Wisata Kebangsaan sekaligus Wisata Religi di Makam Bung Karno

01 Agustus 2012 08:30:00 Diperbarui: 24 Juni 2015 19:21:17 Dibaca : 1297 Komentar : 2 Nilai : 1 Durasi Baca :


Berbicara tentang Blitar, tentunya tidak pernah lepas dari Bung Karno. Di tempat inilah presiden RI yang pertama dilahirkan serta beristirahat untuk terakhir kalinya. Selain disebut Kota Patria, Blitar juga mendapat julukan sebagai Bumi Proklamator. Di Tanah Air, tidak ada kota yang mampu mengungguli Blitar ketika berbicara tentang Soekarno.




Makam Presiden pertama Republik Indonesia kini menjadi tujuan wisata utama bagi siapa saja yang mengunjungi Kota Blitar. Kompleks makam Bung Karno yang awalnya mempunyai  luas kurang lebih 2.970 m2, sekarang telah diperluas menjadi 4.852 m2. Tanah yang semula milik Yayasan Mardi Mulyo ini telah diserahkan kepada negara untuk dijadikan Taman Makam Pahlawan Karang Mulyo dan terletak di Jalan S. Soepriyadi, Kelurahan Bendogerit, Kecamatan Sananwetan, Kota Blitar.




Memasuki Makam ini dimulai dari sebuah gapura Agung yang menghadap ke selatan. Di area makam Bung Karno ini terdapat sebuah joglo, rumah adat masyarakat Jawa, yang biasa disebut Cungkup Makam Bung Karno. Cungkup ini juga biasa disebut Cungkup Astono Mulyo.




Makam Bung Karno di apit oleh kedua orang tua beliau. Di sebelah kiri terdapat makam ayahanda R. Soekeni, sedangkan makam ibunda Ida Aju Njoman Rai di sebelah kanan. Di atas makam Bung Karno terdapat batu pualam yang bertuliskan Disini dimakamkan Bung KarnoProklamator Kemerdekaan Dan Presiden  Pertama Republik Indonesia. Penyambung Lidah Rakyat Indonesia.




Selain Makam Bung Karno, di kompleks wisata ini juga terdapat Perpustakaan Bung Karno. Perpustakaan yang menyajikan beraneka ragam buku ini tidak pernah sepi pengunjung. Sampai saat ini, pemerintah masih terus meningkatkan fasilitas dan pelayanan di Perpustakaan Bung Karno.




Di kompleks Makan Bung Karno juga terdapat Museum Bung Karno. Pintu masuk museum ini berhadapan dengan pintu masuk Perpustakaan Bung Karno. Di teras perpustakaan dan museum, terdapat patung Bung Karno yang sedang duduk dan membaca buku.




Di museum terdapat beberapa barang milik Bung Karno, seperti  keris, baju kebesaran, bendera merah putih yang sempat dikibarkan di Rengasdengklok, dan lukisan Bung Karno, dan lukisan beberapa pahlawan proklamator lainnya. Yang paling unik di museum ini adalah lukisan Bung Karno yang sedang membawa keris. Di bagian dada lukisan Bung Karno ini bisa berdetak layaknya manusia.




Keberadaan kompleks wisata Makam Bung Karno menyimpan magnet tersendiri bagi industri pariwisata di Kota Blitar. Runtutan peristiwa sejarah yang terjadi seolah-olah mendobrak pamor Kota Blitar.




Ramainya pengunjung yang datang menarik minat masyarakat untuk mengais rezeki di sekitar makam. Pedagang asongan,warung, restoran, dan hotel pun sudah berjumlah ratusan. Tak ketinggalan jasa kamar mandi umum sampai becak juga layaknya jamur yang tumbuh subur.




Pusat kerajinan kota Blitar juga berada di sekitar tempat wisata makam Bung Karno. Mereka menjual  barang-barang seni khas Blitar, seperti  kendang. Tak hanya kendang, batik blitar pun juga mudah didapatkan di sekitar makam. Belakangan  ini, pemasaran kendang dan batik Blitar sudah mencakup wilayah Asia. Inilah yang menjadi tambang ekspor dan menjadi pemacu bagi industri lainnya.




Bulan Juni di Kota Blitar disebut juga Bulan Bung Karno. Berbagai peristiwa yang identik dengan Bung Karno terjadi pada bulan ini, yakni hari lahir Pancasila (1 Juni), hari lahir Bung Karno (6 Juni), dan wafatnya Bung Karno (20 Juni). Rangkaian acara pun digelar guna merayakan Bulan Bung Karno.




Awalnya, pada tahun 2010, peringatan Bulan Bung Karno diselenggarakan oleh Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP). Namun pada peringatan tahun ini, PDIP ingin menjadikan peringatan ini menjadi milik semua masyarakat Indonesia.




Di tahun 2012 ini, tema dari Peringatan Bulan Bung Karno adalah Soekarno di Mata Dunia: Gagasan dan Tindakan. Tema itu kemudian diwujudkan dalam rangkaian program dan kegiatan Bulan Bung Karno 2012.




Pada bulan ini, pernak-pernik Bung Karno menghiasi setiap sudut Kota Blitar. Foto-foto raksasa dan kata-kata populer Bung Karno dipasang di setiap titik kota dan instansi pemerintahan maupun SKPD kota Blitar.




Mengawali rangkaian acara untuk mengenang napak tilas Bung Karno, diadakan acara Grebek Pancasila yang diikuti kalangan pelajar dan pegawai pemerintah kota Blitar. Grebeg Pancasila kali ini dimulai dari rumah dinas Walikota Blitar di Jalan Sudanco Supriyadi menuju kantor walikota  yang berjarak dua kilometer. Rangkaian peserta terdiri dari rombongan lampion dan pawai gunungan tumpeng sebanyak lima buah.

Kegiatan Grebeg Pancasila didesain sebagai peristiwa budaya, yang diinisiasi dan dilaksanakan para seniman Kota Blitar dengan sentuhan piranti etik dan estetika tanpa meninggalkan kekhidmatan dan makna sebuah upacara. Grebeg Pancasila ini juga sarat makna kebersamaan, kegotongroyongan untuk mengangkat nilai-nilai luhur Pancasila.




Pada bulan ini juga digelar pameran lukisan Bung Karno. Pameran ini digelar di halaman makam Bung Karno. Para seniman sudah mempersiapkan jauh hari untuk acara pameran ini. Lukisan yang dipamerkan kali ini difokuskan pada sosok Bung Karno. Namun terlihat juga beberapa lukisan lain, seperti lukisan museum dan Istanan Gebang.  Harga lukisan berukuran 2x2 meter itu berkisar antara Rp 10 juta hingga Rp25 juta. Pameran lukisan ini berakhir pada tanggal 23 Juni 2012.




Pada tanggal 15-18 Juni 2012, digelar festival budaya di halaman Istana Gebang. Dalam festival ini ditampilkan berbagai macam kesenian khas Blitar.




Selain acara yang disebutkan di atas, digelar pula kegiatan lain seperti pameran mobil antik yang pernah dikendarai Bung Karno, konvoi becak, pelatihan membatik, pergelaran wayang kulit, dan donor darah.




Doa bersama digelar di makam Bung Karno pada tanggal 21 Juni 2012. Acara yang ini merupakan acara puncak dalam rangka memperingati Bulan Bung Karno yang bertepatan dengan tanggal wafatnya Bung Karno.




Acara ini melibatkan masyarakat setempat. Mereka ikut berdoa dan menggelar tahlilan di lokasi makam untuk mendoakan Presiden pertama Indonesia itu. Dalam acara haul ke-42 itu, masyarakat juga menggelar 1000 tumpeng di sepanjang jalan S. Soepriyadi. Tumpeng itu nantinya dimakan bersama-sama setelah kegiatan tahlilan selesai. Acara ini tidak hanya dihadiri masyarakat setempat, rombongan dari Jakarta pun turut menghadiri acara doa bersama ini. Mereka terlihat sangat antusias mengikuti acara puncak pada kamis malam kemarin.




Putri  Bung Karno, Rachmawati Soekarno Putri dan Sukmawati Soekarno Putri, juga turut dalam doa bersama. Rombongan keluarga Bung Karno tiba di Blitar pukul 19.30 WIB dan langsung menuju ke makam.




Rangkaian acara Bulan Bung Karno ini dimaksudkan untuk memacu potensi wisata di daerah Blitar. Dampaknya pun dirasakan oleh lapisan masyarakat seperti pedagang kaki lima, pengrajin daerah, dan pengusaha hotel setempat. Selain itu, masyarakat diharapkan bisa mewujudkan Indonesia yang lebih baik melalui kegiatan dan program-program  yang diselenggarakan kali ini.

mister petruk

/misterpetruks

Sebuah semboyan yang tentunya patut kita teladani dari tokoh punokawan Raden Mas Petruk Bamabang Panyukilan, dibalik bentuk tubuhnya yang lucu dan selalu di remehkan orang teryata punya sifat yang patut kita tiru. "SEMPRONG BOLONG ALU BUNTET'' Semprong bolong, biasa di artikan sebagai seorang yang dermawan suka membantu sesama tanpa pamrih, tentunya membantu dalam hal yang bersifat positif. Buntu alu / alu buntet, biasa di artikan orang yang pandai menyimpan rahasia juga bisa di artikan bukan orang yang "Tumbak Cucukan" (bukan orang yang suka mengadu domba dengan menyebarkan aib orang lain).
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH PLATFORM BLOG, SETIAP ARTIKEL MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

NILAI :

Daftarkan email Anda untuk mendapatkan cerita dan opini pilihan dari Kompasiana