Mohon tunggu...
Michael Sendow
Michael Sendow Mohon Tunggu... Wiraswasta - Writter

Motto: As long as you are still alive, you can change and grow. You can do anything you want to do, be anything you want to be. Cheers... http://tulisanmich.blogspot.com/ *** http://bahasainggrisunik.blogspot.co.id/ *) Menyukai permainan catur dan gaple. Menulis adalah 'nafas' seorang penulis sejati. I can breath because I always write something...

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Integritas Ahok dan BPK

14 April 2016   21:49 Diperbarui: 14 April 2016   21:55 50
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

[caption caption="Ahok dalam sebuah wawancara dengan Kompas TV (Pic Source: www.ahok.org)"][/caption] Memasuki babak-babak baru dalam skema besar persaingan memperebutkan kursi DKI 1 di Jakarta ini rupanya kian hari kian memanas. Adu ‘jotos’ ala koboi jalanan terus dilancarkan. Partai dan Independen. Head to head antara satu sosok dengan sosok Ahok. Politisi senior. Mantan menteri. Artis (dan pelawak), anggota dewan, dan bisa jadi banyak lainnya, semuanya mencoba keberuntungan mereka masing-masing dengan segala kemampuan yang mereka miliki. Ahok adalah anomali yang fenomenal. Ia menjadi buah bibir, suka atau tidak, dibenci atau dicinta. Berbondong-bondong sekumpulan orang 'mengeroyok' Ahok. Apakah Ahok gentar? Justru sebaliknya. Semangatnya makin terpicu dan terpacu.

Bahkan pun persaingan antar media terus gencar setiap harinya saling serang dan terjang, tak peduli paparan fakta di lapangan seperti apa. Bagi mereka Ahok adalah berita, dan berita itu adalah Ahok. Oplah meningkat. Jumlah view dan klik meningkat. Dan sangat bisa jadi jumlah iklan serta omzet meningkat. Bagaimanapun isi berita itu pastinya harus ditelaah secara seksama sebelum dikunyah dan ditelan. Sebuah keniscayaan. Lalu, bagi sebagian orang, nampaknya Metro TV dan Kompas TV seakan terus ‘membela’ Ahok. Di sebelahnya,TV One dengan acara yang menurun mutunya bernama ILC seakan menjadi panggung pengadilan bagi Ahok secara konsisten tak kenal lelah. (Maaf) saja pembicara yang menurut saya mulai kurang kredibel menambah ‘hancur lebur’ acara ILC itu. Namanya saja Indonesia Lawyer Club, namun isinya bukan ‘lawyer’, tetapi kebanyakan pelawak, yang tentu saja sangat sering membuat para penonton tertawa terbahak-bahak. Herannya, kredibilitas sang punggawa acara seakan hilang tertelan bumi. Entah mengapa. Tapi ya sudahlah...

Sekarang mari kita menyelam lebih dalam melihat kenapa Ahok seakan menjadi musuh bersama hampir semua politisi, partai, dan begitu banyak anggota dewan. Seorang profesor yang tingkat keilmuwannya tidak diragukan lagi bahkan sampai mengajak semua partai politik untuk bersatu dalam menghadapi dan mengalahkan Ahok. Tujuan utama hanya satu: Supaya Ahok kalah. Lalu kenapa ia mengajak semua parpol untuk bersatu, ya karena partai dia sendiri tidak punya suara sama sekali. Jadi, gampang saja kan dengan merangkul semua parpol supaya lalu kemudian dengan tangan terbuka partai partai tersebut mau mendukung dia. ini tentu membuat kekuatannya akan meningkat lumayan besar. Tetapi kalau bukan dirinya yang diusung semua parpol yang bergabung itu, apa masih mau dia mendukungnya? Mencari panggung memang sudah semakin sulit, tak jarang kita mesti ‘melacurkan diri’ dulu untuk memperoleh panggung tersebut. Ditolak diterima itu urusan ke sekian.

Apa mereka punya argumen kuat dan modal program yang kuat dan dapat melebihi Ahok? Sampai detik ini belum pernah ada yang memberi jawab atas pertanyaan tersebut. Semua sibuk berupaya mencari cara bagaimana mengalahkan Ahok serempak mereka lupa memberitakan kepada masyarakat bahwa inilah program unggulan kita. Nggak pernah tuh. Apalagi si artis itu hanya di awan awan mimpinya. Kalau hanya bicara ngorol ngidul mending ke laut saja kata orang pinggir pantai, jadi makanan ikan. Bicara Jakarta harus bicara program kerja dan data, bukan bicara SARA dan isu isu primordialisme lainnya, itu hanya urusan di jaman batu. Kita hidup di jaman digital dan teknologi super canggih.

Lha, orang ini saja masih saja ada yang main dukun, santet, dan entah apalagi. Masak sih mau jebloskan Ahok ke penjara dengan bantuan dukun, nggak salah tuh? Aneh aneh saja. Bukannya adu data dan fakta malah mengerahkan dukun dan orang-orang nggak ada kerjaan seperti itu. Apa peluru sudah kehabisan atau akal sehat sudah hilang? Meskipun sekarang jaman edan namun jangan ikut-ikutan jadi edan dong. Penjara sudah penuh, masak iya Rumah Sakit Jiwa kita mau penuhin juga. Jangan-jangan karena Ahok banyak pejabat berbondong-bondong dikirim ke bui dan RSJ akhir akhir ini. Jangan sampai deh.

Ahok dan BPK Harus Ada Ujung

Setelah diwawancarai KPK, dalam rangka mengumpulkan bukti dan ‘membenturkan’ data temuan BPK dan yang versi Ahok, ketegangan semakin menampak. Oleh karena ini sudah menjadi konsumsi publik yang empuk, hangat, dan ngeri-ngeri sedap maka mari kita menyelam lebih dalam lagi. Menyelam sambil minum 'bir'. Kita santai-santai saja, ini bir saya lho bukan bir di rumah Ahok.

Rebecca Solnit suatu ketika pernah berkata bahwa “Credibility is a basic survival tool”. Untuk bertahan hidup maka Anda harus punya kredibilitas. Itu sangan mendasar. Tidak boleh tidak. Di lain sisi, banyak pejabat dan politikus di negeri ini yang menganut paham berbeda. Kita tentu mahfum dengan kelatahan pejabat negeri ini untuk hidup berlebih-lebihan. Punya mobil mewah. Rumah mewah. Tanah yang banyak. Emas yang membukit. Uang yang berlimpah. Bagaimana kalau tidak punya sumber daya, sumber dana dan gaji yang cukup? Gampang saja: “Corruption is a basic survival tool”. Itu!

Sekarang, untuk melihat siapa-siapa yang korup dan siapa-siapa yang kredibel tentu sangat mudah. Kita tentu dapat menilai dengan ketulusan hati kita, bukan oleh karena kita itu fans, lovers, haters, atau apapun julukan yang dilabeli orang lain. Begini. Dalam urusan kredibilitas dan kesungguhan seseorang melawan korupsi maka ada satu value yang tidak boleh terlewatkan. Apa itu? Transparansi. Maka menjadi tidak heran bila Ahok menantang anggota BPK untuk buka-bukaan soal harta mereka, darimana didapat, berapa jumlahnya, apakah bayar pajak atau tidak. Kan begitu. Kalau transparan ya ayo buka-bukaan.

Kenapa ini harus jelas? Janganlah dulu kita masuki ke dalam materi hasil audit. Itu urusan di belakang. Dua-duanya mengaku punya fakta dan data audit. Tinggal tunggu KPK menilainya. Sekarang yang paling penting adalah yang mengaudit dan yang di audit siapa-siapa dulu orangnya.

Banyak yang mengatakan bahwa BPK itu adalah lembaga kredibel, maha mengetahui, dan maha adil dalam memberi penilaian. Sekarang jangan kita telan mentah-mentah dulu. Saya bukan hendak menolak BPK adalah lembaga yang kredibel. Oooh lembaga itu sangat kredibel dan mestinya murni mandiri berpihak untuk kepentingan negeri ini. Tetapi siapa orang-orang di dalam lembaga itu? Ya manusia-manusia biasa kayak kita. Banyak auditor teman saya yang belum tentu kalah jago sama mereka. Kejujuran dalam mengaudit? Isi hati orang siapa yang tau kan seperti itu.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Humaniora Selengkapnya
Lihat Humaniora Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun