sajak petualang

05 Februari 2011 09:30:02 Dibaca :
sajak petualang
petualang

Perjalanan tak berpenghujung membuatku jadi petualang yang tak mengenal lintang diantara jutaan rintang menantang. Dunia ini luas terbentang dengan alam raya yang tenang dikala semilir angin berdendang saat para mahluk saling sayang Waktu takkan pernah menghilang dan selalu berputar pantang sedari pagi hingga petang menemani sang petualang, menjelajahi gurun cadas nan gersang melewati samudra yang membentang mendaki ketinggian abadi para gunung lalu menyisiri hutan tak berbintang hingga melintas gurus pasir yang menjulang Bila hidup ini adalah hutang yang kan sia-sia terlelang ditangan pecundang dan kan jadi untung di pengalaman pedagang, apa yang akan kita kenang? disisa waktu yang telah hilang. Begitu pula pohon beringin kan rindang saat hujan bernyanyi riang menyapa akar kering yang kan roboh diterjang, kemarau panjang penantang Manusia bodoh hanya bisa bicara lancang tanpa ia mengerti makna kata tualang di mata tajam burung elang di mulut dingin beruang gunung dan hati tenang ikan laut saat badai bergoyang Akhirnya perjalanan ini berpenghujung saat nafas hanya tersisa di ujung hidung dan kaki mulai membujur terlentang Semua itu kan rapi terpampang di catatan akhir nan manis para petualang. Riyadh di musim semi

Musayka Reviros

/musayka

Saya adalah pengembara yang ingin selalu melangkah sampai ajal tiba. Dan saya adalah penuis lepas yang punya tujuan tanpa batas.
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?