HIGHLIGHT

Buah Juga Punya Raja dan Ratu

12 Januari 2012 00:09:32 Dibaca :
Buah Juga Punya Raja dan Ratu
Penjual manggis di daerah Batee Iliek Bireuen, yang menjual

Bukan hanya manusia yang mempunyai raja dan ratu, ternyata buah juga memiliki raja dan ratu. Buah yang bergelar raja itu adalah buah istimewa, sangat manis dan luar biasa harumnya. Saat ini, raja buah sedang panen besar sehingga disetiap sudut jalan ditemukan para penjual raja buah. Terus, buah apakah yang bergelar raja buah? Itulah durian, buah inilah yang bergelar raja buah. Lalu buah apa yang bergelar sebagai ratu? Buah yang bergelar ratu adalah manggis, buah berkulit hitam berisi ulas-ulas putih yang sangat manis. Walaupun kedua buah bergelar raja dan ratu ini sangat istimewa, ternyata tidak semua orang menyukainya. Seorang teman sempat muntah saat tercium aroma durian. Dalam dua bulan terkahir, kedua buah ini membanjiri pasar dengan harga yang cukup murah. Pohon-pohon durian milik warga yang berada di sepanjang jalan menuju ke kota Takengon terlihat buah durian bergelantungan yang mengeluarkan aroma luar biasa. Di depan kebun warga berdiri gubuk-gubuk sederhana yang menyediakan raja buah dalam berbagai ukuran dengan harga yang bervariasi. Apabila ukuran duriannya besar dan istimewa, harganya bisa mencapai Rp.50 ribu per buah. Sedangkan durian ukuran biasa (normal) harganya berkisar antara Rp.15 ribu sampai Rp.20 ribu per buah. Kalau belinya lebih dari sepuluh buah, oleh penjual diberi korting khusus. Ditengah udara dingin kota Takengon, dapat dijumpai sejumlah orang di trotoar jalan sedang menikmati durian dengan pulut panggang panas. Melihat mereka menyantap durian dengan lahapnya, membuat yang lain pada ngiler. Akhirnya, kompasianer pun nongkrong di trotoar jalan menikmati raja buah yang ditemani pulut panggang. Udara dingin kota Takengon yang suhunya mencapai 18 derajat Celcius tiba-tiba menjadi panas setelah menghabiskan satu buah durian. Warga yang ikut menikmati durian terlihat menyeka keringatnya saat membuka durian kedua. Raja buah ini membuat tubuh jadi berkeringat di tengah udara dingin. Si penjual durian menyarankan selesai makan durian, minum air yang diisi dalam kelopaknya. “Supaya tidak mabok pak,” kata Bang Amin, penjual raja buah itu. Lain lagi dengan Brahim yang menjual ratu buah. Sebelum kita menanyakan harga buah manggis yang bergelar ratu buah itu, dia sudah lebih dahulu bercerita tentang rasa buah manggis yang sangat manis. Dia juga menyarankan, jika makan manggis jangan dicampur dengan gula. Menurutnya, kalau manggis yang sangat manis itu dimakan dengan gula dapat menyebabkan mabuk. Wah, raja dan ratu buah yang sangat nikmat itu ternyata mempunyai efek negatif juga. Manggis yang sudah diikat itu diberi harga Rp.15 ribu, kalau ambil tiga ikat diberi harga Rp.50 ribu. Setiap satu ikat berisi sepuluh buah manggis. Menurut Brahim, kalau membeli manggis jangan pilih yang ada getahnya. Jika kulitnya sudah bergetah, biasanya isi buah manggis sudah kemasukan getah sehingga rasanya jadi kecut.

1326326883657869550
Buah durian bergelantungan di sepanjang jalan Takengon-Bireuen, saat musim durian tiba
Supaya mendapat ratu buah berkualitas, akhirnya diserahkan kepada Brahim untuk memilihnya. Buah manggis hasil pilihannya memang berkualitas nomor satu. Setibanya di rumah, isi buah manggis itu semuanya sempurna, putih dan manis. Berarti, si penjual tadi jujur sebagaimana komentar yang disampaikannya kepada para pelanggan. Menikmati raja buah, durian, dengan aroma yang sangat menyengat dan rasa yang cukup manis membuat tubuh berkeringat. Menyantap ratu buah, manggis, yang berkulit hitam dengan isi yang putih bersih juga memiliki rasa yang sangat manis. Luar biasa karunia-Nya kepada kita yang menyediakan buah-buahan berkarbohidrat tinggi sebagai makanan manusia. Alhamdulillah....

Syukri Muhammad Syukri

/muhammadsyukri

TERVERIFIKASI (BIRU)

Orang biasa yang ingin memberi sesuatu yang bermanfaat kepada yang lain.... tinggal di kota kecil Takengon
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?