Menulis Setiap Hari

01 Juni 2013 13:07:03 Dibaca :

Catatan Much. Khoiri


=Jaring Literasi Indonesia=



Mengerjakan sesuatu secara istiqomah, ajek, dan teratur tidaklah ringan kecuali bagi orang pikiran dan hatinya khusyu dan memiliki hasrat (passion) yang kuat dalam sesuatu itu.


Demikian pun dengan menulis. Untuk menulis setiap hari, secara istiqomah, ajek, dan teratur benar-benar tidaklah ringan. Hanya mereka yang memiliki passion kuat dan ‘kekhusyukan’ kreatif saja yang mampu menikmati menulis setiap hari.


Orang yang mampu menulis setiap hari lazim memiliki passion yang sangat kuat berkat kecintaan dan panggilan jiwa untuk menulis. Menulis sudah dianggap sebagai “kewajiban” yang harus ditunaikan. Karena itu, akan berdosa apabila dia abai terhadap “kewajiban” diri. Sebaliknya, dia akan merasa mendapat “pahala” jika menunaikannya dengan istiqomah.


Sementara itu, “kewajiban” menulis malah berubah menjadi kegiatan yang nikmat ketika penulis benar-benar melakukan kegiatan menulis setiap hari. Bahkan, jika dia sudah mencapai “maqam nikmat” menulis, dia akan merasa bahwa menulis itu enteng dan mudah.


Penulis-penulis prolifik (overproduktif-kreatif) seperti James Paterson pastilah menulis setiap hari, mengingat dia bisa menulis 34 buku, 18 di antaranya masuk daftar Buku Terlaris versi the New York Times, dan empat di antaranya Bestsellers (Terlaris) dalam satu tahun. Wow, so fantastic!


Penulis negeri ini yang prolifik seperti Putu Wijaya dan Emha Ainun Nadjib juga bisa dianggap sebagai penulis yang menulis setiap hari. Tak usah jauh-jauh, alumnus Unesa, penulis muda prolifik Eko Prasetyo juga menulis setiap hari. Apa pun bisa menjadi sumber dan bahan tulisan yang enak dilahap.


Memang ada penulis berprofesi penuh sebagai penulis, sehingga dia mampu menulis setiap hari. Penulis profesional seperti ini mudah ditemukan di negara bagian Iowa (USA). Di Indonesia juga bisa kita temukan sejumlah penulis yang sepenuhnya menggantungkan hidupnya dari menulis.


Sementara, ada orang yang menekuni profesi tertentu dan sekaligus “merangkap” sebagai penulis. Mereka harus melakukan pembagian waktu (time management) dengan sangat bagus. Kelompok penulis seperti ini bisa ditemukan di Unesa, misalnya.


Hanya saja, “Kalau ada dosen yang sudah sibuk dan kehabisan daya akibat tugas akademik, tugas kelembagaan, dan berbagai tugas tambahan; lalu dia masih bisa menulis setiap hari, maka dia termasuk dosen yang gila!” begitu kata saya menjawab pertanyaan Eko Prasetyo beberapa hari silam, mengapa dosen-dosen yang ahli menulis tidak lagi menulis.


***


Semestinya kita perlu berguru kepada mereka yang menulis setiap hari, dan mempraktikkannya dengan sungguh-sungguh. Entah dari gagasan-gagasan yang mereka lahirkan, ataukah lewat inspirasi-inspirasi yang mereka sebarkan lewat penerbitan buku, artikel, atau karya kreatif.


Mudah-mudahan kita membudayakan membaca, agar kita kaya informasi, data, atau pengetahuan yang memperkaya tulisan kita. Mudah-mudahan kita juga rajin membuat catatan (note-taking) agar gagasan-gagasan yang berkelebat dapat segera direkam dengan baik sebelum kita tuangkan menjadi tulisan.


Selain itu, mudah-mudahan kita bisa menulis sesuai target atau timeline, melatih diri sedikit demi sedikit, atau menulis yang menyenangkan. Jika kejenuhan menyerang, kita juga perlu refreshing dengan kegiatan-kegiatan yang menyegarkan pikiran dan memperkaya tambahan ide. Olah-raga, menonton film, wisata, jalan-jalan di mal atau kebun adalah alternatif yang pantas dicoba.


Mudah-mudahan kita juga memiliki ketangguhan (perseverance), yng tahan godaan kemalasan atau “hiburan” yang melenakan dan memalingkan kita dari kegiatan menulis. Jika kita mampu mengalahkan godaan-godaan itu, peluang menulis setiap hari meluas dan melebar.


Satu hal jelas tidak boleh dilupakan. Ayo kita buat semboyan atau motto yang kita pasang di jidat, permukaan tas, pintu ruang kerja, dash-board mobil, dinding atau mana saja yang mudah dilihat dan diingat: “Menulislah Setiap Hari!”


Practice makes all things perfect. Hanya dengan menulis setiap hari dengan usaha keras, menulis akan menjadi kegiatan yang “lunak” dan mudah bagi kita. Mudah-mudahan.***



Hotel Santika


Yogyakarta, 1 Juni 2013.


Meretas Mimpi Lintas Generasi

Much. Khoiri

/much-khoiri

TERVERIFIKASI (HIJAU)

Penulis dan Dosen Sastra (Inggris), Creative Writing, Kajian Budaya dari Universitas Negeri Surabaya (Unesa). Trainer dan Perintis 'Jaringan Literasi Indonesia' (Jalindo). Alumnus International Writing Program di University of Iowa (USA, 1993); dan Summer Institute in American Studies di Chinese University of Hong Kong (1996). Kini menjadi Kepala UPT Pusat Bahasa Unesa. Anggota redaksi jurnal sastra 'Kalimas'. Karya-karya fiksi dan nonfiksi pernah dimuat di aneka media cetak, jurnal, dan online—dalam dan luar negeri. Buku-bukunya antara lain: "36 Kompasianer Merajut Indonesia" (ed. Thamrin Sonata & Much. Khoiri, Oktober 2013); "Pena Alumni: Membangun Unesa melalui Budaya Literasi" (2013); antologi "Boom Literasi: Menjawab Tragedi Nol Buku" (2014), buku mandiri "Jejak Budaya Meretas Peradaban" (2014) dan "Muchlas Samani: Aksi dan Inspirasi" (2014). Eseinya masuk ke antologi "Pancasila Rumah Kita Bersama" (ed. Thamrin Sonata, 2014) dan papernya masuk buku prosiding "Membangun Budaya Literasi" (2014). Menjadi penulis dan editor buku "Unesa Emas Bermartabat" (2014). Buku paling baru "Rahasia TOP Menulis" (Elex Media Komputindo, Des 2014).
Blognya: http://mycreativeforum.blogspot.com
dan
www.kompasiana.com/much-khoiri.
Melayani KONSULTASI dan PELATIHAN menulis karya ilmiah, karya kreatif, dan karya jurnalistik.
Alamat: Jln. Granit Kumala 4.2 No. 39 Perumnas Kota Baru Driyorejo (KBD) Gresik 61177.
Email: much_choiri@yahoo.com.
Kontak: 081331450689
Tagline: "Meretas Literasi Lintas Generasi"

Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?