HIGHLIGHT

Tuhan Punya Skenario yang Indah untuk Hambanya: Teruntuk Jiwa-jiwa Perindu

13 Juli 2012 15:30:29 Dibaca :

Menjadi kaum minoritas itu gampang-gampang susah. Iya gak sih? Kalo versi penulis sih iya, hehe. Konteksnya apa dulu nih? Oke, mari kita kupas habis…


Kali ini kita membicarakan mengenai yang namanya jatuh cinta. Saya rasa, setiap orang pernah merasakan perasaan ini. Hati terasa menjadi semakin rumit, meliuk2, ups and down semacam labil, kalo bisa dibilang kayak kurva distribusi normal, klimaks dan antiklimaks.


Lalu apa kaitannya dengan kita? Ya, manusia diciptakan dengan fitrah akan perasaan ini. Semua makhluk hidup pun seperti hewan juga mempunyai rasa kasih sayang, kerennya mungkin juga ada jatuh cinta di antara mereka, namun tentunya karena tidak ada akal yang mengendalikan, jadi syahwat yang bertindak.


Manusia juga diciptakan dengan syahwat dan akal pikiran yang berfungsi untuk mengendalikan setiap keinginannya. Manusia sejak lahir sudah dianugerahi poerasaan indah ini. MENCINTAI kepada ALLAH, RASUL, IBU, BAPAK, KAKAK, ADIK, EYANG, sodara, dsb.


Yang menjadi semakin special adalah ketika muncul perasaan kepada seseorang yang tidak ada hubungan darah dengan kita. Mungkin atau pasti pernah ada yang pernah ngerasain yang namanya cinta monyet. Kenapa ya dinamain cinta monyet, kenapa gak cinta masa kecil ato apalah, hehe. Waktu SD dan SMP mungkin bisa diklasifikasikan dengan masa2 cinta masa kecil ini.


Penulis pernah merasakan kejadian konyol bin ajaib gara2 pernah dihinggapi perasaan unik satu ini. Pernah kecemplung parit sawah samping sekolah SD gara2 cemburu trus semacam jadi mata2 gituh. Kalau SMP pernah ngelempar tas anak cowok yang ditaruh di lorong mejaku, sampe mengenai temenku gara2 salting. Konyol dah pokoknya.


Loh jadi curcol! Intermezzo dikit boleh kan? Lalu apa korelasinya dengan kaum minoritas. Begini, entahlah, saya dulu walau pernah dihinggapi perasaan unik tersebut, tetapi tekad saya kuat, terutama untuk memutuskan tidak pacaran. Tanya kenapa? Karena saya berpikir bahwa ketika saya memberikan sedikit porsi otak saya untuk seseorang, saya akan kehilangan sekian % daya memori otak saya untuk berprestasi. Termasuk kehilangan waktu lebih untuk belajar, untuk lebih dekat dengan keluarga dan teman2 kita. Hal ini pun saya pegang sampai  SMA. Dan BEHASIL. Saya selalu 3 besar di kelas. Memang gak pernah namanya ikud olimpiade atau sejenisnya, namun bagi saya ini sebuah pencapaian dari sebuah perjuangan.


Berikutnya badai godaan makin besar. Terutama waktu kuliah. Hampir dipastikan, yang namanya pacaran itu lazim. Tergoda? Pernah. Tapi semuanya berakhir dengan ketidakjelasan dan sungguh menyedihkan. Konsistensi sulit dipegang. Tetapi, saya sadar ini tidak benar. Tidak pernah ada ayat Al Qur’an atau hadist yang menyebutkan bahwa pacaran islami itu ada dan halal. Tidak pernah.


Lalu, apa yang perlu kita lakukan untuk mengelola perasaan ini. Rawat, pupuk, siram dengan baik dan benar. InsyaALLAH akan ada saat yang tepat perasaan yang sabit menjadi purnama, jiwa2 perindu itu akan tersambut karena skenario ALLAH itu begitu indah, kawan.


Saya belajar dari kehidupan. Tidak sedikit saya menemui orang yang tidak pernah pacaran namun akhirnya bisa menjemput takdirnya, menikah dan akhirnya dikaruniai 3 orang anak. Berawal dari kisah saling mengagumi tanpa pernah saling memuji atau bertegur sapa. Akhirnya mereka pun bertemu dengan seijinNYA. Sepertinya mustahil, tapi bagi ALLAH tidak ada di dunia ini yang mustahil.


Skenario yang indah itu pasti berikutnya akan menyapa jiwa2 perindu yang sabar, ikhtiar dan tawakkaltu’alallah. Yakinlah, jagalah, waktu itu akan datang menyambutmu dengan senyuman haru biru. Wallahu’alam.


Allegria Mila

/milamawaddah

TERVERIFIKASI (HIJAU)

#1 pecinta sajak, novel, kisah inspiratif #2 baginya: menulis adalah sebuah cara untuk mencari jalan keluar :)
http://milamawaddah.blogspot.com/

Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?