Siti Muzzayana
Siti Muzzayana Mahasiswa

An Engineer, A Writer, DTG UGM 2012, carpe diem, enjoy the present, follow me @mza_yna

Selanjutnya

Tutup

Humaniora

Menumbuhkan Sikap Toleransi Beragama Dalam Menggunakan Media Sosial

14 September 2016   19:56 Diperbarui: 14 September 2016   20:09 1546 0 0
Menumbuhkan Sikap Toleransi Beragama Dalam Menggunakan Media Sosial
Sikap Toleransi dalam Perbedaan Beragama

Ada nasihat bijak yang terselip dalam pidato Dalai Lama XIV saat menerima penghargaan nobel perdamaian di Oslo, Norwegia, tahun 1989 silam. Dia mengatakan, “Kita hidup bersama di planet yang kecil ini. Kita harus belajar hidup harmonis dan damai, baik dengan sesama maupun alam. Ini bukan mimpi melainkan sebuah kebutuhan.”

Nasihat tersebut perlu diterapkan di negara yang mempunyai kemajemukan perbedaan suku, bahasa, agama dan golongan, seperti di Indonesia. Dengan lebih dari 546 bahasa, 1300 suku, enam agama yang diakui negara dan berbagai macam golongan yang dipunyai masyarakat Indonesia, peristiwa intoleransi pasti bisa terjadi setiap saat.

Menurut beberapa riset atau survei terkait toleransi, Indonesia mendapat nilai buruk. The Wahid Institute mencatat, pada tahun 2009 – 2015, tingkat kekerasan berbasis agama atau intoleransi berfluktuasi, tapi cenderung meningkat. Pada tahun 2009, ada 121 peristiwa, sedangkan tahun 2015 ada 190 peristiwa. Tak hanya itu, Social Progress Index 2015 menempatkan Indonesia di peringkat ke-123 dari 134 negara untuk variabel toleransi dan inklusivitas.

Tidak sulit memang untuk mencari contoh intoleransi yang terjadi di Indonesia. Hampir setiap hari, dengan mudahnya ditemukan di media sosial. Ketika ada informasi berita yang memuat masalah SARA (Suku, Agama, Ras dan Antar golongan) netizen dengan bebas memberikan komentar mereka yang tidak menghormati agama atau pihak lain.   

Hal ini tentu saja menjadi PR besar bagi kita sebagai warga negara untuk menciptakan kehidupan yang damai berdampingan sesuai dengan motto Indonesia itu sendiri : Bhinneka Tunggal Ika, berbeda tetap satu. Salah satunya adalah bijak dalam menggunakan media sosial untuk menjaga kerukunan umat beragama di Indonesia. 

Berikut lima alasan pentingnya menumbuhkan sikap toleransi beragama dalam menggunakan  media sosial :

Pertama, ikut mengamalkan Pancasila sila yang pertama “Ketuhanan yang Maha Esa.”

Bangsa/Rakyat Indonesia harus menyatakan kepercayaan dan ketaqwaannya terhadap Tuhan Yang Maha Esa. Maka dari itu, konsekuensinya adalah mengembangkan sikap dan perilaku saling menghormati dengan penganut kepercayaan yang berbeda – beda antar masyarakat. Sikap toleransi beragama termasuk implementasi dalam Pancasila yang pertama demi mewujudkan Pancasila sila ketiga yang berbunyi : “Persatuan Indonesia.”

Kedua, jangan lupa kalau kita bersaudara.

Walaupun berbeda daerah, bahasa, suku, agama dan golongan, kita semua adalah tetap warga negara Indonesia yang harus saling menghormati.

Ketiga, jangan melupakan sejarah kebebasan berpendapat di media.

Sebelum abad ke 16, kata-kata tertulis belum menjangkau banyak orang. Oleh karenanya, wajar jika orang tidak pernah begitu dipengaruhi oleh kekuatan kata-kata tertulis. Tapi, percetakanlah yang memungkinkannya. Ditambah perpaduan antara semangat reformasi dan renaissance yang mempercepat prosesnya. Setelah seabad kemudian, tepatnya di akhir abad 17, hak asasi manusia dan warga negara dideklarasikan oleh PBB (Perserikatan Bangsa-Bangsa) yang salah satunya pasal 11 berbunyi kebebasan menyampaikan pendapat adalah hak asasi manusia yang berharga tinggi. Tanda bahwa kata-kata tertulis mulai diperhatikan karena pengaruhnya.

Lain halnya di Indonesia yang mempunyai sejarah kelam dalam kebebasan berpendapat, bahkan setelah kemerdekaan. Yaitu selama era orde baru. Padahal dalam UUD 1945 pasal 28 telah dirumuskan warga Indonesia berhak untuk kebebasan mengutarakan pendapatnya.

Setidaknya 32 tahun perjuangan para aktivis dan kritikus demi terwujudnya kebebasan berpendapat di masyarakat. Perjuangan yang menelan korban jiwa yang sampai saat ini kasusnya belum terungkap.

Keempat, dengan terciptanya kerukunan antar beragama dalam masyarakat, Indonesia bisa menjadi contoh negara lain.

Saat melakukan lawatan ke Indonesia (11/8) tahun 2015 lalu, Menteri Luar Negeri Vatikan, Pietro Parolin, menyatakan kekagumannya pada toleransi di Indonesia. Dia berpendapat bahwa Indonesia bisa menjadi contoh negara lain untuk urusan toleransi antar umat beragama.

Kelima, ingat jika kita melakukan penistaan agama akan dikenakan hukuman.

Kasus penghinaan agama di Indonesia diatur dalam UU No. 1/PPNPS/1965 tentang Pencegahan Penyalahgunaan dan/atau Penodaan Agama, yang menyatakan :

Setiap orang dilarang dengan sengaja di muka umum menceritakan, menganjurkan dan mengusahakan dukungan umum, untuk melakukan penafsiran tentang sesuatu agama yang dianut di Indonesia atau melakukan penafsiran tentang sesuatu agama yang dianut di Indonesia atau melakukan kegiatan-kegiatan keagamaan yang menyerupai kegiatan-kegiatan dari pokok-pokok ajaran agama itu.”

Seseorang yang melanggar pasal di atas, akan dikenakan hukuman dengan  pidana penjara selama-lamanya lima tahun.

Lalu, apa yang dilakukan jika ingin menjadi pengguna media sosial atau netizen bijak yang toleran beragama?

Kita harus mengaplikasikan kelima alasan diatas dalam menggunakan media sosial. Caranya sangat mudah, yaitu dengan menerapkan sikap dibawah ini ketika menggunakan media sosial :

• Tidak membuat konten yang menyinggung agama atau golongan tertentu sehingga dapat menimbulkan kebencian yang bisa mengakibatkan perselisihan

• Jangan mudah percaya dan menyebarkan informasi yang tidak akurat di media sosial

Belajar Menghormati Perbedaan
Belajar Menghormati Perbedaan

• Bersikap bijak dalam memberikan komentar (menghindari memberikan komentar ‘pedas’ )

Bijak Berkomentar
Bijak Berkomentar

• Jangan mudah terpancing emosi dalam menyerap informasi baru

• Menghindari ‘debat kusir’ untuk membuktikan siapa yang paling benar pendapatnya

Menghindari Debat
Menghindari Debat

• Bila dirasa perlu, laporkan orang yang sengaja membuat konten yang menyinggung agama kepada pihak yang berwajib

Harapan

Kehidupan universal damai dan harmonis yang didamba Dalai Lama XIV saat berpidato menerima penghargaan Nobel Perdamaian tahun 1989 di Oslo, Norwegia, bukanlah hal yang sulit bagi kita. Mengingat bahwa media melahirkan fenomena asumsi efek langsung atau direct-effect assumption, yang mana media mampu menjangkau dan mempengaruhi pemikiran masyarakat. Ketika semakin banyak pengguna media sosial, akan semakin meluas jangkauan efeknya. Apalagi, di era sekarang dimana masyarakat disuguhkan kemudahan mengakses informasi lewat media yang ada. Pada dasarnya, makna dari kebebasan pendapat itu sendiri adalah milik masyarakat untuk memperoleh informasi bukan untuk saling memecah kerukunan umat beragama di masyarakat.

---

Sumber gambar : www.qureta.com

Ilustrasi : Olahan Penulis

https://www.facebook.com/muzalea

https://twitter.com/mza_yna