Mike Reyssent
Mike Reyssent wiraswasta

Kejujuran Adalah Mata Uang Yang Berlaku di Seluruh Dunia Graceadeliciareys@gmail.com

Selanjutnya

Tutup

Kotak Suara

Miris, Melihat Kampanye Hitam Pilkada DKI

13 Maret 2017   07:28 Diperbarui: 13 Maret 2017   08:49 3461 64 114
Miris, Melihat Kampanye Hitam Pilkada DKI
https://tekno.liputan6.com/read/2062051/tips-agar-tak-terpengaruh-kampanye-hitam-di-media-sosial

Miris, hanya satu kata itulah yang ada dibenak saya, melihat perkembangan kampanye Pilkada DKI, putaran kedua  ini.

Isu yang dimainkan oleh para pendukung paslon sudah pada taraf membahayakan bagi keutuhan berbangsa dan bernegara, yaitu isu agama. Isu yang sama yang dihembuskan sejak kampanye putaran pertama.  

Hanya saja, jika pada putaran pertama cuma sebatas sampai saling hujat dan saling membuat HOAX atau fitnah saja. Tetapi pada putaran kedua sudah saling ancam terhadap sesama dalam satu agama .

Spanduk bernada ancaman bagi pemilih paslon lain, banyak bertebaran di tempat tempat ibadah. 

Yang kemudian menjadi korban adalah seorang ibu yang meninggal. Ketika jenasahnya dibawa ke tempat ibadah untuk minta didoakan, ditolak oleh pengurus tempat ibadah. Alasannya, almarhumah dan keluarganya memilih paslon lain yang tidak diinginkan oleh warga sekitar.

Miris...

Kejam...

Bahkan orang yang sudah meninggalpun bisa jadi korban keganasan kampanye hitam...

Ditambah lagi dengan adanya kasus pengusiran salah satu paslon pada waktu menghadiri undangan di salah satu tempat ibadah. Padahal sudah secara jelas paslon tersebut juga punya keyakinan yang sama dengan yang mengusirnya.

Kejadian kejadian ini kemudian menjadi viral di media sosial, yang akibatnya bisa memicu pada aksi pembalasan yang lain. 

Seperti contoh, beberapa jam yang lalu saya mendapat broadcast yang mengatakan, jika si A menang maka pemilih paslon lainnya akan disebut kafir dan tidak akan didoakan ketika meninggal.

Itu sebuah aksi balasan yang tidak kalah konyolnya dengan aksi sebelumnya yang dilakukan kubu seberang.

Jika isu tidak cepat diredam, digunakan terus pada kampanye putaran kedua, akibatnya akan sangat fatal.

Karena isu ini sudah jauh lebih besar daripada sekedar perbedaan antar umat beragama saja, tetapi sudah melebar keseluruh lapisan masyarakat, yang akhirnya bisa menghancurkan semuanya.

Mestinya, sebagai masyarakat, kita harus ingat dengan kasus e-ktp yang baru baru ini heboh. 

Seperti yang dikatakan Haris Azhar, Koordinator Kontras, di gedung KPK, Jakarta, Minggu (12/3/2017). keributan antarpartai dalam pelaksanaan Pilkada 2017 hanya dagelan..

Dengan kata lain, kasus e-ktp merupakan bukti bahwa selama ini antar elite parpol sebenarnya tidak pernah ada masalah sama sekali. 

Pada saat ingin mengeruk uang kita, mereka bisa bekerjasama dengan sangat kompak.  Tetapi, bila mereka ingin bertempur, kita -rakyat- inilah yang diadu sebagai alatnya.

Demi meraih keuntungannya sendiri, mereka bisa semaunya dan setege teganya menggunakan rakyat -yang tidak tahu apa apa- untuk saling dibenturkan satu sama lain. 

Miris kan?

Dan yang lebih mirisnya lagi sebenarnya adalah rakyat.  Ya kita kita ini...

Coba dipikir ulang lagi deh...

Koq mau maunya dijadikan pion untuk saling bantai?

Koq mau maunya sampai ribut sama tetangga, saudara, teman, kekasih bahkan keluarga, hanya gara gara membela paslon yang berbeda...

Saling hantam, saling hujat, saling maki seakan musuh bebuyutan yang harus dihancurkan...

Koq semudah itu kita mau diombang ambingkan, dibawa kesana kemari oleh para elite parpol...

Oleh sebab itu, saya hanya ingin mengingatkan semua teman teman, entah para pendukung Ahok-Djarot atau para pendukung Anies-Sandi, sudah saatnya mulai sekarang, 

-Jangan lagi memainkan isu agama karena efeknya sangat berbahaya. 

-Jangan lagi mau dibawa kesana kemari diarahkan oleh para elite parpol untuk saling menyerang kepada sesama bangsa ini.

-Jangan lagi sampai terbawa arus terlalu jauh sehingga lupa pada jati diri kita sebenarnya...

Jika sampai terjadi apa apa yang tidak kita inginkan, yang bakalan rugi paling besar adalah kita semua -rakyat- bukan mereka, para pejabat.


Catatan :

Saya membayangkan, bagaimana jika media tidak membesar besarkan Pilkada DKI, seperti pada pilkada di daerah lain yang adem ayem...

Apakah saat ini rakyat jadi ribut?

Atau tepatnya, apakah bakal ada isu sensitif dan negatif akan ada seperti sekarang ini?

Hmmmm....


Salam Damai...