HIGHLIGHT

Kesalahan Dikotomi Ilmu

25 Mei 2013 08:29:59 Dibaca :

Ilmu pengetahuan hakikatnya untuk memberi kemudahan dan kebahagiaan bagi kehidupan umat manusia. Dengan ilmu pengetahuan diharapkan semua persoalan mudah untuk dituntaskan. Ilmu pengetahuan berawal dari berbagai pengalaman manusia atas persoalan-persoalan di sekitarnya dengan menggunakan berbagai pendekatan sehingga tercipta sebuah pengetahuan. Pengetahuan terbagi dalam dua kelompok, yaitu pengetahuan biasa (common sense) dan pengetahuan ilmiah (science). Pengetahuan biasa diperoleh dari pengalaman sehari-hari yang sederhana, semisal mandi menghilangkan bau badan, lampu dapat menerangi jalan, dan sebagainya. Pengetahuan biasa ini merupakan sesuatu yang diyakini oleh semua orang. Berbeda dengan pengetahuan biasa, pengetahuan ilmiah lebih sistematis, memiliki metode yang jelas, dan megupas berbagai penyebab sampai tuntas. Meskipun berbeda, pada intinya semua pengetahuan mengarah pada tujuan mencari kebenaran. Dari klasifikasi tersebut sebenarnya pengetahuan ilmiah atau yang lebih populer disebut ilmu pengetahuan merupakan pengembangan dari pengetahuan biasa atau common sense. Ilmu pengetahuan memiliki dua macam objek, yaitu material dan formal. Objek material adalah sasaran penyelidikannya, seperti tubuh manusia yang menjadi obyek material ilmu kedokteran. Sedangkan obyek formal adalah metode memahami objek material tersebut, seperti pendekatan induktif dan deduktif (Bakhtiar, 2004:1).  Ilmu pengetahuan dikelompokkan dalam beberapa macam, menurut Randall dalam buku karya Drs. Burhanudin Salam, ilmu terbagi dua yaitu ilmu formal, yang meliputi matematika dan logika formal, dan ilmu empiris, yang mencakup dua cabang, yaitu (1) Physical Science, sperti: kimia, biologi, dan fisika. (2) Social Science, seperti : sosiologi, psikologi, antropologi, psikologi sosial, dan lain-lain. Sedangkan dalam dunia pendidikan kita, pembagian ilmu juga dibagi dua, yaitu Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) dan Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS). Tetapi ketika masa orde baru, anak-anak IPA dianggap pintar sedangkan IPS dianggap "kurang pintar". Meskipun sekarang persepsi tersebut sudah ditinggalkan. Sekarang ini banyak orang menganggap praktik lebih penting ketimbang teori. Seringkali yang teori dianggap kurang menekankan aksi sedangkan praktik lebih memerankan dirinya dalam bentuk aksi (Freire, 1999:41), atau lebih mudahnya teori lebih sering dianggap "banyak omong". Sebenarnya teori dan praktik saling mendukung, jelas bahwa praktik tidak akan jalan tanpa teori, seorang dokter tidak bisa mengoperasi pasiennya jika teorinya belum paham. Pada akhirnya menurut Paulo Freire, yang menjadi lawan dari praktik bukanlah teori (yang tidak dapat dipisahkan dari praktik), tetapi pemikiran-pemikiran kosong dan imitatif. Referensi Salam, Burhanudin. 2003. Pengantar Filsafat. Jakarta: Bumi Aksara Bakhtiar, Amsal. 2004. Filsafat Ilmu. Jakarta: Raja Grafindo Persada Freire, Paulo.1999. Politik Pendidikan. Yogyakarta: Pustaka Pelajar

Amri Yahya

/mlaku2jo

Menulis adalah bagaimana cara memecah kebekuan berfikir
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?