Felix Tani
Felix Tani profesional

Sosiolog kampungan, petani mardijker, penganut paham "mikul dhuwur mendhem jero", artinya memikul gabah hasil panen di pundak tinggi-tinggi dan memendam jerami dalam-dalam di lumpur sawah untuk menyuburkan tanah.

Selanjutnya

Tutup

pilihan headline

Jangan Pernah Membuang Sebutir Nasi

17 Juli 2017   09:34 Diperbarui: 17 Juli 2017   12:06 2761 15 6
Jangan Pernah Membuang Sebutir Nasi
Hamparan padi menguning ini berasal dari butir-butir benih kecil (Dokpri)

"Jangan ada sebutir nasipun terbuang." Itu teguran kakekku dulu, tahun 1960-an, kalau di piringku tersisa beberapa butir nasi.

"Sebutir nasi itu akan menangis karena gagal menunaikan baktinya. Dia telah telah mengorbankan kesempatan hidupnya untuk hidupmu. Mengapa tak kau hargai itu?" Lanjutnya membuat aku merasa salah.

Saya yakin bukan hanya kakekku yang pernah ngomong begitu. Orangtua tempo dulu  lazimnya seperti itu.  Selalu menegur anak yang menyisakan butir-butir nasi di piringnya.

Sekilas kesannya mungkin cerewet. Cuma soal satu dua butir nasi yang terbuang, kok tegurannya serius banget. Dalam dan menusuk, begitu.

Sebenarnya ada penjelasan untuk nasihat yang terkesan cerewet dan reseh itu. Setidaknya ada tiga penjelasan yang bisa dikemukakan.

Pertama, penjelasan makna mitologis. Orangtua tempo dulu, juga petani sekarang, meyakini padi itu adalah perwujudan Dewi Padi. Dewi yang mengorbankan hidupnya demi menghidupi manusia. Karena itu, membuang sebutir nasi dama artinya menyia-nyiakan pengorbanan Dewi Sri. Bisa kualat akibatnya.

Dewi Padi yang paling lazim dikenal namanya adalah Dewi Sri dalam budaya tani orang Jawa. Atau Nyi Pohaci Sanghyang Asri dakam kultur Sunda. Tapi di berbagai etnis nusantara sebenarnya terdapat juga Dewi Sri dengan nama lokal. Misalnya Sangiaseri (Bugis), Inak Sariti (Bajo Lombok), dan Poti Soi (Sakai Riau).

Intinya, di semua mitos Dewi Padi pada budaya-budaya agraris nusantara itu, padi dimaknai sebagai karunia berupa korbanan hidup dewi. Karena itu, membuang sebutir nasi sekalipun, sama artinya dengan membuang karunia.

Kemudian, kedua, penjelasan nilai korbanan. Ini penjelasan teknis yang rasional ekonomis. Untuk penjelasan ini, sebutir nasi itu diasumsikan sebagai sebutir benih padi.

Sebelum masuk pada uraian teknis, perlu diketahui adanya empat kelas benih padi. Kelas teringgi disebut Benih Penjenis (Breeder Seed), induk dari segala induk benih padi. Kelas benih ini lazimnya hanya ada dalam jumlah sangat terbatas di lembaga pemuliaan padi. Misalnya di Bakai Besar Padi Sukamandi, Subang Jawa Barat.

Setingkat di bawah Benih Penjenis adalah turunannya, disebut Benih Dasar (Foundation Seed). Kelas benih ini lazimnya ada di lembaga penelitian padi dan industri perbenihan.

Benih Dasar itu kemudian dibiakkan dan menghasilkan turunan ketiga yang disebut Benih Pokok (Stock Seed). Kelas Benih Pokok ini dimiliki dan ditangkarkan lagi oleh perusahaan-perusahaan penangkaran benih, misalnya BUMN PT Sang Hyang Seri. Hasilnya adalah kelas Benih Sebar (Extension Seed) yang didustribusikan kepada petani untuk dibudidayakan.

Nasi yang kita makan sehari-hari pada umumnya adalah hasil pembudidayaan kelas Benih Sebar oleh petani.

Kembali pada penjelasan. Misalkan sebutir nasi yang terbuang itu tadinya adalah sebutir Benih Pokok.

Sebutir Benih Pokok itu, jika ditanam, akan tumbuh menjadi serumpun padi dengan, katakanlah, 5 anakan potensil. Tiap anakan menghasilkan gabah 100 butir gabah kualitas Benih Sebar per malai, sehingga total dihasilkan 500 butir Benih Sebar. Jumlah butir dihitung rendah, hanya 100 butir, karena kriteria seleksi benih yang ketat, untuk menjamin kemurnian dan daya tumbuh.

Jika 500 butir Benih Sebar itu ditanam, maka akan dihasilkan 375,000 butir gabah kelas padi konsumsi, disebut Gabah Kering Panen (GKP).  Cara hitungnya: 500 benih x 5 anakan x 150 butir gabah per malai. Jumlah butir per malai pertanaman padi konsumsi lazimnya lebih besar  karena tidak ada faktor seleksi.

Selanjutnya, jika berat per 1000 butir GKP adalah 30 gram, maka berat total 375,000 GKP itu adalah 11.25 kg.  Jika dikonversikan ke GKG (gabah kering giling) dengan pengali 86.02% maka diperoleh hasil 9.68 kg  GKG. Dikonversikan ke beras, dengan pengali 62.74%, hasilnya adalah 6.07 kg beras.

Rata-rata orang Indonesia sekarang menurut data BPS  menghabiskan 114 kg beras per tahun. Jadi jumlah 6.07 kg beras itu sama dengan 5.32% konsumsi beras per orang per tahun.

Setelah mendapatkan angka 6.07 kg beras itu, maka jelas terlihat betapa dahsyat potensi hidup yang dikorbankan  sebutir nasi. Masuk akal bila orangtua tempo dulu "cerewet" menasihati anaknya agar jangan membuang sekalipun hanya sebutir nasi.

Terakhir, ketiga, penjelasan sosiologis, khususnya terkait solidaritas sosial. Lazim diiingatkan, masih banyak orang yang harus memeras keringat darah demi sebutir nasi. Jadi, kalau tak bisa berbagi, sekurangnya jangan buang-buang nasi. Ingat, di luar sana masih banyak orang yang bahkan untuk hari ini belum tentu bisa makan.

Maka, pikirlah berulang kali, sebelum menyia-nyiakan sebutir nasi di dalam piring.***