Konstruksi Konsep Padat, Cair, dan Gas untuk SD

02 Juni 2013 10:07:22 Dibaca :

Sebagaimana diketahui bahwa benda-benda di alam bila dibedakan menurut wujudnya ada 3, yaitu padat, cair, dan gas. Wujud berbeda dengan bentuk. Para siswa sangat hafal ketika diminta untuk menyebutkan wujud benda bila ditunjukkan bendanya atau bahkan hanya disebutkan namanya. Misalnya : air wujudnya cair, penghapus wujudnya padat, udara wujudnya gas. Namun apabila diminta untuk memberi pengetian apa yang dimaksud dengan padat, cair, atau gas baru mereka agak tersendat untuk menjelaskannya. Posting ini bertujuan untuk untuk membantu anak-anak khususnya yang masih di SD untuk mendefinisikan ketiga wujud benda/materi tersebut. Dengan demikian mereka benar-benar paham dan tidak sekedar hafal. Disamping itu dengan memahami konsep ini akan memudahkan siswa bila hendak mengambil benda dengan ukuran tertentu. PADAT Bapak/ibu guru mengambil penghapus dan ditunjukkan kepada para siswa. Kemudian siswa ditanya apa bentuk dari penghapus yang diletakkan guru di atas meja. Para siswa akan memberikan jawaban yang berbeda, ada yang padat, ada yang balok, ada yang persegi panjang. Disini bapak dan ibu guru memberikan pengertian tentang perbedaan antara bentuk dengan wujud. Kemudian penghapus posisinya dipindah ke tempat lain misalnya di atas meja siswa ataupun dimana saja yang penting tempatnya berpindak. Kembali siswa ditanya apa bentuk dari penghapus? jawabannya sudah mulai seragam yaitu seperti balok. Kemudian penghapus dipindah lagi posisinya di tempat yang lain, dan siswa ditanya lagi bentuk dari penghapus. Ada pertanyaan pengarah "apakah bentuknya berubah ketika penghapus dipindah dari satu tempat ke tempat yang lain?" jawabannya tidak, kemudian jawaban tersebut dijadikan pengertian dari benda padat, yaitu benda yang bentuknya tetap walaupun berpindah tempat. Untuk mengukur benda padat maka bendanya ditimbang untuk massa, diukur panjang x lebar x tinggi untuk menentukan volumenya. Kalau bendanya tidak beraturan dapat menggunakan bantuan air dan gelas ukur. CAIR Di atas meja guru disediakan bermacam-macam gelas yang bentuknya tidak sama.  ada yang berkaki, biasa, ada plastik bekas air mineral. Kemudian bapak dan ibu guru mengambil air dari botol air mineral berukuran sedang, kemudian menuangkan air ke dalam ketiga gelas sebanyak separuhnya saja. Kemudian siswa di tanya bagaimana bentuk benda cair? maka siswa akan menjawab "bentuknya seperti wadahnya" Yakinkan siswa apakah benar demikian? Kemudian fokuskan perhatian siswa pada gelas yang berkaki, tanyakan kepada mereka apakah bentuk air juga ada kakinya? Kalau bentuknya seperti wadahnya pastinya harus sama dengan bentuk wadahnya. AKhirnya buatlah diskusi kecil yang mengarah kepada kesimpulan bahwa benda cair adalah benda yang bentuknya seperti ruangan yang ditempatinya. Untuk mengukur massa benda cair maka wadahnya ditimbang dulu, kemudian wadah dan benda cair, massa total dikurangi massa wadah adalah adalah massa benda cair. Volume benda cair diukur dengan gelas ukur. GAS Bagaimana dengan benda gas? Bila siswa menjawab juga seperti wadahnya, maka bapak dan ibu guru tinggal menambahkan bahwa benda gas adalah benda yang bila dimasukkan dalam sebuah ruangan akan menyebar dan mengisi seluruh ruangan, sehingga bila hendak mengukur benda gas maka yang diukur adalah volume ruangan/wadahnya. Itulah sebabnya benda gas memiliki tekanan. Begitulah, dengan melakukan pengamatan maka siswa akan lebih mudah mengkonstruksi konsep. Tugas kita adalah membantu mereka belajar. Hasil dari belajar adalah adanya perubahan pola pikir dan perubahan perilaku yang sifatnya permanen. Kalau mereka tidak mengalami perubahan tersebut, maka mereka baru sekolah dan belum belajar. Ada kesulitan? Kompasioner yang lain tentu akan dengan senang hari membantu para guru yang memerlukannya.   Salam akhir pekan.

Paijo Pandupradja

/mintadi

Pengajar di Universitas Jember, pernah menjadi konsultan Proyek SEQIP (Science Education Quality Improvement Project) dan DAPS (Disaster Awareness in Primary School). Peduli pada pengembangan IPA melalui pembelajaran yang berbasis pada fakta dan konsep serta tidak berdasarkan pada hafalan semata. Metode pembelajaran IPA yang berbasis pada NGAJARI dan bukan NGABARI akan lebih membuat anak-anak kita menjadi cerdas dan lebih dekat dengan Tuhan karena dalam setiap pembelajaran IPA konsep apapun selalu bisa menyertakan keagungan Tuhan dalam setiap penyampaiannya.
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?