Cerpen

Insanity

20 April 2017   19:04 Diperbarui: 20 April 2017   19:12 56 1 0

Pagi itu, Nada sedang duduk di bangku buatan kesayangannya. Ia selalu bangun pagi untuk merasakan udara sejuk dari depan kamarnya. Tidak, Nada tidak sedang berada di rumahnya. Bukan, bukan rumah yang sesungguhnya, ia sedang berada di Rumah Sakit Terabithia, dia berada di bangsal di mana anak-anak hingga remaja dirawat di sana dengan berbagai macam penyakit dari mulai penyakit fisik hingga psikis.

Udara pagi itu begitu sejuk hingga Nada memutuskan untuk mengenakan cardigan teracotta di luar piyama rumah sakitnya. Nada mengidap schizofrenia, penyakit di mana orang tidak bisa membedakan mana realitas sosial yang nyata dan mana yang khayalan. Sebenarnya, orang tuanya tidak tega meninggalkan Nada di rumah sakit, tetapi justru di sini Nada merasa bahwa bukan hanya ia yang berbeda, tetapi semua orang di sini memang berbeda satu sama lain.

Di rumah sakit, Nada memiliki teman akrab bernama Rachel yaitu anak kecil berumur 6 tahun yang mengidap kanker hati stadium akhir. Nada merasa nyaman berteman dengan Rachel yang sudah ia anggap sebagai adiknya sendiri. Rachel adalah anak kecil yang sangat multi talented, di sekolah ia sangat berprestasi untuk anak seumurnya. Tetapi ketika kanker merenggutnya, Rachel tetap semangat  dan hal itulah yang membuat Nada salut dengannya.

Tetapi, layaknya pengidap schizofrenia lainnya, Nada juga memiliki teman khayalan yang menurutnya temannya ini nyata layaknya Rachel dan teman-teman lainnya. Teman khayalannya ini bernama Stephen. Bocah kecil berumur 7 tahun yang selalu “tanpa sengaja” mengajak Nada untuk melukai dirinya dan orang lain.

Stephen pernah mengajak Nada bermain pisau hingga Nada melukai pergelangan tangannya. Ia juga pernah berlarian di lorong rumah sakit yang menyebabkan Nada berteriak karena takut dengan kenakalan Stephen dan yang paling parah Stephen pernah mengajak Nada menyelam hingga 5 menit di kolam rumah sakit yang menyebabkan Nada kehabisan napas.

Sore itu, Nada sedang melamun di kamarnya, dan Rachel tiba-tiba menghampiri.

“Kak, hari ini aku mau kemo. Kakak temenin aku ya...” kata Rachel.

“Oh oke siap. Aku beres-beres kamar dulu ya....” kata Nada.

Hari itu dengan sweater biru dan celana kotak-kotak, Nada berangkat ke kamar Rachel untuk menemaninya menjalani kemoterapi. Nada terkadang sedih melihat Rachel yang sangat kurus dan botak. Tetapi, Nada juga semangat melihat kesembuhan Rachel dan ia termotivasi untuksembuh juga.

Setelah selesai menjalani kemoterapi, Rachel mengajak Nada memakan taco buatan mereka bersama.

“Kak, kalau nanti Rachel sembuh, kakak mau kan main ke rumah aku?” kata Rachel

“Ya jelas dong.. tiap hari aku bakal main ke rumah kamu” kata Nada

Tak lama setelah mereka makan, Nada mengajak Rachel untuk berjalan-jalan di sekitar rumah sakit. Hari itu, mereka berjalan-jalan di taman sambil memetik bunga dan buah. Sampai ketika mereka bosan, akhirnya Nada kembali mengajak Rachel ke kamarnya di lantai 8.

“Hel, sekarang kamu tidur ya istirahat. Biar ga pusing.” Kata Nada.

“Iya kak. Kakak juga ya. Biar cepet sembuh” kata Rachel.

Tiba-tiba, Nada merasa dicolek dari atas lift oleh Stephen yang mengajaknya bermain ke lantai tertinggi rumah sakit yaitu di lantai 20. Setelah, Nada mengantar Rachel ke kamarnya, akhirnya Nada ke atas untuk menghampiri Stephen.

“Stephen, kita mau ngapain disini?” kata Nada.

“Mau maen lompat tinggi kak. Kakak berani ga?” kata Stephen.

Nada merasa diajak ke pinggir gedung dan ia siap melompat dengan badan menghadap ke belakang. Tiba-tiba ada seorang laki-laki sedang merokok yang melihat kejadian tersebut dan dengan spontan menarik Nada.

“Eh, lo gila ya! Jangan bunuh diri lah! Jangan nekat!” kata laki-laki itu.

“Gue ga gila. Gue lagi main sama temen gue namanya Stephen. Lo siapa sih?” kata Nada.

“Gue Kevin, lo pasien di sini? Lo sakit apa?”.

“Gue Nada. Iya gue pasien. Gue sakit schizofrenia. Katanya”.

“Oh i see.... o ya adek gue juga pasien di sini. Namanya Rachel”.

“Loh lo kakaknya Rachel. Kenapa baru sekarang lo jenguk dia?”.

“Ceritanya panjang. Gue deket dan sayang banget sama dia. Gue ga tega ngeliat dia sakit jadi gue milih doain dia dari jauh, tapi ternyata gue salah, dia butuh gue...”.

Ketika mereka sedang berbincang, tiba-tiba semua dokter dan suster menghampiri Nada dan di belakang mereka, Nada melihat Stephen yang sedang mencibir pada semua dokter dan suster dan seketika Nada tertawa keras dan kehilangan kesadarannya, lalu dokter menyuntiknya dengan obat bius dan membawanya kembali ke kamarnya.

Setelah seharian Nada tidak sadarkan diri, dokter yang menangani Nada yaitu dokter Faza mendatangi Kevin untuk berbincang tentang Nada.

“Halo, Kevin kakaknya Rachel ya?” kata dokter Faza.

“Oh iya dok saya kakaknya Rachel” kata Kevin.

“Kevin, tadi saya liat kamu sempet ngobrol sama Nada ya? Menurut kamu Nada gimana?”.

“She is smart. Dia beda dari cewe yang pernah saya temuin dok. Saya ga percaya kalau dia pasien sampai kejadian tadi itu”.

“Nah itu dia, ga banyak orang yang bisa berkomunikasi selancar itu sama dia. Jadi saya boleh minta tolong ga? Sembari kamu menjaga adek kamu, kamu juga bantu saya jaga Nada supaya dia tidak kambuh lagi”.

“Oh boleh dok, tadi dia emang sempet cerita tentang Stephen. Mungkin dengan adanya saya sedikit demi sedikit Nada bisa melupakan Stephen”.

Besoknya, Stephen yang selalu bergaya ala anak motor lengkap dengan tato dan antingnya, mendatangi kamar Nada. Kali itu, Nada sedang tidak berada di kasurnya tetapi sedang di bathtub kamar mandi tanpa menutup pintunya.

“Hai Nad, masih inget gue kan? Gue boleh masuk?” kata Kevin.

“Oh hai. Inget dong! Kakaknya Rachel kan? Iya masuk aja. Gue ga lagi mandi kok. Ini emang tempat duduk gue aja kalo lagi bosen” kata Nada.

Sambil menonton tv, mereka berbincang dengan akrab dan Kevin pun melepaskan salah satu antingnya untuk diberikan ke Nada.

“Nih Nad, kalo gue belom dateng dan Stephen udah dateng, bilang aja lo mau main sama gue. Ok? Lo inget aja anting gue ini. Ok? Gue pasti dateng kok setiap hari”.

“Ok... janji ya lo bakal jenguk gue tiap hari”.

Ternyata, hari esoknya Kevin datang terlambat dan Nada merasa diajak oleh Stephen untuk memakai anting dari Kevin yang membuat kupingnya mengalami pendarahan. Kevin pun menyesal, dan hari itu ia membiarkan Nada beristirahat dan ia berjanji untuk menemani Nada besoknya dan menjaganya untuk tetap sadar.

Keesokan harinya, Nada mengenakan kaus abu-abu oversized dengan kaus kaki selutut serta sendal slippernya dan mendatangi kamar Rachel dan kebetulan Kevin sudah ada di sana dengan kemeja jeansnya yang membuatnya tampak gagah.

“Eh Nada... hari ini kita main di taman yuk! Acel mau ikut kan?” kata Kevin.

“Iya ka. Ayo main!” kata Rachel.

“Maen apa?” kata Nada

Akhirnya, Kevin mengajak Nada dan Rachel bermain di taman, mereka main gendong-gendongan dan Nada terlihat sangat bahagia tidak seperti biasanya. Hari itu, mereka bermain hingga kelelahan dan Kevin pun kembali ke kamar Rachel dan tidur bersama Rachel di kasurnya. Nada melihat mereka berdua dan merasa tenang bahkan ia merasa bahagia.

Tanpa sadar, Nada terlalu lama mengamati mereka dan Kevin pun terbangun dan merangkul Nada untuk ikut tidur bersama mereka. Kevin pun bercerita bahwa ia sangat suka dengan binatang dan hal itulah yang membuat mereka nyambung. Tiba-tiba di tengah pembicaraan mereka, Nada merasa melihat Stephen yang sedang merokok dan ia ingin ikut merokok. Akhirnya, Nada izin ke kamar mandi dan Kevin tidak merasa curiga sampai akhirnya ia menemukan Nada tidak bisa bernapas karena sebenarnya Nada memang tidak pernah merokok karena mengalami gangguan pernapasan.

Setelah seharian Nada beristirahat, besoknya Kevin mengajaknya berkeliling rumah sakit tanpa Rachel. Saat itulah, Kevin mencium kening Nada dan berbisik bahwa suatu hari Nada akan sembuh dan menjadi wanita yang hebat. Saat itu juga Nada merasa seperti di pantai dan merasa tenang seakan-akan tidak pernah merasa takut dengan apapun. Mungkin ini yang dinamakan cinta.

Seminggu kemudian semua terasa lancar dan Nada mulai melupakan Stephen sampai akhirnya ia mendapat berita bahwa Rachel sudah tak dapat tertolong. Saat itu juga Kevin tidak memedulikannya dan memilih memperhatikan adiknya sendiri. Dan lalu Nada kembali merasa sendirian dan ia memilih berdiam di kamarnya sambil memeluk seluruh benda yang bisa dipeluknya sambil menangis.

Tak lama berselang, Rachel dikabarkan meninggal dan Kevin tak pernah kembali lagi ke rumah sakit untuk menemui Nada, dan penyakit Nada kini semakin parah hingga akhirnya ia ditaruh di bangsal yang mengharuskannya mendapat perhatian khusus. Selama ini cinta yang membuatnya menjadi waras, tetapi ketika cinta itu pergi ia akan kembali ke kehidupan imajinasinya.