Metik Marsiya
Metik Marsiya Keuangan

Praktisi Manajemen, Keuangan, Strategi, Alternatif dan Spiritual

Selanjutnya

Tutup

Politik highlight

Kemenangan Jokowi, Kekalahan Ahok, Lahiriah dan Spiritualitas Pilgub

17 Juli 2017   10:11 Diperbarui: 17 Juli 2017   10:17 1085 8 2
Kemenangan Jokowi, Kekalahan Ahok, Lahiriah dan Spiritualitas Pilgub
Rumah lembang, Koleksi Pribadi


Jokowi saat ini masih fenomenal di dunia politik, Jokowi bukanlah siapa-siapa kedudukannya di internal partai politik. Jabatan Walikota  di dalam partai bukanlah posisi terhormat. ketika naik pangkat menjadi gubernur Jokowi menjadi sangat dihargai karena kepopulerannya dan bukan karena posisi. Dunia politik ibarat artis, tidak populer tidak dihargai, tidak punya posisi tidak dihormati. Jika kamu tidak punya posisi dan tidak populer, maka untuk dihormati kamu harus punya uang.

Begitu pula Ahok. Ahok ini bukan  kader siapa-siapa di partai politik, bahkan menitip kepentingan kepada Ahok juga sangat sulit. Tapi Ahok mampu mengambil hati sebagian rakyat dan tentu saja hati Megawati Soekarnoputri. Kelebihan Ahok adalah mau bekerja dan mau capek-capek untuk mendapatkan kemenangan. Berani membuat perbedaan dengan mengambil langkah yang berbeda. Banyak pendukung fanatiknya, membuat Ahok dan tim pendukungnya begitu yakin bahwa kemenangan akan mereka capai, jika melihat hitungan hitam di atas putih, hitungan statistik, maka seharusnya Ahok dapat mencapai kemenangan.

Mimpi dari setiap anggota partai politik adalah mendapatkan dukungan dan rekomendasi dari ketua umum untuk maju pilkada. Berbagai cara dilakukan. Apa yang Jokowi dan Ahok dapatkan, berupa dukungan secara langsung dari beberapa ketua umum partai membuat iri anggota lainnya. Hal ini dapat kita lihat selalu muncul suara-suara sumbang saat rekomendasi diberikan kepada mereka. Rekomendasi bagaikan barang langka yang menjadi idaman, rekomendasi adalah salah satu tiket menuju kekuasaan, langkah selanjutnya adalah perjuangan untuk memenangkannya. Maka jual beli rekomendasi di kalangan partai politik bagaikan kentut, berbau busuk tapi tidak bisa dibuktikan.

Jokowi dan Ahok, dua tokoh yang sama-sama fenomenal tetapi menuai hasil yang berbeda. Banyak pendukung fanatiknya, tetapi tidak mampu mengantarkan Ahok kepada kemenangan sedang Jokowi mampu meraih kemenangan walaupun secara hitungan matematisnya seharusnya di bawah Ahok jauh. Ada apa?

Kemenangan melekat pada figur dan opini publik yang diciptakan untuk sang figur. Dalam pergaulan sehari-hari, baik Jokowi maupun Ahok tidak ada masalah. Dalam melakukan pekerjaan, secara jujur saya harus mengakui bahwa Ahok lebih cerdas daripada Jokowi, lebih detil dan lebih cepat. Dalam mengeksekusi sesuatu lebih tegas Ahok daripada Jokowi. Jokowi lebih kompromis dan Ahok tidak mudah berkompromi. Tidak ada yang salah dari prinsip keduanya, tetapi dalam politik kemenangan bukan pada faktor benar dan salah, tetapi faktor dukungan. Jokowi mampu memanage dan mengemong orang dengan baik, fleksible dan lebih soft dalam mengambil keputusan. Sebaliknya dengan Ahok, kurang fleksible dan tidak bisa mengendalikan frekuensi suara dengan baik. Repotnya bangsa kita belum bisa membedakan tegas dan keras, tegas dan galak. Akhirnya yang diberitakan di media oleh lawan politiknya  adalah Ahok galak dan keras. Secara karakter pribadi tidak ada masalah, selalu ada kelebihan dan kekurangan, tetapi dalam politik hal ini menjadi faktor penentu kemenangan.

Namun tidak demikian dengan Jokowi. Jokowi mampu meredam konflik dengan sangat cerdas, mampu mengendalikan orang-orang yang berada di sekitarnya tanpa banyak bicara. Kelebihan lainnya adalah kemampuan ngeles tur ra mutu, alias ngeles ke hal yang tidak penting untuk menutupi substansi besar, kemampuan ini  memang sangat keren. Bedanya dengan para politikus lainnya yang cenderung ember, lebih suka bicara hal penting dan berat supaya terlihat penting. Padahal jika  kita tidak bicara hal yang penting di depan publik, bukan berarti kita tidak bisa melakukan hal besar. Suka terlihat serius, supaya terlihat pintar. Hahaha, sandiwara panggung wajah politikus yang selalu penuh dengan dinamika, dinamika kepalsuan dan tepu-tepu.

Jokowi di HUT PDIP 2016, Koleksi Pribadi
Jokowi di HUT PDIP 2016, Koleksi Pribadi

Kesadaran Jokowi sangat berat berhadapan dengan Prabowo adalah sebuah kekuatan besar yang menjadi  daya dorong untuk berusaha secara maksimal.  Sebaliknya dengan Ahok, keyakinan akan melahirkan kesombongan partai pendukungnya membuat pendukungnya tidak berjuang maksimal.  Aalagi meyakini bahwa Ahok bukanlah orang yang bisa diatur-atur, apalagi dititipi kepentingan membuat kita melihat bahwa hanya gerbong kosong yang diberikan kepada Ahok atas nama menjilat Jokowi. Dukungan kepada Ahok, bukannya mendapat logistik, tetapi malah keluar logistik, membuat mereka hanya berteriak di depan media. Dukungan politik dan logistik adalah dua hal yang tidak dapat dipisahkan. Bahwa saat ini kompromis masih menjadi kekuatan kemenangan, karena politik masih berbau busuk.

Dari sudut pandang spiritual, Jokowi dan Ahok mempunyai latar belakang yang berbeda. Tingkat spiritualitas Jokowi sangat tinggi. Hal ini bisa dilihat dari ritual Jokowi dengan banyak melakukan ibadah sunah selain yang wajib. Sedang Ahok juga sama-sama melakukan ritual doa dengan sama khusyuknya dengan Jokowi. Yang membedakan adalah kepercayaan terhadap dukungan spiritualitas dalam proses pencapaian kemenangannya. Jokowi lebih bisa menerima dukungan spiritual dari siapapun, termasuk dari kyai-kyai. Bahkan ketika ada yang memberikan batupun diterimanya juga, walaupun pada akhirnya yang menyimpan ajudannya, entah ditaruh dimana. Hal ini bukan bermaksud musyrik, tetapi dengan maksud dan tujuan untuk menyenangkan orang.

Sedang Ahok beda lagi, secara tegas di media menyampaikan bahwa tolong jangan lagi ya ada usap-usap atau minyak-minyak, saya tidak percaya dengan hal-hal seperti itu. Secara tegas jika ada tawaran secara langsung Ahok akan menjawab, "Maaf saya tidak pakai begituan, saya tidak percaya. Gak usah". Ahok menunjukkan dirinya sendiri, sebuah prinsip yang sangat kuat. Tidak salah, tidak ada yang salah, lalu apa kaitannya dengan kemenangan dan kekalahan. Semua adalah nasib. Kalau begitu selesai. Hahhaa, tidak. Kita lanjutkan lagi.

Doa mampu merubah nasib dan takdir. Jika melihat dengan kacamata sederhana, maka minyak dan batu hanyalah salah satu sebuah simbol akan makna doa. Air dan bunga hanyalah sebuah alat yang menjadi yang menjadi perantara dalam sebuah doa yang ditujukan kepada yang bersangkutan. Ada yang bisa berdoa secara langsung kepada Tuhan Yang Maha Esa, ada juga yang harus melalui perantara. Ada yang bisa berzikir degan jari, tetapi ada juga yang menggunakan tasbih. Ada tasbih dari batu, ada juga yang dari kayu. Lagi-lagi media, tetapi manifestasi yang sesungguhnya adalah kekuatan doa dalam sebuah kemenangan adalah salah satu dukungan mutlak yang tidak dapat dipungkiri. Penerimaan akhirnya membuat orang akan semakin banyak berdoa, jika ditolak orang akan berkurang doanya.

Dunia spiritual bagi politisi adalah sebuah perhiasan yang wajib dipakai, bagaikan artis-artis mereka membutuhkannya untuk membuat bercahaya, mengeluarkan aura agar bersinar. Bahwa di dunia yang berdampingan dengan semesta kita ada dunia bathin yang berpengaruh langsung dengan kehidupan manusia, jagad  besar dan jagad kecil. Mahluk-mahluk banyak tinggal di sana dengan berbagai macam koloninya, sama halnya dengan di dunia nyata. Mereka punya kehidupan yang memberi pengaruh pada efek pemikiran dan perasaan pada manusia, mempengaruhi dalam membuat keputusan dan pilihan. Demikian kekuatan doa dan spiritual adalah bagaimana mempengaruhi dan membuat orang mengambil keputusan dan mengkondisikan.

Kemenangan adalah kemenangan lahir dan bathin, tidak bisa lahiriah saja.  Dunia bathin bergerak lebih cepat dari dunia lahiriah, melihat sebelum terjadi. Jika peperangan di dunia nyata hanyalah cerminan dari peperangan yang ada di dunia bathin, kemenangan perang bathin akan membawa kepada kemenangan lahiriah. Melihat perang di secara langsung di antara para kandidat membuat kita tidak nyaman, demikian juga perang yang ada di dunia bathin, kadang-kadang sampai mengambil korban jiwa. Peperangan bathin yang terlihat pada pilpres Jokowi terlihat utuh dari kedua pihak, namun tidak demikian pada saat pilgub Ahok. Terlihat secara bathin pihak lawan sangat mendominasi, apalagi saat masuk pada putaran kedua, pihak Ahok sangat sepi,tontonan bathin tidak seseru pada saat perang jaman pilpres Jokowi.

Hal yang wajar jika para pelaku spiritual sangat laris dan manis, biarpun harganya selangit. Sayangnya pembeli tidak bisa membedakan mana yang kualitas premium mana yang kualitas KW. Jika nama besar dan kekayaan materi menjadi acuan sebuah kualitas, sebaiknya mulai berhati-hati dalam memilih. Pelaku spiritual juga memiliki spesialis sendiri-sendiri, maka pelaku dengan kemampuan perang lebih direkomendasikan untuk dimintai tolong. Untuk pilkada bukan pelaku kasepuhan. kasepuhan lebih tepat jika ditempatkan sebagai penasehat pribadi dalam pembenahan karakter calon pemimpin, dimana ini juga mempengaruhi kualitas si calon pemimpin.

Percaya tidak percaya, tetapi yang terlihat demikian. Link sejarah perang bathin jaman pilgub Jokowi ada di sini, dan di sini. Sedang link keadaan awal sebelum pilgub Ahok ada di sini.


........ Bisa jadi apa yang kamu tidak percaya itu ada, atau bisa jadi apa yang kamu tidak suka itu ternyata sangat bagus. Yang kadang-kadang kamu sepelekan itu ternyata sangat berguna, yang kamu anggap sangat berguna itu bisa jadi tidak ada gunanya... Melihat segala sesuatunya dengan biasa-biasa saja, baik dan buruk, percaya dan tidak percaya...

Kamu boleh tidak percaya, tapi jangan membencinya. Kamu boleh tidak suka, tapi jangan menghinanya. Jika kamu melakukannya, maka kekalahan siap kamu dapatkan...


Yogyakarta, 17 Juli 2017