Mohon tunggu...
Mim Yudiarto
Mim Yudiarto Mohon Tunggu... Buruh - buruh proletar

Aku hanyalah ludah dari lidah yang bersumpah tak akan berserah pada kalah....

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Pilihan

Negeri Tulang Belulang (Niagara Kedua!)

24 Juni 2018   23:51 Diperbarui: 24 Juni 2018   23:56 690
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Cerpen. Sumber ilustrasi: Unsplash

Ran memperhatikan muka air sungai raksasa yang sedang mengamuk dengan menghanyutkan gelondongan-gelondongan besar kayu.  Masih cukup jauh dengan tempat mereka berkemah.  Tapi jika mereka tidak melakukan apa-apa untuk mengantisipasinya, Ran cemas muka air itu akan semakin tinggi dan mencapai tempat mereka.  Menyelamatkan diri dengan naik perbukitan lagi bukanlah pilihan yang logis.  Cindy masih sakit.

Ran mengedarkan pandangan ke sekeliling.  Mencari-cari barangkali ada sesuatu yang bisa digunakan untuk mengapung.  Tidak ada apa-apa kecuali rumpun-rumpun bambu yang tumbuh subur di pinggiran sungai itu.

Benak Ran tergelitik pada satu pemikiran gila.  Kenapa mereka tidak mencoba membuat rakit dari bambu-bambu yang berukuran besar tersebut.  Setidaknya mereka mempunyai sebuah rencana jika sungai raksasa itu terus mengamuk dan luapannya sampai ke tempat mereka berkemah.  Back up plan yang sempurna.

Ran menyampaikan ide itu kepada teman-temannya.  Semua sepakat.  Apalagi setelah melihat betapa dahsyatnya sungai raksasa itu mengamuk.  Menggulung semua yang dilaluinya.  Memang sudah tidak ada lagi gelondongan kayu yang terbawa arus, namun air lumpur kecoklatan itu terlihat semakin tinggi.

Setelah makan sekedarnya, empat anggota team yang sehat buru-buru menebangi pokok bambu dan membuat rakit.  Sesuai pengalaman survival, rakit tidak boleh terlalu besar karena akan tidak stabil di arus sungai yang deras.  Jadilah mereka membuat 3 rakit ukuran kecil.  Masing-masing untuk ukuran 2 orang termasuk peralatan dan perlengkapan.

Cindy masih juga belum siuman.  Rupanya pengaruh racun duri perdu itu sangat kuat.  Meskipun daya rusak racun itu sudah tidak mengancam nyawa, namun Ran yang seorang dokter masih mengira-ngira sebetulnya perubahan mata Cindy itu hanya sementara atau ada hal lain yang belum bisa dia duga.

-----

Saat matahari naik persis di atas kepala, semua rakit telah selesai berikut dengan dayung lipat yang memang mereka bawa sebagai perlengkapan standar ekspedisi.  Untuk berjaga-jaga, Ran meminta semua perlengkapan dinaikkan dan diikat kuat-kuat di rakit.  Jika terjadi apa-apa mereka tinggal menaiki rakit itu tanpa harus ribut lagi berkemas-kemas.

Terdengar keluhan pendek.  Cindy!  Buru-buru semua orang mengerumuni gadis itu.  Cindy membuka matanya perlahan-lahan.  Semua orang kecuali Ran memalingkan muka.  Mata gadis itu masih menghitam seluruhnya.  Wajah cantik itu bermata aneh dan mengerikan. 

Cindy mengerjap-ngerjapkan mata.  Melihat ke sekeliling sembari menggeliatkan tubuhnya yang terasa sangat penat.  Cindy merasakan ada sesuatu yang aneh pada penglihatannya.  Dia mengenali teman-temannya.  Tapi kenapa mereka seperti klise film?  Hitam putih.  Cindy mengedarkan pandangan ke pemandangan di sekitar.  Rumpun bambu, tanah, sungai dan langitpun hitam putih!  Cindy hampir menjerit!

Ran memegang tangan gadis itu untuk menenangkan.  Ketua team ekspedisi itu memberi isyarat kepada teman-temannya untuk melanjutkan persiapan mengarungi sungai karena air terlihat begitu cepat sekali meninggi.  Setelah yang lain pergi bersiap-siap, Ran membantu Cindy duduk kemudian menceritakan kejadian yang sudah Cindy lewati.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
Mohon tunggu...

Lihat Konten Cerpen Selengkapnya
Lihat Cerpen Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun