PILIHAN

Antara Pilkada DKI dan Isu SARA: Sebuah Simpati untuk Anies Baswedan

18 Mei 2017 11:49:50 Diperbarui: 18 Mei 2017 13:01:01 Dibaca : 1485 Komentar : 1 Nilai : 2 Durasi Baca :
Antara Pilkada DKI dan Isu SARA: Sebuah Simpati untuk Anies Baswedan
Anies Baswedan (CNN)

Pilkada DKI Jakarta telah sukses menjadi drama politik dan fenomena nasional dengan isu agama sebagai nafasnya. Ibarat reaksi penguraian persatuan bangsa Indonesia dengan isu agama sebagai katalisnya. Ibarat perang sipil dengan isu agama sebagai garda terdepannya.

Berkaca dari situasi yang terjadi selama hampir setahun terakhir, dinamika politik terasa sangat stabil di awal periode tersebut, sampai pada bulan September ketika video unggahan Buni Yani menggegerkan dunia maya dan menyulut sentimen dan pertentangan antar agama dan ras. Media sosial turut menjadi pemicu semakin tajamnya silat lidah dan debat nirfaedah di dunia maya. Ya, zaman sekarang pertentangan semacam itu bisa berlangsung kapan saja. Dua orang yang saling tidak mengenal dan tidak pernah bertemu, bisa geger di dunia maya karena isu yang sebetulnya terlalu sia-sia untuk diperdebatkan, seperti isu agama mana yang paling benar atau ras mana yang paling dominan. Tetapi karena isu-isu sesimpel itu bisa menjadi isu-isu yang sesensitif itu, bangsa bisa terpecah-belah; keragaman menjadi penghancur, bukan kekuatan.

Balada politik ini tidak lepas dari keterlibatan berbagai tokoh politik. Yang sampai sekarang terus disoroti tentunya adalah sang “penista agama”, sang incumbent Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok. Pasca divonis dua tahun penjara, mereka yang menamakan diri sebagai silent majority giliran menggelar aksi besar-besaran di berbagai kota untuk membela Ahok mati-matian supaya bebas, setelah sebelumnya mayoritas yang duluan “berani buka mulut” menggelar aksi bela agama sampai berjilid-jilid, dan bisa dibilang mission accomplished.

Akan tetapi yang ingin disoroti penulis dalam artikel ini justru “sang pemenang”, yakni Anies Baswedan (dan sebetulnya juga Sandiaga Uno). Si rival petahana ini justru menjadi orang yang perlu dikasihani.

Mengapa justru Anies? Mengapa bukan Ahok? Bukannya Ahok yang dipenjara? Bukannya Anies sudah bahagia bisa “memecat Ahok” dari jabatannya?

Bukan berarti saya pendukung Anies atau pembenci Ahok. Di mata saya baik Ahok maupun Anies punya program-program kerja yang progresif dan mampu memajukan Jakarta. Keduanya sama-sama memiliki sifat negatif yang membuatnya kurang ideal untuk menjadi pemimpin Jakarta.

Tetapi kemenangan Anies di tengah situasi politik yang sedemikian panas justru akan menambah beban sang pemenang, terutama setelah nantinya secara resmi menjabat sebagai orang nomor 1 DKI Jakarta yang baru.

Karir Anies baik di dunia pendidikan tidak bisa dianggap sebelah mata. Predikat lulusan Amerika Serikat, rektor termuda, sampai menteri pendidikan pernah disandangnya. Aksi Indonesia Mengajar yang dicanangkannya membuat kiprahnya di dunia pendidikan semakin dihargai.

Namun ketika dirinya memutuskan untuk menantang Ahok di kancah Pilkada DKI, bagi sebagian orang nama baiknya anjlok.

Anies dianggap menang di Pilkada DKI Jakarta dengan kekuatan radikalisme Islam. “Ketika Anies-Sandi Menang dengan Kekuatan Islamis”, demikian headline berita BBC pasca kemenangan Anies 19 April 2017 silam. Entah Anies menginginkannya atau tidak, kekuatan kaum pembenci Ahok akibat kepeleset lidahnya di Pulau Pramuka berhasil membonceng kampanye Anies-Sandi yang menghabiskan milyaran rupiah itu.

Dari situ, Anies menurut sebagian orang dianggap telah kehilangan idealismenya sebagai intelek dan menghalalkan segala cara untuk memenangkan Pilkada, termasuk dengan memanfaatkan kekuatan kelompok-kelompok anti-Ahok seperti FPI dan MUI.

Sungguh kasihan Anies Baswedan.

Bila melihat elektabilitas ketiga pasangan calon pada bulan September (Agus, Ahok, Anies), pasangan Anies-Sandi bahkan masih kejar-kejaran dengan Agus-Sylvi. Survei LSI pada akhir September 2016 masih menganggap Ahok-Djarot berpeluang besar mempertahankan jabatan mereka, sementara elektabilitas Anies-Sandi (21,1%) hanya sedikit lebih tinggi dibandingkan Agus-Sylvi (19,3%), sekalipun masih ada swing voters sebanyak 28,2 persen.

Situasi masyarakat sebelum itu juga bisa dilihat masih stabil. Belum ada cekcok sama sekali. Masih adem ayem.

Sampai Buni Yani mengunggah video sosialisasi Ahok di Kepulauan Seribu yang menjadi viral dan menimbulkan suasana yang jauh berbeda.

Entah orang-orang percaya terhadap video Buni Yani yang diyakini “editan” atau video asli, persepsi orang terhadap Ahok mulai berganti. Yang jelas respek sebagian masyarakat terhadap Ahok menurun drastis. Sekalipun Ahok telah meminta maaf (entah Ahok menyadari dia salah atau tidak), kasus ini terus bereskalasi menjadi semakin heboh sampai aksi bela agama untuk memenjarakan Ahok dilancarkan berkali-kali. Secara tidak langsung elektabilitas Anies akan naik dengan sendirinya. Alhasil, Ahok kalah Pilkada, apalagi akhirnya divonis dua tahun penjara.

Apakah ini berarti Anies bergembira di atas segala kekuatan yang melanggengkannya ke kursi DKI 1? Saya rasa tidak sepenuhnya.

Anies boleh berbahagia merayakan kemenangannya dalam Pilkada DKI, yang menurut sebagian orang (terutama mereka yang sangat membenci Ahok) merupakan kemenangan landslide. Akan tetapi Anies akan memiliki PR moral sekaligus tekanan besar sebagai pemimpin Jakarta selanjutnya.

Dengan sedemikian besar kekuatan anti-Ahok yang menggolkan Anies menjadi gubernur DKI, tentu Anies mau tidak mau harus “berterima kasih” terhadap orang-orang ini. Anies tentu harus menjadi pembela utama ketika organisasi-organisasi seperti FPI yang telah “mendukung sang gubernur Muslim” habis-habisan berada di bawah ancaman akan dibubarkan oleh rezim Jokowi.

Anies secara tidak langsung harus menjadi salah satu orang terdepan yang membela ormas-ormas semacam FPI ketika mulai “gembos”, terutama setelah sang Habib Rizieq mulai disandung kasus-kasus seperti “WhatsApp bokep”, penistaan Pancasila, atau hal-hal aneh lainnya yang muncul dari mulut sang habib.

Anies secara tidak langsung “berutang budi” terhadap ormas-ormas yang telah terlibat dalam kemenangannya (Republika)
Anies secara tidak langsung “berutang budi” terhadap ormas-ormas yang telah terlibat dalam kemenangannya (Republika)

Kini sang gubernur terpilih dituntut untuk memiliki kinerja yang setidaknya sama dengan yang telah ditunjukkan gubernur sebelumnya yang kini berjuang keras membebaskan diri dari mendekam di jeruji besi. Sang Ahok yang dikenal “bengis” menghadapi anggota DPRD dan lawan-lawan politik yang ia anggap hanya ingin mengisi perutnya sendiri kini telah digantikan oleh sang Anies yang terkenal kalem, sopan, berpendidikan tinggi, Muslim yang taat pula.

Entah Anies bisa tetap mempertahankan keberpihakannya kepada rakyat, atau ujung-ujungnya tetap takluk dengan rayuan-rayuan manis pejabat negara yang mau korupsi atau yang mengajaknya bagi hasil mencuri uang rakyat.

Langkah Anies untuk mewujudkan cita-citanya untuk Jakarta tak bisa dibilang mudah. Bahkan pasca Pilkada pun orang-orang yang (sebagian besar) merupakan pendukung Ahok langsung sentimen terhadap Anies. Orang-orang semacam itu mungkin bisa berkicau di media sosial mengungkapkan kata-kata sinis, seperti “ditunggu DP 0 rupiahnya”, atau “ditunggu nutup Alexis nya”, atau “ditunggu penghentian reklamasinya”.

Bahkan Anies yang melucu ingin mencetak “Kartu Jakarta Jomblo”, entah memang itu lelucon atau akan terealisasi, langsung dicerca habis-habisan oleh “Ahokers”.

Kemenangan Anies memang terkesan bukan mutlak karena program-programnya lebih baik dari petahana, tetapi Anies menang seolah-olah karena “kekuatan umat Muslim”. Exit poll versi SMRC menyatakan bahwa sebagian besar pemilih Anies-Sandi (26 persen) memilihnya karena seagama. Alasan kedua tertinggi adalah karena Anies-Sandi dianggap paling memperjuangkan agama.

Ini bisa menjadi sesuatu yang berbahaya bagi masyarakat, terutama mereka yang tergabung dalam masyarakat minoritas. Isu agama ini seolah-olah memarjinalkan mereka dari masyarakat Jakarta, bahkan Indonesia. Kekhawatiran akan muncul di tengah-tengah mereka yang tidak “sama” dengan mayoritas yang “berkuasa” tersebut.

Yang jelas, Anies memiliki tuntutan tinggi untuk menstabilkan kondisi masyarakat Jakarta yang sekarang sangat terpecah-belah ini. Sampai sekarang aksi bela Ahok masih terus berjalan, dan Anies juga serba salah dalam bersikap. Kalau Anies mau bersimpati terhadap Ahok, tidak terbayang bagaimana reaksi orang-orang yang berbahagia karena sukses memenjarakan Ahok. Kalau Anies terang-terangan mendukung kelompok radikalis anti-Ahok, tentu tidak terbayangkan pula reaksi masyarakat nanti menghadapi Gubernur Anies yang berpihak pada ormas-ormas tersebut.

Yang jelas, Anies memiliki PR moral yang sangat besar: mengembalikan kestabilan masyarakat yang terpecah belah akibat isu SARA ini. Anies dituntut mampu meredam kembali sentimen negatif terhadap minoritas oleh mayoritas. Anies harus mampu memberitahu kembali masyarakat bahwa setiap warga Jakarta tidak akan terancam karena agama atau rasnya. Anies dituntut mampu mempertahankan stigma positif Indonesia sebagai negara yang masyarakatnya sangat toleran.

Atau mungkin, Anies harus mampu meredam statement bahwa “minoritas harus tahu diri di tengah mayoritas”.

Atau mungkin, Anies dituntut mampu menghilangkan statement di masyarakat baru-baru ini yang mengatakan bahwa kaum minoritas tidakboleh

memimpin kaum mayoritas.

Perhaps the governor-elect deserves a sympathy.

Referensi:

Ketika Anies-Sandi menang dengan kekuatan Islamis - BBC Indonesia
Kemenangan Anies Baswedan-Sandiaga Uno atas Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok dan wakilnya, Djarot Syaiful Hidayat…www.bbc.com

Seperti apa perubahan Jakarta di bawah Anies Baswedan? - BBC Indonesia
Hasil hitung cepat berbagai lembaga survei di Pilkada DKI Jakarta menunjukkan keunggulan pasangan Anies Baswedan dan…www.bbc.com

Alasan Warga DKI Memilih Anies-Sandi Versi SMRC dan Populi Center
Liputan6.com, Jakarta - Kontestasi Pilkada DKI Jakarta telah berakhir. Berdasarkan real count yang dikeluarkan Komisi…pilkada.liputan6.com

KOMPASIANA ADALAH PLATFORM BLOG, SETIAP ARTIKEL MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

NILAI :

Daftarkan email Anda untuk mendapatkan cerita dan opini pilihan dari Kompasiana