Putus Asa? Jangan!

02 Oktober 2011 11:13:00 Dibaca :

Banyak orang bilang hidup ini bagaikan roda yang berputar mengiringi waktu, selalu berputar dan akan terus berputar. Mereka menyadari betul bahwa hidup ini tak boleh disia-siakan karena hidup adalah hal yang tidak bisa diulang, putaran roda itu takkan bisa berbalik arah. Namun ada beberapa dari mereka mengalami kegagalan dalam hidupnya dan akhirnya membiarkan dirinya menjalani hidup yang sia-sia. Mereka berpikir bahwa keterjerumusan mereka takkan bisa diperbaiki atau dikembalikan pada jalur yang semestinya.


Banyak kita jumpai orang-orang khususnya muda-mudi yang hidupnya seperti penuh dengan keputusasaan, tidak punya harapan dan cita-cita dalam hidup karena disebabkan beberapa kegagalan. Mereka menikmati hidup -yang sebenarnya indah ini- tanpa hal yang berguna baik bagi dirinya maupun orang lain. Mereka sudah beranggapan bahwa hidup mereka memang sudah selesai sampai disini dan hanya ajal yang mereka tunggu.


Fenomena seperti ini sangat memprihatinkan mengingat mereka adalah penerus generasi bangsa yang diharapkan mampu membawa nasib bangsa menuju arah yang lebih baik. Negara harus bernasib lebih baik di kemudian hari. Tapi bagaimana bangsa ini akan berbenah kalau melihat potret para generasi penerusnya yang tidak menunjukkan sikap partisipasi aktif dalam membangun bangsa dan negara?


Perlu diingat bahwa hidup ini adalah kesempatan bagi umat manusia untuk menentukan bagaimana dia akan menikmati masa pensiunannya di dunia dan akhirat kelak. Kehidupan dunia memberi manusia peluang sebesar-besarnya untuk berbuat segala sesuatu untuk mencapai kesejahteraan, kebahagiaan dan ketentraman yang diidam-idamkan. Sebaliknya, dunia juga memberikan jalan untuk menjadi sengsara dan merana. Dunia memberi pilihan-pilihan yang harus dipilih dengan keputusan yang matang.


Dunia tidak dapat disalahkan apabila ada seorang penghuni yang merasa dikecewakan olehnya, ia hanya menyediakan sarana untuk hidup seperti sandang, pangan dan papan. Kegagalan yang terjadi selama ini dapat dikatakan selalu berawal dari kesalahan, dan kesalahan itu terdapat pada siapa yang melakukan dan menjalani.


Walaupun dunia ini memang berputar dan tak akan kembali, itu tidak berarti bahwa yang buruk akan selamanya buruk dan yang indah akan selamanya indah. Taman indah yang pada mulanya bisa dinikmati setiap orang mungkin saja menjadi pekarangan buruk rupa yang bahkan tidak bisa ditengok lagi. Tapi berawal dari kawasan yang jelek dan kumuh dan disertai usaha untuk memperbaikinya, suatu daerah mampu disulap menjadi hunian yang menyejukkan dan menyenangkan.


Mohammad Nailur Rochman

/nailurrochman

Mahasiswa Jurusan Hubungan Internasional
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?