HIGHLIGHT

Anugerah Terindah Setelah Mengalami Tujuh Kali Kegagalan Masuk Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia

27 Februari 2011 11:10:00 Dibaca :

Cerita ini adalah kisahku yang memberikan pelajaran berharga dalam hidupku sebelum aku menemukan karakter diriku yang sebenarnya. Cerita ini diawali dengan mimpi masa kecilku yang terus tumbuh hingga aku remaja. Mimpi ini bukanlah mimpi hasil karanganku, tapi ia adalah mimpi yang dikarang oleh lingkungan sekitarku. Ia tumbuh melalui pengalaman hidupku.


Aku adalah Nadya, seorang anak perempuan yang memiliki keinginan besar untuk menjadi seorang dokter. Semenjak kecil impianku tentang kedokteran telah melekat erat dibenakku sehingga ketika sekolah menengah atas, aku pun memutuskan untuk belajar biologi dengan sungguh-sungguh. Sampai pada akhirnya aku pernah memperoleh juara dua dalam olimpiade biologi di kotaku. Hal itu membuat semangatku tentang kedokteran semakin membara.


Banyak hal yang menjadi faktor penyebab kenapa aku ingin sekali menjadi dokter. pengalamanku ketika menemani uo (sebutan nenek untuk ibu dari ayahku) di rumah sakit menjadi salah satu alasannya. pada saat itu kami sekeluarga tidak memiliki keluarga dekat atau kerabat yang berprofesi sebagai seorang dokter, sehingga kami tidak memiliki orang yang dapat diandalkan untuk menjadi tempat bertanya dalam kondisi yang seperti itu. Sampai pada akhirnya dokter menyarankan uo segera dioperasi secepatnya, karena anus atau lubang feses beliau tidak dapat berfungsi yang menyebabkan kotoran akan semakin menumpuk di dalam perut. Namun, pada akhirnya uo dipanggil oleh Yang Maha Kuasa pasca operasi tersebut. Pada saat sebelum operasi ingin sekali rasanya aku bisa membantu uo dan menjadi dokter bedah yang masuk ke ruang operasi tersebut, tapi sayang aku masih duduk di sekolah menengah atas pada waktu itu. Lama aku menatap pintu ruang operasi tersebut sedari berpikir kalau nanti ketika orang tuaku dan keluargaku sudah tua, aku ingin sekali menjadi dokter yang bisa merawat dan menjaga mereka semua.


Disamping itu, aku pernah mengalami pengalaman ditolak oleh seorang perawat UGD di sebuah rumah sakit hanya gara-gara penyakitku demam tinggi dan batuk-batuk. aku tidak punya pilihan tempat lagi selain ke sana pada waktu itu, karena waktunya telah larut malam. Pada akhirnya perawat tersebut memperbolehkanku diperiksa oleh dokter setelah lebih dari lima belas menit membentak ibuku. Tiba-tiba sikapnya berubah drastis menjadi sangat ramah ketika ayahku yang sedang menunggu di luar ruangan masuk ke dalam UGD. Perawat tersebut langsung menyalami tangan ibuku meminta maaf dan bahkan menyuguhkan minuman hangat untuk kami. Hal ini terjadi hanya karena ayahku adalah pejabat di rumah sakit tersebut. Saat itu aku sangat mengecam sikap tenaga medis yang seperti itu dan mulai bertekad dalam diriku bahwa aku ingin memperjuangkan pentingnya bersikap ramah dan melayani pasien dengan baik ketika aku menjadi seorang dokter suatu saat nanti.


Suatu waktu, aku pernah memeriksakan mataku ke sebuah rumah sakit umum pemerintah yang lumayan besar di ibukota. Setelah melewati beberapa tahap pemeriksaan, akhirnya aku dihadapkan langsung dengan dokter spesialis mata di rumah sakit tersebut. Dokter itu pun kemudian menuliskan beberapa resep tanpa berkomentar sepatah katapun tentang kondisi kesehatan mataku. Kebetulan waktu itu aku mengalami beberapa keluhan yang ingin aku sampaikan ke dokter tersebut. Aku pun mulai memberanikan diri bertanya walaupun aku menyadari tatapan mata dokternya yang sangat dingin. Alhasil, aku sangat kecewa dengan jawaban dokter tersebut, karena ia hanya menjawab iya atau tidak di setiap pertanyaanku. Sungguh baru kali ini aku bertemu dengan dokter yang sangat dingin seperti itu dan hal ini tentunya menambah deretan alasanku mengapa aku sangat ingin sekali menjadi seorang dokter.


Sebenarnya masih banyak list faktor-faktor penyebab yang menjadi alasanku ingin menjadi seorang dokter, namun tidak semuanya bisa aku ceritakan dalam tulisan ini, tapi yang paling penting adalah setiap alasan itu selalu menjadi pupuk penyubur semangatku untuk meraih gelar dokter.


Setelah lulus Sekolah Menengah Atas, aku langsung terbang ke kota Bandung untuk menempuh bimbingan belajar menjelang seleksi penerimaan mahasiswa baru perguruan tinggi negeri. Tujuanku hanya satu yaitu lulus seleksi masuk Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Impianku masuk FK UI dikarenakan cara berpikirku yang beranggapan bahwa jika ingin menjadi seorang dokter, maka aku harus masuk fakultas kedokteran terbaik di negeri ini, karena pekerjaan dokter sangkut pautnya adalah dengan manusia dan fatal akibatnya jika melakukan kesalahan, sehingga pada waktu itu aku hanya percaya pada Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, walaupun pada akhirnya aku sadar bahwa semua fakutas kedokteran itu adalah yang terbaik.


Langkah pertama yang aku tempuh adalah belajar dengan sungguh-sungguh dan mempersiapkan semuanya dengan matang. Aku banyak membahas soal-soal SPMB sepuluh tahun yang lalu sampai pada akhirnya saking bersemangatnya aku membeli seri soal tiga puluh lima tahun.


Dua minggu setelah itu aku mengikuti Ujian Masuk Bersama (UMB 2008) di Jakarta. Sudah pasti pilihan pertamaku adalah FK UI. Sehari sebelum ujian aku sempat berkunjung ke fakultas kedokteran UI di salemba. Ketika memasuki gerbang kampus tersebut, aku sempat berdoa dalam hati kecilku yang paling dalam semoga suatu saat nanti langkahku akan setiap hari memasuki gerbang ini.


Sebulan kemudian, hasil UMB diumumkan melalui media cetak dan online. Aku tidak berani melihat hasilnya pada hari pengumuman hasil tersebut dikeluarkan, sehingga aku baru melihatnya sehari kemudian. Akupun mulai memasukkan digit angka nomor peserta ujianku, setelah meng-klik tanda submit, jantungku berdetak kencang dan pandangan mataku seperti kabur seketika. Dalam beberapa detik hasilnya pun keluar dan bahuku langsung tertunduk lemas, karena kalimat yang muncul adalah “Maaf Anda tidak terdapat di daftar yang diterima”. Air mataku tidak berhenti mengalir ketika membaca kalimat tersebut sehingga aku tidak sadar bahwa aku sedang berada di tempat umum yaitu warnet. Tiga hari lamanya aku membutuhkan waktu untuk menyembuhkan kesedihanku tersebut. Setelah kejadian itu, aku selalu menangis ketika membaca bukuku, karena aku selalu menuliskan keinginanku untuk masuk fakultas kedokteran UI di setiap halaman pertama buku-bukuku tersebut.


Setahun kemudian, aku tetap bertekad untuk masuk fakultas kedokteran UI walaupun sebelumnya aku pernah lulus di sekolah ilmu teknologi Hayati ITB. Namun hal itu aku korbankan karena aku masih memiliki keyakinan untuk lulus seleksi masuk FK UI di kesempatan berikutnya. Aku mulai menata kembali persiapanku menjelang seleksi masuk UI (SIMAK UI 2009) padahal di saat yang bersamaan aku sedang menjalani masa studi di salah satu program studi  di UI.


Simak UI pun aku ikuti dengan penuh antusias. aku mempersiapkannya dengan matang, sehingga kuliahku di UI agak sedikit terbengkalai. Namun, usahaku yang kedua kali ini gagal lagi. Kekecewaanku akan kegagalan yang kedua memang cukup besar, tapi tidak sebesar kegagalanku yang pertama.


Semangatku semakin tidak pernah pudar, aku masih memiliki keyakinan tinggi untuk masuk FK UI. Akhirnya pada tahun itu juga aku memutuskan untuk mengambil bimbingan belajar di salah satu tempat yang dekat dengan lokasi kampusku di UI Depok. Aku mengikuti bimbel tersebut dengan serius bahkan aku rela mengorbankan kuliahku, sehingga kerap kali aku bolos kuliah.


Akhirnya aku mengikuti Ujian Masuk Bersama (UMB 2009), namun sayang kesempatanku yang ketiga ini gagal lagi. Aku agak sedikit kecewa, tapi rasa kecewaku sekarang lebih sedikit berkurang dibandingkan dengan rasa kecewa akan kegagalan yang kedua.


Setelah tiga kali mengalami kegagalan masuk FK UI, semangatku tidak pernah berkurang, bahkan semakin besar. Apalagi di tempat bimbel aku banyak bertemu dengan teman-teman sesama mahasiswa ui yang masih ingin mencoba FK UI. Tentu hal ini sangat menjadi pemicu bagiku dan memberikan kesadaran padaku bahwa banyak orang yang serupa denganku.


Aku mengikuti Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri 2009. lokasi ujianku yang sangat jauh tidak menjadi penghalang bagi langkahku. Dengan penuh istiqamah, aku mengikuti ujian SNMPTN 2009 ini dengan baik, namun kali ini sayang lagi aku masih belum berhasil lulus FK UI. Semangatku agak sedikit menurun, sebab ini sudah tahun kedua aku gagal masuk FK UI, padahal aku masih memiliki tanggung jawab dengan kuliahku di UI.


Setelah empat kali gagal masuk FK UI, akupun mulai berpikir untuk serius di jurusan yang sedang aku jalani. Keyakinanku akan FK UI mulai memudar, karena sepertinya sudah terlalu terlambat bagiku apabila aku mencoba lagi masuk FK UI setelah dua tahun lulus SMA.


Suatu pagi ketika aku dalam perjalanan berangkat ke kampus. Tiba-tiba aku bertemu dengan seorang nenek yang matanya hampir buta di dalam sebuah angkot jurusan depok. Nenek itu hendak berobat ke Puskesmas, tapi beliau tidak tahu dimana lokasi puskesmas berada. Akhirnya aku memutuskan mengantar nenek tersebut ke puskesmas sehingga aku terlambat satu jam masuk kuliah. Tapi aku tidak menyesal dengan keterlambatanku, karena perasaan lega mengantarkan nenek tadi ke puskesmas dengan selamat lebih menenangkan pikiranku. Melihat keadaaan nenek tadi yang sudah sangat renta mengingatkanku dengan salah satu alasanku ingin menjadi seorang dokter yang bercita-cita merawat dan menjaga kedua orangtuaku dan keluargaku ketika tua nanti. Aku mulai mengkaji ulang untuk mencoba kembali masuk FK UI. Akhirnya aku memutuskan untuk mengikuti ujian masuk FK UI di tahun berikutnya.


Aku mulai belajar lagi bahkan lebih giat dari pada tahun-tahun yang sebelumnya dan aku pun mengikuti SIMAK UI 2010. Sebenarnya banyak orang di sekelilingku yang kurang mendukung niatku kali ini, kecuali orang tuaku dan beberapa sahabat yang selalu memberikan dorongan. Hal ini disebabkan rasa khawatir mereka akan diriku yang telah melalaikan kuliah akuntansiku sementara usiaku juga semakin bertambah. Aku sangat menghargai kekhawatiran mereka, namun semangat juangku yang begitu tinggi ingin masuk FK UI selalu mendorongku agar tidak pantang menyerah. Aku bertekad akan terus berjuang sampai kesempatanku habis.


Hufh.... Ternyata aku gagal lagi masuk FK UI di SIMAK UI 2010. Ini adalah kegagalan yang kelima kalinya. Tapi aku heran dengan semangat diriku yang tidak pernah pudar. Setelah mengalami kegagalan yang ke lima, semangatku semakin berkobar-kobar dan aku pun memutuskan ikut UMB 2010. Namun, hasilnya aku gagal lagi. Ini berarti kegagalan yang keenam bagiku.


Akhirnya, kesempatanku untuk masuk FK UI tinggal satu kali lagi, yaitu SNMPTN 2010. Karena ini adalah kesempatan yang terakhir, aku benar-benar serius dan sungguh-sungguh mempersiapkannya. Menurutku ini adalah persiapanku yang paling maksimal apabila dibandingkan dengan yang sebelum-sebelumnya.


Satu bulan kemudian, Pengumuman hasil SNMPTN 2010 pun keluar. Aku tidak sabar ingin melihat hasil tesku segera. Setelah memasukkan no ujian, aku menemukan kembali kalimat yang selalu menghantuiku di setiap detik-detik pengumuman seleksi yaitu “Maaf nama anda tidak terdapat di daftar yang diterima”. Aku terdiam sejenak setelah membaca kalimat itu, tapi aku heran air mataku tidak keluar setetespun dan perasaan kecewa sama sekali tidak menghampiri diriku saat itu. Ya Tuhan, kenapa dengan diriku. Semangatku semakin bertambah setiap kali aku mengalami kegagalan.


Semenjak itu aku mulai menata kuliahku yang agak terbengkalai. Targetpun mulai kurancang dengan penuh pertimbangan. Akhirnya aku mengikuti kuliah dengan serius. Disamping itu aku juga aktif mengikuti berbagai kompetisi mahasiswa. Aku banyak belajar dari kegagalan-kegagalanku sebelumnya.


Tujuh kali mengalami kegagalan masuk FK UI tidak membuatku menjadi orang yang penakut untuk berusaha kembali. Dari pengalaman ini aku menyadari bahwa profesi dokter tidaklah cocok dengan diriku dan aku meyakini bahwa banyak jalan menuju tempat untuk menjadi orang yang berguna di dunia ini. Kegagalan hanyalah serangkaian ujian dalam mencapai tujuan. Bahkan kegagalan tersebut dapat menjadi motivasi terbesar untuk melakukan misi selanjutnya. Banyak hikmah yang dapat aku petik dari pengalaman ini, yaitu anugerah dari Tuhan Yang Maha Kuasa yang telah memberikan aku kesempatan untuk merasakan pahitnya kegagalan. Hal ini memang sederhana, tapi anugerah tersebut berpengaruh kuat dalam diriku, sehingga aku tidak takut lagi untuk menyapa kegagalan dalam hidupku. Karena aku benar-benar meyakini bahwa kegagalan itu adalah bakal buah untuk memperoleh keberhasilan, maka janganlah pernah membenci sesuatu yang baik untuk dirimu seperti sebuah kegagalan.




Nadya Fitri

/nadyafitri

I'm what on my mind and i like opening friendship
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?