Muazzin
Muazzin pelajar

Mahasiswa

Selanjutnya

Tutup

Mahasiswa Islam Indonesia Bangkitlah

10 Agustus 2017   20:17 Diperbarui: 10 Agustus 2017   20:33 101 0 0

Agama Islam di indonesia merupakan agama infor. Agama yang dinfor dari pusat peradabanya. Agam Islam pertamakali disebarkan ajaranya di timur tengan (Arab) secara khusus makah. Dimana negara ini adalah negara tempat kelahiran sang Revolusioner agama atau pembaharu Agama. Pembaharu (penyempurna) Agama dari agama sebelum datangnya Islam. Siapa gerangan sang revolusioner? Beliau adalah Rasullulah SAW. Al- Quran sebagai panutan (teladan) utama umat islam diWahyukan Allah SWT. Kepada baginda Muhammad Rasulullah SAW melalui perantara malaikat Jibril.

Perjuangan Rasullulah SAW patut dijadikan sebagi teladan umat manusia, lebih khususnya kaum muda atau yang biasa disebut sebagai mahasiswa, untuk berjuang. Berjuang dalam menegakkan kebenaran, keadilan dengan jujur dan amanah. Islam adalah Agama rahmatanlilalamin harus diperjuangkan oleh umat Islam sendiri. Karena itu, mahasiswa Islam Indonesia yang berkecimpung di dunia Kampus dengan nuansa akademis, lebih eloknya jika tidak melupakan esensi Islam rahmatalilalamin. Islam sebagai rahmat bagi selurh alam. Sebagai mahasiswa Islam melatih perilaku dan pikiran serta tidakan untuk memberi manfaat bagi lingkunganya. Manfaat bagi diri sendiri, keluarga, masyarakat Bangsa dan Agamanya.

Sebagai mahasiswa Islam jangan sampai terpuruk dengan sikap hedonis lingkungan. Akan tetapi harus peka terhadap apa yang ada disekitarnya. Peka dalam arti belajar memanfaatkan apa yang ada dilingkunganya sebaik mungkin. Banyak sekali kaum muda muslim atau mahasiswa Islam yang terpuruk dalam ilusi-ilusi yang dapat menjerumuskan diri pada lembah kegelapan. Seperti mengkonsumsi narkoba, minum-minuman keras, tawuran dan hal-hal lain yang dapat merugikan dirinya.

Sebagai mahasiwa Islam harus bangkit untuk konstruksi peradaban baru, yang mana mahaiswa Islam tidak hanya mampu dalam ilmu agama saja namun, semangat intelektual dan keilmuan umumnya pun tidak dilupakan. Seperti yang diketahui dalam teori-teori yang berkembang dalam bidang ilmu alam maupun sosial lebih banyak pelopornya dari tokoh-tokoh non Islam sendiri. Padahal ratusan tahun yang silam, Islam pernah memiliki peradaban yang bernama masa keemasan Islam. 

Tokoh-tokoh pada masa ini snagat berpengaruh dalam dunia keilmuan sampai hari ini dan banyak dikaji oleh para tokoh-tokoh besar. Dengan keberhasialan umat Islam terdahuhulu masih relevan untuk dijadikan acuan untuk bangkit dalam bidang keilmuan. Sehingga  mahasiswa Islam mampu merumuskan teori-teori keilmuan yang sebenarnya sudah tertuang dalam Al-Quran, walau dalam mengakajinya perlu pemahaman secara konteks terhadap makna dari ayat dalam Al-quran sendiri.

Indonesia sebagai negara yang penduduk mayoritasnya beragama Islam, menjadi peluang bagi umat muslim lebih khususnya mahasiswa Islam untuk bangkit membangun peradaban baru. Peradaban yang penuh dengan kejujuran, bertanggung jawab atas ideologinya sebagai umat Islam dan ideologiny sebagai warga Negara Indonesia. Peradaban tidak akan tercapai ketika oarang-orang yanga berada dalam lingkungan dimana peradaban itu dibangun terlena dengan kemajuan. Baik kemajuan zaman, yang diwarnai dengan berkembang pesatanya teknologi, pikiran dan lain-lain. Kemajuan ini dimanfaatkan untuk dijadikan sebagai peluang untuk membangun peradaban baru. 

Peradaban yang penuh dengan nuansa keilmuan dan ahlakul karimah. Baik ilmu agama maupun umum. Indonesia sebagai Negara yang mayoritas penduduknya beragama Islam patut sekali untuk membangun peradaban baru. Namun peradaban itu tidak akan tercapai, ketika umat Islam lebih khususnya mahasiswa hanaya bisa menerima atas realita yang ada. Dalam artian hanya bisa menikmati namun tidak mampu untuk membuat. Hanya bisa mengakaji tanpa bisa merumuskan teori.

Seperti yang diketahui sering kali kita sebagai mahasiswa muslim terlena dengan kemajuan. Seperti kemajuan teknologi. Kemajuaan teknologi sering digunakan suntuk hal-hal yang manfaatnya sanagat sedikit sekalai dibandingkan untuk menjadikan kemajauan teknologi sebagai peluang untuk bisa membangun perdaban baru. Ketika peradaban modern mampu membanagaun peradabannya dengan ilmu , kenapa tidak dengan Indonesia. Namun seringkali sebagai mahasiswa Islam Indonesia silau dengan kemajuan peradaban modern sehingga dalam membangun peradaban penglihatanya rada-rada suram dengan silaunya cahaya peradaban modern.

Bangkitlah mahasiswa Islam Indonesia, mari bangun peradaban di Bangsa ini. Tentu Indonesia jauh akan terlihat lebih bermartabat di pandangan Negara lain ketika warganegara Indonesia secara umum mahasiswa Islama Indonesia secara khusus, dalam realita sehari-harai terus-menerus untuk belajar dan berusaha membenarkan apa yang benar, besikap adil, jujur, dan bertanggung jawab atas amanah yang diberikanya. Mahasiswa sebagai regenerasi Bangsa ini terus menerus untuk belajar menjadi moderat, memeperjuangkan keadilan, dengan jujur dan amanah. Jika ingin Bangsa ini akan menjadi perdaban yang berkilau melebihi mas. 

Yang akan menjadikan negara lain silau. Bukan lagi warga Negara Nangsa ini yang silau terhadap kemajaun di negara lain. Ketika mahasiswa sebagai regenerasi bangsa ini bisa adil, jujur amanah dan moderat, kedepanya ketika diberikan tanggung jawa oleh warga Negara Bangasa ini mereka mampu menahkodai Banagsa ini sesuai dengan harapan dan cita-cita Bangsa ini.

Cita-cita yang tertuang dalan Pancasila dan UUD 1945. Sebagai mahasiswa diharapkan sebagai solutif atas problematika yang terjadi di Bangsa ini. Yang mana kita mampu menggunakan nalar keritis yang membangun.  Jika hari ini di hadapan kita semua sebagai mahasiswa, banyak terlihat hiruk piuknya bangsa ini, menjadi tugas bersama untuk membenahinya. 

Tentu usaha sekecil apapun yang dilakukan pemuda (mahasiswa) untuk Bangsa, akan sangat bermanfaat. Seberat apapun jua masalah yang dihadapi bangsa ini jika diberikan solusi bersama, akan usai juga. Mahasiswa, pemerintah birokrasi dan seluruh elemen harus tetap berintegrasi dalam membangun Bangsa ini. Tentu sekali yang dikedepankan adalah kepentingan (kemaslahatan) bersama, bukan kepentingan pribadi. Jayalah Bangsaku, jika pemudanya sadar. Sadar dengan realita Bangsanya. Wallahua'lam.