Felix Tani
Felix Tani profesional

Sosiolog kampungan, petani mardijker, penganut paham "mikul dhuwur mendhem jero", artinya memikul gabah hasil panen di pundak tinggi-tinggi dan memendam jerami dalam-dalam di lumpur sawah untuk menyuburkan tanah.

Selanjutnya

Tutup

Humaniora highlight

Sosiologi Pekuburan Untoroloyo Solo

11 September 2017   10:59 Diperbarui: 11 September 2017   11:10 724 8 2
Sosiologi Pekuburan Untoroloyo Solo
Salah satu sudut pekuburan Untoroloyo, Solo (Dokpri)

Saat berziarah ke pekuburan umum Untoroloyo, Mojosongo, Jebres Solo, 5 Agustus 2017 lalu, saya tertarik pada sekelompok orang yang awalnya duduk-duduk santai di bawah naungan kamboja.

Begitu saya dan anggota keluarga turun dari mobil, mereka langsung menghambur datang menghampiri. "Ke makam siapa, Mas?" tanya  seorang lelaki paruh baya, belakangan saya tahu namanya Pak Agus.

"Keluarga Kebalen," sahut ipar saya sekenanya. Dengan cepat Pak Agus menuntun kami ke sekelompok makam. Dengan fasih dia menjelaskan makam siapa saja itu, apa hubungan keluarga antar mendiang, kapan meninggalnya, dan apa penyebab berpulangnya.  Sungguh menakjubkan pengetahuannya.

Begitu kami mendatangi satu makam, maka sekelompok ibu-ibu langsung datang dan menyapu bersih kuburan dari dedaunan kering. Sekaligus mencabuti rerumputan yang tumbuh di sekelilingnya.

Makam di Untoroloyo umumnya dikijing, diberi rumahan batu atau beton. Karena itu rerumputan hanya mungkin tumbuh di sekelilingnya. Ini beda dengan pekuburan di Jakarta. Di Jakarta, misalnya Kampung Kandang, kuburan  tidak boleh dikijing, hanya boleh digulud dan ditanami rumput jepang.

Setiap kami beringsut pindah ziarah ke makam lain, maka ibu-ibu tadi langsung mengikuti dan membersihkan makam yang kami datangi. Kejadian seperti itu berulang pada empat unit makam.  Saya kira pasti bisa lebih, kalau kami mengikuti panduan Pak Agus yang fasih menunjukkan makam dan hubungan kerabat dengan mendiang di bawahnya.

Seusai ziarah, ketika akan beranjak pulang, Pak Agus dan kelompok ibu-ibu tadi mengelilingi kami minta disawer ala kadarnya. Sepupu saya, yang tinggal di Solo,  rupanya sudah paham soal ini, sehingga di kantongnya dia sudah  menyiapjan segepok lembar rupiah Rp 2,000-an. Masing-masing ibu tadi mendapat Rp 2,000.

Tapi tentu saja mereka tidak puas. Minta ditambah lagi. Maka masing-masing diberi lagi Rp 2,000. Tidak puas dengan itu, mereka juga minta pada saya. Maka saya harus mengorek habis uang Rp 2,000-an  dari dompet, yang sayangnya tidak banyak.

Di antara anggota kelompok itu, Pak Agus lah yang menerima paling banyak. Dia mendapat Rp 20,000 dari sepupu saya. Masih merapat juga ke saya, sehingga uang Rp 10,000 di dompetku pindah pula ke dompetnya.

Pak Agus menerima paling banyak karena dia adalah pemimpin kelompok perawat makam itu. Dia dan ibu-ibu dalam kelompoknya adalah warga kampung Debegan, berbatasan dengan pekuburan Untoroloyo itu.

Rupanya pekerjaan merawat makam itu merupakan pekerjaan turun temurun.  Posisi sebagai pimpinan informal kelompok itu diwarisi Pak Agus dari almarhum ayahnya. Dialah yang mengatur siapa saja yang boleh menjadi anggota kelompoknya. Juga mengatur pembagian rejeki. Sebab sering kali peziarah tidak mau repot melayani satu per satu para perawat makam. Sejumlah uang diserahjan ke Pak Agus, dan tugasnyalah untuk membagi secara adil kepada anggota kelompoknya.

Saya jadi paham mengapa Pak Agus sangat hafal kuburan di Untoroloyo. Di satu sisi dia memang harus melayani para peziarah yang tidak selalu tahu persis di mana letak kuburan kerabatnya. Apalagi peziarah asal luar kota seperti saya.

Di sisi lain, sebagai perawat makam yang berharap rejeki dari kemurahan hati peziarah, dia berkepentingan nenuntun peziarah pada sebanyak mungkin makam. Sebab semakin banyak makam yang diziarahi, maka semakin banyak kerja pembersihan makam, dan semakin besar peluang untuk mendapatkan saweran yang lebih banyak.

Berbeda dengan perawat makam di Kampung Kandang Jakarta, yang mendapat kontrak informal rawat makam Rp 50,000 per bulan (baca: Sosiologi Pekuburan di Jakarta), perawat makam di Untoroloyo Solo mendapat rejeki secara acak. Tergantung ramai atau sepinya peziarah, jumlah makam yang duziarahi,  dan pelit atau dermawannya peziarah tersebut.  Tidak ada penghasilan tetap seperti perawat makam di Kampung Kandang, Jakarta.

Karena tidak ada kontrak informal rawat makam dengan kerabat mendiang, maka perawat makam di Untoroloyo tidak merawat makam secara rutin. Pak Agus dan kelompoknya hanya heboh membersihkan makam saat kerabat mendiang datang ziarah. Setelah itu makam dibiarkan saja, menunggu ada kerabat lagi yang datang menziarahi.

Lain ladang memang lain belalang, lain pekuburan lain pula organisasi pemeliharaannya. Di Kampung Kandang Jakarta, makam dirawat rutin oleh orang-orang migran dari Karawang. Di Untoroloyo Solo, makam dirawat secara insidentil oleh orang-orang asli kampung sekitar.

Tapi satu hal tetap sama, yaitu pekuburan adalah sumber nafkah halal bagi sekolompok orang yang mendedikasikan hari-harinya pada perawatan makam. Hal itu terjadi karena orang hidup tidak memutus hubungan dengan mendiang kerabatnya. Tetap ada relasi transenden yang memiliki konsekuensi biaya. Dimana ada biaya, maka di situ ada peluang nafkah.***