Muslikhul Hadi
Muslikhul Hadi

ketika semua orang tertawa aku terkadang diam diam jadi bahan tertawaan diam melawan tanpa kekuatan diam tidak selamannya tenggelam diam itu emas diam itu mencoba bersabar

Selanjutnya

Tutup

Tetaplah Menjadi Rembulan

17 Februari 2017   19:14 Diperbarui: 17 Februari 2017   19:32 64 0 0

Aku masih ingat benar waktu itu. Sepulang sekolah, kuajak dirimu tetap tinggal dikelas, jangan pulang dulu. Ada yang ingin kubicarakan dan mungkin tidak penting untuk seorang yang masih duduk di SMA. Namun, bila terus seperti ini dengan tetap memilih memendam hanya membuatku gelisah. Berangkat dari imaji seorang anak sma yang konyol kujanjikan akan melamarmu jika waktunnya tiba. Sejujurnya aku tak pernah menjamin akankah harapan ini bakal terjadi. Tapi dalam hati menggaung kata "semoga" terus-mennerus.

Rembulan adalah pengandaian yang serasi untukmu. Sinarnya yang anggun membuat banyak kaum adam mengaggumi. Betapa beruntun diri ini yang telah kau akui, meskipun dua kali kutanyakan perasaan, tak pernah kau balas secara gamblang. Dan, kedekatan kita dianggap seperti telah terikat janji. Kulihat kau menerima. Gelang tiga warna kau beri arti menjadi simbol, meskipun arti itu hasilmu mengarang. Namun, karena kau yang membuatnya, mungkin itulah yang membuatku merasa sangat berharga.

Satu jam menuju janji pertemuan pertama kita setelah satu semestet terpisah di dua kota berbeda, dari dua ujung berlawanan. Meskipun berlawanan, percayakah kau kalau yang berlawanan dalam permainan filsafat sebenarnta dekat. Mungkin kalimat ini seperti sebuah pelarian unik. Setidaknya, kamu tertawa juga ketika kukirimkan dalam bentuk pesat singkat waktu itu.

Empat puluh loma menit menuju pertemuan. Aku tidak merencanakan dengan wah. Kupakai kaps oblong gelap seperti biasa. Yang terpenting aku bersih dan bertemu denganmu dapat leluasa. Tempat kita nanti mungkin sederhana. Bahkan lebih sederhana dari kantin tempatmunkuliyah. Tapi, aku tak nisa bayangkan di hari yang pas ini dapat beratap langit dengan rembulan bundar bersinar.

Apakah kamu berpikir aku bakal membawa bunga? Aku tidak akan membawa bunga. Aku tidak akan membawa coklat untukmu dihari yang kata banyak remaja sekarang disebut hari kasih yang identik dengan coklat. Aku hanya berpikir, puaskah simbol coklat yang punya raaa aneh itu menyimbolkan kemanisan crita kita. Apakah bungan dapat menyimbolkan keindahan rasa ini. Mereka semua tidak cukup. Bahkan untuk hari ini pun yang dikatakan jari kasih tidak akan mampu menyimbolkannya. Kalau cintaku hanya tersimbol satu hari dari sekian hari yang kujalani, berarti kita terbatas dalam sebuah peristiwa. Apalagi berkenaan dengan sesuatu yang istimewa.

Lima menit menuju pertemuan. Aku ragu apa kau akan berani datang sendiri, byasannya kau selalu bersama temanmu. Bahkan setiap aku mengajakmu menyendiri harus meminta izin dengan teman-teman sekelas kita. Tak maslah bila nanti kau mengajak mereka. Kau mengundang mereka. Beberapa detik memandangmu sudah cukup. Mungkin pipimu bakal lebih tembem san dapat kulihat bayang garis tuwa pasuryanmu.

Apa kau akan terlambat? Hanya terssisa beberapa menit. Kau adalah orang yang sangat mennepati waktu. Aku paham. Tapi kira-kira jika nanti beberapa menit kau terlambat tidak masalah. Pokonya kamu bisa datang. Apalagi demi diriku.
"Hai....!" Suara yang tak asing mengggaing dari arah belakang.
Iya, kau datang sangat tepat waktu. Kurang beberapa detik menuju waktu pas perjanjian.
"Aku tidak telat, Bukan?" Katannya sembari duduk bersila.
Hembus nafas menghembus, mengosongkan paru-paru. Beberapa kali kuamati sekitarmu dan tidak ada orang yang kunal. Hanya orang lalu lalang dengan kepentingan masing-masing. "Kau benar-benar sendiri?" Tanyaku memastikana.
"Iya, tadi aku ajak cika, tapi dia sudah ada janji lain. Akhirnya datang sendiri, nanti kamu harus anterin aku, ya!"
Entahlah, apa dia berkata sesuai kenyataan atau untuk menutup-tutupi keinginannnya. Ah, kenapa aku malah berpikir macam-macam. Bukankah malah bagus.
"Kabarnya bagaimana? Sudah ppunya gandenga belum?"
"Alah pertanyaan apa itu? Aku belum berpikiran mencari gandengan saat ini."
Dia tersenyun kecil.
"Bagaimana kabarmu? Ceritalah keadaan surabaya, kita ada banyak waktu untuk mendengar cerita serumu di Surabaya."
Sekali lagi dia tersenyun kali ini sedikit lebih lebar lagi ditambah kepala yang menggeleng. "Beginilah aku, ka! Masih seperri dulu. Aku sedikit lebih kurusan.
"Terlalu seriua dalam studi." Kusambar kalimatnya.
"Aku terlalu sering disakiti. Ka!"
"Siapa yangenyakitimu?"
"Sudah tiga kali dalam enam bulan alu gagal menjalin hubungan. Bayangkan tiga kali. Bagaimama menurutmu?"
"Berarti tidak jodoh."
"Mesti begitu!" Sambarnya cemberut.
Obrolan kami terhenti, pedagang mengantarkan pesananku satu gelas kopi susu dan satu gelas teh tarik kesukaanya. Meliaht teh tarik itu dia langsung terpingkal-pingkal, sepertinya sangat terkejut aku masih hafal kebiyasaanya pesan teh tarik jika jajan di warung, atau kalau tidak ada susu putih hangat.
"Bagaimana hubunganmu berakhir secepat itu."
"Sebelumnya maaf, hlo! Mereka hanya mengagumiku dan sempat pula kubuka hatiku, namun seketika itu aku mengetahui kalau semua sudah berpacaran. Mana mungkin aku dijadikan simpanan."
"Oh, jadi belum sampai...."
"Nah! untungnya aku kritis juga. Hehe! Seperti saat ini. Apakah aku akan percaya begitu saja kalau kau masih sendiri?"
"Baik aku ngaku. Sempat beberapa kali, tapi tak berani! Hanya kau yang sempat ungkapi rasa ini waktu itu!"
"Banyak pria seperti dirimu. Ka! Mereka menganggap perempuan sepertti rembulan. Tidak pernah memikirkan rasa dari harapan terdalam..."
"Wah saya protea kalau pemikiranmu aeperti itu!"
"Hah....!?"
Dengan melihatnya dan mendengar kalimat pendeknya aku mulai paham. Bahwa sesuatu telah terjadi dan sempat membuatnya sakit hati. Namun apa itu aku hanya mengira-ira saja. Sebaiknya tak kutanyakan, akan lebih baik.
"Fa!" Kataku meminta perhatian lebih. "Perempuan itu pusaka bagi seorang laki-laki. Kata pak Pri, pria hebat akan bersanding dengan perempuan yang hebat. Rembulan itu indah dan tetaplah mengagumi keanggunan sinarnya."
"Ehm! Maksudnya begini. Tetaplah dengan rembulan yang bersama dengan malam. Meski aku belum kau jawab perasaanku dengan gamblang. Tapi aku memahamimu, sesuatu telah terjadi."
"Omong apa kamu!?"
Sial perkataannya membuatku trrsipu.
"Kapan aku menerimamu!?"
"Iya! Aku memang belum pernah kadi kasihmu."
Dengan lepas dia tertawa. Sampai seseorang berjarak beberapa meter menoleh, penasaran dengan apa yang kami rembug.
"Maaf, ka!? Kamu jadi salah tingkah. Ya!?"
"Oke. Masih seperti saat itu."
Hem. Dekik pipinya terlihat. Ah itulah keunikan lain yang semakin membuatku tak jenuh-jenuh memandanginnya.
Pembicaraan kami menkelajah keberbagai arah. Namun, satu hal menhenai perasaanku tetaplah mengambang tanpa arah. Malam ini aku mengambang dalam imajinasi. Kuajak diriku berbicara sendiri. Siapa peduli orang lain menertawakan.