HEADLINE

Narsisme dan Likecoholic

20 Oktober 2016 01:32:29 Diperbarui: 20 Oktober 2016 14:33:42 Dibaca : Komentar : Nilai :
Narsisme dan Likecoholic
Ilustrasi: laughingsquid.com - Asaf Hanuka

Di tengah arus sosial media yang kian populer di abad ke- 20 kemudian meringkus setiap orang untuk memasukkan identitas kedalam dunia virtual, muncullah banyak fenomena menarik untuk di bahas sebagai suatu acuan kajian fenomenologi masyarakat modern dewasa ini.

Dengan munculnya jejaring sosial (Social Network) membuat gelombang besar dalam masyarakat yang mempunyai hasrat untuk eksis ini menyalin identitas real mereka ke dalam profil ilusi yang kadang di rekayasa dalam bentuk info dalam Social media.

Di dalam Social media terkadang kita jadi susah mengenal keaslian orang di balik profil. Kita hanya bisa mendefinisikan orang dengan melihat profil serta bentuk tulisan yang tak banyak di rekayasa untuk mendapat simpati serta membangun citra baik dirinya. Tak banyak penipuan terjadi akibat terlalu cepat orang menyimpulkan kebaikan seorang melalui status-status religi yang ia lantunkan.

Belakangan ini muncul istilah-istilah yang asing di dengar seperti istilah Likecoholic. Kata yang timbul dari dua gabungan suku kata yaitu Like dalam arti menyukai dan coholic yang di artikan pencandu, kata coholic ini di ambil dari kata Alcoholic yang berarti pecandu minuman beralkohol.

Kalimat ini menggambarkan tentang fenomena di mana orang mempunyai sebuah ketergantungan terhadap like, seakan status tanpa like seperti ibarat makanan tanpa garam (hambar). Beberapa orang lebih menyenangi ketika apa yang dia tuliskan mendapatkan ribuan like di dalam akun facebooknya, sebaliknya kemalasan akan timbul ketika apa yang ia tuliskan sedikit mendapat like dari teman facebooknya.

Dengan fenomena like ini orang- orang kebanyakan merekayasa diri mereka sedemikian rupa sehingga tampak baik di depan para Netizen agar supaya mendapat banyak like dan mendapat semangat baru untuk  membuat status baru. Sehingga terkadang “Aku bukanlah aku yang sebenarnya”.

Fenomena likecoholic ini tentunya tidak lepas dari sifat naluriah manusia yang memiliki hasrat “The will to exist” namun sifat naluriah manusia untuk terus eksis ini jika berlebihan bisa membuat ia menjadi narsis, sifat manusia yang narsis kemudian membentuk manusia menjadi selfish.

Jikalau manusia lebih cenderung selfish “egois” ia akan lebih banyak memutuskan sesuatu yang hanya menguntungkan dirinya sendiri. Tentunya keputusan yang hanya menguntungkan diri sendiri tidak akan baik bagi orang banyak dan ujung- ujungnya akan berdampak buruk bagi diri sendiri.

Seperti apa yang digambarkan di dalam kisah mitologi Yunani kuno ada seorang anak dewa bernama Narcissus, Ia memiliki wajah tampan dan rupawan sehingga membuat banyak peri dihutan terpesona dan jatuh cinta padanya. Tak hanya peri di hutan, bahkan banyak dewa dan pria pun mengagumi kerupawanan Narcissus. Narcissus yang menyadari ini membuat dirinya bangga dan angkuh.

Ia memang tak pernah merasakan jatuh cinta tapi ia senang jika orang- orang tergila- gila padanya. Bahkan ketika ada wanita yang tergila- gila padanya bisa membuat Narcissus semakin angkuh. Sehingga keangkuhan dari Narcissus pun mulai mengusik dewi Aphrodhite “dewi cinta”.

Di antara banyaknya peri yang mencintai Narcissus ada satu peri cantik jelita juga mencintai Narcissus. Echo namanya, namun Echo mempunyai kekurangan tidak bisa berbicara selain mengulang kalimat lain di dengarnya. Echo jatuh cinta pada pandangan pertama ketika bertemu dengan Narcissus di hutan.

Tak pernah dalam hidupnya Echo melihat pemuda setampan dan sesempurna Narcissus. Tapi karena malu untuk  menghampirinya Echo hanya mampu memandangi ketampanan Narcissus dari balik semak. Namun sayangnya hal tersebut di ketahui oleh Narcissus sehingga ia pun berteriak..

“siapa yang mengikutiku?”

Karna Echo tak bisa menjawab dan hanya bisa mengulang kata terakhir maka Echo hanya bisa bicara.

“mengikutiku”
“di manakah engkau? Tunjukan dirimu” KELUARLAH!! kata Narcissus.

Bersamaan dengan itu Echo muncul berlari kecil menghampiri Narcissus. Serta merta dengan angkuhnya Narcissus berkata.

“Pergilah, kau fikir aku menyukaimu! Dasar Tolol!
“Tolol!” ulang Echo sambil berlari pergi menjauh. Dengan kondisi hati yang hancur lebur.

Dewi Aprhodite yang mendengar hal ini tidak dapat lagi mentolerir tindakan Narcissus, ia menilai tindakan Narcissus telah menodai ketulusan cinta dari Echo. Maka hukuman sang dewi pun terjadi. Suatu hari ketika berjalan-jalan di hutan Narcissus merasa dirinya sangat haus, ia pun berjalan mendekati sebuah kolam kecil di tengah hutan.

Airnya begitu bening  sehingga terpantullah wajah Narcissus di atas permukaan air pada saat bersamaan putra dewi Aprhodite yang selalu taat perintah ibunya yaitu Eros melepaskan anak panah cintanya tepat pada hati Narcissus.

Narcissus pun hilang kesadaran bahwa wajah yang ia pandang di dalam air adalah wajah dirinya sendiri. Narcissus tak henti-henti memandang pantulan wajah di dalam kolam sehingga tanganya berusaha menyentuh bagian wajahnya di air, sehingga ia pun tertarik membungkukan badan untuk menciumnya.

Hari demi hari ia lalui dengan melakukan hal yang sama sehingga lupa makan dan minum sampai iapun menemui ajalnya dengan wajahnya yang pucat membayang di permukaan air yang tenang. Dengan kejadian yang terjadi pada Narcissus ini sekiranya kita bisa mengambil sebuah pelajaran bahwa berlebihan mencintai diri sendiri akan berdmpak buruk bagi diri kita. Fenomena Narsis dan Likecoholic ini timbul akibat pribadi yang terlalu mencintai sendiri, semoga dengan membaca ini  kita lebih meminimalisir sikap kita yang berlebihan mencintai diri sendiri.

Munazar Rafsanjani Muarif

/munazarmuarif

Mahasiswa Magister Ilmu Ekonomi Unsrat, Ketua Bidang pengembangan Anggota HMI cabang manado pada periode 2015- 2016.
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.
Daftarkan email Anda untuk mendapatkan cerita dan opini pilihan dari Kompasiana

Featured Article