KANG NASIR
KANG NASIR profesional

Orang kampung, tinggal di kampung, ingin seperti orang kota, Yakin bisa...!\r\n

Selanjutnya

Tutup

Kotak Suara

Fakta-fakta di Balik "Ngetopnya" Ahok (1)

6 Mei 2017   09:31 Diperbarui: 6 Mei 2017   11:16 602 1 2
Fakta-fakta di Balik "Ngetopnya" Ahok (1)
Illustrasi, Monitorday

Tiada hari tanpa “Ahok”, begitulah kira kira ungkapan yang pantas dilontarkan jika kita melihat tayangan TV beberapa bulan terahir ini.

Ya Ahok memang menjadi buruan berita, tak ada Gubernur di Indonesia yang ngetopnya melebihi Ahok. Sayangnya, dibalik semua itu, terdapat sisi sisi yang justru membuat Ahok terpuruk baik  secara personal maupun politis meskipun banyak orang orang dibelakang nama yang ngetop itu hingga saat ini masih beranggapan bahwa Ahok tetap saja bagaikan Rambo.

Saya mencoba merunut beberapa Fakta dibalik kebesaran sekaligus beberapa hal yang membuat dirinya terpuruk meskipun dalam tanda petik.

Ahok adalah Gubernur DKI bukan hasil pilihan rakyat, ia mendapat lungsuran dari Joko Widodo yang terpilih menjadi Presiden. Selama menjadi Gubernur, sepak terjang Ahok dalam membenahi DKI dianggap cukup bagus, hingga banyak orang yang memuji. Namun satu hal yang tidak bisa dipungkiri, selama menjadi Gubernur DKI itupula, Ahok juga mendapat kritikan bahkan juga cacian masyarakat lantaran ucapannya yang kadang bisa menyinggung perasaan orang baik secara individu maupun golongan. Ini adalah fakta yang tidak bisa dibantah oleh siapapun.

Ketika sedang berlangsung rencana Pilkada DKI, Pemda DKI mengadakan suatu acara di Kepulauan Seribu yakni mengadakan pertemuan dengan masyarakat membahas persoalan ‘’perikanan”, di acara itulah Ahok kemudian menyampaikan beberapa hal terkait dengan Surat Alma’idah 51 hubungannya dengan pemilihan atas dirinya, sayangnya dalam pidato itu Ahok menyatakan sebagai berikut; "Bapak-Ibu enggak bisa pilih saya karena dibohongin pakai Surat Al-Maidah 51 macem-macem itu. Itu hak Bapak-Ibu, ya. Jadi, kalau Bapak-Ibu perasaan enggak bisa pilih nih, karena saya takut masuk neraka, dibodohin gitu, ya, enggak apa-apa. Karena ini, kan, hak pribadi Bapak-Ibu. Program ini jalan saja. Jadi Bapak-Ibu enggak usah merasa enggak enak. Dalam nuraninya enggak bisa pilih Ahok,"Ini juga Fakta yang tidak bisa dibantah oleh Ahok sendiri.

Ucapan Ahok yang demikian, dianggap oleh sebagian ummat Islam telah menyinggung perasaan ummat Islam. Beberapa Organisasi Islam kemudian bergerak memprotes ucapan Ahok itu, bahkan minta kepada Polisi untuk mengusut Ahok karena telah menghina Alqur’an. Lantaran dianggap kurang respon, ummat Islam bergerak lagi mengadakan aksi di depan Istana Presiden, ingin bertemu Presiden, namun Presiden Jokowi lebih memilih meninjau Pembangunan Rel kereta Api di Bandara Soekarno Hatta ketimbang menemui ummat Islam. Kelanjutannya, Ahok kemudian ditetapkan sebagai tersangka Penistaan Agama tanpa melalui proses penahanan. Ummat Islampun tetap melakukan tuntutan, Puncaknya adalah Aksi damai di Monas, jutaan Ummat Islam berkumpul, Sembahyang Jum’at bersama, bahkan Presiden Jokowi dan beberapa Menteri juga ikut hadir. Intinya ummat Islam minta kepada yang berwenang agar Ahok yang telah ditetapkan sebagai tersangka di proses sesuai dengan hukum yang berlaku “ditahan” sebagai tersangka, namun hingga proses peradilan, Ahok tetap tak ditahan.Inilah fakta lain yang sudah sama sama kita ketahui bersama.

Ketika proses peradilan berjalan, ruang pengadilanpun penuh sesak dihadiri oleh masyarakat, baik yang pro Ahok maupun yang kontra Ahok. Di luar gedung, utama di jalan, massa pro kontra berkumpul, polisi memisahkan keduanya agar tidak terjadi gesekan massa. Yang terlihat disana kadang kita Melihat pemandangan yang kontras, massa yang kontra Ahok hususnya ummat Islam, berorasi kadang diiringi pembacaan takbir dan sholawat, sementara disebalahnya yakni massa pro Ahok berorasi dan kadang diiringi dengan orang joged joged dangdut. Fakta ini bisa disaksikan oleh jutaan rakyat Indonesia melalui televisi.

Saya pernah bikin status di Medsos begini “ Menurut Catatan saya, Gubernur hasil warisan, kalau nyalon lagi kalah”, ternyata apa yang saya tulis itu terbukti juga di DKI. Dalam proses Pilkada DKI, gaungnya bukan main. Orang orang Ahok yakin betul Ahok akan memenangi Anis. Orang sekelas  Poltak Si Raja Minyak Si Abang Ruhut, politisi yang suka loncat loncat bisa bersumpah akan potong telinga jika Anis menang, ada juga perempuan binal yang akan potong payudara jika Ahok kalah. Tapi ya sudahlah, namanya juga sumpah dan janji gombal. Nyatanya dalam Bahasa Malaysia Ahok Tewas oleh Anis, artinya Ahok kalah dalam Pilkada DKI. Tak perlu di ungkap apa penyebab kekalahan itu, kalah ya kalah karena memang faktanya seperti itu.