Carut Marut Moralitas Bangsa

14 Juni 2012 21:57:36 Dibaca :

Indonesia terkesan negara yang demokratis, kebebasan berpendapat sering disuarakan oleh banyak pihak. Bagi orang awam, mungkin hal tersebut menjadi suatu kemerdekaan yang selama ini dinanti. Namun, bila kita sejenak merefleksikan, maka kita menyadari bahwa sebenarnya kita sedang kembali dijajah dengan kepentingan-kepentingan orang dalam sistem yang sebenarnya sedang menjalankan aksinya.


Melihat dari kenyataan, dalam pemilihan pemimpin dan pejabat-pejabat negara ini, munafik apabila kita mengatakan proses pemilihan tersebut terjadi secara jujur dan adil. Keuntungan demi keuntungan pribadilah yang terus menerus coba diukir. Mengesampikan etika serta moralitas nampak menjadi hal yang biasa dalam pembetukan citra. Strategi politik yang menonjol dalam hal ini adalah lagi-lagi uang.


Situasi yang berkembang saat ini adalah siapa yang beruang dialah yang mampu memegang peranan politik dalam negara kita. Perkembangan industri media juga meramaikan permainan para aktor politik. Bagaimana tidak? Isu-isu yang ditampilkan media terkesan lebih mencitrakan kepentingan seseorang maupun kelompok bahkan pemerintah itu sendiri. Sangat sedikit media yang bersifat netral. Industrialisme dalam media yang menuntut modal besar, serta persaingan antar medialah yang membuat media saat ini menjadi tidak berimbang. Tidak jarang faktualitas dikemas sedemikian rupa agar tidak menjatuhkan citra si pemilik kepentingan. Hal tersebut di-setting sedemikian rupa agar berita yang tersamarkan itu dapat diterima masyarakat secara apik.


Mengais keuntungan dari hak rakyat untuk kesejahteraan pribadi merupakan hal sangat tidak manusiawi. Tapi nampaknya para pengais rejeki terlihat mudah dan santai melakukannya tanpa memiliki beban moral sedikitpun. Terbukti saat ini yang menjadi trend news di berbagai media adalah mengenai kasus korupsi subsidi pemeritah bagi masyarakat miskindan dana milik negara serta kasus suap. Pelakunya pun variatif, tidak melulu kaum Adam yang masuk dalam drama politiik negara kita saja yang melakukannya. Akan tetapi ada juga pelaku korupsi wanita. Padahal kita tahu bahwa wanita notabene adalah sosok yang lembut dan memiliki perasaan peka terhadap kemanusiaan.


Sungguh miris melihat nasib rakyat yang akhirnya harus dipermainkan demi kepuasan dan kepentingan para penguasa bangsa. Berbenah, itu yang seharusnya terus menjadi bahan refleksi bagi para petinggi yang menduduki tampuk pemerintahan. Akan tetapi itutidak mungkin akan terjadi apabila penanaman moral yang benar tidak dilakukan. Agar perikepentingan dalam negara kita ini dapat berubah menjadi perikemanusiaan yang jelas mengutamakan rakyat.


Terkesan sepele, namun memiliki pengaruh yang penting, hati nuranilah yang dalam hal ini kembali berperan. Penanaman nilai moral yang mengutamakan kejujuran, kepedulian, bertanggung jawab, dan adil haruslah tertanam pada setiap benak para pejabat kita. Akankah salah satu usaha penanaman moral dari pemerintah bagi generasi muda yaitu memasukkan pendidikan anti korupsi kedalam setiap jenjang pendidikan berjalan dengan mulus? Semoga demikian...

Nadia Febriana

/nadiafebriana

mencari sahabat, bukan untuk membuat kita nyaman, tetapi memaksa kita aagar terus dapat berkembang
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?