Semakin Dijelek-jelekkan, Jokowi Semakin Populer

22 April 2012 07:10:37 Dibaca :

Berbicara Jokowi memang tak ada habisnya, setiap hari di Kompasiana ini selalu diisi artikel tentang Jokowi, bahkan beberapa hari belakang pojok aktual dan terekomendasi berisi tentang Jokowi beserta lika-likunya, baik tulisan itu mendukung, mencibir, menghina, ataupun hanya mendamaikan. Tetapi kondisi ini tentu akan menguntungkan Jokowi sendiri karena sebagai Calon Gubernur namanya semakin populer di masyarakat.

Serangan pada Jokowi akhir-akhir ini berkaitan dengan empat hal yang menurut saya tidak substantif sebagai indikator syarat calon pemimpin yang sukses, pertama berkaitan dengan komentarnya yang mengaku bosa dengan calon pemimpin daerah yang menggunakan baju koko dan peci sebagai pembentuk citra religius, kedua adalah masalah jari metal yang sama dengan jari metal persaudaraan Yahudi,  ketiga adalah tentang Istri Jokowi yang ikut dalam Rotary Club dinilai sebagai kepanjangan tangan Yahudi, dan yang keempat berkaitan dengan mobil kampanye yang dinilai menyalahi janji Jokowi-Ahok yang tidak akan beriklan di baliho, poster, karena merusak lingkungan, , dan serangan-serangan lain saya pikir berakar pada empat masalah ini.

Saya sebetulnya beranggapan bahwa tidak ada untungnya menanggapi keempat serangan tersebut karena pada prinsipnya tidak ada dalam teori manapun bahwa keempatnya sebagai syarat seseorang mampu menjadi pemimpin yang baik, tetapi secara garis besar saya akan memberikan jawaban dalam versi saya sendiri.

Masalah pertama tentang Jokowi yang dianggap menghina etnis Betawi sudah saya tuangkan dalam tulisan ini http://politik.kompasiana.com/2012/04/19/hilang-akal-menghadang-jokowi-xenophobia/ yang intinya adalah pernyataan itu bisa dimaknai bahwa Jokowi bosan dengan baju koko yang dijadikan sebagai pencitraan religius calon pemimpin daerah, tidak ada secara tegas Jokowi menyebut etnis tertentu, dan menurut Ridwan Saidi bahwa baju koko bukan baju etnis betawi, tetapi berasal dari Cina.

Masalah yang kedua tentang pencurian star kampanye dengan menggunakan mobil kampanye. Saya berdiskusi dengan teman yang kebetulan menjadi Relawan Jakarta Baru, mereka-mereka lah yang memiliki ide pembuatan mobil tersebut dengan beberapa pertimbangan, pertama adalah mobil itu didapatkan dengan meminjam mobil operasional Partai Gerindra yang tidak terpakai sehingga mereka hanya tinggal mencetak spanduk gambar Jokowi-Ahok seharga ratusan ribu saja. Pertimbangan berikutnya adalah mobil tersebut tidak akan dikenakan pajak reklame sehingga murah meriah dan dapat ditempatkan dimana saja karena bisa dipindahkan. Yang ketiga adalah alasan Jokowi-Ahok tidak memasang Baliho dan poster karena mereka menilai pemasangannya dapat merusak lingkungan seperti yang kita temukan di pohon-pohon, tiang listrik, tembok, jembatan, dan lainnya sehingga penggunaan mobil kampanye tidak menyalahi prinsip tersebut.

Berkaitan dengan pencurian star kampanye yang perlu dipahami adalah mereka (Jokowi-Ahok) masih sebagai bakal calon, karena belum ditetapkan oleh KPUD DKI Jakarta sebagai calon gubernur sehingga belum ada aturan yang mengatur masa kampanye. Bakal calon gubernur DKI Jakarta yang kita kenal sekarang diperbolehkan berkampanye sesuka hati karena memang belum diatur, dan sah secara hukum .

Kembali kepada masalah popularitas Jokowi, dirinya memiliki kemampuan komunikasi massa yang sangat baik, pencitraan dirinya pernah teruji ketika 90% masyarakat Solo memilihnya kembali menjadi walikota, sebuah rekor pencapaian pilkada yang luar biasa. Dan keempat masalah seperti yang dituduh-tuduhkan kepada Jokowi-Ahok tidak pernah nampak selama kepemimpinannya mempengaruhi penilaian masyarakat terhadap kinerjanya yang memuaskan. 90% adalah angka jaminan seseorang memiliki kualitas yang baik, jika dalam perkuliahan angka 90 adalah A+ yang menjamin seorang mahasiswa itu berhasil mengikuti perkuliahan dengan sangat memuaskan.

Teruji di Solo pencitraan Jokowi di DKI Jakarta sama suksesnya, hanya dalam waktu 5 bulan Cyrus Network merilis bahwa Elektabilitasnya 31,8 persen. Angka tersebut menjadi menakutkan bagi pasangan lain karena memiliki trend terus meningkat. Misalnya kalau saya bandingkan sendiri antara jumlah "liked" antara kandidat DKI 1 di Facebook tanggal 22 April 2012 pukul 31.50 WIB, berdasarkan page yang memperoleh liked terbanyak diantara page yang sama menunjukkan data

Jokowi - Ahok = 18.541  https://www.facebook.com/Jokowi.Basuki

Fauzi Bowo - Nahrowi = 2.846    https://www.facebook.com/bangfauzibowo

Hidayat Nurwahid - Didik = 6,879  https://www.facebook.com/HidayatDidik

Faisal Basri - Biem = 4.018  https://www.facebook.com/faisalbiem

Hendardji - A Riza =  424 https://www.facebook.com/bangadji

Alex - Nono = 47   https://www.facebook.com/alexnonojkt

Data diatas tidak secara otomatis menunjukkan bahwa Jokowi-Ahok akan menang dalam pemilu, tetapi paling tidak menunjukkan bahwa diantara calon lain, Jokowi-Ahok menang telak dari sisi popularitas di facebook.

Soal keraguan akan sepak terjang Jokowi-Ahok memang wajar, begitupun ketika awal menjadi Walikota Solo Jokowi mengaku puluhan kali didemo masyarakat, bahkan kantor walikota pernah diamcan dibakar. Seperti diketahui kantor walikota Surakarta pernah 10 kali dibakar massa. Selain Jokowi begitupula Ahok, sebagai bupati minoritas di kampung melayu yang mayoritas penduduknya Muslim, bahkan pernah diancam tidak boleh menjadi inspektur upacara karena dituduh kafir. Tetapi toh sampai saat ini kalau kita bertanya pada masyarakat dua daerah ini yang mengalami langsung kepemimpinan mereka belum pernah ada komentar negatif yang saya terima, kalau saudara kompasiana yang baik punya cerita tentang mereka selama menjabat baik ataupun buruk, sangat bermanfaat jikalau berbagi di lembar komentar yang disediakan, Wallahua'lam

Salam, Jakarta Baru. :)

Najib Yusuf

/najibyusuf

Seorang Mahasiswa, bercita-cita menjadi Presiden...
Yakin Usaha Sampai
http://www.bangnajib.com
http://najibyusuf.blogspot.com

Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?