Manusia Diantara Senyawa Kimia Berbahaya

03 Mei 2012 05:16:33 Dibaca :
Manusia Diantara Senyawa Kimia Berbahaya

Modernisasi kehidupan tidak hanya memberikan kemudahan dan kenyaman hidup namun dibalik itu ada risiko-risiko atau bahaya terselubung yang mengancam jiwa manusia. Dewasa ini apa saja yang kita beli dan konsumi tidak dapat dilepaskan dari senyawa-senyawa kimiawi yang melekat pada proses produksi barang-barang kebutuhan manusia, seperti plastik, wewangian, obat-obatan, makanan dsbnya. Tujuan pemberian bahan kimia sintetis tersebut berbagai macam seperti untuk mengawetkan, bahan sterilisasi pembunuh kuman-kuman berbahaya, suplemen untuk meningkatkan cita rasa dll. Dalam kadar tertentu dan frekwensi pemakaian yang terukur, unsur-unsur kimia tersebut relatif cukup aman bagi kesehatan manusia. Sebaliknya apabila berlebihan maka akan memberbahayakan karena dapat menggangu dan merusak proses metabolisme tubuh atau meracuni organ-organ kehidupan penting. Walaupun telah banyak riset-riest tentang dampak senyawa kimia terhadap kesehatan manusia dan makhluk hidup, tetapi masih lebih banyak lagi efek samping yang belum terdeteksi. Maka tidaklah mengherankan jika angka statistik kematian yang asal-muasalnya tidak terungkap semakin tahun semakin meningkat. Menurut publikasi Friend of the Earth, diperkirakan ada 300 jenis bahan kimia yang mengkotaminasi tubuh manusia melalui berbagai macam saluran antara lain makanan, minuman, obat-obatan, kosmetik, polusi udara, merokok dan interaksi-interkasi lain baik langsung maupun tidak langsung. Pertama, subtan-subtan berbahaya tersebut umumnya merasuk ke dalam sistim hormon tubuh dan langsung mempengaruhi berbagai aspek kesehatan. Kedua, senyawa-senyawa kimia pada dasarnya bersifat racun dan bila terserap oleh darah selanjutnya akan dialirkan ke dalam sel-sel, jaringan dan organ-organ vital. Cepat atau lambat akan merusak struktur dan biokimia tubuh yang berujung pada kematian. Ketiga, sebagian besar unsur-unsur kimiawi tidak dapat diurai melalui reaksi biokimia tubuh atau dikeluarkan melalui sistem sekresi (urin, tinja dan keringat), akibatnya bahan-bahan toksik ini akan terakumulasi menjadi senyawa-senyawa radikal bebas yang merusak sel, jaringan dan organ kehidupan manusia. Rasa-rasanya memang mustahil untuk menghindar dari senyawa-senyawa kimia. Namun cara yang palik baik adalah mencegah dan mengontrol aktifitas sehari-hari agar selalu berada dalam situasi batas normal. Berikut ada beberapa cara praktis yang dapat dilakukan dengan mudah namun memberikan manfaat sangat signifikan dalam melindungi diri dan keluaarga dari bahaya kontaminasi bahan kimia berbahaya. Pertama: Mengkonsumsi bahan makan segar yang diolah dengan baik. Jika tidak mampu membeli produk organik usahakan untuk mengkonsumsi bahan makanan bebas pestisida atau sebelum dimasak dibersihkan terlebih dahulu secara seksama. Kedua: Mengurangi penggunaan bahan-bahan yang terbuat dari plastik terutama yang langsung berkaitan dengan bahan makanan. Ketiga: Menghindari penggunaan bahan kosmetik yang tidak jelas asal-usulnya atau yang mengandung bahan-bahan berbahaya seperti merkuri dll. Jika memungkinan gunakan kosmetika yang terbuat dari bahan alamiah Keempat: Hindari penggunaan racun pembunuh serangga seperti pembasmi nyamuk, semut dan kecoa. Misalnya untuk mengatasi nyamuk bisa menggunakan kelambu atau cairan pelindung gigitan serangga yang terbuat dari bahan alamiah (minyak sereh). Kelima: Selalu mencuci tangan sebelum makan atau setelah menyentuh bahan-bahan kimia namun dijaga agar penggunaan sabun tidak berlebihan. Keenam: Hindari sumber-sumber polusi udara terutama diruang sempit. Asap rokok atau membakar sampah sangat berbahaya bagi kesehatan. Contoh-contoh yang dijelaskan di atas hanya sebagian kecil saja, karena masih banyak lagi cara untuk menghindari dan memproteksi diri dari bahan-bahan kimia berbahaya. Selamat menjalani dan menikmati hidup sehat.

Iwan Nazirwan

/mikrobanker

Exploring the world of entrepreneurship
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?