HEADLINE

Rinduku Akan Lasem

20 Oktober 2016 02:42:12 Diperbarui: 20 Oktober 2016 22:55:41 Dibaca : Komentar : Nilai :
Rinduku Akan Lasem
Foto: travel.kompas.com

Sejak saya bergaul dengan pecinta sejarah dan batik, kali ini saya benar-benar merasakan "deg-deg'an" dengan kawasan pesisir utara Jawa. 

Dari sederetan tempat yang konon dibilang kawasan batik pesisiran, ya lebih dulu saya terpaut di Lasem. Akhirnya perjalanan pertama yang dadakan (karena dipaksakan teman untuk ikut, padahal ketar ketir duitnya dari mana ya) eeh jadi kangen terus. Setelah itu, saya ingin kembali ke sana, kali ini dengan cara menjual paket tur ke Lasem, lho daripada ketar ketir dengan uang kan mending saya cari cara tho. 

Sayangnya, sekali saya bilang 'Lasem' hanya segelintir orang yang bilang: "oohh ituuu.. aku tau..", malahan ada yang tahu tapi tidak bisa ke sana karena dia marga Han (kenapa ya? yuk ke Lasem biar tahu ceritanya :D ), lainnya? "Di mana tuh?" Saya jawab: "Jawa Tengah, masuk dalam Kabupaten Rembang..", dan wajah lawan bicara mulai bingung (kayaknya sih nebak juga, Rembang sebelah mananya kok sedikit ingetin tentang Kartini, atau yaa, sebelah mananya Jepara ya?)

Tapi karena kurang tahunya orang-orang makin membuat saya semangat, sekalian donk promosi. Lalu apa saja sih yang bikin saya itu (dan kayaknya kamu juga) jatuh cinta dengan Lasem?

1. Batik Tiga Negeri dan batik tulis lainnya yang khas

Mendengar pertama kali saya kira juga Lasem itu bukan di kawasan pesisir utara, dikiranya di dekat Purwokerto.  Tapi saya pernah melihat kecantikan batik tiga negeri nya, aduhai cantiknya. 

Batik Lasem, jualannya pak Sigit (salah satu sesepuh Tionnghoa di Lasem)| Dokumentasi pribadi
Batik Lasem, jualannya pak Sigit (salah satu sesepuh Tionnghoa di Lasem)| Dokumentasi pribadi
Konon, Batik ini punya tiga warna asal, sogan dari Solo, merah (getih pithik) dari Lasem, dan lainnya dari Pekalongan. (mohon maaf, saya pun baru belajar soal batik). Hanya warna merah cantik getih pithik ini yang bisa diperoleh di Lasem. Nah di Lasem, ada banyak jenis motif yang bikin kita tidak berhenti terkagum-kagum. Perlu diketahui, di sana sekarang tidak ada batik cap apalagi printing, semuanya dikerjakan tulis (jadi asli batiknya karya tangan pengrajin). Motif di Lasem sangat dipengaruhi motif Tionghoa/China, jadi bisa dilihat ada yang benar-benar motif China seperti burung hong, uang kepeng, dan ada yang motif Jawa, serta campuran keduanya. Warna batik Lasem sangat berani dengan merah, biru, dan ungu. Selanjutnya soal motif batik di sana, bisa hanya satu-dua artikel :p

Gerbang salah satu rumah tua di Lasem| Dokumentasi pribadi
Gerbang salah satu rumah tua di Lasem| Dokumentasi pribadi
2. Bangunan Tua berarsitektur Tionghoa

Kata teman saya, yang di Malaysia itu kalah. Duh, saya gak bisa membandingkan itu, lha saya belum pernah ke Malaysia. Namun, saya senang sekali berjalan-jalan di antara bangunan-bangunan tua ini, seakan memasuki lorong waktu. Bangunan ini kebanyakan berupa rumah-rumah berarsitektur Tionghoa, usianya ada yang seabad maupun dua abad. Luaaass sekali dan masih memegang teguh aturan tata ruangnya (sepertinya begitu, pasti sama letak-letak ruangannya). Maka dari itu, Lasem pun seringkali disebut "Little China Town-nya Jawa" (Tiongkok Kecil di Pulau Jawa).

Salah satu bentuk atap, selain walet dan pelana | Dokumentasi pribadi
Salah satu bentuk atap, selain walet dan pelana | Dokumentasi pribadi
Istimewanya, banyak diantaranya masih dihuni anggota keluarga. Jadi, saat itu saya senang menyimak bagaimana teman-teman saya ini membahas arsitektur bangunan. Dari bentuk atap sampai dengan motif yang ada di bangunan, juga terlihat tahun tertentu. Senangnya lagi, saat itu kami diajak bertemu dan ngobrol bareng dengan penghuni rumah atau penjaga, jadi setidaknya kami tahu cerita tentang rumah itu dan daerah sekitarnya. Karena kebanyakan yang menempati sudah cukup sepuh-sepuh. 

Lainnya adapun bangunan berupa rumah ibadah, baik yang sudah cukup terlantar maupun yang masih apik terawat. Salah satunya Kelenteng Cu An Kiong yang usianya sudah lebih dari dua abad, setahu saya bangunan ini didirikan tahun 1477 M. 

3. Cerita Sejarah yang tidak akan ada habisnya buat kita kagum

Sejarah panjang Lasem ini belum tuntas saya pelajari. Ringkasannya saya hanya tahu soal dulu dipimpin oleh Bhre Lasem (wanita) yang berada di bawah kekuasaan Kerajaan Majapahit dan pemerintahan ini bercorak Hindu, lalu datang anak buah Laksamana Cheng Ho, yakni Bi Nang Un dan Na Li Ni yang menetap di sini dan mengajari membatik dalam motif-motif China, selanjutnya bergulir waktu pun masuknya Islam di Lasem juga merupakan tempat asal Sunan Bonang. 

Yang membuat saya kagum adalah keragaman perbedaan yang ada di Lasem berjalan sangat harmonis. Percampuran budaya ini pun berjalan berdampingan dengan anggunnya. Kata pemandu saya waktu itu, di sini sangat sedikit sekali terkena kerusuhan dari luar (maksudnya kerusuhan yang melibatkan orang-orang beretnis Tionghoa menjadi korban). Saya simpulkan betapa penduduk Lasem saling menjaga satu sama lain. 

Lalu dari corak Hindu, Budha, dan Islam, di sini juga bisa ditemukan situs prasejarah. Lalu, adapun kearifan lokal yang masih terjaga di pedalaman (baru selintingan dengar, dan saya penasaran untuk meniliknya). Bagaimanapun Lasem salah satu tempat yang menyimpan 'harta tersembunyi' untuk dicari juga dinikmati. Saya pun sudah mulai perlahan dengar tentang kawasan pesisir utara Jawa lain yang menyimpan harta berbeda. Tapi menjadi prioritas saya yang utama untuk plesiran, blusukan ke Lasem lagi. 

Menunggu masa itu dengan pelanggan yang satu per satu mendaftar untuk Blusukan ke Lasem bersama.. 

Anna Maria

/michiruann

Love my life, my family, my friends, my country, my JESUS CHRIST..
|Travel Writer | PUISI | CERITA HIDUP | Heritages Lover |

Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.
Daftarkan email Anda untuk mendapatkan cerita dan opini pilihan dari Kompasiana

Featured Article