Adil Menilai "Prof. Thamrin VS Munarman"

28 Juni 2013 18:20:14 Diperbarui: 29 Juni 2015 21:28:44 Dibaca : Komentar : Nilai : Durasi Baca :

Berita soal Munarman, Jubir FPI yang menyiramkan air ke muka Prof. Thamrin Amal Tomagola memang tengah nge-hit di dunia maya. Sudah barang tentu Munarman menjadi bulan-bulanan banyak pihak. Akan tetapi bila kita mau mencermati duduk persoalannya maka tampak jelas, baik Munarman, Prof. Thamrin, dan TVOne sama-sama layak dipersalahkan.


Pertama, Munarman jelas dikenal banyak orang sebagai pentolan dari satu ormas yang selalu diidentikkan dengan kekerasan, arogansi, dan anarkisme. Memang ormas yang lekat dengan kekerasan tak hanya FPI saja. Ada banyak tercatat ormas pemuda atau kedaerahan yang kondang lantaran memiliki cabang usaha bisnis otot. Namun berhubung FPI membawa-bawa bendera agama, jadilah ia sebagai ormas yang paling sering disorot. Maka tatkala Munarman yang dikenal bertemperamen keras bertemu wadah organisasi yang berideologi keras pula, semakin kloplah tentunya.


Kedua, Prof. Thamrin Amal Tomagola pernah “dikenang” karena lontarannya ketika berperan sebagai saksi ahli dalam kasus video porno Ariel. Kala itu sang professor mengatakan bahwa video porno Ariel-Luna-Tari yang tersebar di tengah masyarakat tidak meresahkan sebagian masyarakat Indonesia, karena sebagian mereka telah menganggapnya sebagai hal yang biasa. “Dari hasil penelitian saya di Dayak itu, bersenggama tanpa diikat perkawinan oleh sejumlah masyarakat sana sudah dianggap biasa. Malah hal itu dianggap sebagai pembelajaran seks”. Demikianlah ucapan Thamrin sebagaimana dilansir www.eramuslim.com. Meskipun akhirnya beliau menyatakan minta maaf kepada masyarakat Dayak, dari ucapan semacam itu dapat ditebak bukan, bagaimana pemikiran seorang Prof. Thamrin?


Ketiga, TVOne selaku pihak pihak yang mengundang kedua narasumber tersebut memang dikenal memiliki track record sebagai media yang gemar menyajikan debat kusir, panas, dan provokatif. Sebelum kasus “Munarman VS Prof. Thamrin” ini, program Debat TVOne (15/4) yang membahas Eyang Subur juga nyaris berakhir dengan baku hantam. Sepanjang acara berlangsung, terlihat jelas bahwa kedua belah pihak, baik yang pro dan kontra terhadap Eyang Subur begitu agresif melontarkan cacian dan makian satu sama lain. Tak ubahnya dua suporter bola yang saling ejek jelang pertandingan. Sungguh tak ada nilai edukatif yang layak dipetik. Agaknya tak berlebihan bila dikatakan bahwa para presenter TVOne yang memandu program-program “panas” tersebut tidak memiliki kemampuan memimpin apalagi mengendalikan forum dengan baik. Bahkan jauh beberapa tahun sebelumnya, baku hantam juga nyaris mewarnai program serupa yang dipandu dua presenter smart Tina Talisa dan Rachma Sarita yang kala itu masih menjadi bagian dari TVOne.


Dengan demikian, tak mengherankan manakala Munarman dan Prof. Thamrin yang latar belakang pemikiran keduanya saling bertolak belakang, dan dipertemukan oleh satu stasiun TV yang memiliki “catatan kelam” terkait debat kusir, maka hasilnya ya seperti itulah. Namun apapun itu, baik Prof. Thamrin maupun Munarman telah memetik buahnya masing-masing. Sang Profesor yang dulu pernah mengeluarkan pernyataan yang mengabaikan nilai-nilai agama, budaya, dan etika dalam kasus video Ariel telah memetik buah ucapannya tersebut dengan siraman air di mukanya dengan disaksikan jutaan orang. Seakan Munarman menyampaikan pesan kepada beliau, “Jaga ucapanmu Prof!” Sementara Munarman yang bertindak lancang kepada orang tua telah menerima sanksi sosial dari berbagai lapisan masyarakat, baik di dunia maya maupun di dunia nyata. Dan masyarakatpun justru tercerahkan secara tidak langsung bahwa Munarman dan institusinya (FPI) memang tidak merepresentasikan Islam. Sama halnya dengan ulah ormas yang mencatut identitas Betawi tapi tindak-tanduknya malah bertolak belakang dengan kultur Betawi yang religius. Tak kalah penting, semestinyalah semua ini menjadi pelajaran berharga bagi TVOne agar ke depannya mampu menggelar dialog, diskusi, dan debat yang lebih konstruktif serta edukatif. Sudah selayaknya jargon “Terdepan mengabarkan” diikuti pula dengan “Terdepan mencerahkan”, bukan malah “Terdepan memanaskan”!

KOMPASIANA ADALAH PLATFORM BLOG, SETIAP ARTIKEL MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.
LABEL sosok berita

NILAI :

Daftarkan email Anda untuk mendapatkan cerita dan opini pilihan dari Kompasiana

Featured Article