sosiolinguistik dalam kajian ini dipusatkan pada model fungsional pemakaian bahasa pada dimensi sosialbudaya masyarakat tuturnya. Model yang dimaksud adalah Model Etnografi Komunikasi yang dikembangkan oleh Hymes (1972, 1973, 1980). Istilah etnografi komunikasi (ethnography of communication) merupakan pengembangan dari etnografi berbahasa (etnography of speaking). Konsep etnografi berbahasa oleh Hymes (1972: 37) dimaksudkan sebagai kajian situasi dan penggunaan tutur serta pola dan fungsi tutur dalam tindak tutur yang rutin dan khusus. Pengembangan istilah itu dimaksudkan oleh Hymes (1980: 8) untuk memfokuskan kerangka acuan karena pemerian tempat bahasa di dalam suatu kebudayaan bukan pada bahasa itu sendiri melainkan pada komunikasinya.

Kerangka etnografis yang melibatkan beraneka ragam faktor yang terdapat di dalam pertuturan. Kerangka yang mula-mula disebut dengan etnografi pertuturan itu pada akhirnya berkembang menjadi etnografi komunikasi. Etnografi komunikasi adalah salah satu ancangan yang dapat di gunakan di dalam penelitian hubungan bahasa dengan manusia (masyarakat). Pada dasarnya, ancangan itu berusaha memberikan gambaran etnografis masyarakat bahasa yang diantaranya mencakup pola komunikasi, fungsi komunikasi, hakikat dan batasan masyarakat bahasa, alat komunikasi, komponen komunikatif, hubungan bahasa dengan pikiran dan organisasi sosial, dan perilaku bahasa lainnya.

Perilaku bahasa diakui mempunyai pola teratur dan mempunyai kendala yang dapat dinyatakan di dalam bentuk-bentuk norma bahasa. Etnografi komunikasi terarah pada penyelidikan keteraturan yang terdapat di dalam penggunaan bahasa serta bagaimana bagian-bagian komunikasi dibentuk. Selanjutnya, bagaimana bagian-bagian tersebut tersusun di dalam suatu cara bahasa di dalam arti yang sangat luas dan bagaimana pola-pola yang ada berhubungan secara sistematis dengan aspek-aspek kebudayaan lainnya.

Pola bahasa terdapat pada semua tingkat komunikasi seperti masyarakat, kelompok, dan individu. Pada tingkat masyarakat, komunikasi biasanya terbentuk melalui fungsinya, kategori percakapan, dan sikap serta konsepsi tentang bahasa dan manusia. Komunikasi tentunya juga terbentuk menurut peran dan kelompok tertentu di tengah-tengah masyarakat serta menurut jenis kelamin, umur, status sosial, dan jenis pekerjaan. Cara bahasa juga terbentuk menurut tingkat pendidikan, penduduk kota atau desa, daerah geografis, dan ciri-ciri organisasi sosial lainnya.

Menurut Hymes (1972, 1980: 9-18), ciri-ciri dimensi sosialbudaya yang bersifat etik dapat digolongkan dalam delapan komponen yang bersifat emik (bandingkan dengan Pudjosudarmo 1975). Kedelapan kompomnen itu disebut sebagai komponen tutur (spech component). Disebut demikian karena memang perwujudan makna sebuah tuturan atau ujaran ditentukan oleh komponen tutur. Kedelapan komponen tutur itu diakronimkan denang SPEAKING: Setting (latar), Partisipant (peserta tutur), Ends (tujuan tutur), Act sequence (topik , uturan tutur), Key (nada tutur), Norms (norma tutur) dan Genre (jenis tutur).

Latar tutur meliputi tempat tutur dan suasana tutur. Tempat tutur mengacu pada keadaan fisik, sedangkan suasana tutur mengacu pada suasana psikologis (baik bersifat resmi maupun tidak rsemi) tindak tutur dilaksanakan. Peserta tutur mengacu pada penutur, mitra tutur, dan orang yang dituturkan. Pemilihan bahasa antar-peserta tutur ditentukan oleh perbedaan dimensi vertikal dan dimensi horisontal. Dimensi pertama meliputi perbedaan umur, status sosial eknomi, dan kedudukan dalam masyarakat; perbedaan dimensi kedua antara lain meliputi perbedaan tingkat keakraban antar peserta tutur.

Tujuan tutur merupakan hasil yang diharapkan atau yang tidak diharapkan dari tujuan tindak tutur, baik ditujukan kepada individu maupun masyarakat sebagai sasarnnya. Suatu tuturan mungkin bertujuan menyampaikan buah pikiran, membujuk, dan mengubah perilaku (konatif). Topik tuturan mengacu pada apa yang dibicarakan (massage content) dan cara penyampaiannya (massage form). Dalam sebuah peristiwa tutur, beberapa topik tutur dalat muncul secara berurutan. Perubahan topik tutur dalam peristiwa tutur akan berpengaruh terhadap pemilihan bahasa.

Nada tutur diwujudkan baik berupa tingkah laku verbal maupun non-verbal (para language). Nada tutur verbal mengacu pada perubahan bunyi bahasa, yang dapat menunjukkan keseriusan, kehumoran, atau kesantaian tindak tutur. Nada tutur non-verbal dapat berujud gerak anggora bada, perubahan air muka, dan sorot mata. Sarana tutur mengacu pada saluran tutur dan bentuk turu. Sarana tutur dapat berupa sarana lisan, tulis, dan isyarat. Bentuk tutur dapat berupa bahasa sebagai sistem mandiri, variasi bahasa seperti dialek, ragam, dan register.

Norma tutur berhubungan dengan norma interaksi dan norma interpretasi/ Yang dimaksud norma interaksi adalah norma yang bertalian dengan boleh–tidaknya sesuatu dilaksanakan oleh peserta tutur pada waktu tuturan berlangsung, sedangkan norma interpretasi merupakan norma yang dimiliki oleh kelompok masyarakat tutur tertentu. Adapun jenis tutur meliputi kategori kebahasaan seperti prosa, puisi, dongeng, legenda, doa, kuliah, iklah dan sebagainya.

Kedelapan variabel komponen tutur Hymes tidaklah sepenuhnya digunakan dalam setiap pemerian fenomena pemakaian bahasa dalam dimensi sosial budaya, tetapi tergantung pada fokus variabel yang diperhatikan. Dalam kenyataannya, kedelapan variabel komponen tersebut tidak selalu hadir secara bersamaan dalam sebuah peristiwa tutur tertentu. Untuk itu pembatasan variabel komponen tutur yang sesuai dengan fokus pemerian pemilihan bahasa Jawa dan bahasa Indonesia dalam penelitian ini sangatlah diperlukan.

Dalam kajiannya terhadap pemakain tingkat tutur bahasa jawa Poedjosudarmo (1979) juga telah memaparkan komponen tutur. Konsep komponen tutur yang disampaikan oleh Poedjosudarmo sebetulnya merupakan pengembangan konsep Hymes (1972) tentang peranan komponen tutur dalam rangka komunikasi. Beberapa pegnembangan yang dilakukan oleh Poedjosudamo disesuaikan dengan situasi kebahasaan di Indonesia, khususnya di Jawa. Akibatnya adalah bahwa komponen tutur dalam versinya menjadi lebih rinci dan lebih luas, melebihi jumlah komponen tutur yang dipakai sebagai dasarnya.

Perbedaan komponen tutur yang dikemukakan oleh Poedjosudarmo dan Hymes terletak pada jenis dan jumlah komponen. Jika Hymes (1972) mengemukakan delapan komponen tutur, maka Poedjosudarmo menyebut tiga belas butir komponen tutur. Ketiga belas komponen tutur itu dapatlah disebutkan di sini satu demi satu:
(1) pribadi penutur,
(2) warna emosi,
(3) kehendak tutur,
(4) angggapan penutur terhadap mitra tutur,
(5) kehadiran orang ketiga,
(6) nada dan suasana bicara,
(7) adegan tutur,
(8) pokok pembicaraan,
(9) sarana tutur,
(10) urutan bicara,
(11) ekologi percakapan,
(12) bentuk wacana, dan
(13) norma kebahasaan lainnya.

Poedjosudarmo (1979) lebih menaruh perhatian terhadap aspek peserta tutur, yang tampak dengan dikemukakannya lebih dulu secara berturut tutur komponen: pribadi penutur, warna emosi, kehendak tutur, anggapan terhadap mitra tutur, dan kehadiran orang ketiga. Sedangkan Hymes (1972) tampak lebih menaruh perhatian pada latar tutur, yang merupakan faktor yang banyak berpengaruh terhadap bentuk tutur.

Nanang Riyadi

/nanangriyadi

“Hanya satu tanah air yang dapat disebut Tanah Airku. Ia berkembang dengan usaha, dan usaha itu ialah usahaku.”
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?